
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Pertanyaan Yoga membuat Dito teringat akan niatnya datang ke rumah sakit.
"Aku sudah menemukan keberadaan Riko." Ujar Dito membuat Bella, Nara serta Yoga mengalihkan pandangannya.
"Seriusan? Kok kak Dito nggak bilang dari tadi sih?" Tanya Bella antusias. Ia merasa ada secercah harapan untuk menyelesaikan masalah ini selanjutnya.
"Kan tadi situasinya rumit, aku aja sempat lupa. Tetapi yang jelasnya kalau Riko itu tidak jauh dari kota ini." Jawab Dito dengan serius.
"Sudah ku tebak dari awal, karena Riko memang sudah nggak punya siapa-siapa. Nggak mungkin juga dia pergi jauh-jauh dari kota ini." Ujar Bella kembali berfikir.
"Terus kapan kita akan menemui Riko? Biar masalah ini cepat selesai." Tanya Yoga yang membuat Nara sedikit mengerutkan dahinya.
"Kok Lo semangat banget sih? Bukannya tadi Lo mau bertanggung jawab sama Jingga? Kenapa sekarang kayaknya Lo jadi mengelak gitu?" Selidik Nara membuat Bella ikut menatap Yoga.
"Ah, nggak tuh. Perasaan Lo aja kali!" Jawab Yoga dengan sikap salah tingkahnya. Belum sempat Bella yang menambahkan pertanyaan pada Yoga, pintu kamar inap Jingga pun terbuka.
"Gibran mana?" Tanya Dito pada Rael yang sudah melangkah ke arah mereka.
"Di anterin Vino pulang. Nih kunci mobil Vino, katanya suruh Lo bawa mobilnya pulang." Ujar Rael duduk di sebelah sang istri dan menyerahkan kunci mobil itu pada Dito.
"Gimana cara kita menyelesaikan hal ini? Apa perlu melaporkan Riko ke polisi?" Tanya Rael mengeluarkan ide-ide nya.
"Tidak perlu Rael, hal itu akan mempersulit masalah ini. Dito sudah menemukan lokasi keberadaan Riko, kita tinggal ke sana. Menjemputnya paksa dan meminta pertanggungjawabannya." Jawab Bella dengan harapan besar bahwa hal ini akan cepat selesai.
"Oh ya? Lalu kenapa tidak sekarang saja? Agar Riko tidak pergi jauh dan kita bisa membawanya pulang sebelum Jingga sadar." Usul Rael. Dito dan Nara langsung mengangguk setuju.
"Tetapi siapa yang akan menjemputnya?" Tanya Yoga kemudian.
"Kalian bertiga lah. Aku dan Nara harus menjaga Jingga di sini. Pergilah sekarang, biar Riko mau bertanggung jawab dengan cepat." Titah Bella membuat Rael langsung menggeleng.
"Ais, harus banget ya aku pergi sama mereka ini? Kenapa nggak nunggu Vino dulu sih? Seenggaknya ada yang masih waras." Tolak Rael membuat Bella mencubit kecil pinggang Rael.
__ADS_1
"Kamu kalau bicara itu yang sopan! Emangnya mereka nggak waras? Sudah gih sana pergi jemput Riko. Pokoknya dalam beberapa jam kedepannya aku harus ketemu sama Riko. Sudah nggak sabar rasanya memberikan bogeman mentah pada lelaki banjingan itu!" Ujar Bella dengan tersenyum devil. Bahkan aura Bella mampu membuat Rael, Dito dan Yoga merinding.
"Aduh kamu tega sekali, kalau suamimu ini kenapa-kenapa gimana? Apa kamu nggak takut kehilangan aku?" Tanya Rael ber drama, membuat Yoga dan Dito langsung menggeleng-geleng dan hampir muntah.
"Nggak usah dramatis amat. Yuk pergi!" Ajak Dito menarik tangan Rael agar ia langsung berdiri.
"Salim dulu." Ujar Rael dengan suara manja pada Bella. Nara sudah menahan tawa nya sedari tadi karena melihat tingkah Rael yang sangat kekanak-kanakan. Bella pun menyambut tangan Rael dan langsung menyalaminya.
Ketiga lelaki itu akhirnya pergi dari rumah sakit untuk menemukan keberadaan Riko. Di ruang inap itu hanya tinggal Nara, Bella dan Jingga yang masih tidak sadarkan diri.
"Apa Riko itu punya keluarga selain kedua orang tuanya?" Tanya Nara penasaran.
"Ntah lah, yang aku tau waktu itu dia kehilangan orang tuanya. Tetapi yang membuatku bingung sampai saat ini, diwaktu kecelakaan itu Riko tidak mendapatkan luka sedikitpun. Padahal kedua orangtuanya meninggal sampai wajahnya tidak bisa lagi dikenali. Riko meminta pertolongan padaku waktu itu, makanya aku membawanya ke camp. Aku juga tidak menaruh curiga sedikitpun karena Riko terlihat seperti orang baik-baik." Jawab Bella membuat Nara malah semakin menaruh curiga.
"Aku pernah memergoki Riko menelpon seseorang dengan panggilan ibu. Makanya aku syok mendengar bahwa Riko sudah kehilangan kedua orang tuanya." Ujar Nara yang membuat Bella semakin tidak bisa menahan rasa curiga pada lelaki itu.
