MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
MASIH LABIL


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Vino menjalankan mobil memasuki area rumah sakit yang terlihat begitu elit. Dito dan Rael semakin kebingungan. Apalagi sepanjang perjalanan Vino tidak mau mengatakan yang sebenarnya kepada mereka berdua.


Beberapa pikiran dan prasangka buruk telah membanjiri pikiran Rael. Ia teringat akan Bella dan berharap hal yang disembunyikan oleh Vino ini bukanlah tentang Bella.


Jika itu benar, mungkin Rael akan semakin menyesali perbuatannya.


Setelah memarkirkan mobilnya di area parkiran. Vino dan kedua lelaki itu melangkah memasuki rumah sakit.


Vino mencoba untuk menelpon Riko kembali untuk bertanya di ruangan mana Bella tengah diobati. Akan tetapi ponsel Riko tampaknya mati karena panggilan Vino tidak tersambung sedikit pun.


"Lo nelpon siapa sih?" tanya Rael penasaran. Karena sudah beberapa kali Vino mengutak-atik layar ponsel nya, seperti melakukan panggilan dengan seseorang tapi tidak kunjung diangkat.


Tanpa menjawab, Vino terus melangkah ke arah resepsionis. Seperti anak ayam, kedua lelaki tampan itu mengekori Vino kemana saja. Walaupun sebenarnya mereka sudah jengah karena Vino sedari tadi tidak mau mengungkapkan yang sebenarnya tengah terjadi.


"Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya seorang resepsionis ketika mereka telah sampai dihadapan meja resepsionis.


"Tolong carikan kamar milik pasien bernama Bella Wijaya!" titah Vino yang langsung diangguki oleh oleh resepsionis itu.


"Tunggu sebentar ya tuan, say carikan dulu." ujarnya kemudian.


Vino berbalik badan dan mendapati tatapan tajam dari kedua lelaki itu. Rael sudah mengepalkan tangannya setelah mendengar perkataan Vino pada resepsionis itu.


"Lo bilang apa, ha? Coba ulangi lagi!" seru Rael yang sudah memegang kerah jaket Vino dengan tatapan tajam yang sangat kentara.


Dito ikut kesal dan geram ketika Vino menyembunyikan hal sebesar ini sedari tadi.


"Sebenarnya Bu Bella kecelakaan. Sorry bro, gue nggak ngasih tau kalian karena takut kalian kehilangan kesadaran setelah mendengar hal ini!" terang Vino yang bertambah panik ketika tatapan Rael seolah-olah akan membunuh dirinya.


"Ini rasakan yang namanya kehilangan akal!" marah Rael yang kemudian hendak melayangkan pukulan pada Vino.


Namun tangan Rael di tahan oleh seseorang dibelakang nya. Bukan Dito, bahkan lelaki itu ingin sekali membunuh Vino hidup-hidup saat ini juga.

__ADS_1


Rael melepaskan genggaman tangan nya di kera baju Vino dan beralih menatap orang yang lancang menahan diri nya.


"Lo nggak bisa main hakim kayak gini. Ini tempat umum, bisa panjang urusannya! Nggak semua harus diselesaikan dengan kekerasan Rael!" tegas Riko yang kemudian menghempaskan tangan Rael kasar.


Ia semakin paham mengapa Bella sampai kabur dari rumahnya. Ternyata benar, Rael masih begitu labil dan menyikapi masalah dengan kekerasan.


"Lo kenapa ada di sini? Lo ada hubungannya ya?" bukan Rael yang bertanya tetapi Dito.


Riko langsung mengangguk dan berjalan melalui mereka.


"Ayo, kalau mau melihat Bella gue anterin!" ujar Riko acuh dan melangkah tanpa melirik kebelakang.


Tentu ketiga anak manusia itu langsung melangkah mengekori Riko.


Sedangkan resepsionis yang syok melihat kejadian barusan memilih diam dan terpaku sampai ketiga lelaki itu hilang di hadapannya.


'Itu lelaki ganteng-ganteng kejam juga ya! Udah kayak mafia di buku-buku novel saja.' gumam resepsionis itu memandang ngeri kejadian yang barusan terjadi.


***


Rael terpaku melihat beberapa alat terpasang di tubuh Bella. Ia berdiri di depan pintu masuk, langkahnya tiba-tiba terhenti.


