
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Di Camp. Riko telah digebuki habis-habisan oleh Yoga. Sedangkan Dito hanya diam melihat aksi kejam lelaki itu pada Riko.
"Gue nggak nyangka ternyata Lo yang Gue kira lelaki baik-baik malah berbuat keji seperti ini!" Hardik Yoga penuh emosi setelah memukuli Riko yang sedari tadi hanya pasrah tanpa mau melawan. Semenjak mendengar Jingga masuk ke rumah sakit, ntah mengapa membuat perasaan Riko menjadi sedikit bersalah.
"Sudahlah Yoga, kamu pulang lah! Riko akan begitu tidak berdaya jika terus-menerus kamu pukuli." Ujar Nara yang datang membawa kotak P3K. Nara yang berniat untuk tidur mengurungkan niatnya, saat mendengar Riko yang sudah babak belur dipukuli oleh Yoga. Dengan berat hati Nara terpaksa harus menolong Riko sebelum nyawanya melayang ulah luapan emosi Yoga.
Meski di camp banyak anggota lainnya, tetapi mereka tidak mau ikut campur soalan pribadi yang terjadi pada Riko. Menurut mereka hal itu terlalu serius sampai Yoga tampak terlihat begitu marah. Beberapa anggota hanya melihat dan ada juga yang berpura-pura tidak tau, Mereka menyibukkan diri dengan urusan masing-masing.
"Bagus! Biar banjingan ini mati dengan cepat!" Sarkas Yoga yang kembali memukuli Riko. Dito yang melihat ketidakberdayaan Riko akhirnya turun tangan, menarik Yoga menjauh dari Riko.
"Sudah lah Yoga! Lo bisa masuk penjara karena membunuhnya! Jingga juga tidak akan senang bila lelaki itu meninggal dengan begitu mudah." Ujar Dito yang akhirnya membuat Yoga sedikit sadar.
"Betul ucapan Dito. Kalau Riko meninggal ditangan Lo dengan begitu mudah, maka Jingga akan semakin hancur. Riko harus hidup sambil ngerasain rasa sakit yang saat ini dirasakan oleh Jingga." Tambah Nara yang sudah mengambil alih Riko untuk mengobati semua lukanya.
"Terserah kalian saja!" Ucap Yoga kesal dan melangkah keluar camp. Sedangkan Dito mendekati Nara yang tengah mengobati Riko.
"Makasih ya Nara. Berkat Lo, Yoga jadi berhenti menggebuki Gue." Ujar Riko sedikit meringis saat diobati oleh Nara.
"Gue ngelakuin ini demi Jingga dan anaknya. Kalau untuk Lo Gue mah ogah!" Ujar Nara ketus.
"Besok pagi Lo harus temui Jingga ke rumah sakit! Meski Gue bukan siapa-siapa dan orang yang baru mengenal kalian, tetap saja Gue cuma mau ngasih saran Lo harus minta maaf pada Jingga. Lo juga harus tanggung jawab sebagai lelaki." Ujar Dito menepuk bahu Riko dan melangkah pergi dari camp tanpa menunggu jawaban dari Riko. Nara hanya diam mendengarkan sambil sibuk mengobati Riko.
__ADS_1
'Gue tau Gue udah jahat. Tetapi tetap aja Gue nggak mau tanggung jawab ke Jingga. Kalau bukan karena Ayah dan Ibu yang mengancam, sudah Gue pastiin kalau nggak akan bertemu lagi dengan gadis sialan itu!' umpat Riko dalam hatinya.
"Ini sudah Gue obati, Lo istirahat saja dulu di kamar. Besok pagi kita ke rumah sakit bareng. Awas aja Lo kabur lagi!" Ancam Nara menatap tajam ke arah Riko.
"Iya-iya. Lagian mau kabur pun malah nambah masalah buat Gue. Hidup Gue benar hancur gara-gara Jingga, emang sialan tuh cewek!" Ucap Riko kesal, langsung mendapatkan tamparan keras dari Nara.
Plak... Riko terbelalak menatap ke arah Nara yang sudah emosi.
"Lo apa-apaan sih? Tadi ngobatin Gue, sekarang malah nampar Gue!" Seru Riko tidak terima. Ia memegangi pipinya yang terasa semakin perih.
"Lo yang apa-apaan! Lo punya hati nggak sih? Lo yang udah perkosa Jingga sampai hamil dan sekarang dengan mudahnya Lo bilang hidup Lo hancur karena Jingga. Lo benar-benar sialan!" Sarkas Nara kemudian melangkah pergi meninggalkan Riko yang masih meringis.
'Gue nggak peduli! Salah dia sendiri yang nggak bisa jaga diri dan kenapa juga dia harus tolong Gue malam itu?' gumam Riko dalam hatinya yang masih egois tanpa mengasihani Jingga sedikitpun.
