
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Malam itu Bella dan keluarga Indarko mendatangi kediaman Indarko. Kartika tidak memperbolehkan Bella tinggal sendiri di apartemen yang akan di berikan Riko padanya.
Setelah mendengar semua cerita dari Bella, kedua orang tua Riko merasa sangat kasihan pada nasib Bella. Masalah terus bertubi-tubi datang menghampiri nya.
Bella juga bercerita soal kesalahpahaman yang terjadi antara nya dan Rael. Riko yang mendengar Rael berbuat kasar pada Bella sangat tersulut emosi. Ia bahkan mengepalkan tangannya karena menahan marah.
Bagaimanapun Riko telah menganggap Bella saudarinya sendiri. Ia tidak segan-segan membalaskan perbuatan Rael kepada Bella.
Akan tetapi Bella tidak sedikitpun memburuk- burukkan Rael pada keluarga Indarko. Ia hanya menceritakan apa adanya kisah yang telah ia lewati sebelum memutuskan untuk bertemu dengan Riko.
"Mbak, aku duluan ke kamar ya. Soalnya ngantuk banget." ujar Jingga setelah merger memasuki kediaman Indarko. Bella melafalkan kata-kata pujian saat memasuki rumah mewah dan megah itu. Ia tidak percaya bahwa Riko benar-benar adalah anak konglomerat.
"Iya, lebih baik Jingga ke kamar saja. Biar Mama yang mengurus Bella. Riko sana ikuti Jingga masuk ke kamar kamu!" sahut Kartika yang juga memerintah Riko.
Riko hanya bisa mengalah dan pasrah. Ia tidak mau mendengarkan ceramah mama nya malam-malam begini bila ia menolak perintahnya. Apalagi kondisi tubuh Riko saat ini juga lelah.
Setelah kepergian Jingga dan Riko ke dalam kamar. Kartika mengalihkan perhatian nya kepada Bella dengan tersenyum hangat.
"Sini Tante anterin ke kamar kamu. Mulai sekarang kamu tinggal di sini saja. Nggak usah mikirin orang-orang yang nggak peduli sama kamu. Anggap saja ini rumah kamu." ujar Kartika yang menuntun Bella ke kamar barunya.
Sedangkan Indarko memilih untuk memasuki kamarnya sendiri. Ia juga terlalu lelah setelah beraktivitas di kantor hari ini.
Bella tersenyum manis, ia tidak menyangka keluarga Indarko akan menyambutnya dengan senang. Bahkan perhatian Kartika membuatnya merasakan kembali kasih sayang sang mendiang Ibu.
"Terimakasih ya Tante, Bella nggak tau lagi caranya berterimakasih pada keluarga ini. Berkat kalian Bella bisa tidur di kasur malam ini." tutur Bella tulus. Ia tersenyum begitu lebar karena hatinya bahagia.
Sejenak pemikiran tentang rasa sakit yang ia alami belakangan ini hilang.
__ADS_1
"Sama-sama Bel, yang terpenting sekarang kamu pikirkan soal bayi dalam kandungan kamu saja. Tante nggak nyangka sebentar lagi bakal ada dua bayi di rumah ini." ucap Kartika antusias. Ia seolah-olah membayangkan anak Bella dan Jingga tengah bermain bersama di kediaman Indarko yang begitu luas serta besar.
"Iya Tante. Terimakasih kasih sekali lagi."
Kartika membuka pintu kamar di lantai utama itu. Biasanya kamar itu diperuntukkan untuk tamu, karena tidak ada kamar utama lagi yang tersisa di lantai bawah, akhirnya terpaksa kamar itu diperuntukkan untuk Bella.
Sebenarnya kamar utama banyak terdapat di lantai dua dan tiga. Tetapi Indarko dan Kartika tidak ingin mengambil resiko bila ibu hamil harus menuruni tangga setiap mereka ingin ke luar. Bahkan kamar Jingga dan Riko pun mereka pindahkan ke lantai bawah demi keamanan sang menantu.
"Ini kamar kamu ya Bel. Kalau ada perlu panggil Tante atau pelayan yang ada di rumah ini. Tinggal bilang tolong aja, ntar pasti ada yang datang. Tadi Tante juga sudah menyuruh pelayan untuk mengisi beberapa keperluan kamu. Termasuk pakaian dan peralatan mandi. Semoga kamu suka ya." jelas Kartika membuat Bella mengangguk mantap dan tersenyum lebar.
Ia tidak menyangka fasilitas yang diberikan oleh keluarga Indarko begitu sangat banyak untuk dirinya.
