
...🌺🌺🌺🌺🌺...
🏠 Kediaman Genandra 🏠
Rael memasuki rumah berlantai 3 itu dengan santai.
"Sudah jam berapa ini Rael?" tanya Haris dingin.
"Urusannya dengan anda apa?" jutek. Haris menahan amarah nya. Ia sadar Rael sudah berubah semenjak kematian sang Ibu.
"Ini sudah jam 10 malam. apakah sekolahmu berakhir jam segini?" sarkas Haris penuh amarah.
"Saya pergi kemana apa peduli anda, Sebaiknya urusi selingkuhan serta pekerjaan anda saja!" tajam Rael melukai perasaan Haris.
"Kurang ajar!" Haris hampir saja menampar Rael. Bukan takut, Rael menatap tajam pada sang Ayah yang menahan amarah.
"Kenapa tidak tampar? sini tampar! tampar saya! saya kurang ajar, juga karena anda!" tambah Rael membuat Haris sadar akan kesalahannya. Melihat Haris terduduk, Rael melangkah dengan santai kedalam kamar yang ada dilantai 2. Melemparkan tas ke sembarang tempat. Rael merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size nya.
Rael tersenyum menatap figura kecil di atas nakas. Sebuah foto yang memperlihatkan keluarga kecil yang sangat bahagia.
'Bu, apakah kamu tidak merindukanku?! kenapa kamu tidak pernah masuk dalam mimpiku? Ntah mengapa rasanya aku masih tidak percaya kau sudah di alam sana!' Menutup mata, Rael menegarkan diri untuk tidak menangisi Ibunya. Namun, bukannya tenang. Rael malah melihat wajah Bella di pikiran nya.
'Aihhhs... kenapa Bella didalam pikiranku! apa mungkin ini efek aku ingin mengerjainya!' Gumam Rael dalam hatinya.
🛌Dikamar Bella🛌
Bella makan di rumah Ayahnya selalu sendiri, bukannya tidak ada jamuan makan. Hanya saja itu sudah diatur oleh Biangka, agar Bella tidak ikut makan bersama dengan mereka. Beberapa pelayan langsung mengantarkan makanan tepat waktu ke kamar Bella. Membuat nya harus membiasakan diri, sadar karena dari awal memang dirinya tidak pernah diinginkan berada di rumah ini. Sehabis makan malam, biasanya Bella sudah tidur. Namun malam ini ntah mengapa matanya tak bisa tertutup.
'Sudah jam 10 malam, kenapa tidak bisa tidur? padahal besok kerja.' gumam Bella sambil meraih handphone nya yang berada di atas nakas. Namun, saat mengutak-atik handphone, Bella tidak menemukan satupun yang menarik perhatiannya.
'Jalan-jalan sekitar rumah dulu deh!' putusnya kemudian. Langkahnya menuruni tangga pun terhenti. Mendengar percakapan Biangka dengan seseorang ditelpon.
"Obatnya sudah dikirimkan dok? udah ditambah dosisnya?" tanya biangka dengan ramah. Samar-samar Bella mendengarnya dari kejauhan.
'Obat? Siapa yang sakit? Nambahin dosis buat apa?' rasa penasaran muncul dibenak Bella.
"Ah iya-iya dok, kucingku berkelana terus tiap malam! makanya terpaksa dikasih obat itu. biar ngak kemana-mana pas aku lagi tidur." ucapan Biangka membuat Bella ber-oh saja.
'Dari pada nanti ditanyain kemana-mana mending balik ke kamar aja deh!' putus Bella yang mengurungkan niatnya untuk keluar rumah. Bella pun kembali ke kamar dan memaksakan diri untuk tidur.
🌄Pagi hari🌄
__ADS_1
Bella telah bersiap untuk ke sekolah. senyum untuk mengawali pagi ini, sangat dinikmatinya dihadapan cermin.
"Aduh cantik banget Non Bel." mbok Iyem datang mengagetkan Bella.
"Eh, mbok Iyem disini ya." kaget Bella kemudian memperhatikan Mbok Iyem menata sarapan untuknya di atas meja.
"Iya non, maaf ya mbok ngagetin!" Bella menggeleng dan tersenyum ramah. Ia pun menikmati sarapannya, namun Bella teringat akan kejadian semalam.
"Oh ya mbok, di rumah ini ada kucing?" tanya Bella penuh penasaran.
"Kucing? nggak kok non. semenjak non Adel tinggal di rumah ini, satu pun kucing nggak dibolehkan masuk non!" ujar Mbok Iyem menjelaskan.
"Kenapa mbok?" tanya Bella disela-sela tegukan air minumnya.
"Karena non Adel itu takut kucing non!" penjelasan mbok iyem menimbulkan pertanyaan besar dibenak Bella.
'Lah kalau kak Adel takut kucing, masa iya tante Biangka pelihara kucing? terus obat semalam buat apa dan siapa?' pertanyaan demi pertanyaan terus muncul di benak Bella.
"Udah jam 7 non, masih belum mau berangkat?" tanya mbok Iyem membuyarkan lamunan Bella. Ia pun memutuskan untuk meraih tas selempang nya. Bella berjalan keluar kamar dengan diikuti oleh Mbok Iyem.
