
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Setelah sampai di hadapan Riko. Jingga langsung saja memakinya dengan suara tinggi.
"Mas Riko pikir mabuk-mabukan begini bisa ngobatin luka dan galaunya Mas Riko? Mas Riko terlalu bodoh dan akhirnya malah menyusahkan orang!" Sarkas Jingga yang sebenarnya sangat mengkhawatirkan Riko. Jujur saja ia sudah menganggap Riko sebagai keluarga sejak pertama ia tinggal di camp.
Riko yang mabuk berat pun tidak memperdulikan ucapan Jingga. Ia terlalu kehilangan kesadaran sampai tidak bisa berdiri.
"Ah sudahlah, aku hanya mengomel di hadapan orang yang tidak sadarkan diri! Mending sekarang bawa dia pulang saja." Gumam Jingga sendiri. Dengan segera ia meminta bantuan pada salah satu pelayan untuk membantunya memapah Riko ke dalam mobil grab yang sudah menunggu sedari tadi.
"Maaf Mbak, Mas nya masih belum membayar semua minuman di sini." Ujar pelayan tersebut setelah membantu Jingga memapah Riko ke dalam mobil.
"Emang berapa tagihannya mas?" Tanya Jingga.
"1 juta 6 ratus ribu Mbak. Apa Mbak bisa membayarnya sekarang?" Tanya pelayan itu dengan santai.
"Baiklah ambil ini. Kalau begitu, terima kasih telah membantu saya ya Mas." Ujar Jingga sambil menyerahkan beberapa lembar uang kertas merah pada pelayan tersebut. Untung saja ia memiliki uang cash saat ini, jadi tidak perlu menggunakan kartu atm-nya.
"Sama-sama Mbak, tapi ini kelebihan Mbak." Ujar pelayan tersebut setelah menghitung kembali uang yang diserahkan oleh Jingga.
"Nggak apa-apa Mas, ambil saja!" Ujar Jingga tersenyum ramah. Ia pun memasuki mobil dan pergi dari hadapan pelayan itu tanpa menunggu balasan dari ucapannya.
__ADS_1
***
Di dalam mobil. Jingga berusaha menyadarkan Riko dengan berbagai cara. Menyemprotkan air ke wajah Riko sampai menggoyangkan tubuhnya keras. Namun lelaki itu terlalu mabuk berat sampai cara apapun tidak mempan untuk menyadarkannya.
"Oh Cindy ku sayang. Mengapa kau melakukan hal ini padaku? Apa kau tidak tau bahwa Aku begitu mencintaimu." Ujar Riko mengigau. Riko yang bersandar di bahu Jingga langsung memeluknya erat. Riko terus berucap asal tentang Cindy, si mantan pacar. Hal itu membuat Jingga jengah, karena menurutnya gadis seperti tidak pantas untuk di galau kan.
Karena merasakan kehangatan di tubuh Jingga, Riko malah berbuat yang tidak pantas. Ia mencoba untuk meraba tubuh Jingga di saat ia masih belum sadarkan diri dari mabuk beratnya. Riko berpikir bahwa Jingga adalah Cindy, aroma tubuh wanita yang membuat hasratnya meningkat.
"Aduh ngapain sih!" Sarkas Jingga kesal. Ia mendorong Riko yang sedikit lemah itu menjauh darinya. Namun tenaga Jingga terlalu kuat sampai Riko sedikit terhempas di tepi mobil, wajahnya menempel di tepi kaca. Si supir grab yang melihat kejadian tersebut tidak bisa menahan tawanya.
"Hahaha... Aduh Mbak, Maaf saya ngakak. Itu pacarnya minta dimanja malah di dorong menjauh. Apa nggak sayang?" Ucap supir grab itu dengan tawa yang membuat Jingga tambah kesal.
"Nggak ada yang lucu pak! Dia ini sudah saya anggap keluarga sendiri, bukan pacar. Lagian dia lagi mabuk berat soalnya habis putus dari kekasihnya." Jelas Jingga ketus. Supir grab itu hanya mengangguk dan menahan tawanya. Ia tau Jingga Sanga begitu kesal, sehingga supir grab itu tidak ingin ikut campur lagi.
