MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
DI TABRAK


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Bella yang telah merasa lelah berjalan, memutuskan untuk duduk di kursi taman.


Bella menatap tepian taman yang terdapat banyak sekali penjual sarapan pagi. Perut nya yang belum terisi apapun dari pagi sangat ngiler melihat beberapa jajanan tersebut. Tatapan Bella langsung jatuh pada penjual bubur ayam, ia membayangkan betapa lezatnya bubur ayam yang di aduk.


Deringan ponsel Jingga mengalihkan perhatian Bella.


"Bentar ya Mbak, si Riko menelpon ku." ujar Jingga yang berdiri dari duduknya.


Bella mengangguk samar.


"Kalau begitu Mbak ke beli bubur ayam dulu ya, kamu mau nggak Ngga?" tanya Bella yang hendak melangkah.


Jingga hanya menanggapi pertanyaan Bella dengan anggukan dan tersenyum manis.


Jingga mengangkat telpon dari Riko dengan mengernyit heran. Baisanya lelaki itu tidak pernah menghubungi dirinya bila tidak ada keperluan yang mendesak.


"Halo, ada apa?" tanya Jingga ketus. Mereka masih sama, sama-sama jutek dan seperti tidak membutuhkan satu sama lain.


"Lo dimana? Kok keluar nggak bilang-bilang?!" seru Riko dari seberang dengan nada kesal.


Jingga menghela nafas panjang dan menendang lembut beberapa kerikil di tanah.


"Sejak kapan kita sedekat itu? Kenapa aku harus memberitahu mu kemana aku pergi?" tukas Jingga kemudian.


Terdengar decakan kesal dari seberang. Tampaknya Riko merutuki dirinya sendiri yang begitu kontras sekali perhatian pada Jingga.


"Gue cuma mikirin bayi dalam perut Lo. Nggak lebih! Jadi nggak usah sok kepedean!" seru Riko.


"Sejak kapan kamu peduli sama bayi dalam kandungan ku? Bukannya kemarin-kemarin kamu ingin dia tiada?!" tanya Jingga kembali. Hal itu malah membuat Riko di seberang memanas. Ia kesal tapi tidak tau harus menjawab ucapan Jingga yang memang nyata adanya.

__ADS_1


Jingga yang menelpon sambil berdiri, memutarkan badannya menghadap jalanan. Di seberang jalan terdapat penjual bubur ayam yang dimana Bella tengah memesankan juga untuk nya.


Tampaknya Bella telah selesai memesan dan hendak kembali ke tempat Jingga tengah berdiri saat ini. Bella membawa nampan yang berisi dua mangkuk bubur ayam dan juga air mineral.


Senyum sumbringan terlihat jelas di wajah Bella, ia juga menatap Jingga dengan semangat sekali. Bahkan Jingga melambaikan tangan kepadanya.


Namun tatapan Jingga menangkap sesuatu yang tidak beres. Tidak jauh dari Bella yang hendak menyebrang jalan terdapat sebuah mobil berwarna hitam gold tengah mengintainya. Bahkan Jingga dapat melihat jelas orang di dalam mobil itu.


"Gue emang nggak pernah menginginkan bayi itu. Lo aja yang kekeh mempertahankan nya!" ego Riko masih sama. Ia juga malu mengungkapkan perasaan nya yang perlahan-lahan telah berubah pada Jingga dan calon anak mereka.


"Ck, terserah Lo deh! Sampai kapanpun gue benci sama Lo!" ketus Jingga dengan nada bicara dan panggilan yang telah ia ubah.


Bella yang hendak menyebrang tidak menghiraukan isyarat Jingga untuk menghentikan langkahnya. Wanita itu mengira lambaian tangan Jingga sama artinya dengan beberapa saat lalu. Lambaian kesenangan.


Jingga melihat mobil itu melaju dengan kencang ke arah Bella. Bella yang berjalan perlahan masih saja belum sadar bahwa ada mobil yang akan menabrak nya.


"JANGAN KESINI MBAK!!" teriak Jingga setelah Bella sampai di pertengahan jalan. Wanita itu bukannya meringsut mundur, tubuhnya malah memegang ditempat tatkala melihat mobil sudah melaju kencang ke arahnya.


