
...πΊπΊπΊπΊπΊ...
Kamar hotel sebelah telah dipenuhi oleh orang-orang yang kini memiliki perasaan berbeda-beda.
Tiba saatnya Rael akan melangsungkan ijab kabul di depan para saksi dan penghulu. Bella pun dengan terpaksa memakai gaun seadanya yang seharusnya ia pakai untuk pesta malam ini. Dengan senyum kecut ia menatap kuku-kuku jari nya yang kian merasa dingin. Mungkin karena ijab kabul adalah sesuatu yang sakral, sehingga membuat nya terbawa suasana.
Bella sangat merindukan kehadiran sang ibu sekarang, bagaimana pun ini adalah pernikahan pertama dan terakhir dalam hidupnya. Soal Rael, Bella tidak begitu peduli siapa yang akan menjadi suaminya ini, karena setidaknya Rael pasti tidak akan membuat hidupnya berantakan. Maksud Bella melakukan ini semua hanya ingin terbebas dari siasat buruk yang terus di persiapkan oleh Adelia dan Biangka untuk dirinya. Kemudian ia akan mencari bukti tentang kebusukan mereka dan membongkarnya kepada semua orang.
Rael dengan wajah tidak bersemangat terus menatap Bella dengan tatapan penuh pertanyaan.
'Di pikiran mu sekarang apa sih Bel? Tujuan mu berbohong pada semua orang apa? Apa enaknya sih berbohong begini, aku nggak ingin menikahi mu di saat yang seperti ini!' kesalnya dalam hati.
"Bel, tolong jelaskan pada mereka. aku tidak ingin menikahi mu seperti ini! Tujuan mu berbohong sebenarnya apa?" ujar Rael dengan berbisik-bisik yang hanya bisa di dengar oleh Bella di sampingnya.
"Kamu nggak perlu tau tujuan aku apa, yang jelas lakukan saja!" ujar Bella ketus membuat Rael akhirnya mengalah untuk terus membujuk Bella.
'Aku harus bagaimana kedepannya? Bagaimana dengan masa depanku? Bella akan menjadi istriku? bukan kah gadis ini hanya akan menjadi mainan ku, mengapa malah aku yang terperangkap!" gumam Rael tidak terima dalam hatinya.
Arya sudah memberikan kode pada pak ustadz yang notabennya adalah seorang penghulu untuk segera memulai ijab kabul.
Di depan Rael dan Bella telah duduk pak penghulu bersama Ken. Sedangkan yang menjadi saksi adalah Rahman dan pak Sudirman selaku supir keluarga mereka.
"Baiklah agar tidak berlama-lama lagi, mari kita mulai Ijab Kabul nya sekarang." ujar si pak ustadz membuat Rael keringat dingin, pernikahan yang ia idamkan tidak seperti ini. Bahkan untuk menghafal ijab kabul saja ia hanya di beri waktu setengah jam, membuat Rael begitu frustasi.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Rael Genandra bin Haris Genandra dengan anak saya yang bernama Bella Wijaya dengan maskawinnya berupa uang sebanyak 2 juta 200 ribu rupiah, tunai.β ujar Ken dengan lantang membuat suasana semakin tegang saja. Bella yang mendengar suara ayahnya dengan lengkap menyebutnya sebagai anak, lansung menitikkan air mata dan menunduk.
__ADS_1
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Bella Wijaya binti Ken Wijaya dengan maskawinnya yang tersebut, tunai.β jawab Rael dalam satu nafas, membuat Bella semakin terbawa suasana. Bukan hanya Bella, Rael pun ikut menitikkan air mata karena kini status nya telah berganti menjadi seorang suami dan pernikahannya ini tanpa sosok seorang ibu di sampingnya.
"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu menatap saksi kiri dan kanan.
"Sah." ujar mereka dengan lantang.
Acara ijab kabul pun selesai, kini Bella dengan santun menyalami Rael setelah doa selesai.
"Apa setelah ini aku tinggal di rumah Rael Kek?" tanya Bella pada Arya.
"Oh tentu tidak sayang, mengingat Rael yang masih belum bekerja, kakek tidak bisa melepaskan mu hidup dengan nya begitu saja. itu berarti kalian harus tinggal di rumah Ken sementara waktu." hal itu membuat Bella berdecak sebal, tujuan nya untuk tidak serumah lagi dengan ibu dan anak itu akhirnya gagal total.
