
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Gibran yang mendapati telpon Jingga mati, begitu sangat khawatir sampai ia memutuskan untuk datang ke camp. Tetapi saat lelaki itu hendak sampai di camp, Ia melihat Nara, Dito serta Vino memasuki mobil dengan terburu-buru dan tampang yang panik. Gibran sangat penasaran sampai ia memutuskan untuk membuntuti mereka dan mengurungkan niat menemui Jingga.
'Kemana mereka akan pergi? Gue belum pernah melihat vino panik seperti itu, apa terjadi sesuatu?' gumam Gibran dengan rasa penasaran yang besar.
Selang beberapa menit akhirnya Gibran membuntuti mereka sampai ke parkiran rumah sakit.
'Benar tebakan ku, pasti ada suatu hal yang terjadi. Tidak mungkin mereka datang ke rumah sakit dengan wajah khawatir dan panik seperti itu.' Gumam Gibran saat ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari mobil milik Vino itu.
Gibran turun dari mobil dan memutuskan untuk membuntuti mereka kembali. Jujur saja ia memiliki firasat yang tidak enak saat ini. Ia malah memikirkan kondisi Jingga saat ini, di tambah lagi handphone Jingga masih mati saat ia menghubungi.
Namun, karena terlalu banyak orang di IGD. Gibran sempat kehilangan jejak mereka sampai ia harus mencari sekeliling rumah sakit. Usahanya tidak sia-sia karena ia berhasil menemukan Nara, Vino serta Dito tetapi bukan hanya mereka bertiga, langkah Gibran menjadi perlahan saat melihat Bella dan Rael juga ada di sana. Gibran sempat mendengar sedikit obrolan Bella dan Nara yang terdengar serius.
"Memangnya Jingga ngapain? Kenapa harus di anggap hina dan ditatap jijik oleh orang-orang?" Tanya Gibran penasaran saat nama Jingga terdengar di telinganya. Sontak beberapa orang dihadapan nya langsung kaget dan melototi kehadiran Gibran. Tidak ada yang menjawab karena bingung harus menjawab apa.
'Gue harus jawab apa? Jingga pasti tidak ingin Gibran tau, Gue juga nggak mau Gibran terpukul karena hal ini.' gumam Rael dalam hatinya.
"Jawab woi! Jingga kenapa? Sekarang dia dimana?" Tanya Gibran yang sudah hampir kehabisan sabar. Tetapi semua tatapan bingung dan khawatir dari mereka semua teralihkan saat Yoga keluar dari kamar inap Jingga.
"Jingga masih belum sadar, Gue jadi sedih lihatnya!" Ujar Yoga tanpa melihat orang-orang yang ada dihadapannya karena ia tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk. Semua orang yang ada di sana sangat bingung harus berbuat apa saat Gibran dengan sangat jelas mendengar ucapan Yoga.
"Jingga tidak sadarkan diri? Kenapa kalian semua hanya diam? Apa dia ada di dalam?" Tanya Gibran kesal dan melangkah melewati Yoga.
__ADS_1
"Eh, tunggu dulu!" Serentak beberapa orang itu yang sudah tidak bisa menghentikan langkah Gibran. Mereka berdua langsung mengikuti Gibran yang masuk ke dalam ruang inap itu. Yoga yang melihat kehadiran Gibran langsung membulatkan matanya tidak percaya.
"Itu barusan Gibran, kekasihnya Jingga kan?" Tanya Yoga tanpa bersalah mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya dari Nara.
"Ini semua gara-gara Lo. Gibran jadi tau kalau Jingga ada di dalam!" Kesal Nara melangkah melewati Yoga.
"Ya mana Gue tau kalau dia ada di sana." Ujar Yoga masih tidak mau disalahkan meski ia tau perbuatanya salah.
"Makanya kalau bicara itu lihat situasi dulu!" Ujar Bella yang ikut mencubit kecil pinggang Yoga.
"Aduh sakit tau, kok jadi saya yang salah Mbak. Salahkan saja Gibran itu, ngapain dia tiba-tiba ke sini!" Ucap Yoga kesal dan ikut masuk ke ruangan.