Jingga tidak tinggal diam, ia langsung berlari ke arah Bella dengan sekuat tenaga.


Kepala Jingga terhempas kuat ke tepian jalanan. Suara tabrakan itu tidak terbendung, semua orang melihatnya dengan syok. Bahkan Kartika melototkan matanya melihat kejadian yang barusan terjadi.


Jingga setengah sadar ketika mobil yang menabrak nya pergi begitu saja. Sayup-sayup matanya menahan sakit di setiap inci tubuhnya.


Banyak orang yang tidak sengaja mengabadikan momen itu dan tidak lupa memfoto plat kendaraan yang lari begitu saja setelah menabrak Jingga dan Bella.


Bella menahan nyeri tubuhnya setelah terjatuh ke tepian jalanan. Tangannya tergores begitupun dengan pinggangnya yang terasa begitu sakit.


Bella berusaha bangkit untuk melihat kondisi Jingga. Ia dibantu oleh beberapa orang yang mulai mengerumuni Jingga dan dirinya.


Darah segar mengalir di tepian jalanan, bukan hanya dari kepala Jingga tapi darah itu juga mengalir di kakinya.

__ADS_1


Kartika langsung histeris dan berlari ke arah Jingga. Ia meminta tolong agar orang-orang segera memanggil ambulans.


"Jingga, maafin Mbak. Maafin Mbak Jingga! Kamu harus bertahan!" ujar Bella menggenggam tangan Jingga erat. Ia sudah menangis panik dan begitu khawatir.


Sayup-sayup Jingga mendengarkan ucapan Bella.


"M-mbak tolong r-rawat a-anak Jingga! Jangan b-biarkan Riko m-merawatnya! T-tolong mbak!" ucap Jingga terbata-bata. Ia menahan begitu sakit perut dan juga kepalanya yang bersamaan.


Bella mengeleng keras. Ia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada Jingga. Bagaimanapun kejadian ini adalah karena nya. Kalau bukan menolong nya, Jingga pasti tidak akan seperti ini.


"Tidak Jingga, kamu pasti selamat. Kamu yang akan merawat anak mu! Jangan berucap seperti itu!" tukas Bella kemudian.


Semua orang berteriak panik. Beberapa dari mereka juga telah menelpon ambulans terdekat. Kartika hanya bisa diam dan menangis setelah mendengar ucapan Jingga kepada Bella.


Ia baru paham bahwa Riko benar-benar melukai hati Jingga. Sampai Jingga mewasiatkan kepada Bella untuk merawat anaknya. Kartika menggenggam erat tangan menantunya itu tanpa kata sedikitpun keluar dari mulutnya.


Sambungan telepon Jingga dan Riko masih tersambung.  Sebelum berlari ke arah Bella tadi, Jingga sempat meletakkan telpon ke dalam saku jaketnya. 


Riko mendengar semua keributan kecelakaan itu. Bahkan Riko sampai terhenyak saat membayangkan kejadian yang tengah menimpa istrinya itu. Riko terduduk tatkala Jingga berucap seperti itu kepada Bella.


Ia khawatir, ia panik dan bahkan menyesali semua perkataan nya barusan. Riko merutuki dirinya yang telah berucap sembarangan kepada Jingga.


"Halo... Halo... Jingga!!" teriak Riko dari seberang. Akan tetapi tidak ada satupun orang yang dapat mendengar kan ponsel Jingga yang berbunyi.


Semua orang terlalu panik, begitu pun dengan Bella yang terus-menerus menepuk pipi Jingga agar wanita itu terus sadarkan diri.


"Kamu harus tetap sadar Jingga! Sebentar lagi ambulans pasti datang. Tolong jangan pingsan Jingga!" seru Bella yang sudah terisak. Ia ikut menahan sakit tubuhnya yang kian pula menjadi perih.


Bahkan saat ini ia menahan kram perutnya. Bagi Bella keselamatan Jingga saat ini adalah hal yang utama.


"T-tolong jaga dia mbak!" lirih Jingga membuat Bella dan Kartika semakin histeris.

__ADS_1


Darah segar semakin mengalir banyak di tepian jalan itu. Kartika sudah menopang kepala Jingga dengan pahanya.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2