MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
SAHABAT BAIK


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Bella mengumpulkan semua anggota Violet Latera di camp. Ia ingin mengumpulkan informasi kemana perginya Riko, mungkin saja beberapa dari mereka mengetahui hal tersebut.


"Apa kalian tau kemana perginya Riko?" Tanya Bella menatap orang-orang di hadapannya. Beberapa dari mereka langsung mengeleng karena memang tidak tau kemana perginya Riko. Bahkan mereka juga baru tau informasi kepergian Riko saat Bella bertanya.


"Memangnya Riko kenapa Mbak? Kok bisa pergi dari camp?" Tanya Yoga yang notabenenya adalah anggota yang terdekat dengan Riko.


"Ceritanya panjang, kalau begitu kalian boleh bubar. Tetapi kalian juga harus bantu saya cari Riko." Pinta Bella yang langsung diangguki oleh beberapa anggotanya yang sudah mulai bubar. Bella pun memutuskan untuk kembali ke lantai atas untuk mencek kondisi Jingga.


"Mbak, ini ada apa sih?" Tanya Yoga yang merasa penasaran dan terus membuntuti Bella sampai ke lantai atas.


"Riko memperkosa Jingga dan lari karena tidak mau bertanggung jawab." Jelas Bella dengan suara rendah agar orang lain tidak bisa mendengar. Ia sangat tau bahwa Yoga pasti tidak akan menyerah sebelum mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Sontak ucapan Bella langsung membuat Yoga menutup mulutnya dengan tangan.


"Apa saya nggak salah dengar Mbak? Sahabat baik saya itu tidak mungkin bertindak keji seperti itu. Apalagi dia dan Jingga sudah seperti keluarga." Ujar Yoga yang masih tidak percaya.


"Kalau kamu tidak percaya juga tidak apa-apa. Tetapi kenyataannya sekarang adalah seperti itu. Jingga kini sampai trauma dibuatnya." Jelas Bella membuat Yoga langsung menggeleng-geleng semakin tidak percaya.


"Saya masih tidak percaya, Riko adalah orang yang baik. Kenapa dia bisa berbuat seperti itu, apalagi kepada Jingga." Ucap Yoga yang masih susah menerima kenyataan itu. Bagaimanapun ia dan Riko telah bersahabat bertahun-tahun, susah senang telah mereka lewati bersama. Bahkan Yoga sangat tau sifat dan kepribadian Riko.

__ADS_1


"Katanya kamu itu sahabat baiknya Riko, tetapi sekarang kenapa kamu tidak tau kalau Riko pergi dari camp?" Sindir Bella membuat Yoga merasa tertampar. Ucapan Bella sangatlah benar karena Riko tidak memberitahu apapun padanya. Padahal Yoga selalu menceritakan semua hal pada Riko, sangking percayanya.


"Aish... Dasar banjingan itu!" Gerutu Yoga yang kemudian meraih telepon di sakunya dan mulai menelpon Riko. Beberapa kali ia coba untuk menelpon tetapi tidak kunjung di angkat oleh Riko. Sedangkan Bella hanya memperhatikan sedari tadi gerak-gerik salah satu anggotanya ini.


"Gimana? Nggak di angkat kan? Saya juga udah berulang kali menelpon Riko, tetapi tetap saja tidak diangkat. Kayaknya memang disengaja. Mungkin dia takut dimintai pertanggungjawaban." Ujar Bella kesal dan kemudian melangkah menuju kamar Jingga. Meninggalkan Yoga yang tampak berfikir begitu keras.


"Kalau begitu saya akan bertanggungjawab." Sontak ucapan serius dari Yoga itu membuat Bella langsung berbalik badan, tidak percaya.


"Apa? Coba ulangi perkataan mu lagi?" Titah Bella kembali mendekat kepada Yoga.


"Saya akan bertanggungjawab! Jika Riko tidak mau bertanggung jawab atas perbuatannya pada Jingga, maka saya yang akan bertanggungjawab. Saya siap melakukan apapun demi membuat Jingga tidak lagi trauma." Ujar Yoga dengan suara tegas dan wajah penuh keyakinan menatap Bella.


