MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
BATAL SARAPAN DI KAMAR


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Setelah memasak beberapa sarapan. Bella yang di bantu oleh Mbok Iyem langsung membawa makanan itu menuju ke kamar. Tetapi langkahnya terhenti saat sang kakek memasuki ruangan keluarga.


"Waah kakek ternyata datang." ujar Bella menyambut kedatangan Arya dengan senyum senang. Arya sedikit bingung saat mendapati cucunya tengah menenteng mapan yang berisi beberapa piring masakan.


"Kamu mau bawa itu semua kemana?" tanya Arya penasaran. Bella akhirnya tersadar dan seketika panik mencari alasan.


"Anu... itu... Aku..." ucap Bella terbata-bata. Membuat Arya semakin penasaran.


"Kamu apa Bel?" tanya Arya sekali lagi.


"Itu akan dibawa ke kamar kami kek. Kakek harus tau kalau selama tinggal di sini Bella tidak boleh makan di meja makan." bukan Bella yang menjawab tetapi Rael yang tengah melangkah menuruni tangga menuju ke arah mereka berdiri, dengan suaranya yang terdengar kesal.


"Apa? Siapa yang semena-mena begitu padamu Bel? Kenapa tidak pernah bilang ke kakek?" tanya Arya penuh kesal. Bella sudah menatap sinis Rael karena mengungkapkan hal tersebut dengan mudah tanpa mempertimbangkan akibatnya. Bella hanya takut Ken menjadi benci padanya karena telah mengadu pada sang kakek.


"Ini semua perintah bu Biangka yang sudah menerapkan aturan tersebut tuan. Kami selaku pelayan di rumah ini hanya ikut perintah saja." ujar Mbok Iyem yang akhirnya buka suara.


"Nggak apa-apa kok Kek, lagian Bella juga lebih nyaman makan di kamar. Rael juga bilang kalau itu membuat kami lebih romantis." ucap Bella dengan sedikit berbohong. Sedangkan Rael hanya tersenyum mendapati istrinya yang tengah berbohong.


'Sejak kapan gue bilang begitu? Ada-ada aja nih Bella cari alasan. Pasti kakek Arya nggak bakalan percaya.' gumam Rael dalam hatinya.

__ADS_1


"Kakek dari awal udah merasa ada yang tidak beres dengan keadaan kamu tinggal di rumah ini. Padahal kakek sudah mengancam mereka, tetap saja mereka menganggu kenyamanan kamu. Mulai sekarang kalian harus makan di meja makan. Kakek tidak mau lagi mendengar kalau kalian berdua makan di dalam kamar, meski Rael menganggap itu romantis tetap saja kakek kurang menyukainya. Apa ayahmu itu tau Bel?" tanya Arya kesal. Membuat Bella langsung menggeleng keras.


"Nggak kok Kek, Ayah nggak tau apa-apa kok soal ini." ujar Bella dengan tatapan serius meyakinkan Arya.


Tanpa mereka sadari Ken ternyata mendengar obrolan tersebut dari balik dinding pembatas ruang keluarga. Tadinya ia berniat untuk ke dapur mengambil air, tetapi saat Arya menghampiri Bella membuat geraknya yang duduk di atas kursi roda pun terhenti.


'Aku nggak nyangka Bella sebaik itu. Ia nggak mau membuat aku terlihat salah dimata Ayah. Ntah mengapa aku merasakan hadirnya Lesi yang dulu aku cintai. Seorang yang baik dan sangat berhati malaikat.' Gumam Ken dalam hatinya. Ia menyesal telah tidak percaya pada Lesi, ibunya Bella. Ken juga merutuki kebodohannya yang telah mengkhianati sucinya pernikahan bersama Lesi.


"Sudahlah Bel, kamu tidak perlu menutupinya lagi dari kakek. Tanpa keputusan ayahmu itu, tentu Biangka tidak akan bisa memerintah para pelayan. Mbok Iyem tolong kasih tau kepada semua pelayan di sini kalau mulai sekarang di rumah ini yang memerintah adalah Bella, tidak lagi Ken." pinta Arya yang langsung di angguki oleh Mbok Iyem.


"Baik tuan, bakalan langsung saya sampaikan." ujar Mbok Iyem. Ken yang tengah memperhatikan obrolan mereka tidak sengaja melihat Adelia dari jauh yang juga tengah menguping. Ken dapat melihat raut wajah marah dan kesal Adelia yang membuatnya kembali sadar bahwa anak itu bisa saja akan berbuat sesuatu pada Bella, mengingat bahwa sikapnya melebihi sikap jahat Biangka.


"Tidak bisa begitu Ayah. Aku masih menjadi kepala rumah tangga di sini oleh karena itu aku yang memerintah, aku pemilik kediaman ini. Walaupun bukan aku yang memerintah ada Adelia anakku yang akan memerintah, bukan gadis haram ini!" ucap Ken kejam mematahkan hati Bella meski semua ucapan itu tidak benar dari dalam hatinya. Ken mengarahkan kursi rodanya tepat di hadapan semua orang yang ada di sana. Adelia yang mendengar ucapan Ken ikut keluar dari persembunyiannya dengan tersenyum senang.