***
"Pak, bisa tolong saya buat memapah dia nggak? Soalnya saya udah lelah banget. Udah nggak ada tenaga." Pinta Jingga saat mengingat bahwa anggota Violet Latera dan Swaq partner sekarang tengah melakukan tour ke luar kota. Itu atas permintaan Bella yang hanya ingin rasa persaudaraan antara kedua geng ini semakin kuat. Jadi, hanya Jingga dan Riko lah yang masih tinggal di camp. Jingga tidak pergi tour karena ada cafe Latera yang harus ia jaga. Sedangkan Riko beralasan bahwa ia tidak mood karena baru putus dari kekasihnya.
Supir grab itu langsung membantu Jingga memapah Riko ke dalam kamarnya. Saat menaiki tangga membuat Jingga sangat kesal, karena tubuh Riko yang berat tidak bisa di ajal kerja sama. Ia masih belum sadarkan diri.
Setelah menidurkan Riko di tempat tidurnya, Jingga langsung mengantarkan supir grab tadi kembali keluar rumah.
__ADS_1
"Makasih ya pak, sudah banyak membantu saya. Untuk tips sudah saya lebihkan di aplikasi." Ujar Jingga dengan ramah.
"Waah... makasih banyak juga Mbak. Kalau begitu saya pamit dulu Mbak." Ujar sang supir yang langsung di angguki Jingga dengan tersenyum hangat, meski di hatinya masih kesal karena di begitu direpotkan oleh Riko. Setelah melihat kepergian mobil grab itu, Jingga lansung mengunci pintu camp dan kembali ke kamar Riko.
***
Sesampainya di kamar Riko.
Jingga di bingungkan dengan keberadaan Riko yang sudah tidak ada di atas ranjangnya. Ia terus celingukan melihat seisi kamar. Sampai terdengar suara pintu kamar tertutup dan dikunci, membuat Jingga langsung mengalihkan pandangannya ke sumber suara.
Di sana ia kaget melihat Riko yang berdiri hanya menggunakan ****** *****, tanpa satupun pakaian yang masih melekat di tubuhnya. Sontak Jingga berteriak dan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Argggghhhh... Apa yang kamu lakukan Mas? Cepat pakai bajumu!" Titah Jingga mencoba untuk berjalan cepat menuju pintu kamar. Di sana Riko malah menghadang Jingga. Ia menatap Jingga penuh hasrat, dalam ketidaksadarannya. Ia mengira bahwa Jingga adalah Cindy. Wanita yang tega menyakiti perasaannya.
"Oh Cindy, mengapa kau berbuat seperti ini? Apa aku kurang baik selama ini padamu? Mengapa kau mengkhianati ku juga? Sekarang rasakan apa yang akan ku perbuat padamu! Kamu akan ku jadikan milikku seutuhnya." Ujar Riko yang masih belum sadar dan mengigau atas nama Cindy. Jingga langsung menamparnya karena terus mengadang jalan Jingga untuk keluar kamar.
"Kamu yang sadar Mas! Ini aku Jingga, bukan Cindy!" Sarkas Jingga yang sudah kehabisan sabar. Ia tidak memperdulikan lagi apa yang ia lihat kali ini. Meski begitu, tamparan keras Jingga masih tidak bisa menyadarkan Riko. Namun, Ia merasakan sakit di pipinya dan mengira bahwa Cindy lah yang berbuat seperti itu. Dengan ketidaksadarannya, Riko menarik keras tangan Jingga. Ulah minuman keras itu, ia memiliki hasrat yang kuat untuk berhubungan seperti suami istri. Apalagi tanpa sadar ia mengira bahwa Jingga adalah Cindy, si mantan pacar.
"Kamu berani sekali menamparku sayang! Akan ku buat kau ikut tertampar di atas ranjang! Kamu akan menjadi milikku seutuh nya. Hal yang tidak pernah ku perbuat saat masih menjadi kekasihmu akan ku perbuat sekarang! Masa bodoh dengan menjaga kesucian mu itu!" Jingga langsung melototkan matanya saat ucapan Riko berhasil ia pahami. Seketika ia panik dan mencoba untuk melawan. Masih teringat kejadian di atas mobil tadi, ia rasa bahwa Riko juga pasti masih lemah. Oleh kerena itu Jingga menghempaskan tangan Riko dengan kuat sampai ia terhempas ke lantai.
Dengan rasa khawatir dan sangat gugup, Jingga langsung berlari ke arah pintu kamar dan ternyata pintu itu sudah di kunci. Ia pun segera celingukan mencari keberadaan kunci tersebut dengan sangat panik. Namun, Riko yang tadinya tersungkur di lantai kembali berdiri dan melangkah goyah ke arah Jingga.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....