MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
KEDATANGAN KARTIKA


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Pagi telah berganti siang. Bella dan Rael memutuskan untuk pulang ke kediaman Ken Wijaya karena mereka merasa membutuhkan waktu untuk beristirahat. Baru saja memasuki rumah besar itu, Rael dan Bella sudah dihadang oleh Adelia yang tersenyum menggoda menatap Rael.


"Kalian dari mana saja?" Tanya adelia melangkah mendekat ke arah Rael. Dengan tatapan tidak suka pada Adelia, Bella langsung bergelayut manja di lengan Rael.


"Emangnya kenapa? Tumben nanya-nanya segala?" Tanya Bella jutek. Sedangkan Rael menatap malas Adelia yang berdiri dihadapannya.


"Dengar-dengar wisuda Rael 2 minggu lagi kan? Kalian nggak mau sekalian ngerayain pesta pernikahan kalian gitu?" Tanya Adelia yang sebenarnya memiliki tujuan lain.


Ucapan Adelia membuat Bella teringat akan pesta pernikahan mereka yang memang belum pernah diadakan. Bahkan sebagian orang yang ia kenal masih belum tau bahwa mereka telah menikah.


"Lihat nanti saja, yuk sayang ke kamar!" Ajak Bella dengan suara manja pada Rael. Sedangkan Rael hanya mengikuti permintaan Bella. Adelia yang ditinggal pergi begitu saja menatap penuh kebencian pada Bella.


'Awas saja kamu Bella, beberapa hari ke depan rencana ku untuk menghancurkan hidupmu akan segera terwujud. Aku akan merebut orang-orang yang kamu sayangi dari hidupmu!' gumam Adelia penuh dendam pada Bella.


***


Di rumah sakit.


Jingga masih belum siuman. Setelah pendarahan yang terjadi padanya membuat Jingga hampir saja kehilangan bayinya. Nara telah mendengar cerita dari Bella soal kejadian yang menimpa Jingga, Ia tidak habis pikir bagaimana kejamnya Riko yang mungkin sudah tidak memiliki hati saat ini. Nara terus menunggu kondisi Jingga stabil di ruang inapnya.


Bukan hanya Nara, Riko pun ikut menunggu sambil duduk termenung di sofa ruangan itu. Ia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya saat mendengar penjelasan dokter yang mengatakan bahwa bayi dalam perut Jingga hampir saja kehilangan nyawanya. Riko sedikit merasa bersalah karena Ia lah yang mendorong Jingga sampai tersungkur ke lantai dan membuatnya pendarahan.


Suara pintu ruang inap itu terbuka membuat perhatian Nara dan Riko teralihkan.

__ADS_1


"Kesini kamu anak nakal!" Sarkas Kartika yang tiba-tiba masuk ruangan itu dan menatap Riko dengan marah.


"Aduh bu, ampun... ampun..." Ujar Riko meringis kesakitan saat telinganya ditarik keras oleh sang ibu.


"Kamu ibu suruh buat menikahi gadis itu, bukan malah hampir membunuh calon cucu ibu!" Ucap Kartika marah bercampur kesal pada Riko.


"Rayen nggak sengaja Bu, maaf." Ujar Riko yang masih meringis kesakitan. Sedangkan Nara menatap kejadian dihadapannya dengan bingung. Ia sangat penasaran siapa orang yang dengan berani menjewer kuping Riko.


"Maaf, tetapi kalian berisik sekali. Itu akan menganggu ketenangan Jingga." Ujar Nara yang mulai risih mendengar rintihan Riko. Kartika langsung melepaskan jewerannya dari telinga Riko dan mengalihkan perhatiannya pada Nara yang duduk di samping bad pasien Jingga.


"Aduh maafkan Ibu ya, terlalu terbawa emosi soalnya. Kenalkan saya ibu kandungnya Rayen." Sapa Kartika yang mendekat pada Nara. Nara dengan sopan lansung menyalami Kartika.


"Saya Nara Bu dan ini Jingga." Tunjuk Nara pada Jingga yang masih belum sadarkan diri.


"Kondisi mereka belum stabil, syukur bayinya masih bisa diselamatkan." Ujar Nara yang menatap Riko penuh kebencian.