"Akan mudah Mbak, asal Mbak mau menolong saya untuk membantu Jingga. Jika dia trauma kita akan bawa dia ke psikiater. Soal kekasih Jingga, kita akan lihat apa dia ingin ikut menolong Jingga dengan bertanggung jawab atau tidak, kalau dia tidak ingin saya akan maju. Saya melakukan ini karena ingin membalas budi perbuatan Riko yang telah menyelamatkan hidup saya beberapa tahun lalu. Jadi, saya mohon pada Mbak Bella agar setuju atas keinginan saya ini." Jelas Yoga dengan tegas. Bella hanya terdiam karena ia bingung harus menjawab apa. Ia juga tidak habis pikir dengan pilihan Yoga, lelaki di hadapannya itu sungguh tidak memikirkan kehidupannya sendiri.


"Apa kamu yakin setelah melihat hasil ini? Kalau sangat yakin, nikahi saja Jingga sekarang!" Tanya Nara yang keluar dari kamar Jingga dan ternyata telah mendengar semua obrolan Bella bersama Yoga. Nara melangkah mendekati Yoga dan menyerahkan testpack yang ada ditangan nya. Bella hanya mengerutkan dahinya bingung saat melihat alat tes kehamilan itu di tangan Nara.


"Jingga hamil?" Tanya Yoga kaget saat testpack itu telah ada ditangannya dan menampilkan dua garis pink.


"Kejadian itu telah terjadi beberapa minggu lalu. Jingga mencoba untuk menutupinya tanpa sadar rasa takutnya berubah menjadi rasa trauma. Sekarang ia hanya terus melamun setelah tau hasil testpack ini. Aku rasa kita harus segera mencari keberadaan Riko, tidak mungkin kalau anak ini tidak akan memiliki ayah." Ujar Nara menatap Bella dan Yoga bergantian.

__ADS_1


"Tetapi bagaimana caranya?" Tanya Yoga bingung. Niat baiknya sedikit goyah saat melihat hasil testpack itu. Bagaimanapun Yoga tidak siap bila menikah dengan orang yang tengah hamil bukan anaknya. Bila tadi Jingga diperkosa maka Yoga akan menerima dengan ikhlas bila mendapatkan istri yang tidak lagi perawan, tetapi anak itu? Ia merasa tidak yakin bisa untuk menerima kehadirannya.


"Kita minta bantuan hacker. Sampai kini handphone Riko masih aktif, itu akan memudahkan kita melacak lokasinya. Apa kalian memiliki kenalan hacker? Kita membutuhkannya secepat mungkin." Tanya Nara dengan serius. Bella langsung terpikirkan pada Dito, kakak senior nya itu pasti akan bisa membantunya dalam masalah ini.


"Saya pun, tunggu sebentar. Saya akan kabari dia untuk datang ke sini." Ujar Bella yang kemudian melangkah ke arah balkon untuk segera menelepon Rael. Bella menelpon Rael untuk meminta nya membawa Dito ke camp. Bella tidak memiliki nomor telepon Dito, sehingga dengan terpaksa ia harus meminta bantuan pak suami untuk menyelesaikan masalah ini.


"Halo Rael. Kamu dimana?" Tanya Bella.


"Halo Bel, nih aku masih di kampus. Emangnya ada apa? Kamu mau aku jemput? Kalau begitu aku langsung ke sana soalnya ini juga sudah siap kok." Tanya Rael dengan suara penuh kasih sayang.


"Aku mau minta tolong kamu Rael. Apa kamu bisa membawa Dito ke camp. Aku perlu bantuannya di sini." Jawab Bella dengan suara yang mulai serius. Tetapi Rael malah cemburu saat wanitanya ini malah menyebutkan nama lelaki yang membuat nya iri itu.


"Harus sekarang ya? Memangnya kamu dalam masalah?" Tanya Rael jutek dan kesal.


"Iya harus sekarang Rael! Di camp ada masalah, sesampainya kamu di sini akan aku jelaskan. Kamu bisa bantu aku kan?" Tanya Bella dengan harap.


"Hmm... Aku akan melakukannya demi kamu Bel. Kalau begitu aku jemput Dito dulu ke perusahaan, kamu tunggu saja di sana. I love you." Ujar Rael yang langsung mematikan sambungan telepon. Ia terdengar begitu kesal dan Bella sangat paham atas kelakuan Rael yang satu ini. Pria yang manis menurut Bella karena meski kesal ia masih mau memenuhi permintaan Bella.


"I love you too." Gumam Bella meski tau sambungan teleponnya sudah diputuskan. Ia malah tersenyum-senyum sendiri saat mengingat sang suami tengah diselimuti rasa cemburu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2