
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Bella menikmati makan yang sudah di pesankan oleh Riko untuk dirinya. Ia memakannya dengan sangat lahap karena begitu lapar sedari tadi.
"Waah Lo udah nggak makan berapa hari Mbak?" tanya Riko sambil terkekeh geli. Ia melihat cara makan Bella yang sedikit berlebihan.
Setelah mengelap mulutnya dengan tisu, Bella mengakhiri makanan dengan menyeruput jus di hadapannya.
"Gue belum makan seharian ini. Lo sih lambat banget balik ke kantornya. Gue jadi nungguin lama deh." ujar Bella yang malah menyalahkan Riko. Lelaki itu hanya menggeleng samar dan tersenyum tipis.
"Ya sorry Mbak, kan gue nggak tau kalau Lo ada di sini. Oh ya, Lo kesini sendiri Mbak?" tanya Riko kemudian.
Bella merubah ekspresi wajah nya dan menatap serius ke arah Riko yang duduk di hadapannya.
"Gue ke sini sendiri. Sebenarnya gue mau Lo bantu gue." ujar Bella yang membuat Riko sangat penasaran.
"Bantu apa Mbak? Emangnya lo berantem sama Rael dan Lo kabur dari rumah?" tanya Riko ngasal yang mendapati anggukan kepala dari Bella.
Riko melebarkan kelopak matanya, kaget.
"Lah padahal gue ngomong cuma ngasal. Emang beneran Lo berantem sama Rael? Lo kabur dari rumah?" tanya Riko kembali memastikan.
Bella mengangguk mantap dengan tatapan datar dan tidak berekspresi.
"Iya, ucapan Lo benar. Ceritanya begini..." Bella menceritakan semuanya kepada Riko. Mulai dari tertangkap basahnya Rael berselingkuh dengan Adelia sampai ia kabur dari rumah Dito.
"Waah ngadi-ngadi ya Rael, udah dapat yang bening kayak Mbak gini malah milih pucuk ubi kayak gitu!" celoteh nya yang membuat Bella terkekeh. Kalau urusan bodisyeming Riko lah juaranya.
"Makanya sekarang gue butuh bantuan Lo, gue mau hidup damai bersama calon anak gue ini. Lo kan sekarang udah kaya, bantu gue ya!" pinta Bella sambil mengerjap-erjapkan matanya untuk membujuk Riko.
__ADS_1
"Idih, iya-iya. Kalau Lo kayak gitu ngeri juga gue lihatnya Mbak. Terus sekarang Lo mau apa dari gue?" tanya Riko membuat Bella mengetuk-ngetuk dagunya sambil berfikir.
"Gue mau apartemen, gak perlu yang mahal-mahal, yang murah aja udh oke. Terus gue mau Lo cariin gue kerja yang nggak berat, yang penting gue dapat gaji untuk memenuhi kebutuhan gue." pinta Bella dengan tersenyum manis.
Sekarang Ia juga tidak bisa menggunakan kartu kredit pemberian Dito, mengingat keberadaan nya bisa ditemukan oleh Dito hanya dengan jejak digital seperti itu.
Saat Bella berucap tanpa mereka sadari obrolan mereka didengar oleh Kartika, Indarko serta Jingga dari depan pintu.
Jingga mengernyit heran saat mendengar panggilan Riko untuk wanita yang berada di dalam ruangan itu bersamanya. Riko sepertinya sangat akrab dan panggilan itu familiar di telinga Jingga. Bahkan suara wanita itupun mengingatkan Jingga pada Bella.
"Betul kan kata papa, Rayen itu membawa seorang wanita ke dalam ruangannya." ujar Indarko dengan prasangka buruknya.
"Ya sudah, kita ciduk saja mereka. Jangan kasih ampun!" ajak Kartika yang sudah menarik Jingga untuk segera masuk.
"T-tapi Ma, aku rasa..." belum sempat Jingga berucap. Pintu ruangan itu sudah dibuka kasar oleh Kartika. Wajahnya memerah menahan emosi.
"BERANI SEKALI KAMU MEMBAWA WANITA LAIN KE KANTOR YA RAYEN!" sarkas Kartika menatap Riko penuh amarah dan tajam.
'Waah si nyokap ngelawak nih. Mau taro dimana muka gue dihadapan Jingga dan Mbak Bella.' batin Riko kesal.
Jingga mengalihkan perhatian pada wanita yang berasal di hadapan sang suami. Seketika senyum lebar mengembang di wajahnya.
