MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
HARI TERBURUK JINGGA


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Riko mendekati Jingga dan langsung memeluknya erat. Jingga yang kaget seketika melawan. Namun kali ini Jingga kalah. Ia mencoba sekali lagi meski merasa bahwa dirinya sudah sangat lelah. Tetapi Riko juga semakin kuat karena mampu menggendong Jingga ala bridal style ke atas ranjang. Hasratnya untuk memiliki Cindy semakin menjadi kerena ketidaksadarannya. Tetapi Riko tidak tau bahwa yang ia perlukan seperti itu adalah Jingga, gadis yang sudah ia anggap keluarga.


Riko menghempas Jingga ke atas ranjang, tubuhnya terasa mau remuk. Dengan sekuat tenaga Jingga mencoba melawan dan bangkit dari ranjang. Tetapi kali ini Riko tidak mau kalah, ia malah balik menahan Jingga di atas ranjang. Mengunci pergerakan Jingga sehingga membuatnya susah untuk bergerak.


"Lepaskan aku Mas! Aku ini Jingga bukan Cindy! Lepaskan!" Sarkas Jingga yang sudah kehabisan tenaga untuk melawan Riko. Tetapi Riko tidak menghiraukan ucapan Jingga, karena kenyataan di pandangannya Jingga adalah Cindy.


"Sudahlah sayang, nikmati saja malam pertama kita!" Sontak Jingga sekuat tenaga menggeleng dan bersikeras untuk terus melawan, meski saat ini tenaga Riko malah semakin kuat.


"Jangan Mas. Aku masih perawan Mas! Aku tidak ingin kesucian ku direnggut olehmu! Lepaskan aku, sadarlah!" Ujar Jingga yang tangan dan kakinya tidak bisa bergerak karena dikunci oleh Riko yang sudah menghimpitnya. Riko sudah tidak bisa menahan lagi hasratnya dan tanpa sadar ia merobek paksa baju kemeja Jingga, sampai terpotong menjadi beberapa bagian. Saat ini jingga semakin panik dan gugup, ia mencoba untuk berteriak meski tau bahwa di camp tidak ada satupun orang.


"Tolong! Siapapun yang mendengar, tolong saya!" Teriak Jingga membuat Riko langsung menutup mulut Jingga dengan mulutnya sendiri. Dengan hasrat menggebu Riko kembali menjalankan aksinya dengan membuka paksa bra milik Jingga. Jingga pun mencoba melawan dengan memukul Riko, tetapi kekuatannya masih kalah dengan kekuatan Riko yang penuh hasrat.


Kini atasan Jingga sudah terekspos tanpa sehelai benangpun. Riko sangat menyukainya sampai tidak henti menyentuh gunung kembar jingga itu. Jingga terus meronta saat perlakuan Riko membuatnya panas dingin. Ia sangat takut dan juga panik. Dengan air mata yang tidak bisa lagi di hentikan membuat Jingga sempat tersedu-sedu. Riko masih saja tidak berhenti sampai di situ, ia terus menciumi Jingga sepuasnya.


Tidak beberapa lama tangan yang ia mainkan di gunung kembar Jingga kini sedikit demi sedikit bergeser ke celana jins milik Jingga. Sontak Jingga langsung menahan tangan Riko agar tidak membuka celananya. Namun dengan sekuat tenaga Riko membawa kedua tangan Jingga itu ke atas kepalanya. Riko langsung menahan kedua tangan Jingga tersebut agar pergerakan Jingga tidak menghentikan aksinya.

__ADS_1


Dengan gerak cepat dan tatapan yang sedikit kabur, Riko berhasil membuka celana Jingga sampai tidak ada sehelai benangpun menutupi tubuh bagian bawah nya.


"Lepaskan aku!" Teriak Jingga saat permainan Riko pada mulutnya telah beralih pada kedua gunung kembar miliknya.


"Oh Cindy ku sayang, kau begitu membuatku melayang. Andai saja aku tau dari dulu, pasti aku akan melakukannya disaat kita masih berpacaran." Ujar Riko mesum. Sungguh ucapan tanpa sadarnya itu membuat Jingga sangat membenci Riko saat ini.


