MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
BERTENGKAR


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Gibran menatap Jingga lekat dan menahan air mata yang sudah terbendung di pelupuk matanya. Ia menghirup nafas berat dan memikirkan kata yang tepat untuk ia sampaikan pada Jingga.


"Sebenarnya malam kemarin aku akan melamar mu. Mungkin semuanya sudah menjadi takdir, hari ini aku memberikan ini sebagai hadiah. Anggap saja bahwa cincin ini adalah kenangan-kenangan bahwa kita pernah menjalin hubungan. Kamu jaga baik-baik ya Jingga." Ucap Gibran dengan tersenyum paksa. Jingga menahan sakit hati yang dalam saat mendengar kenyataan yang diucapkan oleh Gibran, ia terus merutuki kebodohannya dan menyesali semua perbuatannya itu.


"Maafkan aku Gibran." Kembali lagi, hanya itu saja kalimat yang mampu diucapkan oleh Jingga. Air mata sudah menggenangi pipinya, Jingga merasa lidahnya begitu keluh untuk berucap pada Gibran.


"Kamu jaga diri baik-baik ya Jingga. Menikah lah dengan lelaki yang baik dan mau menerima kamu berserta bayi yang ada di perutmu itu. Aku pamit Jingga." Ujar Gibran kembali memeluk Jingga sekilas. Dengan dada yang sesak Gibran melangkah ke arah pintu ruang inap tanpa memperdulikan isak tangis Jingga yang semakin menjadi.


Tanpa mereka semua sadari, Riko sebenarnya telah berdiri didepan pintu semenjak awal Jingga bangun. Ia juga mendengar jelas obrolan Jingga dan Gibran, terbesit di hati kecil Riko bahwa ia memang telah menghancurkan kehidupan Jingga. Saat Gibran membuka pintu, Riko masih saja diam di depan pintu sambil menatap datar pada Gibran.


"Lo banjingan!" Sarkas Gibran langsung memukuli Riko. Hal itu sontak menuai keributan di depan ruang inap Jingga. Karena Riko juga tidak tinggal diam dan membalas pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh Gibran.


Rael yang melihat itu langsung mencoba menengahi keduanya. Namun, mereka berdua seperti singa yang tengah memperebutkan kekuasaan mereka, tanpa salah satu di antara mereka mau mengalah. Rael memutuskan untuk meninggalkan mereka dan berlari memanggil satpam rumah sakit. Rael tidak berdaya jika harus menghadapi dua lelaki yang tengah termakan amarah itu.


Jingga yang melihat pertarungan itu langsung turun dari ranjang pasiennya dan dengan paksa ia mencopot infus yang ada di tangan. Ia sedikit meringis saat bekas infus itu memberikan bekas dan membuat darah segar mengalir di tangannya.


"Berhenti Jingga, kamu tidak perlu ke sana!" Tegas Bella menahan Jingga. Tetapi gadis itu tidak mau memperdulikan larangan Bella. Ia mendorong keras Bella, untung saja tubuh Bella terjatuh ke sofa. Ia pun segera bangkit dan berlari mengejar Jingga.

__ADS_1


'Maafkan aku Mbak, aku harus menengahi kedua lelaki ini. Karena semua ini akulah penyebabnya.' gumam Jingga dalam hatinya. Ia terus berlari menuju kedua lelaki itu tengah bergulat.


"Berhenti kalian! Apa yang kalian lakukan ha?" Teriak Jingga penuh tenaga, padahal ia begitu merasa sangat letih karena baru sadarkan diri. Riko dan Gibran masih saja tidak berhenti dan masih melayang pukulan demi pukulan.


Jingga menarik baju kemeja Riko dengan keras, berniat untuk memisahkan mereka. Tetapi tanpa sadar Riko malah mendorong keras Jingga sampai tersungkur ke lantai.


Jingga merasa perutnya menjadi keram. Bella yang melihat itu langsung menolong Jingga, begitu pun beberapa orang yang tengah melihat pertempuran antara Gibran dan Riko.


"Kamu nggak apa-apa kan Jingga?" Tanya Bella khawatir.


"Perut aku sakit Mbak." Ujar Jingga meringis dengan tangannya menggenggam erat tangan Bella.  Ringisan Jingga mampu didengar oleh Gibran, ia berhenti memukuli Riko dan menatap ke arah Jingga yang masih terduduk di lantai. Riko yang merasa dapat kesempatan saat lawannya lengah, langsung memukuli Gibran dengan membabi buta. Namun, tentu Gibran tidak akan mau tinggal diam saja. Ia membalas pukulan Riko sampai lelaki itu mulai tidak berdaya. Darah segar keluar dari sudut bibirnya yang pecah ulah pukulan Gibran.