Malam pun berlalu dan berganti dengan pagi. Jingga terbangun saat silaunya cahaya matahari pagi memasuki jendela tepat mengenai matanya. Melihat ke sekeliling Jingga dapat menangkap Rael dan Bella yang tengah tertidur di sofa. Jingga merasa begitu haus sampai ia menguatkan diri untuk duduk dan meraih gelas berisi air yang ada di nakas sebelah bad tidurnya. Jingga tidak mau membangunkan tidur nyenyak Rael dan Bella, ia yakin mereka pasti telah bergadang menemaninya semalam.
Tetapi saat gelas itu telah di genggam Jingga, ia pun mencoba untuk mengangkat gelas itu perlahan. Namun pergelangan tangannya terasa ngilu dan hampir saja kelas itu jatuh ke lantai jika Gibran tidak sigap menangkap nya.
"Kamu nggak punya mulut untuk minta tolong apa?" Tanya Gibran dengan suara yang terdengar khawatir.
Gibran sebenarnya telah datang setelah subuh tadi, ia telah meredamkan amarahnya dan mulai menerima kenyataan yang ada. Saat Jingga terbangun tadi, Gibran tengah didalam kamar mandi, oleh karena itu Jingga tidak melihat kehadiran Gibran.
"Kamu kok ada di sini?" Tanya Jingga terbata-bata dengan tatapan yang sangat panik. Ia sangat takut bila Gibran tau semuanya. Tubuh Jingga tiba-tiba panas dingin, jantungnya berdetak lebih cepat.
__ADS_1
"Aku sudah tau semuanya." Ujar Gibran dingin sambil duduk di kursi sebelah bad tidur Jingga. Tidak lupa sebelum itu ia membantu Jingga untuk minum.
"Maksud kamu?" Tanya Jingga setelah meneguk habis segelas penuh berisi air putih itu.
"Kamu tengah mengandung anak Riko. Kenapa sih kamu nggak pernah cerita sama aku, kalau kamu itu diperkosa? Pantas saja belakangan ini kamu terasa beda, tidak ceria seperti dulu." Ujar Gibran meminta penjelasan. Jingga semakin gugup, ia tidak menyangka bahwa Gibran akan tau secepat ini. Jingga menunduk tanpa mau menatap mata Gibran yang terpendam amarah. Jingga memainkan kuku tangannya menahan rasa takut dalam dirinya.
"Aku minta maaf Gibran." Hanya kalimat itu yang mampu keluar dari mulut Jingga. Tanpa menjawab, Gibran tiba-tiba saja memeluk Jingga dengan amarahnya yang sudah menjadi air mata.
"Aku yang minta maaf Ngga, kalau saja malam itu aku menjemputmu pulang kerja, pasti semua ini tidak akan terjadi. Aku sudah gagal menjadi kekasih untukmu, maafkan aku." Ujar Gibran yang sudah mulai berdamai dengan keadaan. Ia datang bukan untuk marah-marah pada Jingga, tetapi Gibran juga tidak berniat untuk melanjutkan hubungannya mereka. Hanya saja, Gibran datang untuk meminta penjelasan Jingga tentang masalah ini dan mengapa ia harus tau dari orang lain.
"Jangan salahkan dirimu Gib. Ini semua karena kebodohan ku, hubungan kita hancur dan hidupku juga hancur. Hiksss... Hikss..." Ujar Jingga sesenggukan dalam pelukan Gibran.
"Aku tau ini egois, tetapi hari ini aku mau pamit sama kamu Jingga. Aku sudah putuskan untuk keluar negri melanjutkan studi S2 ku. Aku nggak bisa ngelakuin apapun di sini, aku juga nggak bisa bantu apapun buat hidup kamu. Aku rasa hubungan kita akan berakhir di sini. Maafkan aku." Ujar Gibran melonggarkan pelukannya dan menatap yakin pada jingga.
"Jangan Gib, aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Aku masih butuh kamu di sini Gib." Ujar Jingga menatap lawan bicaranya dengan tangis yang deras.
Bella dan Rael sudah terbangun sedari tadi. Mereka hanya diam menyaksikan percakapan dua sejoli dihadapan mereka yang penuh dengan haru pilu.
"Maaf Jingga. Sebenarnya aku juga tidak kuat meninggalkan kamu. Tetapi kenyataan menamparku, kamu tidak bisa lagi aku miliki. Keluarga ku sudah melarang keras hubungan kita, keluarga ku tak akan mau menerima anaknya menikah dengan gadis hamil seperti kamu. Maafkan aku Jingga." Putus Gibran sambil menyerahkan kotak berisi cincin berlian itu ke tangan Jingga.
"Terus apa ini? Hiks... hiks... Hiks..." Tanya Jingga bingung saat melihat isi kotak yang ada ditangannya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1