
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Riko terbangun di atas ranjang yang sprei nya sudah amburadul, tidak lagi tertata rapih karena aktivitasnya dengan Jingga semalam. Namun, lelaki itu akhirnya baru sadar bahwa tubuhnya tidak memakai sehelai benangpun dan hanya di tutupi selimut. Semakin ia berpikir untuk mengingat hal semalam, semakin pula kepalanya terasa mau pecah.
"Aduh semalam gue kenapa sih? Kepala gue sakit banget." Gumam Riko bangkit dari ranjang. Ia berniat untuk membersikan tubuhnya yang terasa sudah begitu lengket karena keringat. Namun, baru saja melangkah ke arah kamar mandi, langkah Riko terhenti karena merasa menginjak sesuatu. Setelah ia lihat ternyata itu adalah sebuah kancing berwarna Lilac. Ya, itu adalah milik kemeja Jingga yang semalam ia tarik paksa sampai robek tidak beraturan.
"Ini punya siapa? Lah perasaan gue nggak pernah punya kancing baju warna ini." Bingung, itulah yang tengah di timpa oleh Riko. Ntah mengapa ia sama sekali tidak mengingat kejadian semalam. Hal terakhir yang ia ingat hanyalah di saat ia tengah menikmati beberapa minuman di club. Tidak ambil pusing, Riko pun menyimpan kancing baju itu tepat di nakas yang ada di sofa kamar itu.
***
Setelah beberapa menit. Riko keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih bertengger di pinggangnya. Saat memakai baju, Riko di kejutkan dengan sprei putihnya yang tampak memiliki bercak merah. Riko memperhatikan itu dengan dekat, bau darah yang sangat intens menyentuh hidungnya.
'Lah ini darah siapa? Gue nggak ngerasa punya luka. Apalagi sekarang gue abis mandi, pasti gue udah ngerasa nyeri kalau ada luka. Darahnya juga lumayan banyak di sprei in.' gumam Riko dalam hatinya. Karena merasa sudah lapar, Riko pun memutuskan untuk keluar kamar segera. Dengan pikiran yang masih mengira-ngira apa yang telah ia perbuat semalam.
***
Riko keluar kamar dengan wajah yang sudah fresh. Meski ia masih belum mengingat apa yang telah terjadi semalam. Di dapur Riko menikmati sarapannya. Ia dapat merasakan keheningan camp saat langkah Jingga terdengar begitu jelas di telinganya.
Jingga tidak tau kalau Riko ada di dapur, ia memutuskan keluar kamar hanya karena sudah merasa lapar. Sedari semalam Jingga hanya menangis bahkan menghabiskan waktu beberapa jam di dalam bathub air dingin itu.
Seketika langkahnya terhenti saat Riko yang duduk di meja makan tengah menatapnya dengan senyuman ramah. Jingga mencoba untuk terlihat biasa saja. Ia berusaha untuk melupakan setiap kejadian semalam walau hati dan harga dirinya sudah hancur.
__ADS_1
"Kamu nangis lagi pas nonton drakor ya? Kok matanya sebab banget?" Tanya Riko tampa bersalah karena memang ia saat ini tidak mengingat apapun yang terjadi di antara mereka.
'Apa ia tidak mengingat kejadian semalam? Mengapa begitu sangat santai padaku dan seolah-olah tidak terjadi apapun? Owh, mungkin ia juga berniat untuk melupakan kejadian semalam, sama persis dengan yang coba ku lakukan saat ini.' gumam Jingga dalam hatinya.
Tanpa menjawab, Jingga langsung membuka kulkas dan melihat beberapa makanan beku yang mudah untuk ia buat. Riko yang merasa di kacangi pun hanya berdelik tidak peduli dan menyantap roti yang ada di tangannya.
Setelah menghangatkan makanan beku miliknya, Jingga segera pergi dari dapur tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Ia tidak ingin berlama-lama satu ruangan bersama Riko. Namun, langkahnya terhenti saat tangan Riko menggenggam tangannya. Seketika kejadian semalam terlintas dalam ingatannya.
"Argggghhhh... Lepaskan!" Tegasnya menghempaskan tangan Riko keras. Sontak Riko kebingungan. Ia tidak merasa berbuat sesuatu yang salah pada Jingga sehingga membuatnya sampai terlihat begitu histeris.
"Aduh maaf, Mas mau tanya nih. Kamu semalam lihat mas bawa cewek ke sini nggak?" Jingga langsung terdiam ternyata dugaannya benar. Riko benar-benar lupa tentang kejadian semalam.
