
...🌺🌺🌺🌺🌺...
"Aku mencintaimu Bella. jika kamu tidak mencintai ku. kamu tidak boleh menjadi milik orang lain! hhhhh..." tuturnya sambil tertawa lepas. Bella masih bersikeras agar bisa melepaskan genggaman Satya yang begitu kuat.
Meski begitu Satya malah mempererat genggamannya, membuat Bella mengerang kesakitan. Pergelangan tangan Bella mulai memar dan sedikit berdarah. Bella mulai merasakan tidak berdaya lagi untuk melawan kekuatan dari Satya. bahkan bela diri yang dimiliki nya saat ini ntah pergi kemana.
Vini mencoba untuk melangkah kearah mereka. Melihat ketidakberdayaan Bella, membuat semua orang mulai panik. Dari bawah para mahasiswa-siswi juga ikut berteriak agar Satya melepaskan Bella. Saat Vini melangkah, Satya menyadari itu dan mencoba untuk mengancamnya dengan membuat Bella dan dirinya mundur kearah tepian atap.
"Lo nggak usah dekat-dekat Vini, atau gue sama Bella bakalan loncat sekarang juga!" tegas Satya begitu tajam menatap Vini.
"Gue nggak mau lo buat kayak gini Satya, lo itu sahabat kami. lo udah kayak saudara kami!" ujar Vini mencoba untuk memberi pencerahan agar Satya sadar. Namun, bukannya sadar apa yang dimaksud Vini. Satya malah semakin emosi.
"Lo pikir gue selama ini anggap Bella sebagai sahabat? nggak lah, gue anggap Bella orang yang spesial dalam hidup gue! Yang namanya cewek sama cowok nggak bakalan bisa jadi sahabat. lama kelamaan pasti melibatkan perasaan!" teriak Satya. Bella masih kaget mendengar pernyataan Satya. Ia merasa lelaki dihadapannya saat ini bukan lelaki cupu dan lugu yang ia jadikan sahabat bertahun-tahun ini. Satya sekarang sangat egois dan berfikir hanya untuk kesenangan nya seorang.
"Lo nggak mikir gimana perasaan Bella saat ini! dihadapan semua orang, lo permalukan dia, lo seret dia kayak binatang! lo pikir nggak, harga diri Bella dimana sekarang karena ulah lo! jangan makan cinta aja!" teriak Vini berusaha menahan tangisnya yang penuh emosi.
"Iya gue nggak mikir. karena pikiran gue hanya berpusat pada Bella!" tulus Satya menatap dalam kearah Bella.
"Lepasin gue Sat, tangan gue sakit!" lesu Bella mencoba untuk menarik tangannya kembali. Satya menggeleng.
"Aku akan lepaskan jika kamu menerima pernyataan cinta ku!" tegasnya. Bella menangis sejadi-jadinya. baru kali ini ia dibuat menangis oleh lelaki selain sang Ayah.
"Lo emang bukan manusia ya! gue baik-baikan malah ngelunjak, gue yang nolong lo dulu pas dibully, bukan berarti gue punya perasaan sama lo! sekarang lepasin gue! gue nggak pernah punya perasaan sama orang g*la kayak lo. nyesel gue nolong lo dulu, dan jadiin sahabat gue!" teriak Bella penuh penekanan tepat disebelah telinga Satya. Ucapan Bella malah membuat Satya mengulang memory lama yang sudah sempat ia hilangkan. ingat dimana ia pernah jadi bahan bullyan dan akhirnya Bella seperti pahlawan yang datang menolong nya. Ingatan Itu membuat Satya semakin emosi, ia sangat ambisi untuk memiliki Bella seutuhnya.
__ADS_1
"Kamu tidak menyukai orang seperti ku? lalu apa gunanya kamu menolong ku waktu itu! munafik! jika tidak bisa hidup bersama, mari mati bersama!" ujar Satya menarik tangan Bella melangkah agar bisa jatuh dari atap.
Entah dari arah mana, Rael pun datang menarik kuat tubuh Bella agar tidak ikut jatuh kebawah bersama Satya. Kekuatan nya itu begitu kuat sampai Bella jatuh dalam peluk nya. Semua orang yang menyaksikan kejadian itu begitu syok sampai atap dan lantai bawah dipenuhi teriakkan histeris. Tanpa mereka ketahui, Satya mendarat tepat di atas matras yang sudah disediakan Rael serta teman-temannya sedari tadi. Bella yang sudah syok pun akhirnya pingsan dalam pelukan Rael.
Vini pun meminta Rael agar segera menggendong Bella ke dalam mobilnya. Mereka segera menuju puskesmas terdekat untuk mengobati tangan Bella yang kian memar. Sedangkan Satya sudah diamankan oleh pihak berwajib. Kali ini ia tidak akan bisa dikeluarkan kembali dari penjara. Kejahatannya sungguh berlebihan. Bahkan nyawa Bella sudah berada di ujung tanduk karena ulahnya.
