
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Melihat ekspresi keterkejutan di wajah Bella, Riko langsung bertanya.
"Kok kamu kaget gitu? Emangnya kamu pernah ketemu sama Cindy?" tanya Riko dengan serius. Membuat Bella memutuskan untuk bercerita pada Riko dan Jingga yang sudah ia anggap keluarga sendiri.
"Sebenarnya gadis ini baru aku lihat tadi malam. Ia tampak senang makan malam bersama suamiku." ujar Bella dengan tersenyum menatap Riko. Tetapi Riko dapat menangkap rasa kekecewaan di hati Bella dari senyum palsunya itu. Jingga langsung mendekat setelah mendengar ucapan Bella yang membuatnya kaget.
"Makan dengan suami Mbak? Maksudnya suami Mbak dan gadis songong itu selingkuh?" tanya Jingga to the point. Bella menghela nafas beratnya dan beralih menatap Jingga.
"Aku nggak tau pasti, ntah mereka sedang berkencan atau bagaimana. Mengingat kembali kenyataannya bahwa Cindy adalah salah satu anggota geng Swaq partner, ku pikir mungkin mereka hanya sebatas anggota dan ketua geng." ujar Bella mencoba untuk berfikir positif.
"Mending Mbak jangan berfikir terlalu positif begitu. Aku dari awal ketemu Cindy udah berfirasat nggak enak sama dia. Mbak jangan sampai lengah, takut nya suami Mbak nanti bisa tergoda." nasehat Jingga dengan tulus mengkhawatirkan kondisi pernikahan Bella dan Rael. Sedangkan Riko langsung menyentil jidat Jingga, kesal akan ucapannya.
"Kamu di kasih hati minta jantung ya! Udah dimaafkan masih aja ngelunjak, kamu jangan suudzon jadi orang! Cindy bukan gadis seperti itu, yang akan berani merebut suami orang lain!" tegas Riko karena masih menyimpan rasa pada mantan kekasihnya itu. Sedangkan Jingga meringis menahan sakit sentilan dari Riko. Ingin sekali ia membalas Riko tetapi Jingga terlalu segan dengan Bella. Sehingga membuatnya terpaksa sabar dan menahan diri.
"Semoga saja ucapan mu benar Riko. Baiklah, sepertinya hari sudah agak siang, aku harus ke kampus. Kalian jangan sampai ribut lagi!" pamit Bella sambil berdiri dari kursinya.
"Sampai ketemu nanti Mbak." ujar Jingga tersenyum manis. Sedangkan Riko hanya mengangguki ucapan Bella.
Dengan hati yang bertanya-tanya Bella terus melangkah keluar cafe untuk mencari taksi. Kali ini ia tidak membawa mobil ataupun diantarkan pak Sudirman karena pagi-pagi sekali pak Sudirman sudah mengantarkan Adelia ke bandara. Bella pikir gadis itu membuang-buang waktunya hanya untuk liburan tanpa bekerja, menghabiskan uang sang ayah.
'Apa Rael suka dengan Cindy mantannya si Riko itu? Mengapa aku merasa ada yang tidak beres kali ini. Argggghhhh... aku pusing berpikir terus dan kesabaran ku mulai habis, sepertinya harus aku saja yang bertanya duluan pada Rael! Bila menunggunya untuk cerita itu pasti memakan waktu lama, ku rasa ketakutan Jingga bisa menjadi nyata. Sungguh aku tidak menyukai itu dan juga tidak menginginkan suamiku tergoda oleh wanita lain!' gumam Bella dengan kesal dalam hatinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Bella memberhentikan taksi tepat di depan gerbang kampus. Dengan segera Bella langsung melangkah ke dalam kampus tanpa memperhatikan beberapa mahasiswa yang tengah kumpul di gerbang.
"Lah itu istri Lo bos! Kok naik taksi gitu, kenapa kalian nggak bareng aja? Apa jangan-jangan kalian berantem karena kejadian semalam." tanya Gibran ngasal membuat Rael langsung menggeleng.
"Nggak kok, bahkan kami belum bahas hal itu. Soalnya semalam Bella sudah tidur sebelum gue pulang. Tapi gue heran, padahal dia minta izin buat pergi ke kampus pagi-pagi tadi. Kenapa baru sampai sekarang? Bahkan dia berangkat sebelum gue bangun." jelas Rael kebingungan membuat Gibran dan Vino ikut bingung.
