MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
BERHARAP KEMBALI


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Hari-hari berlalu.


Bella mulai terbiasa tinggal di kota yang baru ia tempati bersama Dito. Lelaki itu sangat bertanggung jawab, bahkan ia membiayai setiap kebutuhan Bella.


Namun Bella juga tidak mau terus menerus memberatkan Dito. Meski ia tau bahwa Dito bekerja dengan penghasilan yang relatif tinggi. Bahkan sekali gajinya saja mampu membeli satu unit motor.


"Kamu yakin mau bekerja?" Tanya Dito saat mereka tengah menyantap sarapan.


Bella seketika mengangguk mantap.


"Yakin kak, lagian aku nggak mungkin terus-menerus tinggal di sini dan merepotkan kakak. Aku juga punya kehidupan sendiri." Ujar Bella yang sebenarnya bermaksud baik. Akan tetapi Dito malah merasa ditampar oleh kenyataan. Kembali sadar bahwa kesempatannya untuk bersama Bella sudah tidak ada, karena bukan statusnya Bella saat ini. Namun hati Bella yang benar-benar sudah tidak bisa ia tembus.


"Aku nggak apa-apa kok Bel, mau kamu tinggal di sini ataupun membelanjakan semua uang ku, tidak masalah." Sahut Dito sambil tersenyum manis.


"Kakak adalah orang yang paling baik ku temui dalam hidup ini." Puji Bella membalas ucapan Dito.


'Andai Rael sebaik kakak, mungkin aku tidak perlu kabur seperti saat ini.' lanjut Bella dalam hatinya.


"Lalu kenapa kamu tidak menyukai ku Bel?" Sontak pertanyaan Dito yang terdengar serius itu membuat mereka berdua sama-sama terdiam. Bella menatap dengan perasaan aneh Kepada Dito.


Seperkian detik kemudian akhirnya Dito sadar akan ucapan nya yang membuat antara mereka menjadi canggung.


"Apa kamu tidak menyukai ku sebagai lelaki yang tampan? Hehehe..." Lanjut Dito mencairkan suasana, seolah-olah ia tengah bercanda. Bella pun ikut terkekeh, meski nalurinya merasakan sesuatu yang berbeda dari pertanyaan Dito.


"Iya aku menyukaimu kak, siapa sih yang nggak suka sama lelaki setampan dan se-kece kakak. Hehehe..." Seru Bella kemudian.


Setelah sarapan mereka pun bersiap-siap untuk pergi bekerja. Bella sangat beruntung karena mendapatkan pekerjaan di swalayan sebelah rumah mereka. Kebetulan sekali swalayan itu membuka lowongan pekerjaan di saat Bella tengah mencari pekerjaan.

__ADS_1


Menjaga sebuah swalayan, bukan nya tidak sepadan dengan gelar sarjana milik Bella, si dosen. Hanya saja sekarang ia tengah menyembunyikan identitasnya, bahkan Dito membuatkan sebuah kartu identitas penduduk baru bagi Bella. Mereka juga berkenalan dengan tetangga sebagai kakak dan adik.


"Aku pulang agak malam ya Bel, soalnya ada pesta di kantor hari ini. Kamu nggak apa-apa kan di rumah sendirian?" Tanya Dito dengan penuh kekhawatiran. Semenjak kedatangan mereka di kota ini, Bella jarang ditinggal sendirian. Itupun hanya beberapa jam di saat Dito tengah bekerja.


"Nggak apa-apa kok kak, lagian aku pulang kerja jam 10. Ntar kalau misalnya kakak pulang lambat, biar aku masakin makan malam. Sekalian mengisi waktu luang ku yang sendiri di rumah." Jawab Bella. Tapi Dito langsung mengeleng-geleng.


"Nggak usah Bel, lagian nanti kan di pesta aku juga sudah makan. Sebaiknya setelah kamu pulang kerja, kamu langsung istirahat. Kesehatan mu lebih utama. Makan yang banyak, jangan sedikit sekali." Titah Dito yang sebenarnya belum tau kalau Bella tengah hamil.


Belakangan ini nafsu makan Bella berkurang, ntah itu karena pikirannya ataupun sang janin yang tengah berulah.


Bukannya tidak mau memberitahu Dito, hanya saja Bella masih merasa belum siap. Ia takut Dito akan langsung memberitahukan kepada Rael soal kehamilannya.


"Aku makan sedikit karena diet kak, berat badanku bertambah akhir-akhir ini." Sahut Bella berbohong.


"Apa itu diet? Kesehatan mu itu lebih utama Bel. Awas saja kayak begitu lagi ya!" Ucap Dito sambil mengerucutkan bibirnya kesal.


