
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Malam itu setelah acara selesai. Vini, Vino serta Gibran kebingungan mencari keberadaan Bella dan Rael yang tiba-tiba saja sudah tidak ada di hotel tersebut.
"Gue udah tanya resepsionis, katanya Bella di jemput sama keluarga besarnya." ujar Gibran pada Vini dan Vino.
"Ya ampun, kok nggak kasih kabar dulu sih? Di telpon pun nggak di angkat, bikin khawatir saja." ucap Vini yang tidak terima.
"Terus Rael kemana?" tanya Vino kemudian.
"Handphone nya juga mati, mungkin udah pulang duluan." jelas Gibran membuat Vini malah berfikir bahwa kepergian Bella ada hubungannya dengan Rael.
"Apakah kehilangan mereka berdua ada hubungannya?" tanya Vini membuat Gibran dan Vino menggeleng-geleng tidak tau.
"Sudahlah tanyakan saja pada mereka besok, mari kita semua pulang. Vino lo anterin Bu Vini pulang ya, gue soalnya udah di tunggu papa di rumah." titah Gibran yang barusan mengecek handphonenya dan mendapatkan pesan perintah untuk segera pulang dari sang papa.
"Oke Gibran, lo duluan aja." ucap Vino dengan tersenyum. Gibran pun berpamitan pada Vini dan Vino kemudian meninggalkan tempat itu.
"Ayuk Bu Vini, saya anterin pulang." ucap nya sopan membuat Vini malah merespon dengan tawa.
"Kamu nggak ingat kalau saya bawa mobil, lagian kamu tadi juga nebeng di mobil saya." ucap Vini membuat Vino baru sadar bahwa motornya tertinggal di parkiran tempat turnamen futsal sore ini.
"Ya ampun, saya baru ingat Bu. Maaf ya." ujar Vino malu.
"Nggak apa-apa, ayuk bareng aja pulang nya. Lagian saya lagi males bawa mobil. Kamu anterin saya dulu pulang, ntar mobil saya kamu bawa pulang saja." titah Vini mendapat anggukan kepala dari Vino.
"Ya sudah Bu, mari kita pulang." ajak Vino yang kemudian diikuti oleh Vini.
⏳Keesokan Harinya⏳
Bella terbangun dengan bunyi handphone yang terus berulang, hal itu kunjung membuat telinga nya seakan mau pecah. mungkin semalam karena efek obat sehingga membuat Bella tidak begitu mendengar setiap notifikasi masuk di handphonenya.
Tring.... Bella dengan sangat malasnya mengangkat telpon yang masuk.
__ADS_1
"Ha..." Belum sempat dirinya menyapa penelpon di seberang, ucapan nya sudah langsung di potong.
"Lo kemana aja si Bel? Lo bikin gue khawatir, tau nggak semalam gue nggak bisa tidur karena sibuk mikirin lo yang tiba-tiba hilang gitu! Lo baik-baik saja kan? kenapa nggak bilang kalau lo di jemput keluarga besar?" Pertanyaan bertubi-tubi itu keluar dari mulut kecil Vini yang lansung membuat Bella menjauhkan handphone dari telinganya.
"Gue baik-baik aja kok Vini, makasih udah khawatirin gue. Sorry banget semalam nggak sempat kabarin lo, gue di jemput kakek. Sekarang gue udah di rumah Ayah." jelas Bella dengan lembut, ia tau sekali meski Vini terdengar marah tetapi dalam hatinya sungguh mengkhawatirkan keadaan Bella.
"Terus apa gue boleh ke sana? gue mau lihat keadaan lo!" pinta Vini membuat Bella ingat akan status nya sekarang dan langsung menggeleng keras.
'Kalau Vini kesini dan nanti ketemu Rael gimana? Bisa-bisa status gue sebagai istri Rael terbongkar, gue rasanya belum siap banget, apalagi Rael itu mahasiswa gue sendiri.' gumam Bella dalam hatinya.
"Aduh nggak usah repot-repot Vini, gue baik-baik aja kok. Besok kita ketemu di kampus aja." pinta Bella dengan lembut agar tidak menyakiti perasaan sahabat baiknya ini.
"Hmm... ya sudah deh. lo pokoknya harus istirahat yang banyak. Gue bakalan doa'in yang terbaik buat lo, semoga lo cepat sembuh." ucap Vini dengan penuh harap.
"Amin, makasih ya Vini." ujar Bella dengan hati yang begitu senang. Adanya sosok seperti Vini inilah yang membuat beban hidup Bella terasa sedikit berkurang.
"Sama-sama, lo istirahat dulu aja. Gue mau sarapan dulu." pamit Vini.
"Okey, Dah." Bella pun mengakhiri sambungan telepon tepat saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Masuk saja, nggak di kunci kok." teriak Bella dari dalam kamar. Beberapa saat kemudian terdengar pintu terbuka, tatapan Bella lansung tertuju pada orang tersebut.
