
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Usai mandi, Bella menikmati makan malamnya meski tengah tidak berselera.
Menghabiskan beberapa makanan, Bella memutuskan untuk segera tidur karena sudah terlalu larut untuk mengerjakan beberapa kerjaan nya di rumah.
"Kamu masih mau mengerjakan tugas? Aku tidur duluan ya, soalnya udah capek banget." ujar Bella sambil berbaring di ranjang. Rael yang mendengar ucapan Bella langsung melompat ke atas ranjang.
"Mau tidur jugalah. Yang ada aku nanti rugi melewatkan tidur berpelukan dengan mu." jawab Rael dengan tatapan mesum.
"Apaan sih Rael. Kamu udah janji lo nggak ngapa-ngapain dulu sebelum aku siap." tegas Bella dengan waspada. Rael pun hanya tersenyum mesum membalas tatapan Bella.
"Kapan ya aku janji? Perasaan nggak ada deh." ujar Rael menggoda Bella. Ia semakin mendekati Bella yang mulai merasa tidak nyaman.
"Mending kamu tidur di sofa aja ya. Kita nggak usah pendekatan lagi, orang kayak kamu ini nggak bisa di kasih hati." jelas Bella dengan ketus. Sebenarnya ia sangat takut. Takut jika Rael meminta haknya sebagai suami, meski Bella sudah mau membuka hati untuk Rael tetap saja ia belum siap untuk hal yang satu itu. Namun ia juga tidak bisa menolaknya karena itu adalah tugasnya sebagai seorang istri, Bella ingin menjadi istri yang baik seperti ibunya.
"Hehehe... Maaf, sini peluk." pinta Rael yang sudah ikut berbaring di sebelah Bella.
"Nggak ah, ntar kamu macam-macam." jawab Bella dengan tubuh yang semakin ia geser menjauh dari Rael.
"Serius Bel, cuma satu macam aja. Sini peluk dulu tidurnya. Nggak aneh-aneh kok. Sini..." pinta Rael menarik tangan Bella lembut.
"Tapi..." ucapan Bella menggantung karena Rael sudah menarik tubuhnya kedalam dekapan.
"Kamu banyak bicara sekali. Sudah malam, ayuk tidur. Jangan lupa baca doa." ucap Rael dengan tersenyum senang. Ia meraih selimut yang ada di kaki dan menyelimuti tubuh mereka berdua. Bella merasa nyaman di pelukan Rael, hangat nya dekapan Rael membuat Bella langsung cepat tertidur. Bella juga tidak berucap apapun setelah Rael dengan paksa menariknya.
__ADS_1
"Waah sudah tertidur saja." gumam Rael saat mendengar deru nafas teratur Bella di dadanya.
'Tidak menyangka ternyata Bella semanis ini. Meski ia dosen ku tetap saja ia terlihat seperti anak kecil. Ia sangat membuatku tergila-gila. Aku mencintaimu Bel.' gumam Rael dalam hatinya. Beberapa menit kemudian Rael pun ikut Bella ke dalam mimpinya. Mereka berdua tidur dengan pelukan yang sangat hangat.
***
Pagi itu Bella terbangun dengan Rael yang sudah tidak ada di sampingnya. Setelah meregangkan otot-otot nya. Bella pun mencuci wajah dan langsung turun ke bawa. Mengingat hari ini ia hanya ada kelas sore, jadi ia tidak berniat untuk mandi.
Bella bingung kemana perginya sang suami. Usai melihat garasi yang ternyata di sana masih ada mobil dan motor Rael, Bella pun memutuskan untuk ke ruang makan dan dapur. Satu-satunya tempat yang biasanya di kunjungi Rael di rumah ini.
Baru memasuki ruang makan, Bella dikagetkan dengan beberapa orang yang sedang menikmati sarapan dengan lahap. Di sana terdapat Arya dan juga Haris. Mereka berniat untuk membicarakan suatu yang penting dengan Bella dan Rael.
"Selamat pagi kakek, selamat pagi Ayah." sapa Bella menyalami orang itu dengan sedikit menahan malu. Mengingat dirinya masih memakai piyama dengan rambut yang hanya di cepol. Ia pun juga telat bangun dari Rael, sang suami.