"Biar saya saja yang mengendong nya ke dalam!" Putus Gibran mengendong Jingga ala bridal style. Namun, Bella dan beberapa perawat itu kaget saat tetesan darah segar mengalir dari kaki Jingga saat Gibran menggendongnya.


"Cepat panggil dokter kandungan. Saya memiliki firasat yang tidak enak." Pinta salah satu perawat itu pada rekan kerjanya. Gibran dengan sigap langsung membawa Jingga ke  atas ranjang. Meski masih sadarkan diri, Jingga tidak bisa lagi berucap. Sakit di perutnya kian menjadi.


'Jangan tinggalkan ibu nak! Ibu cuma punya kamu saja. Ibu janji tidak akan mencoba untuk mengakhiri hidup lagi.' gumam Jingga dalam hatinya. Air matanya sudah menggenangi pipinya, Jingga hanya bisa mengelus lembut perutnya. Kali ini tenaganya betul-betul telah habis, sampai semuanya begitu gelap dalam pandangannya.


Dokter masuk ke dalam ruang inap Bella dengan beberapa suster. Wajahnya yang panik membuat Bella begitu khawatir pada kondisi Jingga. Gibran dan Bella dipersilahkan untuk menunggu di luar agar dokter tidak terganggu saat mengobati Jingga.

__ADS_1


"Lo memang banjingan! Jika apa-apa terjadi pada Jingga dan anaknya. Gue pastikan hidup Lo akan selamanya dalam jeruji besi!" Sarkas Bella yang akhirnya sudah kehabisan sabar. Riko yang masih terduduk dilantai hanya diam sambil mendongakkan kepalanya menatap Bella datar. Ntah apa yang dipikirkannya, Riko tampak menjengkelkan dimata Bella. Melihat reaksi Riko seperti itu membuat Bella memutuskan untuk melayangkan tonjokan keras pada Riko namun untung saja Rael tiba tepat waktu.


"Hentikan Bel! Kamu tidak perlu mengotori tangan mu untuk menghakimi Riko! Tuhan akan membalas perbuatannya itu suatu saat nanti, karma itu ada Bel. Kamu tenang saja." Ujar Rael menahan Bella. Sedangkan Gibran sudah menunduk, menangis di kursi depan ruang inap Jingga. Ia sangat mencintai Jingga, bahkan sampai detik ini cintanya masih bertambah tanpa berkurang sedikitpun.


"Jingga Hikss... Hikss..." Tangis Bella pecah saat itu juga. Ia menangis bukan hanya khawatir pada Jingga, tetapi karena juga emosi yang tidak sempat terlampiaskan pada Riko. Rael langsung mendekap tubuh istrinya itu, berusaha menenangkannya.


"Apa-apaan ini? Kenapa muka Lo jadi hancur lagi?" Tanya Nara yang tiba-tiba datang. Ia melihat betapa babak belurnya Riko yang baru saja ia tinggalkan beberapa menit lalu. Sebenarnya mereka berdua datang bersama ke rumah sakit pagi ini. Namun Nara memutuskan untuk membeli sarapan bagi Bella dan Rael  yang sudah menjaga Jingga semalaman, ia membelikan nya sebelum masuk ke dalam rumah sakit. Itu juga sebagai bentuk terimakasih Nara pada Bella, ketuanya yang begitu baik.


"Gue digebukin sama banjingan sialan itu!" Tunjuk Riko pada Gibran yang kini menatap mereka tajam.


"Apa Lo? Mau Gue gebukin lagi ha?" Ujar Gibran dengan marah.


"Sini Lo kalau berani!" Jawab Riko dengan sombongnya. Gibran akhirnya berdiri dan tampak akan melangkah ke arah Riko. Emosi masih di atas rata-rata, membuatnya masih belum puas memukuli Riko.


"Kalian benar-benar ya. Apa kalian tidak malu bergelut didepan umum seperti ini? Lihat, Jingga sekarang harus menanggung ulah perbuatan kalian!" Sarkas Bella penuh penekanan. Membuat Riko dan Gibran kembali diam. Gibran pun kembali duduk dan mengurungkan niatnya untuk kembali memukuli Riko.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada Jingga?" Tanya Nara pada Bella. Rasa penasarannya bertambah saat melihat OB rumah sakit tengah membersihkan tetesan darah yang mengalir dilantai.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2