"Selamat pagi cucu kakek." salam Arya membuat senyum dibibir Bella muncul.
"Bagaimana kabar cucu kakek, apakah ada yang mengganggu mu disini?" tatapan Arya tajam kearah Adel dan Biangka.
"Tidak kakek, Bella baik-baik saja kok!" yakin nya kemudian menatap seseorang dibelakang Arya membuat Bella tertawa terbahak-bahak. Semua orang yang ada di sana pun kebingungan dibuatnya.
"Om-om penculik." ujar Bella menunjuk kearah Rahman, pengacara yang 2 hari lalu bersiteru dengannya, yang ditunjuk pun ikut tertawa.
"Ah, dasar kamu gadis kecil yang nakal, masih saja memanggil saya dengan penculik. Hhhhhh..." semua pun ikut tertawa kecuali Adelia dan Biangka.
"Udah-udah, kakek kesini cuman mau lihat keadaan kamu Bel. Kamu mau ke kampus kan?" Bella mengangguk.
'Kakek tau semua tentang aku, dia punya mata-mata berapa sih?' pikir Bella risih.
"Rahman bisa kan sekalian dengan Bella?" ucapan Arya bukan bertanya malah terdengar memerintah.
"Bisa kok pak, mari gadis kecil yang jail." tawa Bella dan Rahman bersambung sampai ke kampus. Di dalam mobil mereka hanya menceritakan hal-hal lucu yang bisa menghangatkan suasana.
🛌Dikamar Adelia🛌
Kamar yang tadinya rapi sudah berantakan sekejap mata. Adelia begitu marah melihat semua perhatian yang seharusnya Ia dapatkan. Malah dilimpahkan semua pada Bella.
__ADS_1
"Berhenti Adel!" teriak Biangka.
"Adel udah muak Mi, Adel harus singkirkan Bella dari rumah ini." amarahnya begitu melunjak. Biangka memeluk Adel agar bisa menenangkan nya.
"Mami tau Del tapi kita harus melakukannya dengan pintar. Jika kamu menyingkirkan Bella secara kasar, pasti tua bangka itu akan tau! makanya kita harus bersabar dulu, dan bermain secara halus!" ucapan Biangka menenangkan Adel pun berhasil.
'Benar kata Mami, jika tua bangka itu tau. bisa-bisa semua fasilitas ini hilang begitu saja!' pikir Adel kemudian.
🏤KAMPUS🏤
Bella turun dari mobil Vellfire punya Rahman.
"Papa kenapa sama buk Bella?!" tanya Gibran mengejutkan Bella dan Rahman.
"Papa?" Bella ikutan bertanya pada Rahman.
'Yaa... ketahuan deh sudah punya anak seumuran Bella! Padahal Bella bilang saya masih usia puluhan!' kesal Rahman dalam hatinya. Melihat Rahman masih tak kunjung menjawab. Gibran yang menjawab pertanyaan Bella.
"Pak tua ini Papa saya buk Bel." Jelasnya dengan tatapan kesal. Bella pun kaget mendengar nya.
'Lah om Rahman ini bokap nya Gibran ya? nggak nyangka, padahal kelihatan masih single!' pikir Bella. "Om Rahman Papanya Gibran ternyata. Nggak kelihatan dari wajahnya ya?" Bella menahan malunya.
"Buk Bella kenapa bisa bareng sama Papa? oh tidak! Apa Papa selingkuh dari Mama?" ucapan Gibran membuat Bella menepuk jidat.
'Dasar bocah! pikirannya aneh-aneh aja, mana mau juga aku sama om-om. bukan tipe aku juga.' kesalnya dalam hati.
"Jangan mikir macam-macam Gibran. Papa ini pengacara keluarga Bella, keluarga B.A grub!" mendengar Papanya menyebut B.A grub membuat Gibran terbelalak.
'B.A grub? jadi Bella ini yang diceritakan Mama sama Papa semalam? kasihan sih, tapi beruntung banget jadi penerus utama B.A grub!' Pikir Gibran ikut simpati.
"Owh jadi buk Bella ini cucunya kakek Arya?" Bella tersenyum ramah dan mengangguk pada Gibran. "Kalau gitu boleh nggak Gibran minta no handphone buk Bel?" Bella yang sempat ragu akhirnya memberikan no handphone pada Gibran.
"Makasih banyak ya buk Bel cantik. Gibran duluan ke kelas ya buk. Dan hati-hati papa itu pemakan orang!" Gibran yang berlalu pergi memecahkan tawa Bella.
'Bella ini gadis yang lugu, pintar dan baik. jika Bella bersama Gibran mungkin aku akan merasa tenang!' Harap Rahman dalam hatinya.
"Ya sudah om, ayuk kekantor!" ujar Bella memecahkan lamunan Rahman.
"Ah iya, ayuk!" Bella dan Rahman pun berjalan menuju kantor. Hari ini Rahman ingin bertemu kepala sekolah untuk memberitahu tentang identitas Bella sebenarnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1