
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Siang itu Bella dan Rael pamit pada Jingga untuk kembali ke kediaman Ken. Mereka memutuskan untuk kembali karena sore ini mereka akan pergi ke kampus.
"Kamu mau mampir dulu nggak ke suatu tempat?" tanya Rael yang tengah menyetir.
"Nggak ada Rael, aku cuma mau pulang aja. Pengen nikmati makan siang buatan Mbok Iyem." jawab Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela mobil.
"Baiklah. Aku minta izin ya, sehabis kuliah mau ke restoran Genandra. Aku mau ngumpul-ngumpul dulu sama teman-teman." Ucap Rael. Ntah mengapa ia meminta izin padahal dalam hubungan mereka belum pernah ada keharusan seperti itu.
"Kamu hari ini pulang malam?" tanya Bella yang kini sudah mengalihkan perhatian nya pada Rael.
"Nggak larut kok, palingan jam 9 aku sudah sampai rumah. Kamu izinkan aku keluar malam kan?" tanya Rael kembali.
"Iya aku izinkan. Kalau begitu aku juga minta izin ke cafe Latera ya. Aku mau ngerjain pekerjaan nanti di sana, dari pada di rumah sendirian." pinta Bella tersenyum manis. Rael mampu menangkap raut wajah Bella yang tengah tersenyum manis dari mata elangnya.
"Biar aku yang jemput sehabis dari restoran nanti." ujar Rael yang tidak terima penolakan.
"Okey Rael, nanti aku akan menunggu." jawab Bella kemudian. Setelah itu tidak ada lagi percakapan. Rael sangat fokus berkendara sedangkan Bella menatap langit dari jendela mobil.
***
Seusai kuliah. Sore itu Rael memutuskan untuk ke restoran Genandra diikuti oleh 2 sahabat baiknya.
"Gue udah dapat informasi baru, nama gadis itu Jesica. Salah satu gadis cantik di fakultas kedokteran. Apa kamu mengenalnya, karena dia dulu satu sekolah menengah pertama dengan kalian." pernyataan Vino membuat Rael dan Gibran sangat berfikir keras. Mengingat mereka berdua satu sekolah menengah pertama.
__ADS_1
"Siapa dia? Mengapa Gue nggak pernah mengenalnya?" tanya Gibran bingung.
"Gue rasa mengenal seseorang dengan nama Jesica itu saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tetapi gadis itu begitu cupu, ia bahkan dulu memakai kacamata." ujar Rael saat teringat akan masa lalunya.
Jesica adalah gadis cupu dan kutu buku yang sangat menyukai Rael sedari mereka bertemu untuk pertama kali di bangku sekolah menengah pertama. Gadis itu awalnya dengan berani mengatakan ia suka pada Rael, di hadapan semua orang Rael yang bad boy sangat menolak gadis itu terang-terangan dan mempermalukan nya. Semenjak hari itu Jesica tidak lagi tampak di sekolah, ia memutuskan untuk pindah karena malu. Semenjak itu ia bertekad untuk memiliki Rael bagaimana pun caranya, bahkan Jesica juga mengubah gayanya. Jesica semakin terobsesi pada Rael saat ia tau kalau mereka satu kampus, tetapi ia sangat membenci fakta bahwa Rael sudah menikah dengan Bella.
"Lo kenal dimana?" tanya Gibran penuh rasa penasaran.
"Lo ingat nggak gadis cupu yang gue tolak habis-habisan di lapangan basket itu? Pantas di foto ini wajah nya sedikit familiar bagi gue." jelas Rael yang masih berfikir keras.
"Iya gue ingat, apa sekarang dia mau balas dendam sama lo Rael? Gue ingat banget, waktu itu semua orang mentertawakan nya. Setelah itu gue dengar dia udah pindah sekolah." ucap Gibran membuat Vino menggeleng-geleng tidak percaya.
"Waah gue nggak nyangka lo sekejam itu Rael. Nggak kebayang gimana malu dan sakit hatinya gadis itu sampai dia pindah sekolah." ujar Vino membuat Rael mengingat masa lalunya yang ternyata begitu tidak baik. Apalagi sampai membuat seseorang pindah sekolah, ia ternyata begitu buruk.
"Iya dulu gue brengsek. Sekarang gimana cara kita buat selesaikan masalah ini?" tanya Rael kemudian.
