
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Beberapa jam kemudian. Jingga selesai diobati dokter meski masih tidak sadarkan diri. Jingga terpaksa harus dipindahkan ke ruang inap karena kondisinya tidak memungkinkan untuk dibawa pulang.
Bella keluar dari kamar inap Jingga dan melangkah ke arah Rael serta Yoga yang sudah duduk di kursi tunggu ruangan. Terlihat jelas baju yang dipakai oleh Yoga sudah berlumuran darah segar milik Jingga, membuat Bella memutuskan untuk meminta Yoga dan Rael kembali ke camp.
"Mending kalian kembali ke camp dulu. Kamu harus mandi dan ganti baju Yoga. Kamu juga harus temani Dito dan Vino di camp Rael. Biar aku yang jaga Jingga di sini." Pinta Bella berdiri dihadapan kedua lelaki itu. Tetapi Rael langsung mengeleng keras.
"Tidak. Aku akan pulang bersama mu Bel. Kalau kamu di sini aku juga akan tetap di sini." Tolak Rael membuat Bella kesal.
"Aku nggak apa-apa pulang sendiri kok Mbak, lagian nggak mungkin juga Mbak sendirian di sini jaga Jingga." Ujar Yoga dengan bijak. Ia merasa bahwa saat ini yang ia butuhkan adalah mandi. Apalagi setelah kejadian tadi yang menguras tenaga dan kepanikan dalam dirinya.
"Tapi yang bawa mobil kan Rael. Kamu kan nggak bawa." Ujar Bella tidak enak.
"Aduh sayang, kamu kok tiba-tiba bego gitu sih. Kan Yoga bisa bawa mobil aku untuk kembali ke camp. Lagian Nara, Dito dan Vino juga berniat ke sini. Biar mereka saja nanti yang bawa mobil kembali mobilku." Jelas Rael yang membuat Bella malah menggeleng-geleng sambil tersenyum, merutuki kebodohannya.
"Lagian aku juga bakalan balik ke sini lagi kok Mbak, aku balik ke camp cuma mau mandi dan ganti pakaian." Ujar Yoga dengan tersenyum.
"Ya sudah sana, ini kunci mobilnya." Ujar Rael yang sangat santai memberikan kunci mobilnya kepada Yoga. Yoga yang hendak berdiri mengurungkan niatnya saat melihat Nara, Dito serta Vino melangkah ke arah mereka.
"Ini pakaian sama handuk lo Yoga! Gue juga udah bawakan dalaman warna kuning plus boxer gambar Sponge Bob milik Lo, biar Lo nggak perlu pulang buat mandi. Sana mandi dan ganti pakaian di kamar mandi ruang inap Jingga saja!" Ujar Nara menyerahkan totebag pada Yoga tanpa malu sedikitpun. Sontak beberapa orang di sana mencoba untuk menahan tawanya. Bagaimana tidak? Nara terang-terangan menyebutkan warna dalaman serta gambar boxer milik Yoga di depan umum seperti itu.
__ADS_1
Karena malu bercampur kesal, Yoga Langsung melangkah ke ruang inap Jingga dengan ekspresi datar. Baru saja Yoga masuk dan menutup pintu, beberapa orang tadi langsung tertawa terbahak-bahak. Membuat Nara malah kebingungan.
"Aduh Nara-Nara... Kamu kok to the point banget sih? Yoga jadi malu gitu loh! Hahaha..." Ujar Bella sambil memegang perutnya yang terasa sakit ulah tertawa.
"Iya nih cewek kayak nggak ada malunya nyebut dalaman depan umum. Apalagi secara rinci begitu. Hahaha..." Tambah Vino.
"B aja sih." Singkat Nara tidak peduli dan duduk di kursi. "Bagaimana kondisi Jingga?" Tanya Nara kemudian.
Bella yang mendengar suara serius Nara langsung menghentikan tawanya begitu pun dengan Rael, Dito dan Vino. Mereka ikut duduk di kursi sebelah Nara.
"Tangannya sudah di jahit oleh dokter, untung saja kita membawanya tepat waktu. Kalau tidak, mungkin Jingga tidak tertolong lagi." Ujar Bella dengan rasa penuh khawatir pada Jingga.