"Iya deh iya kak Dito yang bawel." Sahut Bella yang berupaya menahan senyum saat melihat raut wajah Dito yang dibuat-buat lucu.


"Aduh kak, aku berangkat dulu ya. Assalamualaikum." Pamit Bella bergegas keluar rumah. Tanpa menunggu jawaban dari Dito yang terdiam dan tersenyum tipis melihat kepergian Bella.


'Tinggal beberapa hari bersama mu adalah anugrah yang luar biasa untuk aku Bel. Bahkan aku merasa semakin yakin bisa mendapatkan kamu kembali.' gumam Dito dalam hatinya.


***


Di sisi lain. Rael semakin dingin dan kejam. Ia bahkan menyerahkan semua kekuasaan Swaq partner Kepada Vino.


"Gue percaya sama Lo, karena Gue ngerasa udah nggak bisa buat memimpin anggota kita. Apalagi Gibran yang selalu membantu Gue udah pergi." Ujar Rael pada Vino dengan yakin.


"Makasih bro. Tapi gue tau, bilang aja kalau sekarang Lo itu lagi galau. Istri Lo pergi dari rumah kan? Makanya dijaga dong istrinya." Celetuk Vino tampa berfikir. Ia malah membangunkan singa tidur yang ada dihadapannya.

__ADS_1


Seperkian detik kemudian, Rael menarik kera baju Vino dengan tatapan tajam.


"Maksud Lo apa ha? Dari mana Lo tau istri Gue kabur dari rumah?" Tanya Rael dengan serius. Ia dengan jelas tau bahwa kejadian beberapa minggu lalu itu sangat dirahasiakan oleh keluarga Wijaya dan Genandra.


Vino akhirnya sadar dan panik akan ucapannya sendiri.


'Mampus Gue, kenapa bodoh banget sih? Kalau begini bisa-bisa rahasia Bella terbongkar. Gue harus pintar-pintar cari alasan nih.' batin Vino merutuki kebodohannya.


"Jawab Gue! Apa Lo dalang dari kaburnya istri Gue ha?!" Sarkas Rael saat pertanyaannya tak kunjung di jawab oleh Vino.


Dengan keras Vino langsung mendorong dada Rael, sehingga ia terlepas dari genggamannya.


"Apaan sih Lo! Gue tau dari Vini, kan Vini tau kalau Bella hilang." Celetuk nya berbohong. Rael yang percaya akan ucapan Vino akhirnya meredakan emosi nya.


Ia menghirup nafas berat dan memicingkan mata perlahan-lahan.


"Sorry bro, gue kalut." Ujar Rael menyesali perbuatannya pada Vino. Ia menepuk bahu Vino dan kemudian melangkah pergi dari halaman camp.


Vino menatap kepergian Rael dengan rasa ragu. Akan tetapi ia tau bahwa banjingan seperti sahabatnya itu tidak layak untuk dikasihani. Bagaimana pun Bella juga layak untuk bahagia tanpa harus bersama Rael yang begitu kejam itu.


'Gue ngga bermaksud buat bohongin Lo bro, tapi perbuatan keji Lo itu udah menghancurkan kehidupan Bu Bella. Lo harus terima ganjarannya saat ini. Sebelum Lo mencari Bu Bella dengan benar-benar tulus, Gue nggak bakalan buka rahasia ini.' batin Vino kemudian.


Saat ia memikirkan soal Rael, tiba-tiba saja notifikasi telpon masuk. Tentu Vino langsung mengangkat sambungan telepon itu, karena si penelepon adalah Dito. Sepupunya yang telah membawa kabur istri sahabatnya itu. Vino pun memilih duduk di kursi halaman camp, karena tidak mungkin ia akan terus berdiri saat mereka tengah menelpon.


"Halo Vin." Sapa Dito dari seberang.


"Iya halo Dit, gimana kabar Lo dan Bu Bella? Apa kalian baik-baik saja?" Tanya Vino.


"Kabar kami baik, hanya saja Gue mau cerita kalau kemungkinan Gue sama Bella bisa dekat lagi. Lo doa in ya." Sontak ucapan Dito membuat Vino terkejut.

__ADS_1


"Lo jangan ngadi-ngadi Dit, Bu Bella itu istrinya orang. Jangan berharap lebih deh, ubah niat Lo itu!" Pinta Vino dengan tegas. Akan tetapi di saat ia menunggu jawaban dari Dito. Tiba-tiba saja Vino merasa ada seseorang yang berdiri dibelakang nya. Seketika ia berbalik dan menatap kaget.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2