
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Saat tengah asik mengobrol dengan Vini, tiba-tiba bahu Bella di sentuh oleh seseorang dari belakang. Sontak Bella langsung berpaling, menghadap ke belakang. Mencari tau siapa yang tidak sopan menyentuh bahunya.
"Ternyata kalian di sini. Oh ya Bel, kamu di cari oleh Rael. Karena sudah sore dan sekarang waktunya untuk sesi foto bersama. Yuk ke ruangan foto." ajak Dito dengan tersenyum lebar. Untung saja Bella tidak tiba-tiba reflek dan memukul orang yang sudah memegang bahunya secara tiba-tiba itu.
"Oh baiklah kak, mari kita ke sana." jawab Bella yang sudah berdiri dari duduknya. Karena kaget, Bella malah melupakan Vini yang terdiam melihat interaksi mereka berdua. Bella melangkah berbarengan dengan Dito menunju ruangan foto.
"Woi... kok diam aja sih." seru Vino mengejutkan Vini yang masih terdiam dalam duduknya.
"Apaan sih Lo, udah kayak jelangkung saja. Datang nggak di undang, pergi tanpa pamit." gerutu Vini dengan kesal pada Vino yang sudah duduk disampingnya.
"Jadi besok aku harus pamit dulu sebelum pergi ya sama kamu. Waah kamu ternyata so sweet sekali." ujar Vino membuat Vini menatap dengan malas.
"Gue malas berdebat sama Lo, udah nggak nyambung. Ogeb lagi! Siapa jugalah orang yang memberi Lo izin buat wisuda. Pasti orang itu udah nggak waras." sindir Vini membuat Vino malah terkekeh.
"Hahaha... yang ngasih izin kan kamu Vin, masih aja nanya." seru Vino membuat Vini sadar dan merasa malu akan ucapan yang ia lontarkan.
"Serah Lo aja deh, Gue malas!" tukas Vini yang memilih berdiri dan hendak melangkah pergi. Akan tetapi baru saja selangkah, hak sepatunya malah patah dan membuat ia kehilangan keseimbangan. Untung saja Vino menyambutnya dengan cekatan. Kalau tidak, sudah dipastikan bahwa Vini akan jatuh ke tanah dengan begitu keras.
Vini yang tadinya kaget, malah dibuat dua kali kaget saat mendapati dirinya duduk di pangkuan Vino. Beberapa saat ia terpana akan ketampanan Vino yang tengah menatapnya dengan jarak dekat.
'Ternyata setelah di lihat dekat begini Vino ganteng juga ya. Aish, Gue mikir apa sih!' gumam Vini dalam hatinya. Vini lansung sadar akan posisi mereka yang tidak pantas dilihat orang lain. Ia pun segera berdiri dan malah jatuh lagi kepangkuan Vino karena lupa akan hak sepatunya yang sudah patah.
"Sangking nyamannya dipangkuan ku ya? Sampai ngulangnya dua kali." ujar Vino menggoda Vini.
__ADS_1
'Bisa engap adik Gue kalau dihimpit kayak gini terus.' erang Vino kesakitan dalam hatinya. Vini lansung berdiri dengan baik dan beralih untuk duduk di kursi lagi.
'Itu yang keras-keras tadi apaan ya?' batin Vini bertanya-tanya.
Vini yang duduk membuka sepatu kesayangannya dan melihat apa yang salah. Ternyata hak sepatunya telah patah, mungkin karena keseringan dipakai.
"Aduh, sepatu kesayangannya Gue." jerit Vini membuat Vino yang memperhatikan gerak-gerik nya sedari tadi hanya terkekeh.
"Sepatu kayak gitu aja di tangisi, nggak usah lebay deh." sahut Vino malah membuat Vini semakin cemberut dan matanya sudah berlinang air mata.
"Apa kata Lo? Asal Lo tau ini Gue beli Pakai uang gajian pertama Gue. Lo si anak orang kaya, makanya nggak pernah ngehargai barang-barang yang Lo punya." seru Vini yang menyindir Vino. Vino memaklumi kemarahan Vini sehingga ia tidak mau menjawab ucapan Vini, takut jika nanti semakin melukai hatinya.
"Ya sudah maaf. Ayuk ikut Gue!" Ajak Vino yang sudah menarik tangan Vini.