'Tidak sia-sia aku mengorbankan Mami. Ternyata sekarang aku akan menjadi Putri yang dapat memerintah di rumah ini. Papi Ken sungguh bodoh, karena lebih mempercayai ku dibandingkan anak kandungnya sendiri. Rasakan kamu Bella, emang enak tidak di anggap oleh Ayah sendiri.' gumam Adelia didalam hatinya. Sambil tersenyum lebar, Adelia melangkah dengan melenggak-lenggok ke arah semua orang.


"Kamu memiliki ini semua hasil dari uang Ayah Ken! Kamu tidak bisa membantah, sekarang Bella lah yang akan menjadi pemilik kediaman ini, bukan kamu!" sontak mendengar perdebatan ayah anak itu membuat Bella panik.


"Aduh Kakek sama Ayah, kalian nggak usah berdebat begitu! Kek, Bella nggak mau semua itu, biar Ayah saja yang memerintah di rumah ini. Karena ayah jugalah yang tertua dan lebih dewasa di rumah ini. Bella juga merasa tidak nyaman jika harus mengikuti kemauan kakek yang satu ini." ujar Bella membuat Arya hanya diam tanpa menjawab.


"Bagus kamu sadar diri Bel, lagian Papi nggak pernah menganggap kamu ada. Benarkan Pi?" ucap Adelia membuat semua orang emosi mendengarnya. Termasuk Ken, namun ia masih mencoba untuk berpura-pura agar Adelia tidak berbuat sesuatu pada Bella. Ken hanya mencoba untuk melindungi Bella.

__ADS_1


"Benar Del." jawab Ken berat. Sedangkan Beberapa orang di hadapannya menatap sangat jengah.


"Sudahlah aku tidak peduli ucapan mu itu! Karena kakek ada di sini sekarang, mari kita sarapan bersama. Untung saja aku memasak sarapan agak banyak sekarang. Yuk Mbok Iyem bantu Bella menata sarapan di meja makan!" ajak Bella pada Mbok Iyem dengan menatap Adelia tidak acuh.


"Ide yang bagus Bel, kakek juga lapar karena tidak sempat sarapan di rumah tadi. Sedari pagi kakek hanya mengurus laporan untuk memenjarakan Biangka di kantor polisi. Untung saja mereka mempermudahkannya karena sudah banyak bukti." sontak ucapan Arya membuat Adelia emosi. Bella dan Mbok Iyem pun melangkah ke ruang makan untuk menata sarapan di atas meja. Sedangkan Rael masih berdiri di sebelah Arya dengan diam.


"Apa? Jadi kakek yang memenjarakan Mami. Apa kakek tidak pikir kalau reputasi keluarga kita bisa hancur karena itu? Mami tidak salah apapun, mengapa melaporkannya. Papi lihatlah itu semua ulah kakek, tolong bantu keluarkan Mami dari penjara!" pinta Adelia dengan suara marah.


"Kamu tidak usah berpura-pura tidak tau. Karena akting mu yeng begitu bagus, apa perlu saya ungkap kebohongan terbesar kamu di hadapan orang-orang yang di rumah ini? Kamu tidak bisa menyembunyikan hal itu dari saya, karena saya sudah tau semua itu!", ancam Arya membuat Adelia ketar-ketir.


'Apa tua bangka ini tau kalau aku menyuruh orang untuk memperkosa Bella malam itu? Ah tapi tidak mungkin, jika itu benar pasti ia sudah melaporkan ku sekarang seperti yang ia perbuat pada Mami.' Gumam Adelia dalam hatinya penuh kekhawatiran.


"Maksud... kakek... apa?" tanyanya terbata-bata.


"Semuanya ayuk sarapan! Kami sudah siap menatanya di atas meja." teriak Bella dari arah ruangan makan. Membuat Arya mengalihkan pembicaraan karena merasa belum waktunya mengungkapkan kebenaran tentang kejahatan terbesar dari seorang Adelia.


"Ayuk semua makan ke ruangan makan. Mari Rael!" ajak Arya yang dahulu melangkah ke arah ruang makan. Meninggalkan beberapa orang yang ada di sana penuh rasa penasaran.


'Apa yang di ucapkan kakek Arya itu? Mengapa ia mengalihkan topik saat Adelia bertanya dengan terbata-bata? Hal ini membuat ku sangat penasaran.' gumam Rael dalam hatinya yang kemudian memutuskan untuk ikut melangkah ke arah ruang makan. Begitu pun dengan Ken dan Adelia, mereka tidak mungkin tidak ikut sarapan karena Arya adalah orang yang tidak bisa di bantah ajakannya. Mereka juga takut jika Arya akan membuat mereka di usir dari kediaman ini.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2