🏠Kediaman Ken Wijaya🏠
Arya memasuki rumah besar itu dengan penuh emosi, setelah mendengar bahwa Ken, Biangka serta Adelia telah berangkat ke Bali siang tadi. Arya marah karena Ken tidak memikirkan perasaan Bella yang mereka tinggalkan.
"Mbok Iyem!" teriak Arya yang baru memasuki ruang tamu. Mbok Iyem yang tengah menyantai di ruang dapur pun lansung tergesa-gesa menuju tempat Arya berdiri.
"I-ya tuan, ada apa tuan?" tanya Mbok Iyem yang gugup saat melihat raut kesal di wajah Arya.
"Kemasi semua barang Ken, Biangka serta Adelia ke dalam koper-koper milik mereka. Setelah semuanya selesai, kamu letakkan di ruang tamu! Bila mereka pulang nanti, jawab saja bahwa mereka sudah saya usir dari rumah ini karena telah menyakiti hati cucu kesayangan saya!" titah Arya pada Mbok Iyem dengan tegas.
"Tidak! Saya tengah kesal dengan mereka yang tidak pernah menghargai orang. Semua fasilitas mereka akan saya cabut mulai hari ini. Saya pastikan mereka akan kembali besok mengingat uang di ATM mereka terkuras habis. Oleh karena itu kamu bergegas lah untuk mengeluarkan semua barang-barang mereka dari rumah ini!" Jelas Arya sambil melangkah ke arah luar rumah.
"Baik tuan, apakah tuan ingin memakan sesuatu?" tanya Mbok Iyem mengubah topik agar Arya bisa meredam amarahnya.
"Tidak perlu, saya akan kembali ke rumah." ujar Arya yang terus melangkah menuju mobilnya. Mbok Iyem yang melihat kepergian Arya pun menggelengkan kepalanya, membayangkan betapa kekuasaan dan harta bisa membuat orang berbuat semaunya. Seperti sekarang dengan seenaknya Arya mengusir sang Anak dari rumah.
🏨 Puskesmas🏨
__ADS_1
Bella akhirnya sadar setelah dokter di puskesmas memeriksa nya. Rael dengan wajah khawatir sedari tadi memandangi Bella dengan wajah yang pucat.
"Pacar saya nggak apa-apa kan dok?" tanya Rael serius. Vini yang kaget mendengar itu pun berusaha untuk tidak panik dan menahan diri untuk mempertanyakannya pada Bella yang baru saja siuman.
"Kondisi nya sudah stabil, mungkin tadi ia terlalu syok. Obat sudah saya tuliskan silahkan di tebus, dan luka nya juga tidak terlalu serius. sehingga ia masih bisa beraktivitas seperti biasa kembali. Setelah ini ia sudah boleh pulang, namun obatnya jangan lupa diminum." ujar dokter membuat Rael mengelus dadanya senang.
"Syukur dok, makasih banyak ya dok." ujar Rael dengan senang. Dokter pun keluar ruangan, menyisakan Rael, Bella serta Vini dan Vino.
Bella masih diam di atas bad pasien tanpa bersuara, sedangkan Rael duduk di sebelah nya. Vini dan Vino tengah berdiri berdampingan, menyisakan beberapa tanda tanya di pikiran mereka berdua.
"Eh, kamu temannya Rael kan? Emang nya mereka pacaran?" tanya Vini yang berbisik-bisik.
"Iya aku temannya, tapi nggak tau mereka pacaran atau nggak!" ujar Vino yang ikut berbisik-bisik.
"Kalian kok pada bisik-bisik sih?" tanya Rael. Meski tidak mendengar ucapan dua orang di hadapannya itu, tetap saja ia risih dibuatnya.
"Nggak usah sewot deh, lo bocah siapanya Bella?" tanya Vini to the point.
"Gue pacar nya Bella, emang nya kenapa?" tanya Rael dengan angkuh.
"Nggak usah dengerin bocah ini Vini!" Ujar Bella yang kemudian buka suara. Rael yang mendengar itu pun langsung mengerutkan dahinya.
"Aku bukan Bocah Bel! Aku lebih tua dari kamu dan aku pacar kamu!" tutur Real lembut agar tidak menyakiti perasaan Bella. Ntah mengapa dirinya seperti itu, bahkan Rael sendiri merasa tidak bisa menahan diri nya.
__ADS_1
"Iya tua, tapi pikiran masih bocah!" sarkas Bella menatap tajam orang disebelahnya. Sedangkan Vini dan Vino pun keluar dari ruang itu dengan hati-hati. Takut jika nanti mereka terkena semprotan Rael dan Bella yang tengah berdebat.
BERSAMBUNG.....