"Syukur sekali, Ibu tidak akan memaafkan Rayen kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Jingga. Makasih ya Nara, Ibu dengar kamu selalu membantu Jingga dan Rayen." Ucap Kartika dengan sepenuh hati.


"Sama-sama Bu, Lagian Nara melakukan ini demi Jingga dan bayinya." Jawab Nara tersenyum hangat.


"Ibu tau dari mana kalau Rayen di sini?" Tanya Riko penasaran.


"Tentu Ibu tidak akan membiarkan kamu menikah sendiri. Ibu datang kesini atas bantuan nak Dito, ia yang memberitahu semuanya pada ibu. Termasuk kelakuan kamu tadi pagi. Ibu pikir kamu bakal berubah setelah kejadian ini, ternyata kamu malah semakin menjadi." Sindir Kartika menatap anaknya penuh kesal.


"Kekasih Jingga yang memukuli ku duluan Bu, bukan aku!" Tegas Riko yang tidak mau disalahkan.

__ADS_1


"Kekasih?" Kaget Kartika yang baru tau kalau Jingga memiliki kekasih. Mengingat Dito tidak pernah menceritakan hal tersebut padanya.


"Jingga memiliki pacar Bu, dia kemarin datang kesini menjenguk Jingga dan mendapatkan kenyataan itu. Sehingga saat ia melihat Riko ada di sini, ia langsung melampiaskan kemarahannya." Jelas Nara membuat Kartika langsung menutup mulutnya dengan tangan, ia sangat kaget dan tidak percaya.


"Kamu benar-benar telah menghancurkan kehidupan Jingga Rayen! Ibu tidak akan membiarkan Jingga terus larut dalam kehancuran lagi karena kamu. Malam nanti Ayah mu akan kesini, ibu sudah menyuruhnya sekaligus membawakan penghulu. Hafalkan lah ijab kabul mulai siang ini." Tegas Kartika dengan suara yang tidak bisa lagi dibantah.


"Tetapi Bu, apa kita tidak tunggu Jingga sadar dulu?" Tanya Nara yang mempertimbangkan perasaan Jingga.


"Mau Jingga sadar atau tidaknya, dia akan tetap menjadi istri Rayen. Kamu tenang saja Nara, Ibu akan menjaga Jingga sebaik mungkin dan tidak akan membiarkan Rayen menyakitinya lagi." Ujar kartika menggenggam tangan Nara untuk menyakinkan nya.


"Aku belum siap menikah dengan Jingga, karena aku mencintai orang lain!" Tolak Riko kesal.


"Kamu pikir Jingga bakalan mau nikah sama kamu? Dia juga punya orang yang dia sendiri cintai. Kamu jangan egois Rayen, Apa kamu mau anak pertama mu hidup bersama orang lain yang nantinya akan ia panggil Ayah, sedangkan kamu akan dilupakannya?" Ujar kartika menasehati anaknya.


"Kalau begitu gugurkan saja anak itu!" Ucap Riko dengan enteng. Ntah mengapa hatinya terus berubah-ubah. Kadang simpati kadang begitu membenci bayi yang ada diperut Jingga.


"Astaga Rayen! Berfikir dulu sebelum berucap. Apa Ibu pernah mengajarkan kamu berbuat sekejam itu? Kalau kamu tidak mau menikahi Jingga, kamu bukan lagi anak ibu! Kita putus hubungan!" Ancam Kartika membuat Riko akhirnya bungkam.


Namun tanpa mereka sadari, Jingga telah sadarkan diri beberapa menit lalu. Ia mendengar semua obrolan dan perdebatan yang terjadi di ruangan itu. Meski masih memejamkan mata, Jingga merasakan bahwa ibu kandung Riko adalah orang baik. Mendengar semua perkataan Kartika sangat berpihak pada Jingga. Tetapi Jingga tidak menyangka bahwa Riko benar-benar akan egois dan sekejam itu, bahkan ia rela untuk menggugurkan darah dagingnya sendiri.


Kali ini Jingga mencoba untuk menerima semuanya meski begitu berat.


'Maafkan Ayah kamu ya Nak. Ibu yakin suatu hari nanti ia akan menyesali ucapan nya itu.' gumam Jingga dalam hatinya dengan penuh sesak di dada yang kian ia tahan agar tidak di sadari oleh Nara, Kartika ataupun Riko.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2