"Tetapi pak Arya, rumah kami juga bisa membuat Bella nyaman kok." ujar Haris dengan sopan.
"Tetapi aku tetap tinggal di rumah kan?" tanya Rael dengan polos dan mendapat jitakan di keningnya dari Haris.
"Kamu itu sekarang sudah jadi suami nya Bella, kalau Bella nggak bisa ke rumah kita. berarti kamu yang harus ke rumah dia! Suami istri itu harus selalu bersama!" sarkas Haris membuat Rael kesal.
'Sok-sokan nasehatin gue, anda aja nggak pernah selesai menjadi suami, bahkan kerja anda hanya berkerja dan mengurus wanita-wanita anda di luar sana!' kesal Rael dalam hatinya.
"Malam ini kita kembali pulang ke rumah masing-masing, besok Rael boleh datang dengan membawa semua barang-barang nya. Pak Sudirman akan menjemput Rael dari kediaman Genandra. Bella terlihat sudah lelah, sebaiknya kita pulang sekarang!" pinta Arya mendapati anggukan dari semua orang.
Pukul 12 malam akhirnya mereka sampai di kediaman Ken. Bella dengan kondisi yang masih belum stabil di bantu pak Sudirman dan Mbok Iyem ke kamar.
Sedangkan Biangka dan Adelia sangat menahan amarahnya sedari tadi. Saat mereka berdua memasuki kamar Adelia, Adelia pun melempar sembarangan barang-barang yang ada di atas meja rias.
__ADS_1
"Apa-apaan sih tua bangka itu! wanita yang sudah menikah seharusnya pergi dari rumahnya dan menetap di rumah suami!" ujar Adelia dengan kesal.
"Benar sekali, mami juga kesal dengan keputusan nya itu. Kita harus cari cara agar mereka keluar dari rumah ini!" sarkas Biangka tidak terima. Mereka tidak menyadari bahwa Ken telah mendengar dan menatap mereka sedari tadi dari pintu kamar Adelia.
"Kalian kenapa begitu sekali pada Bella?" tanya Ken tanpa sadar membuat Biangka dan Adelia kaget.
"Kamu yang kenapa mas, kenapa sekarang kamu jadi simpatik sama anak h*ram itu?" sarkas Biangka yang masih penuh amarah.
"Aku tidak simpatik, aku bahkan ingin ia keluar dari rumah ini. Tetapi takdir yang membuat nya tetap di sini!" ujar Ken dengan jujur. Bagaimana pun niatnya menikahkan Bella tadi adalah agar Bella tidak lagi serumah dengan Biangka yang licik. Ken takut Biangka akan membahayakan hidup anak satu-satunya itu.
"Aku melihat papi begitu menyayangi nya tadi, Bahkan papi menitikkan air mata saat menikahkan nya!" ucap Adelia dengan kesal.
"Hanya terbawa suasana saja Del. Sudahlah jangan membahasnya lagi, hari sudah malam. Tidak baik begitu terbawa emosi. Papi mau tidur duluan." pamit Ken yang takut jika Biangka dan Adelia curiga pada dirinya.
"Papi sangat mencurigakan mi." jelas Adelia pada Biangka.
"Iya, mami juga merasakan nya. bahkan akhir-akhir ini ia sering terlihat memperhatikan anak h*ram itu. Mami akan mencari cara agar Bella benar-benar pergi dari hidup kita!" ujar Biangka membenarkan ucapan Adelia.
"Tetapi caranya bagaimana mi?" tanya Adelia serius.
"Kamu tidak usah ikut campur, urusi saja tugasmu yang belum selesai. Cari dengan segera anak buah mu itu, jika Arya yang menemukan nya. Bisa-bisa kita yang di usir dari rumah ini!" sarkas Biangka memperingati Adelia. Adelia pun hanya menjawabnya dengan tatapan malas dan kesal.
"Baiklah mi, kalau begitu aku mau tidur duluan. Mami keluar deh sekarang dari kamar aku!" titahnya begitu tidak sopan. tetapi Biangka hanya bisa terbiasa dengan sikap anaknya, bagaimana pun ia lah yang mendidik Adelia sampai seperti itu. Biangka tanpa berkata-kata memutuskan keluar dari kamar Adelia.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1