Dengan membulatkan matanya, Bella sangat kaget mendapati bahwa orang tersebut adalah Rael dengan stelan santai yang ia pakai. Baju kaus oblong yang di lapiskan dengan kemeja, celana pendek yang memperlihatkan kaki putihnya ditambah topi yang membuat karismanya semakin kuat. Meski terpesona, tetap saja Bella masih berusaha sadar dan mencoba untuk terlihat biasa saja.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Bella sedikit gugup saat melihat Rael yang masih berdiri di ujung pintu.
"Boleh aku masuk?" tanya Rael dengan tatapan datar.
"Mau ngapain? Ntar kalau ada orang lihat gimana?" Sontak ucapan Bella membuat Rael menahan tawanya.
'Ternyata karena akibat syok bukan hanya berefek pingsan, Bella bahkan menjadi pelupa.' pikir Rael yang kemudian melangkah masuk ke kamar Bella.
"Kamu lupa kalau kita sekarang suami istri?" tanya Rael sambil meletakkan tas ranselnya di sofa kamar Bella.
__ADS_1
'Astaga... gue bodoh banget, masa gue bisa lupa kalau Rael sekarang adalah suami gue!' umpat Bella pada dirinya sendiri.
"Maaf lupa, terus itu apa?" tanya Bella kemudian membuat Rael yang baru saja duduk di sofa langsung melihat hal yang di tunjuk oleh Bella.
"Ini tas ransel, masa nggak tau?" ucap Rael cengengesan.
"Iya tau, tapi isinya apa? Kok di bawa ke kamar saya?" tanya Bella semakin penasaran dengan maksud kedatangan Rael.
"Isinya barang-barang aku Bel. Kan sekarang aku tinggal di sini." jawab Rael santai.
"Barang-barang kamu? Tinggal di sini? Maksudnya nggak tidur di kamar ini juga kan?" tanya Bella seketika panik.
"Yah di kamar ini lah, kan sekarang kita suami istri Bel, harus sekamar! Kamu sendiri kan yang mau kita nikah kemarin, kakek kamu juga nggak bolehin kita tinggal di rumah aku, kamu nggak ingat kejadian semalam ya?" jelas Rael dengan wajah serius.
"Tetapi saya belum siap sekamar bareng kamu." jelas Bella pada Rael.
"Kamu nggak punya pilihan lain Bel, kan kamu sendiri yang bilang kalau kita sepasang kekasih yang saling mencintai dan terbutakan cinta. bahkan kedua keluarga mengira kamu sudah pernah tidur dengan ku, terus alasan apa lagi yang akan kita buat agar kita tidak sekamar. Kamu kan pembuat alasan yang handal!" sindir Rael membuat Bella merasa bersalah.
"Maaf, tetapi saya punya alasan yang baik menikah dengan mu!" jelas Bella dengan wajah penuh rasa bersalah
"Kalau begitu terima saja sekarang kita sudah menjadi suami istri!" tegas Rael dengan tatapan tajam menatap Bella.
"Saya tau kamu marah karena pernikahan ini, saya benar-benar minta maaf." ucap tulus Bella pada Rael.
"Tidak, aku tidak marah. Hanya saja aku tidak ingin menikahi mu dalam kondisi seperti semalam. Kamu wanita terhormat Bel, semudah itu kamu menjatuhkan kehormatan mu demi alasan yang aku sendiri tidak tau. Tetapi nasi sudah menjadi bubur, sekarang aku akan bertanggung jawab atas nafkah batin dan rohani mu." Ucapan Rael sungguh membuat Bella kagum, tidak terpikirkan olehnya bahwa Rael bisa se dewasa ini. Bahkan sedari tadi Rael tidak menuntut alasan yang Bella sembunyikan darinya.
"Makasih banyak, suatu saat saya akan ceritakan alasan itu padamu Rael." ujar Bella yang masih menatap Rael dengan kagum.
"Sama-sama, tetapi aku bolehkan tinggal di kamar ini?" tanya Rael yang membuat Bella sedikit berfikir dan kemudian mengangguk mantap.
"Baiklah, tetapi hanya sebatas sekamar tidak lebih!" maksud ucapan Bella langsung bisa dimengerti oleh Rael. Rael pun bangkit dari sofa dan melangkah mendekati Bella yang masih stay di atas ranjang.
"Tidak lebih? Memangnya seperti apa yang lebih?" tanya Rael dengan suara menggoda. Mampu membuat Bella seketika merinding.
__ADS_1
"Kamu jangan dekat-dekat!" tegas Bella yang gugup. Rael dengan jahilnya semakin mendekati Bella, wajah mereka bahkan hanya berjarak beberapa sentimeter.
BERSAMBUNG.....