"Menurut gue juga ada baiknya gitu, biar masalah kalian dari dulu juga kelar." tambah Vino.
"Kalau menurut kalian ini bisa menyelesaikan masalah gue dengan cepat. Gue bakalan mau bertemu dengan gadis itu. Tetapi kalian harus rahasiakan ini dari Bella, gue takut dia salah paham nantinya." jawab Rael dengan setengah hati. Jujur saja ia merasa ragu akan hal ini. Mengingat di pesan Vino sebelumnya bahwa gadis itu ingin sekali memiliki Rael.
"Siap Bos." ujar Gibran dan Rael.
"Kalau gitu gue kirim pesan ke dia dulu ya. Gue atur tempatnya di restoran ini aja gimana? Lo mau kan Rael?" tanya Vino memastikan.
"Iya mau, gue serahkan semua sama kalian berdua. Yang penting masalah ini cepat selesai dan Bella jangan sampai tau." jawab Rael dengan tegas. Setelah itu mereka tidak lagi membahas tentang masalah itu. Mereka bertiga menikmati makan malam dengan beberapa hidangan yang telah disediakan pelayan.
__ADS_1
***
🍽️Cafe Latera🍽️
Kini Bella tengah santai mengerjakan pekerjaaan dosennya. Ia duduk di ruangan pribadi miliknya di cafe Latera. Bella terus menatap jam, menunggu kedatangan Rael. Sudah pukul Setengah 9, Bella memutuskan untuk bersiap-siap. Ia mengingat bahwa Rael mengatakan akan pulang jam 9, ntah mengapa ia berdandan. Memperbaiki penampilan nya yang sedikit kocar kacir usai mengerjakan pekerjaaan dosennya.
"Aku terlihat norak nggak ya?" tanya Bella pada dirinya sendiri sambil menatap cermin.
"Nggak kok Mbak. Mbak Bella cantik banget. Pasti Mas Rael nya kesemsem." ujar Jingga saat memasuki ruang pribadi. Bella langsung kaget dan beralih menatap Jingga dengan tersenyum malu.
"Aduh Jingga, kamu ada-ada saja. Ada apa kamu masuk ke ruangan?" tanya Bella sambil tersenyum hangat.
"Maaf Mbak, Jingga masuk tanpa izin. Jingga mau bilang kalau Mas Rael nya udah nunggu di depan." ujar Jingga tidak enak.
"Nggak apa-apa Jingga. Makasih ya." ujar Bella tersenyum hangat. Ia pun mengambil tas yang ada di atas meja dan mulai melangkah ke arah luar ruangan.
"Semoga Mbak Bella cepat dapat momongan ya. Jingga udah nggak sabar punya ponakan." ujar Jingga yang mengikuti langkah Bella.
"Aamiin. Makasih ya Jingga. Kamu dengan Gibran bagaimana? Apakah dia serius dengan mu?" tanya Bella dengan nada serius.
"Sama-sama Mbak. Hubungan kami berjalan lancar Mbak, tetapi untuk serius atau tidaknya aku tidak tau Mbak. Lagian Jingga juga sadar kalau Jingga nggak punya apa-apa. Mana mau keluarga kaya kayak keluarga Gibran menerima gadis tamatan SMA ini." ujar Jingga sedih.. Langkah mereka terhenti, ucapan Jingga mampu membuat Bella sangat mengasihani nya. Bella memeluk Jingga, menyalurkan rasa tenang karena Jingga kini telah menangis.
"Kamu nggak usah merendah seperti itu Jingga. Kamu gadis yang baik dan mandiri. Keluarga mana yang tidak mau anaknya menjalin hubungan dengan mu. Apalagi aku sangat mengenal om Rahman, dia baik dan juga sangat ramah. Aku yakin dia akan menyukaimu dan menerima hubungan kalian." jawab Bella mencoba menghibur Jingga yang tengah tidak percaya diri.
"Makasih ya Mbak. Berkat Mbak Bella, Jingga jadi tenang." ujar Jingga melepaskan pelukan mereka.
__ADS_1
"Kamu jangan nangis lagi ya, kalau gitu Mbak pamit dulu. Kasihan juga Rael sudah nunggu dari tadi." pamit Bella yang diangguki oleh Jingga. Bella pun melangkah ke luar Cafe, tepat dimana Rael telah menunggu nya di mobil.
BERSAMBUNG.....