'Kenapa Jingga ketus sekali? Apa aku sudah berbuat salah padanya? Ia juga terlihat menghindari tatapan ku.' gumam Riko dalam hatinya bertanya-tanya.
Saat ingin melangkah ke lantai atas. Jingga tidak sengaja menangkap tas selempang yang ia pakai semalam masih tergeletak di atas meja ruang tamu. Jingga lansung sadar bahwa handphonenya berasa di dalam sana dan pasti saja Gibran sudah menghubunginya sedari malam. Saat membuka tas dan mengecek handphonenya, ternyata benar saja kalau Gibran sudah mengirim pesan dan menelpon puluhan kali.
'Gara-gara kejadian semalam, aku jadi melupakan Gibran! Ini semua salah Riko yang sudah memperkosa ku!' desis Jingga. Ia kembali melangkahkan kakinya menuju kamar.
***
Di dalam kamar Jingga memutuskan untuk menelpon sang kekasih hati. Jingga tidak ingin video call karena Jingga tau Gibran akan sangat curiga dan khawatir melihat wajahnya yang sudah kucel itu. Tetapi kejadian semalam membuatnya merasa telah mengkhianati Gibran sepenuhnya. Bahkan Jingga berniat untuk mengakhiri hubungan yang jelas-jelas sudah ia nodai ini. Tetapi apa daya, ia begitu mencintai Gibran sampai tidak memiliki cukup keberanian untuk itu.
__ADS_1
"Kamu kemana saja sayang? Kenapa semalam tidak mengangkat telpon ku? Kamu pulang dengan baik-baik saja kan?" Perhatian seperti itulah yang membuat Jingga semakin tergila-gila pada Gibran.
"Maaf ya Gib, aku semalam ketiduran. Handphoneku ternyata juga dalam mode silent. Aku baik-baik saja kok.", Jawab Jingga dengan bohong. Ia kini jelas sangat tidak baik-baik saja, apalagi ditambah dengan ia yang harus bersikap biasa-biasa saja di hadapan semua orang. Itu membuat Jingga sangat terbebani, ingin sekali ia bercerita tetapi ia sadar bahwa itu adalah aib dan juga teringat bahwa ia hanya hidup sebatang kara tanpa satu orangpun keluarga kandung.
"Syukur deh kamu baik-baik saja. Aku mau ngajak kamu, malam Minggu besok ke rumah. Papa sama Mama pengen kenalan sama kamu." Ucap langsung Gibran membuat Jingga kaget. Ia merasa belum siap bahkan setelah kejadian yang menimpanya semalam membuat Jingga ragu untuk menjalani hubungan dengan Gibran.
Jingga melamun panjang sampai akhirnya Gibran yang tidak kunjung mendapatkan jawaban pun kembali bertanya.
"Halo Jingga, kamu bisa mendengar ku kan? Kamu bisa jalan malam minggu dengan ku kan?" Tanya Gibran sekali lagi memastikan. Sontak Jingga langsung tersadar dan memutuskan untuk ikut. Ia pikir apa salahnya jika ia menuruti permintaan sang kekasih yang satu ini. Mengingat ia juga ingin melihat respon kedua orang tua Gibran sedari dulu atas hubungan mereka.
"Halo Gib. Baiklah aku akan ikut denganmu." Jawab Jingga yang masih setengah hati.
"Kalau begitu aku mau ke kampus, sidang hari ini pasti akan menguras tenaga dan pikiran ku. Sampai nanti malam, aku akan menelpon mu lagi." Pamit Gibran yang menyadarkan Jingga kembali bahwa hari ini sang kekasih akan melakukan sidang kuliahnya.
"Aduh maaf ya Gib, aku lupa dan nggak bisa bantu apa-apa. Kamu yang semangat ya sayang, semoga lancar." Ujar Jingga diselingi doa untuk Gibran.
"Terimakasih sayang, kalau begitu aku tutup dulu ya." Pamit Gibran yang tampa menunggu jawaban Jingga langsung memutuskan sambungan telepon.
'Aku terlalu banyak berpikir sampai melupakan hal-hal penting seperti itu. Mengapa hidup ku harus seperti ini? Andai saja semalam aku tidak memperdulikan Riko, pasti saat ini aku tidak akan banyak pikiran ulah kejadian semalam. Dasar bodoh!" Decak sebal Jingga merutuki dirinya sendiri.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1