"Lah kok duluan Lo yang sampai ke kampus?" tanya Vino membuat Rael langsung menggeleng. Setelah mengingat waktu yang semakin mendekati jam kelas, membuat mereka bertiga memutuskan lansung melangkah ke dalam kampus.
***
Bella hari ini mengajar di kelas Rael. Beberapa jam berlalu akhirnya kelas pun berakhir. Saat Bella keluar dari kelas, ia langsung di kejar oleh Rael.
"Bel tunggu dulu!" titah Rael mengehentikan langkah Bella.
"Kamu kok nggak lihat ke aku sih selama kelas? Apa kamu marah sama aku? Tambah lagi pagi tadi kamu bilangnya mau ke kampus, kok duluan aku yang sampai? Kamu kemana aja?" tanya Rael bertubi-tubi membuat Bella langsung melihat sekeliling agar tidak ada orang yang mendengar obrolannya bersama sang suami.
"Aku ada urusan! Kamu bisa lihat kondisi dulu nggak sih? Ini di kampus, kita bahas di rumah saja. Aku mau ke kantor dulu habis itu langsung pulang!" jutek Bella lansung melangkah pergi meninggalkan Rael. Dengan rasa yang teramat penasaran, Rael memutuskan menunggu Bella di depan kantor untuk pulang bersama.
***
Beberapa menit akhirnya Bella keluar dengan tas laptop dan beberapa buku di tangannya.
"Sini aku bantuin." ujar Rael dengan tersenyum manis.
__ADS_1
"Nggak usah, aku bisa sendiri." ketus Bella menolak bantuan Rael. Ia kembali melangkah meninggalkan Rael yang masih stay di depan kantor.
"Bel, tungguin aku dong!" teriak Rael saat sadar jika istrinya sudah melangkah jauh. Dengan berbagai usahanya dan bujukan akhirnya Rael berhasil membuat Bella nurut untuk pulang bersamanya.
"Baiklah, Ayuk pulang! Aku udah capek banget!" ketus Bella sekali lagi. Ntah mengapa ia seperti itu, hanya saja Bella ingin Rael duluan yang bercerita soal kegiatannya semalam tanpa ia harus bertanya. Itu membuat Bella merasa kesal.
Rael pun hanya menghela nafas berat saat menghadapi perubahan sikap Bella. Ia merasa yakin jika Bella seperti ini karena kejadian semalam. Mengingat hari yang sudah sore, membuat Rael langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah.
Ingin sekali Bella bertanya saat di dalam perjalanan, tetapi ia merasa bukan tempat yang layak untuk menceritakan hal tersebut di atas mobil. Takutnya Rael tidak terima dan malah tidak fokus mengemudi. Sedangkan Rael hanya sibuk dengan pikirannya yang tengah mempersiapkan diri untuk menjelaskan soal Jesica pada Bella.
***
Beberapa menit akhirnya mereka sampai di kediaman Ken Wijaya. Langit senja yang berawan kelabu seperti mewakili perasaan kekhawatiran Bella soal rumah tangganya. Semakin ia pendam dan tidak ingin untuk bertanya malah semakin membuatnya sesak.
"Aku mandi duluan." ujar Bella yang terdengar ketus di telinga Rael.
"Baiklah Bel, kalau begitu aku minta Mbok Iyem mengantarkan makan malam buat kita. Kamu ada request nggak?" tanya Rael yang masih berusaha biasa saja saat menghadapi sikap jutek dan cuek dari Bella.
"Nggak ada." ucap Bella yang sekali lagi Membuat Rael menghela nafas berat.
'Kenapa dia nggak cerita sih soalnya apa yang ia lakukan semalam? Apa dia mencoba untuk menutupinya dariku? Apa dia benar-benar selingkuh?' gumam Bella dalam hatinya bertanya-tanya. Ia pun memasuki kamar mandi dengan hati kesal.
Melihat kepergian Bella ke dalam kamar mandi membuat Rael menggeleng-geleng. 'Gini amat punya istri. Gue tau ini salah karena udah bohong ke dia soal semalam. Tapi kenapa dia nggak tanya ke gue? Tetapi malah memilih untuk jutek-jutek begitu. Apa gue duluan yang harus cerita soal Jesica sama dia? Apa dia benar-benar nggak cemburu sedikit pun?' Rael pun bertanya-tanya dalam hatinya. Persoalan perasaan sang istri padanya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....