"Mbak!! Jingga rindu..." teriak Jingga yang melepaskan genggaman tangan Kartika dan beralih memeluk Bella.
"Mbak juga rindu kamu Jingga, kabar kamu gimana? Anak kamu sehat terus kan?" sahut Bella yang juga membalas pelukan Jingga.
Kartika melongo, begitu juga dengan Indarko yang melihat jelas bahwa wanita di ruangan itu adalah Bella.
"Mama sama Papa ngapain sih? Kok tiba-tiba marah begitu?" tanya Riko menatap kesal.
__ADS_1
"Aduh Mama jadi nggak enak sama nak Bella. Ini gara-gara Papa kamu, dia bilang kalau kamu selingkuh dari Jingga. Kamu bawa wanita lain ke kantor!" ungkap Kartika yang membuat Riko menghela nafas. Sedangkan Indarko menggaruk tengkukku nya yang tidak gatal dan menahan malu.
"Ya mana Papa tau, kata kariyawan kamu bawa wanita ke ruangan mu. Papa kira dia selingkuhan kamu." ujar Indarko yang tidak mau disalahkan sepenuhnya.
"Terus Papa ngadu ke Mama dan Jingga hanya karena prasangka Papa yang tidak jelas itu? Aduh, aku habis pikir deh." geram Riko dengan kesal.
"Udah-udah, jangan dimasalahkan. Lagian kedatangan aku ke sini cuma minta bantuan sama Riko. Nggak ngapa-ngapain kok, jadi jangan berprasangka buruk." terang Bella yang melepaskan pelukannya dari Jingga.
"Jangan salahkan Papa Mas, orang aku senang ketemu Mbak Bella. Rindu banget dari kemarin, untung si tomat nggak ileran." tutur Jingga kesenangan tanpa tau apa yang ia ucapkan. Bahkan Riko terdiam sejenak.
'Mas? sejak kapan dia mulai memanggil ku dengan sebutan Mas lagi? Apa Jingga sudah tidak membenciku?' batin Riko bertanya-tanya.
"Si tomat siapa?" tanya Bella bingung. Sedangkan Riko, Kartika dan Indarko juga ikut kebingungan.
Jingga mengusap perutnya dibalik sweater yang menutupi tubuhnya.
"Ini Mbak, bayi aku. Namanya baby tomat." ujar Jingga menyungging kan senyum.
"Apaan Lo ngasih dia nama gitu? Gue nggak terima anak gue Lo kasih nama tomat! Udah merah, bulat, berair lagi. Ihhh..." ujar Riko tidak setuju. Jingga langsung memasang wajah masam, tak lupa sebelum itu ia menatap Riko dengan tajam.
"Hikss-hikss... Mama, Mas Riko nya jahat." aduan Jingga dengan tangis yang ia buat-buat. Bahkan Bella menahan senyumnya ketika Kartika menarik kuping Riko, membela menantunya.
Beberapa Minggu terakhir, Jingga jadi sering mengadu pada Kartika dan juga baperan. Ia bahkan lebih berani melawan ucapan Riko bila tidak sesuai dengan kehendak hatinya. Jingga juga sudah biasa meminta apapun yang ia inginkan pada Riko.
Terkadang ada rasa iri di hati Bella melihat Jingga yang begitu akrab dengan mertuanya. Ia juga menginginkan sosok mertua ataupun Ibu, apalagi kondisinya saat ini begitu membutuhkan seseorang itu bersandar.
"Riko jangan bentak-bentak Jingga! Kamu sendiri kan yang kemarin-kemarin ngga mau anak itu. Kenapa sekarang malah memberontak jika Jingga memberi nama calon bayinya? Nama yang diberikan Jingga sangatlah imut. Benarkan Pa?" bela Kartika memarahi Riko dan juga mengode Indarko untuk berpihak padanya.
Sesuai janjinya beberapa bulan lalu, Kartika memperlakukan Jingga seperti anaknya sendiri. Bahkan kasih sayangnya saat ini untuk Jingga sudah melebihi sayangnya pada Riko.
__ADS_1
Bella hanya bisa tersenyum melihat kehangatan keluarga itu. Ia membayangkan masa depannya akan sehangat itu, tetapi dalam bayangan Bella selalu ada Rael. Ia merutuki dirinya yang tidak bisa melupakan Rael sedetik pun.
BERSAMBUNG.....