Ia tidak percaya prasangka buruknya tadi benar-benar menyangkut soal Bella. Rael tidak bisa berkata-kata ataupun berbuat apa. Ia diam dan membeku.


"Kok bisa sampai begini?" tanya Dito yang khawatir dan ikut panik.


Riko memilih duduk di sofa sebelah bad pasien Bella. Ia berekspresi datar melihat ketiga lelaki dihadapannya.


"Sebenarnya..." Riko menceritakan semuanya yang ia ketahui sampai ia bertemu dengan Bella di depan ruang UGD.


Rael masih setia berdiri setelah beberapa menit Riko bercerita. Tatapan nya masih terpaku pada Bella yang terbujur kaku di atas bad pasien.


Berbagai alat medis berhubungan dengan tubuh Bella, ada infus, selang penambah darah, dan lain sebagainya.

__ADS_1


"Siapa yang berani sekali menabrak mereka berdua?" tanya Rael yang akhirnya buka suara.


Ia berfikir untuk apa pengendara itu melajukan mobil dengan kecepatan tinggi padahal jelas sekali di taman tengah banyak orang. Apalagi di taman sudah pasti ada peraturan laju kecepatan kendaraan.


"Benar juga pertanyaan Lo Rael, pasti pengendara itu memiliki maksud lain. Tidak mungkin juga dia tidak melihat Bella yang hendak menyebrang. Lagian tidak mungkin juga Bella berjalan cepat dalam kondisi tengah hamil dan membawa 2 mangkuk bubur ditangan nya." sahut Dito membenarkan ucapan Rael.


Dalam keadaan berfikir keras, Rael melangkah ke arah Bella. Tidak kuasa air matanya mengalir di pipi.


"Dit, tolong cari keberadaan Jesica. Gue yakin dia dalang semua ini. Karena malam tadi dia nelpon gue dengan ancaman akan menyingkirkan Bella!" titah Rael yang teringat akan Jesica.


Riko yang berekspresi datar sebenarnya tengah khawatir dan panik. Saat ini Jingga tengah bersiap-siap untuk operasi. Wanita nya itu kehabisan darah banyak dan terpaksa harus melahirkan saat ini juga.


Dengan didampingi oleh Kartika, Jingga saat ini di periksa oleh beberapa dokter. Mereka mencoba untuk menahan bocornya darah kepala Jingga sebelum mereka memutuskan untuk operasi.


Bukannya tidak ingin mendampingi Jingga, hanya saja Riko juga tidak bisa membiarkan Bella sendiri. Lagian ia masih ada Kartika yang akan membantu untuk mengawasi Jingga.


Oleh karena itu sebagaimana wasiat Bella sebelum pingsan, Riko meminta Vino untuk datang bersama Rael. Ia memutuskan akan menemani Jingga setelah Rael datang dan ikut menjaga Bella.


"Jadi gadis itu masih nggak jerah ya?!" sahut Riko ketika tau kalau dalang dibalik semua ini ada hubungannya dengan Jesica. Si mantan kekasih yang tega mengkhianati nya.


Dito mengangguk mantap, pertanda bahwa ia akan menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Rael.


Riko melihat jam di tangan nya yang sudah hampir mendekati jam operasi Jingga. Dengan berdiri dari duduknya, Riko menghampiri Rael dan menepuk bahu Rael.


"Lo jaga mbak ya! Gue mau keluar dulu. Awas Lo nggak amanah. Gue bunuh Lo hidup-hidup!" tegas Riko dengan sedikit ancaman.


Rael menanggapi ucapan Riko dengan anggukan mantap.


"Tenang aja Riko, Bella aman kok sama gue! Makasih untuk semuanya." jawab Rael tersenyum tipis.


Riko langsung melangkah keluar tanpa menanggapi ucapan Rael. Yang dipikirkannya saat ini adalah bagaimana caranya untuk mengahadapi Jingga?


Ia benar-benar menjadi lelaki yang brengsek dimata wanita itu. Bahkan sebelum kejadian saja ia dan Jingga sempat berdebat soal bayi dikandungan Jingga.

__ADS_1


Sepanjang koridor rumah sakit, Riko teringat kisahnya bersama Jingga. Dari yang bahagia sampai sedih seperti saat ini.


BERSAMBUNG.....


__ADS_2