
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Sore itu Bella dan Rael mengunjungi restoran Genandra sesuai yang di ucapkan oleh Vino tadi pagi. Bella memakai dress biru selutut dengan rambut yang ia biarkan tergerai indah sedangkan Rael mengombinasikan kemeja senada dengan celana pendek yang mampu menambah ketampanannya. Mereka benar-benar terlihat seperti pasangan kekasih yang sangat serasi.
Ketika memasuki restoran, Bella celingukan mencari keberadaan gadis licik yang hampir saja menghancurkan rumah tangganya. Namun tidak ada satupun orang yang terlihat seperti gadis itu di beberapa meja yang ada di restoran Genandra.
"Selamat sore tuan dan nyonya. Apa gerangan kedatangan anda hari ini?" Tanya manager restoran Genandra pada Bella dan Rael.
"Kami akan menemui seseorang hari ini. Namanya Jesica, ini orangnya. Kamu tolong arahkan dia ke ruangan VIP. Saya dan istri saya akan menunggu di sana." Titah Rael memperlihatkan foto Jesica yang ada di handphone nya. Setelah itu ucapannya langsung diangguki mantap oleh sang manager.
"Baik tuan." Jawab manager dengan sedikit menunduk.
"Oh ya, tolong bawakan kami beberapa masakan terbaik. Jangan lupa juga eksrim kopi menu terbaru kita." Ucap Rael yang hendak melangkah.
"Baik tuan." Jawab manager itu kembali. Rael pun mengajak Bella ke salah suatu ruangan VIP milik restoran nya. Setelah duduk bersebelahan, Rael menggenggam tangan Bella lembut, membuat perhatian Bella dari ruangan itu teralihkan pada Rael.
"Kamu cantik sekali." Puji Rael yang langsung membuat Bella tersipu malu.
"Terimakasih Rael, kamu juga sangat tampan." Balas Bella yang juga memuji sang suami. Mereka pun mulai berbincang prihal apa yang akan mereka katakan pada Jesica. Sampai candaan pun menghiasi obrolan tersebut.
Selang beberapa menit seorang pelayan mengetuk pintu ruangan VIP tersebut. Membuat Rael dan Bella menghentikan obrolan mereka.
"Masuk." Titah Rael dengan datar. Pelayan itupun membuka pintu dengan hati-hati.
__ADS_1
"Tuan, nona Jesica nya sudah datang." Jelas pelayan itu membuat Bella langsung menarik nafas panjang dan berdoa agar semua ini lancar. Semoga saja ia tidak lagi tersulut emosi saat melihat gadis licik itu.
"Kalau begitu suruh dia langsung masuk!" Pinta Rael yang masih saja datar. Ia juga tidak melepaskan genggaman tangannya pada Bella. Pelayan itu mengangguk dan langsung meminta Jesica untuk memasuki ruangan itu.
Ketika Jesica telah masuk, ia menahan diri agar tidak cemburu saat melihat Rael menggenggam erat tangan Bella. Jesica berusaha tersenyum meski sangat berat baginya.
"Silahkan duduk!" Titah Rael dan membuat Jesica langsung duduk dihadapan mereka.
"Aku berniat untuk tidak cemburu saat datang ke sini. Ternyata sebelum aku duduk saja, kalian berdua sudah membuat ku cemburu." Ujarnya dengan tersenyum menatap Bella dan Rael.
"Kami sudah menikah." Ucap singkat Bella membuat Jesica tersenyum miring.
"Aku tau. Tetapi kamu dan Rael baru kenal beberapa bulan, kamu tidak akan bisa menyaingi ku. Apa kamu tau warna yang disukai Rael? Makanan yang disukai Rael? Dan hal lainnya yang disukai Rael?" Tanya Jesica dengan tersenyum devil menatap Bella. Bella yang ditanya pun tidak kunjung menjawab hal itu membuat Jesica merasa menang. "Semua itu sudah diluar kepala ku. Kamu tidak tau bukan? Itu berarti kamu bukan benar-benar istrinya, aku juga tau kalian menikah karena accident itu." Ujar Jesica menjadi-jadi.
"Yayaya... Aku tau hal itu, tetapi sekarang aku hanya ingin tau datu hal. Apa alasan mu selalu menolak ku bahkan sejak kita masih sekolah? Aku kurangnya dimana buat kamu?" Tanya Jesica yang menatap tajam Rael.
"Kamu tidak kekurangan apapun Jesica. Kamu gadis yang cantik dan pasti banyak lelaki lain yang menyukaimu. Kamu hanya perlu melupakan Rael, karena kami sudah menikah." Jelas Bella yang masih tenang meski tangannya sudah keringat dingin saat menahan emosi ketika mendengar kata demi kata yang dilontarkan oleh Jesica.