"Ah sudahlah, nanti kita akan tanyakan langsung padanya. Kalau bukan demi menjaga Jingga, sudah ku pastikan aku ikut dengan ketiga lelaki itu. Sebelum kesini akan ku hajar lelaki sialan itu!" Umpat Bella dengan kesal. Namun belum sempat Nara kembali berucap, dering ponsel Bella mengalihkan perhatian mereka.
Drrrrrrrrrrtttttttt... Dering handphonenya itu menampilkan nama Vini.
"Halo Vin." Sapa Bella.
"Halo Bel. Lo dimana sih? Kenapa Lo nggak datang ngajar hari ini? Apa Lo baik-baik saja?" Tanya Vini yang khawatir saat mendapati keberadaan Bella yang tidak ada di kampus.
"Gue ada sedikit masalah Vin. Apa Lo bisa datang ke restoran di depan rumah sakit Melati? Gue mau cerita sama Lo." Tanya Bella yang saat ini benar-benar ingin berbagi cerita pada sahabat nya itu.
"Baiklah Bel, Gue ke sana sekarang juga." Jawab Vini.
"Kalau gitu Gue tutup dulu ya. Gue langsung nunggu Lo di restoran itu." Ucap Bella yang langsung mematikan sambungan telepon. Vini pun bergegas dari kampus menuju ke restoran itu. Ia sangat mengkhawatirkan kondisi Bella, sahabat baiknya.
Bella meminta Nara untuk menjaga Jingga karena ia akan pergi keluar sebentar. Nara yang dangan sepenuh hati langsung mengangguki permintaan Bella itu. Setelah mengambil tas selempang nya, Bella langsung keluar rumah sakit menuju restoran yang sudah ia janjikan bersama Vini.
***
__ADS_1
Selang beberapa menit. Bella sudah memesan berbagai makanan yang menurutnya lezat. Tanpa menunggu Vini ia sudah menyantapnya dengan lahap. Bella juga tidak tau kenapa ia begitu lapar sampai tidak memperdulikan berapa hidangan yang sudah ia habiskan.
"Waah Lo mukbang atau gimana?" Tanya Vini yang baru saja sampai. Ia kaget karena untuk pertama kalinya melihat Bella makan banyak seperti itu.
"Gue tadi lupa makan siang." Ujar Bella yang baru sadar bahwa ia melewatkan makan siang saat mencari alasan pada Vini.
"Lupa makan siang? Emangnya Lo ngalamin masalah apa sih? Kayaknya serius banget." Tanya Vini yang ikut mencomot beberapa steak kentang di hadapan Bella.
"Lo ingat kasir cafe Latera itu?" Tanya Bella menghentikan makannya.
"Iya Gue ingat. Emangnya kenapa?" Tanya Vini mengerutkan dahinya bingung.
"Kasir itu udah gue anggap saudari sendiri, tetapi sekarang dia malah tertimpa musibah karena Gue nggak bisa lindungi dia." Ungkap Bella pada Vini.
"Terus kasir itu kenapa? Serius Gue nggak paham." Tanya Vini yang masih bingung mendengar cerita Bella.
"Namanya Jingga, dia di perkosa oleh orang yang juga sudah gue anggap saudara sendiri. Jingga juga hamil ulah perbuatan lelaki sialan itu!" Ucap Bella kesal tanpa sadar menggenggam sendok ditangannya dengan begitu keras. Vini lansung menutup mulut karena tidak percaya bahwa gadis seperti Jingga akan mengalami kekerasan seksual seperti itu.
"Terus sekarang gimana? Apa nggak Lo laporkan ke polisi aja?" Tanya Vini sambil mengusulkan idenya.
"Jingga trauma dan hampir bunuh diri. Sekarang dia tengah rawat. Untuk urusan ini belum saatnya dilaporkan pada polisi, Gue berusaha buat lelaki sialan itu untuk bertanggung jawab. Meski sekarang dia tengah kabur." Jawab Bella membuat Vini semakin menggeleng-geleng tidak percaya.
"Waah ini udah nggak bisa dibiarkan Bel. Masalah sebesar ini bisa jadi trauma seumur hidup. Pantes Lo ngajak Gue ketemuan depan rumah sakit, Gue kira Lo atau Rael yang sakit. Terus langkah selanjutnya apa?" Tanya Vini kembali.
"Rael sudah mencari keberadaan lelaki itu saat ini. Semoga saja dia cepat ketemu dan Gue bakalan hajar dia sebelum memintanya untuk bertanggung jawab. Gue mereka gagal banget dalam menjaga Jingga" Ujar Bella penuh rasa kesal dan bersalah.
"Lo yang sabar ya Bel. Meski Gue nggak tau jelas ceritanya, tetapi Gue yakin ini bukan salah Lo. Yang terpenting Lo sekarang jaga aja Jingga sama bayi yang ada di perutnya itu. " Ujar Vini mencoba untuk menenangkan rasa bersalah yang ada didalam hati Bella.
"Makasih ya Vin, Lo selalu menjadi yang terbaik soal mendengarkan cerita Gue." Ucap Bella dengan sedikit tersenyum.
"Sama-sama Bel. Apa Lo juga nggak mau periksa Bel?" Tanya Vini yang membuat Bella mengerutkan dahinya.
"Periksa apa?" Tanya Bella bingung. Tanpa menjawab Vini malah memperagakan dirinya sambil mengelus-elus perut seperti orang hamil.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....