
...🌺🌺🌺🌺🌺...
🚪Ruangan Pribadi🚪
Gibran duduk di sofa ruangan itu dengan sangat gugup. pasalnya Bella memegang pisau dengan satu apel yang ia kupas tepat di depan wajah gibran.
"Coba jelaskan apa yang telah diperbuat Anggota mu tentang sahabat saya?" tanya Bella. Antara takut dan bingung Gibran malah terdiam membeku. "Jawab saya Gibran!" sarkas nya kemudian.
"Maaf buk, saya tidak paham! memangnya apa yang terjadi pada sahabat ibuk dan hubungannya dengan anggota saya apa?" tutur Gibran berhati-hati dalam memilih katanya.
'Kalau Gibran tidak tau, berarti memang bukan Swaq Partners yang melakukan ini!' pikir Bella dalam hatinya. Dengan sikap biasa, Bella kembali duduk dan menyantap apel ditangan nya. Sedikit berfikir.
"Sahabat saya Riko digebukin tadi malam di daerah kekuasaan kalian! saya rasa ini ulah anggota mu! saya tidak ingin main kekerasan Gibran, saya harap kamu paham maksud saya!" tutur Bella membuat Gibran mengangguk.
"Saya paham buk, saya akan ikut menyelidiki ini. namun saya yakin Swaq Partners tidak serendah ini untuk membalas kebencian mereka!" keyakinan Gibran terpancar jelas diraut wajahnya.
"Baiklah, saya harus pulang. kabari jika kamu menemukan kejanggalan! saya tidak ingin Swaq Partners dan Violet Letera berakhir di balapan atau permainan kasar!" titah Bella melangkah keluar ruangan, meninggalkan Gibran termenung.
'Bagaimana ini, apa yang harus ku lakukan? aku bukan ketua dari Swaq Partners. Bagaimana caraku akan menyelidiki ini?' panik Gibran. Jingga memasuki ruangan itu dengan santai, menyentuh bahu Gibran. sontak Gibran pun kaget dan mengira itu adalah Bella.
"Iya buk, saya akan usahakan. jangan bunuh saya buk!" ujar Gibran memohon, hal itu membuat Jingga tertawa terbahak-bahak. Gibran yang mendengar tawa jingga, malah merasa bingung.
"Jingga?" Gibran merasa malu, karena tertangkap tidak berdaya dihadapan Jingga.
"Hhhh... maaf Gibran aku cuman bilang mbak Bella udah pulang! kamu ngapain masih disini?" tanya Jingga.
"Astaga... sorry, aku ngelamun tadi." ujar Gibran beranjak keluar ruangan pribadi.
"Oh ya Jingga, boleh aku minta nomer handphone mu?" kikuknya takut bila tak sesuai harapan.
"Hmmm... boleh-boleh!" senyum Jingga mengambil handphone ditangan Gibran.
🍃Disisi lain🍃
Bella memasuki rumahnya dengan wajah cemberut. pasalnya sang Ayah tidak menghiraukan kedatangan Bella sama sekali.
"Mbok Iyem." panggil Adel.
__ADS_1
"Iya non, ada apa?" tanya mbok Iyem.
"Kami besok siang akan berlibur ke Bali. jadi bantu saya merapikan barang-barang!" titah Adel bersemangat. Ucapan Adel membuat Bella menghentikan langkahnya menaiki tangga.
"Apakah kita semua akan berlibur Ayah?" tanya Bella pada Ken yang duduk di sofa.
'Ingin sekali aku berlibur denganmu anak gadisku. namun aku tidak berdaya! aku takut Biangka melukaimu di sana.' pikir Ken dengan sedih. Belum sempat Ken menjawab Adel sudah mendahului nya.
"Siapa juga yang mau membawa benalu kayak kamu? sadar nggak sih, kamu disini cuman benalu!" sarkas Adel pada Bella.
'Aku benalu? aku adalah anak kandung Ayah, seharusnya kak Adel yang benalu di rumah ini!' celetuk Bella dalam hatinya. Bella menggeleng dan melangkah kearah Adel dengan tatapan yang tajam.
"Kamu bilang saya apa? ulang lagi!" tanya Bella dengan emosi.
"Kamu itu benalu!" Adel mendorong bahu Bella dengan keras. Emosi Bella semakin tersulut dibuatnya.
"Kamu yang benalu! saya anak kandung pemilik rumah ini!" sarkas Bella penuh emosi. Bella mendorong bahu Adel dengan santai namun karena kelicikan Adel ia berpura-pura tersungkur kelantai.
"Hhhhhh... mulai berani kamu ya anak h*ram. Papi!" rajuk Adel sambil berdiri. Ken bingung, ia sangat sedih melihat perlakuan Adel pada Bella. ia tau Adel hanya berpura-pura tersungkur dan menyalahkan Bella.