"Terus janinnya gimana?" Tanya Nara tanpa menatap lawan bicaranya.
"Sebenarnya beberapa jam yang lalu..." Nara mulai menceritakan apa yang ia lihat beberapa jam lalu.
🔄 FLASH BACK ON🔄
Jingga sudah begitu putus asa saat menghadapi kenyataan hari ini. Ia yang masih tidak percaya akan perbuatan Riko yang tiba-tiba kabur, harus ditampar kembali oleh kenyataan bahwa ia kini tengah hamil anaknya Riko.
Jingga terus merenung dan melamun di dalam kamar tanpa setetes air mata keluar dari matanya. Ia merasa hampa dan sudah tidak memiliki tujuan hidup. Bagaimana ia akan menghadapi dunia jika ia sudah begini? Begitulah yang ada di pemikirannya saat ini.
__ADS_1
Drrrrrrrrrrtttttttt.... Dering ponsel nya membuat lamunan Jingga buyar. Ia meraih handphone di nakas dan melihat bahwa si penelpon ternyata adalah Gibran. Seketika tubuh Jingga menjadi gemetar, panas dingin menyelimutinya. Ia takut bila Gibran tau ya sebenarnya. Jingga mengira bahwa Gibran pasti akan membenci dan juga menganggapnya hina.
Tanpa mengangkat sambungan telepon itu, Jingga malah melemparkan handphonenya ke dinding yang dapat menghasilkan suara sedikit keras. Bahkan Yoga yang berada tidak jauh dari kamarnya ikut kaget mendengar suara itu.
Kali ini Jingga sudah memutuskan akan mengakhiri hidupnya, Jingga merasa tidak bisa menghadapi dunia usai kejadian ini. Jingga meraih gunting di nakas dan mencoba untuk menyayat pergelangan tangannya. Meski terasa sakit tetapi Jingga masih tidak mengeluarkan air mata sedikitpun. Ia hanya mengernyit saat merasakan tajamnya gunting menyentuh kulit pergelangan tangannya. Darah segar mengalir deras dari pergelangan tangannya saat tepi gunting itu tepat mengenai nadinya. Jingga benar-benar tidak memikirkan siapapun yang ia tinggalkan dan hanya ingin terbebas dari rasa hina yang ia alami saat ini.
Dengan separuh sadar, Jingga menyentuh perutnya yang masih rata. 'Maafkan Mama nak, Mama tidak bisa membuat kita sama-sama hidup.' gumam Jingga dalam hatinya. Kemudian pandangan sudah kabur dan Jingga pingsan di atas ranjangnya.
Yoga yang memutuskan untuk mencek kondisi Jingga setelah mendengar suara tadi sangat syok melihat pemandangan di hadapannya. Yoga langsung berlari ke arah ranjang dan mencoba untuk menghentikan darah ditangan Jingga dengan saputangan miliknya.
"Jingga kenapa?" Tanya Nara panik. Saat melihat darah segar mengalir di tangan Jingga yang sudah memenuhi ranjang. Nara ikut membantu Yoga untuk menghentikan darah itu agar tidak terus mengalir, tetapi usaha mereka tidak membuahkan hasil. Yoga langsung gerak cepat dan mengendong Jingga ala bridal style.
"Kita bawa dia ke rumah sakit! Sana panggil Mbak Bella!" Titah Yoga pada Nara. Wanita itu langsung mengangguki dan melangkah duluan ke lantai bawa.
🔄FLASH BACK OFF🔄
"Aku nggak habis pikir dengan pemikiran Jingga yang sesingkat itu. Bagaimana ia rela mengorbankan dirinya serta bayi yang tidak bersalah itu." Gumam Bella sedih meski sangat kesal dengan perbuatan Jingga.
"Saya paham yang di rasakan Jingga Mbak, ini tentang harga diri. Pasti Jingga merasa orang-orang akan menganggapnya hina dan orang-orang akan menatap jijik kepadanya setelah ini. Ia pasti sangat putus asa." Ujar Nara yang sangat paham akan hal itu.
"Memangnya Jingga ngapain? Kenapa harus di anggap hina dan ditatap jijik oleh orang-orang?" Tanya seorang lelaki yang baru saja datang menghampiri mereka yang masih ngobrol di depan ruang inap Jingga.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....