
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Bella tidak percaya bahwa Rael mengungkapkan status mereka di hadapan orang-orang ini.
"Kamu kenapa bilang ke mereka, kan kita aja nikah nya diam-diam." bisik Bella yang tidak mengerti dengan pemikiran Rael. Bisikan Bella membuat Rael mengerutkan dahinya.
"Baik tuan, kami akan melayani Nyonya sebaik mungkin." ujar sang manager mewakili pekerja restoran lainnya.
"Kalau begitu kalian boleh keluar, oh ya tolong bawakan kami makan siang dan beberapa camilan." titah Rael yang di angguki oleh beberapa orang di hadapan mereka. Orang-orang tersebut keluar dari ruangan itu serta meninggalkan Bella dan Rael berduaan di sana.
"Siapa yang bilang kita nikah diam-diam?" tanya Rael menatap Bella serius.
"Kan semalam menikah nya seperti itu." ujar Bella secara logika nya.
"Ini kamu lihat Bel, di sini di sebutkan bahwa Anak tunggal dari keluarga Genandra telah menikah malam tadi dengan pewaris tunggal keluarga Wijaya. Meski disini wajah kita di samarkan, tentu saja beberapa orang terdekat kita akan tau." jelas Rael menunjukkan berita terbaru yang ada di handphonenya. Bella yang mendapati kenyataan itu langsung kaget dan menutup mulutnya tidak percaya.
"Aku benar-benar belum siap Rael, apakah sahabatku akan mengetahui kita menikah juga? Apa orang-orang di kampus juga akan tau?" tanya Bella dengan panik. Rael pun memegang bahu Bella, mencoba menyalurkan perasaan tenang pada Bella.
"Aku tau perasaan mu Bel. Tetapi untuk sahabat mu lebih baik kamu beritahu sekarang, kalau urusan kampus sudah di amankan oleh kakek mu. Agar kita berdua nyaman di kampus dan gosip tidak akan membuat stress. By the way, resepsi pernikahan kita dilakukan setelah aku wisuda, kalau tidak salah masih ada beberapa bulan lagi." ujar Rael sambil tersenyum manis. Bella tersadar mengapa Rael sangat santai padahal semalam dirinya yang paling bersikeras tidak ingin menerima pernikahan ini.
"Kamu mengapa berubah? Mengapa sangat santai sekali, seperti tidak ada yang terjadi. Apa kamu ingin membuat aku merasa sangat bersalah?" tanya Bella serius membuat Rael tertawa.
"Hahaha... kan kamu sendiri yang bilang semalam ingin menikah dengan ku Bel. Lalu apa yang salah dengan sikap santai ku itu, lagian bagaimana pun orang lain memandang pernikahan kita, tetap hanya kita yang akan menjalani nya. Jadi aku rasa kita hanya perlu saling belajar, aku memiliki prinsip sedari dulu kalau aku akan menikah dan tidak akan bersikap seperti Ayah ku yang menyepelekan istri serta anaknya." ujar Rael.
"Tetapi Ayah mu orang yang baik Rael, dia bahkan sering membantu aku dan ibu dari dulu." ungkap Bella membuat Rael menggelengkan kepalanya.
"Hanya aku yang tau bagaimana Ayah. Mungkin di luar ia terlihat baik tetapi di dalam ia tidak lebih dari lelaki pecundang yang tidak pernah bertanggung jawab pada istri dan anaknya." ujar Rael. Bella merasa tidak percaya bahwa hubungan Rael dan Om Haris begitu tidak baik.
__ADS_1
'Aku akan membuat hubungan kalian baik lagi. Ini pasti salah paham yang sudah terlanjur tidak di luruskan.' niat Bella dalam hatinya.
"Sudahlah jangan dibicarakan lagi. Apa hari ini kita hanya akan disini?" ucap Bella mengalihkan topik.
"Iya Bel, kita pulang sehabis aku membagikan gaji mereka ya. Aku juga belum mengecek keuangan bulan kemarin." ujar Rael membuat Bella bingung.
"Mengapa kamu yang melakukan itu, bukannya restoran ini milik keluarga Genandra. Mengapa tidak Ayah mu?" tanya Bella penasaran.
"Siapa bilang ini milik keluarga Genandra? Meski ini hadiah ulang tahun ke 17 ku dari Ayah. Tetap saja semua adalah milik ku tidak ada satu persen pun uang keluarga Genandra. Mulai sekarang aku yang akan menafkahi mu Bel. Walaupun sedikit dan tidak sebanding dengan gaji mu sebagai dosen, tetapi keuangan restoran ini bisa menghidupkan kita meskipun tidak bergantung pada keluarga mu ataupun keluarga ku." ungkap Rael pada Bella. Bella sangat tidak percaya bahwa restoran ini benar-benar milik pribadi suaminya. Bahkan Bella sempat berfikiran bahwa Rael terlalu berlebih-lebihan saat ia memperkenalkannya pada semua pekerja restoran ini.