'Ingin sekali aku membela Bella saat ini. namun jika aku memarahinya, aku yakin Biangka dan Adel pasti akan berbuat sesuatu pada Bella!' pikir singkat Ken.
"Kalau iya saya berani kenapa ha? anda mau ngapain, mau usir saya juga kayak ibu dulu? anda memang tidak punya hati nurani!" Bella melangkah cepat kearah kamarnya. Hati Ken sangat teriris saat Bella mengatakan hal itu. Ken sangat ingin menjelaskan semuanya kepada Bella.
'Maafkan Ayah nak, sekali lagi Ayah melukai hatimu!' ucap Ken sedih dalam hatinya.
Menangis sejadi-jadinya, Bella kembali teringat akan ibunya. seperti malam kemarin Bella kembali tertidur dengan mendekap foto ibunya.
🛌Dikamar Rael🛌
Sudah berjam-jam Rael mencoba tidur, namun tak kunjung juga bisa. bayangan Bella bersama Gibran hari ini menimbulkan tanda tanya besar dipikirannya. 'Ada hubungan apa Bella dan Gibran?'
Dengan hati yang gelisah, Rael menelpon Gibran ditengah malam.
"Halo Gibran." sapa Rael.
"Eh, halo bos!" kikuk Gibran terdengar jelas. suara dentuman musik disko begitu jelas ditelinga Rael.
__ADS_1
"Lo lagi di club ya? ngapain lo di sana? lo ada masalah ya?" bingung Rael.
"Gue gelisah bos! gue butuh bantuan lo!" setengah sadar, Gibran menjelaskan keadaan sahabat Bella yang terbujur koma di rumah sakit kepada Rael.
"Terus lo yakin ini bukan dari geng Violet Letera?" tanya Rael.
"Gue yakin banget bos, gue curiga sama Satya!" tutur Gibran.
"Satya salah satu anggota baru kita?" tanya Rael.
"Iya bos, gue butuh lo atau ngak buk Bella bakalan bunuh gue!" ujarnya takut.
"Gue bakalan suruh anak-anak yang lain selidiki ini. sekarang lo tenang aja. mending lo pulang deh atau harus gue jemput lo? share lokasi deh sekarang!" titah Rael yang mengurungkan niatnya untuk bertanya soal hubungan Bella dan Gibran. Rael merasa hal seperti itu tidak pantas ia pertanyakan sekarang. karena Bella cuman mainannya. namun untuk apa ia harus cemburu.
"Nggak usah bos, supir gue udah jemput kok. makasih ya!" ujar Gibran mematikan telpon.
'Kenapa gue gelisah ya? kok gue malah nggak suka lihat kedekatan Bella dan Gibran. pokoknya gue ngak boleh suka sama Bella sebelum dia yang tergila-gila sama gue. dia cuman mainan gue aja! gue harus sadar Bella itu bukan siapa-siapa gue!' Upaya Rael meyakinkan hati nya.
🏠 Rumah Sakit 🏠
Bella mengambil cuti mengajar untuk hari ini. setelah memasak bersama mbok Iyem pagi tadi. Bella bergegas menuju rumah sakit. Masakan yang ia buat adalah untuk para anggotanya yang sudah lelah menunggu dan menjaga Riko semalaman.
Riko akhirnya sadar setelah beberapa jam sebelum kedatangan Bella. Berdasarkan penuturan Riko, geng motor yang melukainya adalah geng swaq Partners. Riko masih ingat sekali ketua geng itu memakai tato Swaq Partners di lengan nya.
"Pagi semua." sapa Bella memasuki ruangan pasien Riko.
"Pagi Bel." senyum Riko sedikit menahan sakit ditepi bibirnya.
"Ini makan dulu, kalian pasti belum sarapan kan?!" semuanya berhamburan mengambil rantang ditangan Bella.
"Gimana keadaan mu Riko?" tanya Bella khawatir. Riko sangat senang saat bos nya ini begitu perhatian. seakan pertanyaan itu mampu membuat Riko sembuh seketika.
"Baik kok Bel, kamu gak apa-apa kan?" Bella menatap malas Riko, yang malah mengkhawatirkan keadaan Bella.
"Dasar kamu Riko, yang sakit itu kamu. lihat nih aku baik-baik aja!" tunjuk nya penuh ceria.
"Hhhhhh... eh, mbak nggak ngajar?" tambah Yoga yang disela-sela makannya.
__ADS_1
"Ngak Ga, lagi ambil cuti sehari ini. lagian nanti sore ada turnamen futsal antar fakultas!" penjelasan Bella hanya dijawab anggukan oleh Yoga.
BERSAMBUNG.....