Tubuhnya sudah terjamah, Jingga merasa sudah tidak suci lagi. Mengingat bahwa Riko telah melihat dan menyentuh setiap inci tubuhnya. Jingga hanya bisa pasrah dan tidak mau lagi melawan. Ia menangis sejadi-jadinya saat Riko dengan sangat paksa merenggut kesuciannya. Meski terasa begitu sakit di hatinya, tetapi Jingga akhirnya terbawa suasana dan ikut dalam permainan memabukkan yang dibuat oleh Riko.


Setelah beberapa jam bergelut di atas ranjang, Riko akhirnya tertidur karena sudah lelah. Berbeda dengan Jingga, meskipun ia merasa begitu lemah ia masih menguatkan diri untuk mengemasi pakaiannya yang sudah compang-camping. Jingga pun celingukan mencari kunci pintu kamar, ternyata Riko meletakkannya di atas meja sofa kamar itu. Dengan segera ia membuka pintu kamar dan langsung bergegas ke kamarnya, Jingga kini sangat menahan trauma atas kejadian yang beberapa jam lalu ia alami.


"Argggghhhh... Aku tidak lagi perawan. Bagaimana dengan suamiku kelak? Apa dia akan menerima kondisi yang telah diperkosa seperti ini? Apa masih bisa aku menghadapi wajah Gibran? Kekasihku yang bahkan sangat menjaga kesucian ku sampai saat ini." Gumam Jingga yang terus berputus asa dengan tangis yang tiada henti. Menurut Jingga ini adalah hari terburuknya dan Ia merasa jijik pada dirinya sendiri setelah perlakuan Riko padanya yang menghancurkan harga diri nya menjadi berkeping-keping.


***


Di lain sisi. Gibran sangat khawatir dengan kondisi Jingga yang sedari tadi tidak mengangkat telpon ataupun membalas pesannya. Gibran merutuki dirinya karena tidak bisa mengantarkan Jingga pulang kerja.


Setelah acara keluarganya selesai, Gibran tidak hentinya menghubungi Jingga. Namun, satupun jawaban tidak pernah ia dapati. Bahkan Gibran mengira bahwa Jingga kini tengah ngambek padanya.

__ADS_1


"Kamu kenapa Gib?" Tanya Rahman yang tiba-tiba datang.


"Aku nggak kenapa-kenapa kok Pa." Jawab Gibran berbohong meski di hatinya tengah sangat mengkhawatirkan kondisi Jingga. Bukan Rahman namanya jika tidak bisa membaca raut wajah seseorang.


"Kamu coba cerita ke Papa. Papa tau kalau kamu itu lagi ada masalah!" Pinta Rahman yang kemudian duduk di sebelah Gibran. Tanpa basa-basi akhirnya Gibran menceritakan apa yang tengah ia alami saat ini, tetapi Rahman malah tertawa mendengar penuturan anaknya itu.


"Aduh kamu terlalu di budak kan oleh cinta ya. Papa sarankan kamu cepat-cepat saja menikahinya. Papa rasa kamu akan lebih tenang bila dia terus bersamamu. Hahaha..." Ujar Rahman saat menanggapi cerita dari Gibran. Sontak Gibran langsung menggeleng-geleng.


"Ah Papa malah becanda. Padahal aku lagi khawatir ini!" Ketus Gibran dengan kesal.


"Baiklah-baiklah. Maaf sudah becanda, kali ini Papa serius deh. Mending kamu bawa dia kesini dan kenalkan dulu pada kami, Papa hanya ingin mengenal gadis seperti apa yang sudah membuatmu khawatir seperti itu. Papa juga menyarankan agar kamu tidak terlalu berpikiran negatif, mungkin saja ia terlalu lelah dan ketiduran sepulang kerja. Kamu kan bisa menghubunginya besok siang." Nasehat Rahman langsung ditanggapi dengan senyuman oleh Gibran.


Gibran merasa ucapan Rahman ada benarnya, mungkin saja Jingga sudah tertidur apalagi mengingat hari yang juga sudah larut malam. Meski masih khawatir, tetapi Gibran sudah agak lega karena telah bercerita pada sang Papa.


"Baiklah Pa, kapan-kapan akan ku ajak Jingga ke sini." Ujar Gibran dengan tersenyum. Gibran tidak pernah takut dan malu untuk bercerita soal percintaannya pada Rahman karena sebagai sang ayah, Rahman juga menyalurkan rasa persahabatan pada putranya itu. Oleh karena itu Gibran kali ini berniat untuk memperkenalkan Jingga pada keluarganya tanpa takut akan menyakiti perasaan jingga.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2