MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
NIKAH SIRIH


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Sore itu Jingga akhirnya berpura-pura sadarkan diri setelah kepergian Kartika dan Riko dari ruang inap itu.


Nara menyuapi Jingga dengan sepenuh hati. Ia melakukan ini semua hanya demi berbuat baik dan paham akan perasaan yang kini Jingga alami.


"Waah kamu makan dengan sangat lahap." Ujar Nara dengan tersenyum hangat.


"Makasih ya Nara, kamu selalu ada buat aku." Ujar Jingga dengan rasa senang.


"Sama-sama Jingga, tetapi apa oleh aku tanya satu hal?" Tanya Nara setelah meletakkan piring sisa makanan Jingga ke atas nakas.


"Boleh, emangnya tanya apa?" Bingung Jingga bercampur dengan rasa penasaran.


"Apa kamu sudah siap menikah dengan Riko malam ini?" Sontak pertanyaan itu membuat Jingga hanya terdiam dan termenung. Ia bingung harus menjawab apa, karena jujur saja dirinya masih trauma bila berhadapan dengan Riko.


"Aku akan berusaha." Hanya itu kalimat yang mampu dilontarkan oleh Jingga.


Suara pintu terbuka kembali mengalihkan perhatian mereka. Kali ini Gibran datang dengan wajah datarnya. Ia mendapatkan kabar bahwa malam nanti Riko dan Jingga akan menikah, meski tidak bisa menerima kenyataan tersebut tetap saja Gibran ingin menemui Jingga untuk terakhir kalinya.


"Bisa tinggalkan kami berdua saja." Ujar Gibran menghampiri Nara dan Jingga. Nara langsung mengangguk dan melangkah keluar ruangan, menyisakan Jingga dan Gibran yang saling menatap sendu.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Jingga saat mengingat betapa babak belurnya Gibran tadi pagi karena dipukuli oleh Riko.


"Hahaha... Kamu lucu ya, yang sakit itu kamu, malah tanya aku baik-baik saja. Justru aku yang bertanya, kondisi mu bagaimana?" Tanya Gibran dengan kekehan singkat.


"Aku baik-baik saja." Jawab Jingga kikuk.


"Maaf ya, aku membuat keributan tadi pagi. Namun, kedatangan ku kesini untuk mengucapkan salam perpisahan. Aku akan berangkat nanti malam keluar negeri. Aku harap kamu bisa bahagia bersama lelaki banjingan itu." Ujar Gibran yang membuat Jingga langsung menitikkan air matanya.

__ADS_1


"Apa harus secepat ini kamu pergi? Bukankah 2 minggu lagi adalah wisuda mu? Aku tidak bisa kehilangan kamu Gibran, aku mohon jangan pergi! Hiks... Hiks..." Ujar Jingga yang langsung memeluk Gibran erat.


"Maafkan aku Jingga, kita bukan lagi sepasang kekasih. Nanti malam kamu juga akan menjadi istri orang lain, tolong lupakan aku." Ucap Gibran menahan tangisnya. Sebenarnya Gibran tidak ingin pergi saat kondisi Jingga seperti ini, tetapi Gibran juga tidak bisa menyaksikan kekasih hatinya ini akan menikah dengan lelaki lain. Gibran masih belum mau berdamai dengan kenyataan, oleh karena itu ia tidak bisa menghadapi kenyataan yang ada dihadapannya.


"Jangan pergi." Pinta Jingga yang terus memeluk Gibran erat.


"Jingga, mungkin ini sudah takdir kita berhubungan cuma sampai disini. Tolong lupakan aku dan kenangan manis kita. Hiduplah dengan bahagia bersama lelaki itu." Ujar Gibran sambil melepaskan pelukan erat Jingga padanya.


Kartika sedari tadi telah menyaksikan perpisahan antara Gibran dan Jingga yang sangat menyayat hati. Bahkan saat Gibran membuka pintu untuk keluar, Kartika yang berpura-pura duduk di kursi depan dapat mendengar jelas suara tangis pilu dari Jingga.


'Maafkan Rayen ya Jingga, Ibu janji bakalan buat kamu bahagia dan nggak pernah menangis kayak gini lagi.' gumam Kartika dalam hatinya. Kartika langsung pergi keluar rumah sakit dengan mengurungkan niatnya untuk menemui Jingga sore itu. Ia tidak ingin memperburuk perasaan Jingga tatkala ia tengah bersedih.


***


Malam itu sebagaimana ucapan Kartika siang tadi. Mereka melangsungkan ijab kabul Jingga dan Riko di ruang inap itu. Kedatangan Ayah Riko membuat Jingga mengurungkan niatnya untuk menghentikan pernikahan ini.


"Kamu tenang saja nak. Ayah akan membuat Rayen berubah menyayangi kamu dan Anak kalian. Anggap saja Ayah adalah Ayah kandung kamu selamanya." Ujar Indarko saat menemui Jingga untuk pertama kalinya. Perkataan itu sanggup membuat hati Jingga luluh untuk menikah dengan Riko. Ia merasakan adanya harapan saat Indarko berucap seperti itu. Setelah hidup beberapa tahun tanpa kedua orang tua, tentu Jingga merasa senang saat ada seseorang orang yang akan menganggapnya sebagai anak kandung.