"Aku kaget, sungguh aku tidak percaya kamu memiliki restoran ini secara pribadi." ujar Bella membuat Rael tersenyum.
"Kamu lihat kan, suami mu ini bertanggung jawab lahir dan batin untuk mu. Jadi jangan sungkan meminta apa yang kamu inginkan." ucap Rael menyombongkan dirinya. Bella pun ikut tertawa melihat eskpresi Rael dan memukul bahu Rael lembut.
"Hahaha... Dasar bocah, gitu aja sombong. Untung suami." ujar Bella membuat Rael semakin senang dibuatnya.
"Ih apaan sih, kamu salah dengar nih!" ucap Bella malu-malu.
Di saat yang bersamaan beberapa pelayan memasuki ruangan dengan membawa beberapa makan siang dan camilan. Bella menatap nya antusias karena semua makanan tersebut sangat terlihat enak.
"Silahkan dinikmati tuan dan nyonya." ujar si pelayan yang kemudian pergi dari ruangan tersebut.
"Waah... semuanya terlihat enak. Kayaknya aku sudah mulai lapar." ucap Bella.
"Ya sudah makan saja, aku ke bawah sebentar ya. Ingin mengecek keuangan bulan kemarin dan juga membagikan gaji. Kamu makan saja duluan." titah Rael membuat Bella mengerutkan dahinya.
"Masa kamu nggak ikut makan? Kalau begitu mending bungkus saja. Katanya tadi makan berdua." ucap Bella bernada kesal. Rael yang hendak berdiri langsung kembali duduk.
__ADS_1
"Iya-iya maaf, ayuk makan!" ajak Rael, Bella hanya menjawab dengan anggukan. Mereka pun akhirnya makan siang dengan nikmat tanpa obrolan apapun.
⏳Beberapa menit kemudian⏳
Seusai makan siang, Rael meminta izin pada Bella untuk ke bawa agar pekerjaan nya di restoran cepat selesai. Alhasil tinggal lah Bella seorang diri yang duduk di sofa mewah itu dengan menikmati camilan.
Tringgg... Dering ponsel di tasnya mengalihkan perhatian Bella.
"Halo Vin, ada apa?" tanya Bella yang mendapati telpon Vini.
"Halo Bel, lo dimana? Jangan bilang kalau lo nggak mau jelasin yang di berita itu ke gue? Lo jahat banget sih, masa gue sebagai sahabat lo sendiri nggak tau apa-apa. hiks-hiks..." sarkas Vini sambil menangis pada Bella.
"Ya ampun, gue minta maaf banget Vin. Gue nggak ada maksud apa-apa. Pokoknya lo harus percaya sama gue, ceritanya panjang banget. Pas ketemu lo nanti, gue janji bakalan cerita. Tapi serius gue nggak pernah niat buat bohongi lo. Hanya aja momen nya belum tepat buat cerita ini ke lo." jelas Bella mencoba meredam amarah sang sahabat.
"Okey, gue tunggu lo ceritain semuanya. Berarti benar lo nikah sama Rael? Sejak kapan lo pacaran sama dia Bel?" tanya Vini yang terdengar mulai tenang.
"Iya, gue udah nikah tadi malam. Itu juga ceritanya panjang, besok-besok deh gue ceritain. Sekarang yang terpenting lo jangan marah dulu. Soalnya gue lagi capek bujuk orang yang lagi ngambekkan. Masalah gue udah terlanjur banyak." ungkap Bella mendapat tawa kecil dari Vini di seberang.
"Hmmm... iya deh Bu Dosen killer. Lo yang semangat ya, gue bakalan setia nunggu lo cerita. Semangat juga buat brondong nya. Gue doakan semoga kalian cepat dapat momongan." doa Vini yang ternyata di amin kan Bella dalam hatinya.
"Ih apaan sih, masih belum 24 jam kali nikahan gue. Masa udah bahas-bahas anak." ujar Bella dengan suara kesal.
"Hahaha, iya in aja deh. Kalau gitu udahan dulu ya." ucap Vini.
"Haha, Oke bye Vin." jawab Bella. Vini pun mematikan sambungan telepon.
"Siapa yang nelpon?" Rael tiba-tiba saja berucap tepat di sebelah Bella. Jarak wajah mereka sangat dekat. Sontak hal itu membuat Bella kaget dan langsung membuatnya menoleh.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....