MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
NAIK MOTOR


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Setelah berganti pakaian akhirnya Bella dan Rael melangkah keluar rumah menuju tempat Rael memarkirkan motornya.


"Kita berangkat pakai motor?" tunjuk Bella pada motor Rael yang beberapa hari lalu sempat ia duduki.


"Iya Bel, maaf ya sekarang cuma bisa pakai motor. Insyaallah kalau ada uang lebih aku beli mobil." ujar Rael menatap Bella dengan senyum manis.


'Lihat Rael senyum manis gini ternyata bikin gue sadar kalau dia tampan juga.' Gumam Bella dalam hatinya.


"Nggak apa-apa kok Rael, lagian aku lebih suka naik motor dari pada naik mobil." jujur Bella, karena memang itu adanya. Ia adalah ketua geng motor tentu lebih menyukai naik motor ketimbang naik mobil.


"Kalau begitu syukur lah, mari naik." ajak Rael yang sudah naik duluan ke atas motornya. Bella pun menyambut tangan Rael yang membantunya untuk naik ke atas motor ninja itu.


"Jangan ngebut-ngebut ya, santai aja bawa motornya." titah Bella mendapati anggukan dari Rael. Setelah mereka memakai helm, Rael pun melajukan motornya keluar pekarangan kediaman Ken Wijaya.


"Kamu mau bawa aku kemana sih?" tanya Bella yang masih penasaran.


"Ada deh, ntar kamu lihat sendiri. Pegangan ya Bel!" Ujar Rael menambahkan kecepatan motornya. Bella yang tengah tidak siap pun langsung memeluk Rael dengan erat, takut jika nanti ia akan terjatuh.


'Ya ampun, untung jantung gue nggak copot. Gue kira nih bocah udah berfikir dewasa, nyatanya masih ke anak-anakan gini.' geram Bella dalam hatinya. Jantungnya berdetak lebih kencang saat ia sadar kini tengah memeluk Rael erat.


"Kamu mau bunuh aku atau gimana ha?" teriak Bella membuat Rael malah menambahkan kecepatan motornya.


"Hahaha... peluk yang erat istriku!" titah Rael yang ikut berteriak, membuat Bella semakin kesal. Meskipun kesal, Bella terpaksa semakin memeluk Rael karena takut dirinya akan terjatuh.


'Mending gue tadi deh yang bawa motornya, gue nggak takut kalau gue yang bawa motor ngebut. Tapi kalau di bonceng gini rasanya nyawa gue mau melayang.' pikir Bella dengan kesal.


Selang beberapa menit akhirnya Rael mengurangi kecepatan motornya. Bella pun melepaskan pelukan eratnya pada Rael. Ia melihat sekeliling jalanan dan merasa sangat familiar.


"Ini kan jalan ke kampus, kamu mau ngapain ke kampus?" tanya Bella pada Rael.

__ADS_1


"Ha apa? nggak denger nih." ujar Rael sambil menahan tawa di balik kaca helm nya. Ia ingin menjahili Bella.


"Kita mau ngapain ke kampus?" tanya Bella sekali lagi dengan suara yang sedikit meninggi.


"Serius nggak denger, apa sih Bel?" Ucap Rael semakin jahil.


"Ngapain ke kampus Rael?" tanya Bella sekali lagi dengan level kesabaran yang hampir habis. Bagaimana tidak, karena jalanan ini sangat sepi dan bunyi suara motor juga tidak sebesar suara Bella. Lalu apa yang menyebabkan Rael tidak mendengar perkataan Bella, padahal suaranya juga sudah meninggi.


'Ini Rael budek atau gimana sih? Masa setinggi itu suara gue nggak kedengaran?' kesal Bella dalam hatinya.


"Ih apaan sih, nggak denger! Hehehe..." tawa kecil Rael terdengar di telinga Bella.


"Blablablabla..." gumam Bella kesal karena tau jika Rael menjahilinya.


"Oh gitu, kita nggak ke kampus kok Bel. Cuma lewat saja." ujar Rael dengan bersusah payah menahan tawanya.


"Apaan sih, kamu jahil banget! Tadi aku bilang jelas-jelas nggak dengar, sekarang malah di jawab ucapan blablablabla nya." ujar Bella tidak terima, ia menggelitik perut Rael dengan kesal.


"Kita kemana sih? itu gerbang kampus udah lewat loh." tunjuk Bella pada pagar kampus yang tertutup karena hari ini adalah hari libur.


