MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
HAL PENTING


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Kali ini Bella tidak meronta lagi saat Rael mendekati dirinya. Ia juga merasa bersalah karena beberapa bulan ini telah salah paham pada suaminya.


Bella tidak menyangka bahwa Adelia selicik itu, meski ia sekarang sangat membenci Adelia, tetap saja ia sedih mendengar Adelia yang dimasukkan ke rumah sakit jiwa.


"Lain kali jangan kabur-kaburan lagi!" ujar Rael yang memecahkan keheningan.


Bella menghela nafas.


"Siapa sih yang juga mau kabur? Kan situasi aja ya bikin aku kabur." sahut Bella dengan nada kesal.


Bella meringsut kan duduknya ke depan, mengisyaratkan Rael untuk duduk di belakangnya. Lelaki itu tampak kesusahan saat memijit Bella dengan berdiri.


"Kok kamu maju?" Rael kembali salah paham. Ia pikir Bella kesal lagi dan menjaga jarak darinya.


Tanpa menatap ke belakang, Bella berdecak kecil. Ditinggalkan Bebe bulan, suaminya ini masih saja tidak peka.


"Kamu duduk di belakang aku, ngga enak kan kalau berdiri gitu?" ucap Bella yang masih bernada ketus.


Mendengar hal itu membuat mata Rael berbinar-binar. Ia senang mendapati Bella yang seperti nya sudah tidak marah lagi padanya.


Dengan gerak cepat Rael duduk di belakang sang istri, tanpa menjeda sedikit pun pijatannya di pinggang Bella.


Bella menikmati pijatan Rael tersebut tanpa bersuara.


"Ngapain aja selama aku kabur dari rumah?" tanya Bella penasaran.


"Aku kerja di kantor Ayah dan berusaha mencari kamu sampai mengelilingi kota." jawab Rael dengan jujur.


"Kenapa cari aku? Bukannya kamu benci aku?" tanya Bella kembali. Ia teringat kejadian sebelum malam itu, dimana Rael begitu menyiksanya sampai ia sendiri kesakitan.


Mendengar pertanyaan Bella membuat Rael mengeleng keras. Selama ini ia sudah salah paham, di tambah lagi memperlakukan Bella dengan kasar adalah kesalahan yang besar.


"Maaf Bel, seharusnya aku tidak kasar padamu. Maaf juga tidak tau kalau ada dia di sini." lirih Rael yang menangkupkan wajahnya ke leher Bella. Tangannya yang tadi memijit pinggang Bella, kini telah berpindah pada perut. Sedikit mengelusnya dengan penuh kasih sayang.


Bella terkesiap, tubuhnya menegang tatkala Rael bertingkah manja seperti itu. Seolah-olah kenangan mereka dulu kembali terasa.


Beberapa menit Bella terdiam, begitu pun dengan Rael yang menikmati pelukan nya pada Bella. Ia merasakan perut Bella yang sudah mulai berbentuk, menyalurkan kehangatan di sana.


Elusan Rael malah membuat Bella merasa begitu nyaman. Keinginan untuk di peluk Rael beberapa bulan belakangan ini akhirnya terwujud. Rasa kesal dan jijiknya seketika menghilang. Bella sampai memejamkan mata dan tersenyum tipis ketika deru nafas Rael di tengkuk leher nya terdengar berirama.

__ADS_1


Tanpa mereka berdua sadari. Dito dan Vino yang hendak memasuki ruangan menghentikan langkah mereka tepat di depan pintu. Dari kaca pintu, Dito dapat melihat jelas betapa bahagianya Bella bersama Rael. Mimik wajah nya tidak dibuat-buat bahagia seperti ketika bersama dirinya.


"Lo yang sabar bro!" ujar Vino yang paham perasaan Dito. Ia menepuk pelan bahu Dito.


Dito sekarang sadar jika ia harus benar-benar merelakan Bella.


"Lo masuk aja, gue mau pergi dulu. Jangan lupa kasih berita itu pada mereka." ujar Dito yang memerintah Vino.


Vino lebih memilih untuk mengangguk saja dibandingkan menahan langkah Dito. Ia tau jika sepupunya ini pasti mencoba untuk menetralkan perasaan nya.


Kepergian Dito membuat Vino langsung mengetuk pintu inap Bella.


Rael dan Bella menatap ke arah sumber suara dan melepaskan pelukan Rael. Lelaki itu memilih turun dari bad pasien.


"Ada apa?" tanya Rael ketika Vino sudah melangkah menghampiri mereka.


Vino memilih duduk di sofa tamu dan menatap dua anak manusia di depannya dengan tatapan serius.


"Semua kecelakaan ini sudah direncanakan oleh Jesica." ungkap Vino to the point.


Penuturan Vino membuat Bella dan Rael melongo.


"Terus sekarang gimana?" tanya Bella penasaran.


"Tangan aja Bu Bella, sekarang kalian sudah aman. Jesica sudah di tangkap dan menurut hukum, hukuman nya bisa puluhan tahun di penjara bahkan dihukum seumur hidup. Apalagi ia berniat untuk membunuh orang, tabrak lari lagi." ujar Vino dengan tersenyum tipis.