"Apa pernikahan ini sirih?" Tanya Nara pada Kartika.


"Iya nak, setelah anak mereka lahir barulah nanti kita adakan pernikahan yang sah secara hukum." Jawab Kartika mendapati anggukan dari Nara.


Jingga duduk di atas bad pasiennya dengan tatapan kosong menatap semua orang, ia tampak ragu. Namun tidak sanggup untuk mengeluarkan pendapatnya. Bella yang duduk di kursi sebelah bad menggenggam tangan Jingga, menyalurkan rasa yakin pada Jingga.


"Kita mulai saja ijab kabulnya pak." Pinta Indarko pada pak penghulu.


"Baiklah pak." Jawab pak penghulu itu yang sudah berjabat tangan dengan Riko.


Dengan satu tarikan nafas Riko mengucapkan ijab kabul dengan lancar. Tanpa ucapannya terbelit sedikit pun. Jingga masih terpaku, tidak menyangka bahwa akhirnya akan seperti ini. Pernikahan yang ia idam-idamkan bersama Gibran terpaksa harus ia kubur dalam-dalam karena hari ini ia telah menjadi istri Riko.

__ADS_1


"Kalung ini adalah mahar dari Rayen untuk kamu Jingga." Ujar Kartika saat beberapa orang yang ada di ruang inap itu keluar.


"Terimakasih Bu, tetapi Jingga tidak memerlukan nya." Tolak Jingga dengan sopan, ia tidak menatap lawan bicaranya dan terus terpaku pada cincin yang ada dijari manisnya. Hadiah terakhir dari Gibran ini mampu membuatnya teringat akan kekasih hatinya itu.


Kartika dapat melihat Jingga mengusap lembut cincin dijari nya itu penuh kasih sayang. Kartika dapat menebak bahwa cincin itu adalah pemberian lelaki yang tadi sore ia lihat bersama Jingga.


"Simpan saja nak. Ini sudah menjadi hak kamu, kalung ini dibelikan Rayen hasil dari tabungannya sendiri. Kamu harus menghargainya." Paksa kartika memberikan kotak kalung itu ke tangan Jingga. Jingga tidak bisa menolak dan hanya menatap kotak itu dengan diam.


'Mengapa ia membelikan mahar semahal ini? Apa Riko benar-benar serius menganggap pernikahan ini?' tanya Jingga dalam hatinya.


***


Beberapa jam kemudian. Dito, Vino, Bella serta Rael memutuskan untuk pulang. Mengingat peraturan rumah sakit yang tidak memperbolehkan begitu banyak orang untuk menemani  pasien, meski ruang inap Jingga ini adalah ruangan VVIP. Sehingga hanya menyisakan Nara, Riko dan kedua orang tua Riko di ruangan inap itu.


"Kamu pulang saja bareng Ibu dan Ayah, Nara. Biar Jingga diurus oleh Rayen. Kita harus memberi mereka waktu untuk berdua." Ujar Kartika dengan tersenyum pada Nara.


"Tetapi..." Ucap Nara menggantung lalu menatap ke arah Jingga.


"Pulang lah Nara, aku tau kamu juga lelah. Aku baik-baik saja kok di sini." Ujar Jingga separuh hati. Sebenarnya ia takut bila harus ditinggalkan bersama dengan Riko, tetapi kenyataan membuatnya harus sadar bahwa lelaki yang ia takuti itu kini adalah suaminya.


"Baiklah Jingga, kalau begitu aku balik ke camp dulu ya. Aku janji besok pagi aku akan datang dengan cepat ke sini. Kamu jaga diri baik-baik ya, kalah ada apa-apa langsung hubungi aku." Ujar Nara panjang lebar yang langsung mendapatkan anggukan dari Jingga. Senyum paksaan sengaja ia tampilkan agar Nara sedikit yakin meninggalkan Jingga pada Riko.


"Kenapa harus Rayen sih Bu? Kan Rayen juga butuh istirahat." Tolak Riko kesal.


"Aku sendiri di sini juga nggak apa-apa kok." Ujar Jingga menatap kedua orang tua Riko.


"Tidak boleh dong sayang, kamu harus di temani Rayen. Lagian kalian sudah jadi suami istri sekarang, kemana pun harus bersama." Ujar Kartika pada menantunya itu.


"Kamu jaga Jingga baik-baik! Kalau terjadi sesuatu pada menantu dan calon cucu Ayah. Ayah pastikan hidup kamu tidak akan tenang!" Sarkas Indarko mengancam Riko. Dengan tatapan malas Riko memilih duduk di sofa tanpa membantah ucapan sang Ayah.

__ADS_1


Nara dan kedua orang tua Riko akhirnya berpamitan. Mereka memutuskan untuk pulang dan mengistirahatkan diri. Kedua orang tua Riko sekarang menginap di hotel tidak jauh dari camp sehingga membuat mereka dengan mudah mengantarkan Nara pulang.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2