Rael tidak hentinya menatap Bella sedari tadi, wajah istrinya ini begitu cantik natural bahkan baru bangun tidur saja sudah mampu membuat dirinya terpesona.
'Jika tau begini, malam itu gue nggak bakalan sok nolak menikah dengan Bella. Gue beruntung banget.' gumamnya dalam hati.
"Kamu kok nggak bangunin aku sih? Aku malu bangun telat gini, tambah lagi juga belum mandi." bisik Bella sambil mencubit pinggang Rael, kesal.
"Aku nggak mau bangunin kamu karena aku tau kamu nggak ada kelas pagi Bel. Aku habis ini rencananya mau anterin sarapan buat kamu ke kamar." jelas Rael sejujurnya. Mendengar penjelasan Rael membuat Bella memutuskan untuk sarapan.
Di meja makan semuanya terlihat hikmat menikmatinya. Di sana juga terdapat Ken, Biangka serta Adelia yang terus menatap ke arah Rael dan Bella.
'Di lihat-lihat ternyata Rael ini ganteng juga ya. Kalau seandainya aku kenal dia udah lama pasti aku minta di jodohkan Papi sama dia. Bella beruntung banget punya suami kayak Rael, udah ganteng, banyak duit dari keluarga kaya lagi. Pasti enak jadi istrinya.' pikir Adelia yang kagum pada Rael.
__ADS_1
***
Usai semua menikmati sarapan. Biangka, Ken dan Adelia pun meninggalkan ruang makan atas perintah Arya yang ingin memiliki privasi untuk mereka berempat. Arya pun mulai mengucapkan niatnya datang pagi ini bersama Haris.
"Jadi kedatangan kami berdua kesini adalah untuk menemui kalian. Gimana Bel, apa kamu bahagia menjalani hari-hari bersama Rael?" tanya Arya menatap sang cucu dengan harapan besar.
"Tentu kek, Rael adalah lelaki yang sangat romantis. Aku selalu bahagia saat bersamanya." ujar Bella yang sedikit berlebihan.
"Bagus jika kalian bahagia. Kakek dan Haris sudah memutuskan untuk membuat surat warisan harta kami. Kamu bisa melihatnya sendiri." ujar Arya memberikan sebuah map pada Rael dan Bella.
Di sana tertulis jika Bella mendapatkan 85% dari kekayaan Arya dan Rael mendapatkan 100% juga kekayaan Haris bila mereka berdua bisa memiliki keturunan dalam waktu satu tahun ini. Jika tidak Bella hanya mendapatkan 15% dan Rael tidak mendapatkan apapun karena semua harta Haris akan di sumbangkan pada gelandangan dan fakir miskin.
Sontak saat membaca itu Bella dan Rael melototkan mata mereka. Tidak percaya bahwa kakek dan Haris bersekongkol untuk meminta anak dari mereka berdua.
'Bilang aja mau cucu, pakai acara ngancam segala.' gumam Bella kesal.
"Hahaha... kakek dan Ayah becanda Ya? Masa pakai ginian segala. Kalau aku nggak hamil-hamil dalam setahun ini gimana? Itu kan kuasa tuhan." ujar Bella tidak terima.
"Tetapi kalian bisa berusaha Bel. Kalian juga bisa minta tiket untuk pergi honeymoon ke kakek ataupun Haris. Umur kakek udah panjang Bel, kakek cuma ingin lihat cicit kakek segera." jelas Arya seenaknya.
"Aku belum siap." bisik Bella pada Rael.
"Tapi nggak mungkin juga kalau kita nggak dapat apapun Bel, apalagi aku ini anak satu-satunya Genandra. Kamu harus mengerti itu!" bisik Rael. Sebenarnya ia merasa tidak apa-apa jika tidak mendapatkan apapun dari harta Genandra, mengingat ia memiliki usaha restoran yang lumayan untuk menghidupi kehidupan nya. Tetapi ada rasa dalam hatinya tidak terima, jika harta sang Ayah harus jatuh ke tangan orang lain. Rael juga memikirkan masa depannya dengan Bella, ia tidak ingin anak nya kelak serba kekurangan.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1