Mendengar kata 'tabrak lari' dari mulut Vino, membuat Bella teringat akan Jingga yang sudah menyelamatkan hidup nya.


"Jingga gimana? Sekarang dia dimana? Apa dia baik-baik saja?" panik Bella membuat Rael langsung menghampiri dan kembali membawa Bella dalam pukulannya.


"Kamu tenang saja Bella, Jingga sudah di operasi tapi harus di rujuk ke luar negeri." bukan Rael ataupun Vino yang menjawabnya, tapi Arya yang baru saja datang dengan seorang suster dibelakangnya yang membawa box bayi.


"Apakah begitu serius kek? Aku ingin melihat nya! Bawa aku ke sana!" pinta Bella meronta-ronta.


Rael mengeleng keras.


"Kamu masih belum sembuh, pinggang mu masih sakit bukan?" tolak Rael membuat Bella semakin meronta untuk turun dari bad pasien nya.


"Tenang dulu Bella! Ada hal penting yang ingin kakek bicara kan pada kalian!" tukas Arya yang berdiri di hadapan Bella.


Bella yang tadinya meronta dibuat tenang dan merasa penasaran ulah ucapan Arya. Begitu pun dengan Rael dan Vino yang menatap dengan ekspresi bertanya.

__ADS_1


"Ini adalah bayi Jingga dan Riko." tunjuk Arya yang beralih pada box bayi di samping nya.


Bayi kecil itu dipasangi alat-alat medis untuk membantunya berkembang dan tumbuh.


Pandangan pertama Bella dan Rael membuat hati mereka tersentuh sekali. Wajah bayi itu membuat Bella menitikkan air mata haru.


"Kenapa kakek membawanya ke sini?" tanya Rael penasaran.


"Mulai sekarang dia adalah bayi kalian berdua, kakek sudah memasukkan nama nya ke dalam kartu keluarga kalian!" ungkap Arya dengan enteng.


Membuat ketiga manusia yang ada di ruangan itu semakin bingung.


"Jangan bercanda kakek, nanti gimana dengan Riko dan Jingga?" tanya Bella yang terkekeh kecil.


Ia berfikir mungkin Arya tengah bercanda dan berusaha membuat ia tertawa.


Arya mengeleng keras.


"Ini sudah kesepakatan yang kakek buat dengan keluarga Indarko. Jadi kalian juga harus mau menuruti permintaan kakek yang satu ini, kakek akan membiayai semua kebutuhan anak ini bersama kalian. Oleh karena itu kalian tidak perlu khawatir." tukas Arya menjelaskan.


"Kesepakatan? Kesepakatan macam apa yang membuat Riko dan Jingga sampai merelakan anak mereka?" tanya Rael tidak menyangka. Vino mengangguki ucapan Rael dan juga setuju dengan pemikiran Rael.


"Keluarga Indarko akan bangkrut, kakek hanya menolong mereka. Apalagi sekarang mereka harus fokus pada kesehatan Jingga diluar negri. Tidak mungkin bayi ini akan mendapatkan kasih sayang dan perhatian lebih dari mereka." jelas Arya membuat mereka bertiga akhirnya paham.


Bella teringat akan kejadian kecelakaan itu, ia sedikit meringis ketika ucapan terakhir Jingga yang meminta dirinya menjaga sang anak.


"Tapi kan kek, aku dan Bella tidak mungkin merawat anak itu. Bella juga masih belum sembuh, ditambah lagi ada anak kami dalam perut Bella saat ini." tolak Rael Seca halus. Ia tidak ingin bayi Jingga malah merepotkan istrinya yang tengah hamil.


Bella memegang tangan Rael lembut. Ia menatapnya dengan tersenyum tipis dan gelengan samar.


"Tidak masalah Rael, aku bahkan senang jika bisa merawat anak Jingga. Aku nggak bakalan kerepotan kok, kan ada Mbok Iyem di rumah. Apalagi Jingga seperti itu karena menyelamatkan aku, aku berhutang nyawa pada dirinya." jawab Bella dengan yakin.


Mau tidak mau Rael hanya bisa menghela nafas. Keputusan yang sudah di ambil Bella tidak akan bisa ia bantah.


"Baiklah Bel, kalau begitu kita akan merawat anak itu seperti anak kita sendiri." ujar Rael dengan senyum yang sedikit di paksa. Hatinya masih ragu tapi sudah sedikit yakin karena melihat keyakinan Bella.


Mendengar hal itu membuat Arya tersenyum lebar. Ia memberi kode pada suster di sampingnya untuk membawa kembali bayi itu keruangan bayi. Karena tidak baik ia berlama-lama di ruangan lain, tubuhnya masih rentan untuk berinteraksi dengan dunia luar.


Mungkin bayi itu juga membutuhkan waktu yang lama untuk harus dirawat sampai ia siap menyapa dunia luar.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2