Tidak menjawab pertanyaan Bella, Rael membelokan motor ke kiri dan memberhentikan nya tepat di hadapan restoran. Restoran yang sama di mana ia pertama kali bertemu dengan Bella, Restoran Genandra.


"Lah ini kan..." ucap Bella menggantung saat turun dari motor dan seketika teringat kejadian beberapa hari lalu.


"Iya ini restoran tempat dosen kecil seret aku buat balik ke kampus." ejek Rael membuat Bella menahan tawanya.


"Apaan sih, aku nggak kecil ya!" ucap nya tidak terima.


"Aduh siapa ya yang nyebut nama kamu? kepedean sekali. hahaha..." Ujar Rael membuat Bella malu dan menatap kesal Rael.


"Ih kok gitu sih?" tanya Bella dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Hahaha, udah ayuk masuk." ajak Rael yang tiba-tiba menggenggam jemari tangan Bella erat.


"Harus ya gandengan gini?" bisik Bella memasuki restoran itu pada Rael.


"Di mohon kerjasamanya sebentar ya Bel." Rael pun ikut berbisik pada Bella. Membuat si empunya hanya mengangguk saja.


"Selamat siang tuan, ada apa tuan datang siang ini?" tanya seorang pelayan yang melihat kedatangan Rael dan Bella.


"Kumpulkan semua pekerja restoran di lantai atas, ada pengumuman yang akan saya berikan. Tolong segera, saya akan menunggunya!" titah Rael mendapatkan anggukan kepala dari sang pelayan. Bella tidak terkejut jika pelayan ini memanggil Rael tuan, karena jelas saja restoran ini pasti milik keluarga Rael karena restoran ini memilik marga yang sama dengan keluarga Genandra.


"Ayuk Bel kita ke lantai atas, kamu udah lapar?" tanya Rael sambil melangkah ke lantai atas.


"Belum, emang nya pengumuman apa yang akan kamu berikan?" tanya Bella yang penasaran.


"Tunggu bentar dulu, nanti kamu juga tau. Yuk duduk sini!" ajak Rael menduduki sofa mewah yang ada di lantai atas. Di ruangan ini Bella merasa tengah berada di ruang VVIP karena barang-barang nya terlihat sangat mewah. Bella pun akhirnya ikut duduk di sebelah Rael, tetapi ia sedikit risih karena Rael masih belum melepaskan genggaman tangan nya.


"Ini belum bisa di lepas?" tanya Bella berbisik dan menunjukkan tangan mereka.


"Nanti ya Bel, aku cuma pengen kita kelihatan lebih hangat saja. Apalagi di hadapan para pelayan." bisik Rael memberikan penjelasan kepada Bella.


'Tetapikan pelayan nggak tau kami menikah, mengapa harus menggenggam tangan gue sih? Gue semakin bingung aja dengan perlakuan nya hari ini. Kadang dewasa, kadang anak-anak dan kadang misterius kayak gini.' pikir Bella bingung. Sebelum Bella sempat menjawab, beberapa orang pekerja di restoran ini datang menghampiri mereka. Ada beberapa koki, pelayan serta seorang manajer yang tampak lebih tua dan killer dari mereka semua.


"Selamat siang tuan." ujarnya berbarengan. Melihat orang-orang tersebut berdiri sedangkan Bella duduk. Ia tidak enak hati, kemudian berniat untuk ikut berdiri tetapi niatnya di urungkan karena tangannya di tahan oleh Rael. Rael menatap Bella dan memberi isyarat agar tetap duduk saja.


"Selamat siang semua, maaf telah mengganggu waktu kerja kalian. Untuk itu saya akan memberikan pengumuman yang kalian semua harus tau." ucap Rael dengan sangat berwibawa. Membuat Bella menatapnya tidak percaya, bahwa orang yang berbicara di sampingnya itu adalah Rael sih bocah ke anak-anakan yang pernah ia kenal.


"Baik tuan, apakan pengumuman itu tuan?" tanya seorang pelayan.


"Perkenalkan orang di samping saya, Bella Wijaya. Panggil saja Nyonya Bella. Ia adalah istri saya. Kalian harus menghormatinya sebagaimana kalian menghormati saya. Apapun yang ia minta, harus kalian penuhi!" titah Rael membuat Bella membulatkan matanya. Bukan hanya Bella yang kaget tetapi juga dengan beberapa orang di hadapan mereka.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2