"Mau kemana sih? Kan sebentar lagi ada pemotretan. masa kita nggak ikut sih?" jelas Vini menolak ajakan Vino. Akan tetapi lelaki itu bersikukuh untuk diikuti oleh Vini.
"Hmm... nggak sih." jawab Vini ragu. Vino mengambil sepatu yang berada di tangan Vini. Kemudian ia berjongkok membelakanginya.
"Kalau begitu ayuk naik." pinta Vino.
"Ngapain sih? Mau kemana?" tanya Vini yang membuat Vino jengah.
"Lo naik aja ke punggung Gue! Untuk ke mananya itu urusan Gue." seru Vino yang akhirnya di patuhi oleh Vini. Karena bagaimanapun ia juga tidak ingin menginjak rerumputan ataupun tanah hanya dengan kaki tanpa memakai alas.
Vini di gendongan belakang oleh Vino, untung saja tidak begitu ramai orang yang ada di area itu. Mengingat beberapa orang telah pulang dan juga pergi mengikuti sesi foto. Sehingga tidak begitu membuat Vini malu karena ditatap.
__ADS_1
'Aduh, ternyata gunung kembar Vini besar juga ya. Punggung Gue jadi anget. Ah, apaan sih!' gumam Vino dalam hatinya yang bercampur hasrat.
"Lo mau kita kemana sih?" tanya Vini saat Vino mengurungkan nya tepat di kursi mobil.
"Diam tanpa bertanya bisa nggak sih? aku bekap juga mulutmu nanti." geram Vino setelah duduk di kursi pengemudi.
"Bekap aja, kan Lo juga nggak punya kain ataupun lakban. Mana bisa membekap mulut Gue! Nyali Lo aja ya besar..." cerocos Vini seketika terhenti saat Vino menciumnya dengan cepat. Vini lansung melebarkan kelopak matanya. Tidak percaya atas perlakuan yang didapatkan oleh Vino kepadanya.
"Aku bisa kan bekap mulut kamu. Makanya diam saja dan ikuti ucapan ku." ujar Vino tersenyum miring saat melihat ekspresi wajah Vini terpaku kaget. Vino pun langsung menjalankan mobil.
Beberapa saat kemudian akhirnya Vini tersadar dan langsung menjerit keras. Ia memukul-mukul lengan Vino yang tengah mengemudi.
"Argggghhhh... Kenapa Lo ambil ciuman pertama Gue! Ciuman ini udah gue jaga selama 23 tahun. Dasar banjingan, keparat ya lo anying!" murka Vini seketika. Vino hanya terkekeh mendengar perkataan Vini.
"Lo yakin baru pertama kali ciuman? Bukannya Lo suka nonton film dewasa, masa nggak pernah praktek sih?" ujar Vino semakin membuat Vini geram. Meski Vino tau bahwa Vini memang baru pertama kali berciuman, itu terlihat jelas dari reaksi spontan Vini saat ia menciumnya. Vino hanya mencoba menggoda Vini.
"Hubungan nya nggak ada bego! Kalau pun Gue nonton itu, bukan berarti Gue udah pernah mempraktekkan nya! Lo harus tanggung jawab!" Marah Vini yang masih memukul Vino. Bahkan kali ini Vini dengan marah menggigit lengan Vino begitu keras. Sampai sang empu mengerang kesakitan.
"Aww... sakit tau!" erang Vino yang kemudian memberhentikan mobil tepat di sisi jalan.
"Lo sih bikin gue marah aja!" Ujar Vini dengan kesal.
"Ya udah, sekarang Lo maunya apa?" tanya Vino yang sudah menatap Vini yang duduk di bangku sebelah.
"Gue mau Lo tanggung jawab!" ucap Vini dengan kesal. Bahkan kali ini ia tidak mau menatap Vino, lawan bicaranya. Melihat hal itu, Vino langsung memegang wajah Vini lembut, mengarah untuk menatap ke arahnya.
__ADS_1
"Kalau itu yang Lo mau. Gue siap kok nikahin Lo sekarang juga." Ujar Vino tersenyum manis dan tampak sungguh-sungguh. Vini menatap tidak percaya karena ucapan Vino begitu tidak masuk akal menurutnya.
BERSAMBUNG.....