Gibran sangat kaget saat mendapati kekasih hatinya terbaring lemah di atas bed rumah sakit itu. Dengan wajah sendu Gibran melangkah mendekati Jingga, tanpa sengaja ia melihat pergelangan tangan Jingga yang sudah berperban. Menutup mulutnya menahan rasa tidak percaya, Gibran menitikkan air mata. Ia mengelus wajah Jingga dengan lembut.
Namun seorang suster masuk ke ruangan itu dengan membawa peralatan medis. Ia sedikit kaget melihat begitu ramainya orang dalam satu ruangan ini. Meski ruangan ini VVIP tetap saja itu tidak baik untuk pasien.
"Tolong separuh dari tamu untuk keluar dari ruangan ini. Pasien akan merasa sesak dan itu tidak baik untuk bayinya. Saya akan menyuntikkan vitamin dulu untuk pasien, kalian bisa mundur sebentar." Ujar suster itu menghentikan aktivitas Gibran menangis di sebelah Jingga.
"Apa saya tidak salah dengar Sus? Pacar saya hamil?" Tanya Gibran memastikan. Semua orang yang ada di sana semakin panik saat sedikit demi sedikit kenyataan datang pada Gibran tanpa mereka niatkan.
"Iya Mas, Mbak ini tengah mengandung beberapa minggu." Ujar Suster itu sambil menyuntikkan vitamin pada tubuh Jingga yang masih belum sadarkan diri.
"Apa itu benar?" Tanya Gibran menatap orang-orang di sampingnya, meminta kebenaran. Mereka semua hanya bisa mengangguk dan menunduk, bingung harus menjawab apa.
__ADS_1
"Anda bohong suster, kalian semua bohong! Jingga sama sekali belum pernah saya sentuh, bagaimana dia bisa hamil? Anak siapa yang dikandungnya?" Sarkas Gibran tidak percaya akan kenyataan yang ada. Melihat kemarahan Gibran membuat Vino dan Rael langsung gerak cepat untuk menenangkannya.
"Lo yang sabar ya bro." Ujar Rael menyentuh pundak Gibran. Begitupun dengan Vino.
"Kalian berdua banjingan, tega kalian tidak memberitahu yang sebenarnya padaku!" Sarkas Gibran dengan suara semakin tinggi. Membuat Suster sangat panik. Takut jika ketenangan pasiennya terganggu.
"Tolong Anda keluar, pasien akan terganggu karena Anda!" Titah Suster itu dengan tatapan tajam.
"Saya tidak akan keluar sebelum semua kebenaran ini terungkap! Anak siapa yang dikandung Jingga, mengapa ia bisa mengkhianati ku seperti ini? Jawab Bella!" Sarkas Gibran sekali lagi yang mampu membuat Bella kaget karena Gibran menggenggam tangannya erat dan menatapnya tajam. Bella mengernyit, saat genggaman Gibran terasa sangat kasar. Tentu Rael tidak senang hati melihat istrinya merasa kesakitan ulah emosi Gibran yang berlebih, yang tidak bisa di tenangkan. Rael langsung menyeret paksa Gibran keluar ruangan itu bersama dengan Vino.
"Lepaskan Gue! Gue mau tau yang sebenarnya! Lepaskan!" Ucap Gibran yang masih tidak terima dibawa keluar. Rael dan Vino memutuskan untuk masih menyeretnya paksa menuju parkiran agar Gibran tidak menggangu ketenangan rumah sakit.
Di dalam ruang inap Jingga. Bella terduduk di sofa ruangan sambil merenung. Diikuti oleh Nara, Dito serta Yoga. Suster telah pergi setelah menyuntikkan vitamin dan mengecek kondisi Jingga.
"Ini yang saya takutkan bila Gibran tau ya sebenarnya." Ujar Bella tanpa menatap lawan bicaranya.
"Aku kaget banget lihat reaksi Gibran. Apa dia selalu seperti itu?" Tanya Nara penasaran.
"Sepertinya tidak, Gibran mungkin hanya syok dan sangat terbawa emosi. Apalagi kalian menutupi semua ini darinya." Ujar Dito yang akhirnya buka suara sedari tadi. Dito telah mengenal Gibran semenjak Gibran berteman dengan sepupunya yaitu Vino. Oleh karena itu sedikit banyaknya Dito tau soal Gibran.
"Terus kita sekarang harus gimana?" Tanya Yoga membuat mereka semua kembali berfikir keras.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1