"Maaf ya sudah merepotkan Tante sekeluarga. Besok kalau Bella udah kerja, Bella akan ganti semuanya." tutur Bella tulus.
Ia sedikit sendu membayangkan dirinya akhir-akhir ini selalu menjadi beban. Padahal selama hidupnya Bella terbilang mandiri dan bahkan tidak pernah menyusahkan ibunya.
Kartika tiba-tiba saja memeluk Bella. Ia tidak bisa menahan tangis kasihan melihat kehidupan Bella yang mengenaskan. Salah paham, dikhianati, hamil, ditambah lagi sekarang ia harus kabur-kaburan dari seluruh anggota keluarga nya.
"Baiklah Tante." jawab Bella singkat. Ia tidak bisa berucap panjang karena sesak di dadanya yang tengah menahan tangis.
"Kalau begitu Tante keluar dulu ya. Kamu istirahat lah. Selamat malam dan selamat tidur." pamit Kartika setelah melepaskan pelukan nya.
Bella tersenyum hangat dan melihat kepergian Kartika dari kamar barunya.
Seperkian detik kemudian Bella menatap semua inci sudut kamar barunya itu. Meski bukan kamar utama, tetapi terasa begitu besar. Kamarnya juga harum, Bella yang baisanya sensitif dengan bebaunan tidak begitu mempermasalahkan nya.
Bella menyibakkan jendela kamar nya. Terlihat kelap-kelip lampu kota, karena kediaman Indarko memang terdapat di daratan yang tinggi dari ibu kota.
"Maaf kak Dito, bukan maksud aku lari dari kamu. Hanya saja aku tidak bisa percaya bahwa kamu begitu jahat. Dan, berniat membunuh bayiku." gumam Bella dengan tatapan tertuju pada kota.
__ADS_1
Ia menghela nafas dan ntah mengapa ia merindukan sosok Rael saat ini. Bella tidak yakin jika itu keinginan ia sendiri, ia merasa juga itu adalah pengaruh dari sang cabang bayi di perutnya.
'Kamu jangan menginginkan Ayah mu Dek, Ibu saja tidak tau akankah bertemu dia lagi atau tidak. Ntah dia mencari keberadaan Ibu ntah tidak?' gumam Bella dalam hatinya. Ia mengusap-usap perutnya yang mulai sedikit membentuk karena sudah menginjak 4 bulan.
Bella mencoba untuk sesekali bicara pada janin dalam kandungannya.
***
Di sisi lain. Rael meneguk habis sebotol minuman bersoda di tangannya. Dito tidak kunjung datang padahal mereka sudah menunggu sedari tadi.
Rael sudah memojokkan Vino dengan amarahnya yang kian tinggi. Vino pun telah menelpon Dito sedari tadi, akan tetapi lelaki itu tidak kunjung mengangkat sambungan telepon nya.
"Apa dia kabur? Awas saja kalau sepupu Lo itu kabur, bakalan gue bunuh Lo sekarang juga!" geram Rael yang hampir melayangkan tonjokan pada Vino.
Namun tangannya di tahan oleh Dito yang baru saja datang. Untung gerakannya cepat setelah memarkirkan motor ia langsung berlari ke arah Rael yang hendak melayangkan pukulan pada Vino.
"Waah selow bro! Vino nggak ada salah apa-apa. Yang salah itu gue, gue yang udah bawa Bella kabur dari kediaman Ken Wijaya." seru Dito menghentikan aksi Rael.
Rael mengurungkan niatnya dan langsung menghentakkan tangan Dito.
"Kemana aja Lo baru datang ha?! Tangan gue udah nggak sabar mukul Lo!" sarkas Rael penuh emosi. Kini tubuhnya sudah menghadap ke arah Dito.
"Pantas Bella kabur dari Lo. Menyelesaikan masalah bukan dengan kekerasan bro, tapi harus dibicarakan baik-baik!" ucapan Dito membuat Rael terhenyak. Ia teringat akan kejadian malam itu, betapa kejamnya ia pada Bella. Bahkan gadisnya itu penuh lebam ulah perbuatannya.
"Lo tau apa soal Bella! Dia itu istri gue!" bentak Rael menatap Dito tajam.
Dito tertawa kecil, ia menatap remeh Rael yang penuh emosi dihadapan nya.
"Sebelum Lo kenal Bella, gue udah suka sama dia! Bahkan semua hal yang Bella suka dan gak suka Gue tau. Dia juga pantang dengan orang kasar dan tukang selingkuh!" ungkap Dito membuat Rael naik pitam kepada nya.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....