"Ah basi, kamu tidak merasakan apa yang aku rasakan. Makanya dengan mudah kamu berucap seperti itu. Kalau kamu memang sebaik itu mengapa tidak kamu serahkan saja Rael padaku? Lagian aku tau kalian juga tidak saling cinta." Balas Jesica kesal.
"Kamu sudah keterlaluan ya. Kalau tau begini aku tidak akan mau bertemu dengan mu. Kamu bilang pada Vino yang meminta maaf pada kami ternyata malah berdebat seperti ini. Asal kamu tau kalau bukan karena Bella kamu pasti sudah ku laporkan ke pihak berwajib kerja telah mengganggu privasi ku dengan merekam video itu." Sarkas Rael yang hendak berdiri tetapi langsung ditahan oleh Bella.
"Hahaha... Ya, aku datang untuk meminta maaf. Aku berucap seperti itu karena bisa saja Bella berubah pikiran dan mau menyerahkan kamu kepada ku. Kamu jangan lupa Rael, begitu banyak hati wanita yang telah kamu sakiti sedari dulu, termasuk aku. Tetapi aku sadar bahwa karma pasti ada, anakmu akan merasakan malu dan sakit yang sama." Ujar Jesica dengan tersenyum devil.
__ADS_1
"Apa seperti itu etika meminta maaf?" Tanya Bella yang sudah mulai kesal.
"Aku minta maaf karena sudah merekam video itu. Tetapi aku sama sekali tidak menyesal karena perbuatan ku itu sangat benar. Kamu lihat saja sendiri Bella, suatu hari nanti sifat asli suamimu ini akan keluar. Aku sudah sangat paham sifatnya itu. Kamu akan merasakan sakit hati yang bahkan lebih dariku." Ucap Jesica santai dan masih tersenyum devil. Mendengar ucapan Jesica seolah-olah itu adalah doa membuat Bella menahan dirinya agar tidak terbawa emosi. Karena bagaimanapun orang dihadapan nya ini tengah mengalami yang namanya cinta buta, ia pasti akan lebih terobsesi bila Bella membalasnya dengan marah.
"Kami memaafkan kamu Jesica. Tetapi aku ingin kamu tidak lagi datang menganggu kehidupan rumah tangga kami. Kamu cobalah untuk membuka hatimu untuk orang lain, jangan sampai aku begitu terbawa emosi dan akan membuat hidupmu sengsara." Pinta Bella dengan sedikit ancaman.
"Aduh aku takut." Ujar Jesica dengan mimik wajah dan suara yang ia buat-buat. "Hahaha... Jangan mengancam ku Bella. Kamu tau aku sangat nekat. Hanya saja kali ini aku tidak ingin berurusan dengan jeruji besi, kalau bukan karena itu sudah ku pastikan kau menangis disudut ruangan kali ini. Meratapi rumah tangga kalian yang sudah hancur! Tetapi saat ini aku akan menanti saat itu tiba tanpa harus mengotori tangan ku sendiri." Tambah Jesica yang telah berdiri dari duduknya.
"Kamu memang wanita jahat bukan hanya licik tetapi berhati kelam." Ujar Bella yang kesalnya susah terasa sampai ke ubun-ubun.
"Aku akan pergi. Terimakasih karena tidak melaporkan ku. Maaf telah merepotkan kalian. Kita saksikan saja drama ini bersama, kamu yang menang atau aku Bella!" Tunjuk Jesica pada Bella dengan sangat remeh. Ia pun melangkah keluar ruangan itu dengan senyum devil yang masih saja melekat di wajahnya.
"Ais... Gadis jahat itu!" Ujar Rael yang hampir saja akan mengejar Jesica dan meluapkan emosi nya. Tetapi Bella malah menahan Rael dengan mencoba untuk tetap tersenyum manis dan hangat.
"Sudahlah Rael, gadis seperti dia tidak akan pernah mengerti meski diajarkan dengan cara sekasar pun. Aku sudah paham setelah berbicara dengannya, aku paham mengapa kamu tidak menyukainya dan mengapa juga ia berani berbuat salah seperti itu. Terimakasih karena tidak tergoda sedikitpun padanya selama ini." Ujar Bella yang membalas genggaman erat Rael dan tersenyum manis. Rael pun mengelus lembut rambut Bella dan membalas senyum manis itu.
"Ini semua berkat kamu, kamu yang membuat aku bisa setia sama kamu." Balas Rael yang berusaha meredam amarahnya.
Selang beberapa menit akhirnya hidangan yang mereka minta datang. Para pelayan memasuki ruangan untuk mengantarkannya.
"Waah eskrim. Ini dapat meredamkan hangatnya amarah kita di ruangan ini." Ujar Bella yang langsung mendapatkan kekehan dari Rael.
"Ah kamu ada-ada saja Bel. Yuk kita makan." Ajak Rael. Sore itu mereka saling membantu meredakan amarah. Mencoba untuk saling tenang saat menghadapi masalah.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....