
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Bella terbangun ditengah malam karena begitu merasa sangat lapar. Ia meraba kasur sebelahnya dan tidak menemukan keberadaan Rael. Ternyata Rael benar-benar tidak pulang setelah kepergiannya sore tadi. Bella pun duduk dari tidurnya dan memutuskan untuk turun dari ranjang. Sebelum melangkah, Bella terlebih dahulu menghirup nafas beratnya. Mencoba untuk tidak memikirkan perubahan Rael setelah kejadian tadi pagi.
"Kamu tidak tidur?" Tanya Haris saat melihat Bella melangkah menuruni tangga.
"Eh Ayah. Ini udah kebiasaan Yah, kalau tengah malam selalu lapar. Kalau Ayah sendiri kok belum tidur?" Tanya Bella menghampiri Haris yang tengah melihat beberapa dokumen perusahaan ditangannya.
"Waduh Ayah hampir lupa kalau sekarang kamu tengah berbadan dua. Apa Rael masih belum tau? Kalau Ayah tidak tidur karena insomnia Ayah kumat, makanya ayah meluangkan waktu untuk memeriksa beberapa dokumen ini. Kok nggak dia aja yang ambilkan kamu makanan ke bawah? Kan bahaya kalau naik turun tangga begitu." Pertanyaan Haris seketika membuat Bella panik dan gugup. Tidak mungkin ia akan mengadu atas perbuatan Rael kepada Haris. Sama saja membuat hubungan ayah dan anak itu semakin menjadi keruh, Bella tentu tidak ingin berbuat seperti itu.
"Ah, ngga apa-apa kok Yah. Lagian Rael kayaknya kecapekan banget, biarin dia tidur dulu. Aku nggak mau ganggu." Ujar Bella sambil tersenyum kecut dan memilih ikut duduk di sebelah Haris.
"Tapi itu kan tanggung jawab dia Bel! Dulu saja ketika mama mertua mu hamil, Ayah selalu siap siaga. Bahkan ayah sampai ikut privat memasak demi memenuhi ngidamnya yang terbilang aneh, hampir setiap malam itu." Jelas Haris membuat Bella kembali tersenyum kecut. Ia juga berharap Rael seperti itu tetapi apa boleh buat kalau takdirnya malah seperti ini. Bella hanya menghirup nafas berat dan teringat akan sebuah makanan yang ingin ia cicipi malam ini.
"Sudahlah ayah, semoga saja Rael suatu saat nanti akan seperti itu juga. Sekarang ayah mau temani Bella buat makan kan?" Tanya Bella tampak antusias. Ia menutupi rasa kekecewaannya itu dengan senyum kecut yang ia tampilkan kepada Haris.
"Emangnya kamu mau makan apa Bel? Kalau yang asam-asam mah, Ayah angkat tangan. Ayah punya penyakit maag, nggak kuat makan begituan." Ungkap Haris membalas senyum Bella. Bella langsung mengeleng dan melangkah ke dapur tanpa menjawab dulu pertanyaan sang mertua.
Beberapa menit kemudian, Bella kembali menghampiri Haris dengan beberapa bahan makanan di tangannya.
"Aku mau bikin salad buah dan sayur. Jadi ayah nanti bisa cicipi, ini resep turun menurun dari keluarga Ibu." Ujar Bella yang telah duduk disebelah Haris kembali. Ia meletakkan beberapa bahan-bahan itu ke atas meja.
__ADS_1
"Waah kalau itu sih ayah mau. Kamu hati-hati motong buah dan sayuran nya ya. Atau nggak minta bantuan pelayan dulu bagaimana?" Tanya Haris yang terdengar sedikit posesif.
"Nggak usah khawatir Ayah, Bella udah biasa masak kok. Ibu udah ngajarin Bella untuk hidup mandiri sejak kecil. Minumnya ayah mau teh hangat nggak?" Tanya Bella di sela-sela ia tengah memotong beberapa buah dann sayur.
"Hmm... Boleh deh, kayaknya malam ini terasa begitu dingin. Kamu bikin susu hangat saja ya, itu kotak susunya ada di lemari kulkas." Jawab Haris sambil membenarkan jaket piyama yang tengah ia pakai.
"Terimakasih ya Ayah. Ayah sungguh sangat perhatian padaku. Tidak hanya sekarang bahkan sejak aku dari kecil." Ucap Bella sambil tersenyum manis. Ia bersyukur memiliki malaikat pelindung seperti Haris dari sejak kecil.
"Ayah yang seharusnya berterimakasih Bella. Berkat pernikahan kamu dan Rael. Rumah ini pasti tidak akan sepi lagi dan sebentar lagi juga tawa serta candaan dari cucu Ayah akan memenuhi rumah ini." Ujar Haris penuh harapan menatap sekeliling rumah dengan membayangkan kaki-kaki kecil menginjak lantai rumahnya.
"Kalau boleh tau, apa yang membuat Ayah begitu peduli dan sampai memperhatikan kami dari dulu?" Tanya Bella sambil kembali fokus pada salad yang tengah ia racik.
"Lalu kenapa Ayah tidak menjelaskan semua ini kepada almarhum Ibu mertua dan juga Rael?" Tanya Bella kemudian.
"Ayah pikir Ibu mertuamu tidak peduli akan kegiatan yang Ayah lakukan diluar rumah. Akan tetapi, ternyata ia diam-diam mencari tau. Menemukan bukti bahwa Ayah memberikan sedikit uang pada kalian, membuat dia salah paham. Belum sempat Ayah menjelaskan semua itu, ia telah pergi tanpa tau yang sebenarnya. Ayah sangat terpukul jika mengingatnya kembali, tanpa sadar kesalahan kecil Ayah itu sudah membunuh istri dan calon anak ayah yang berada didalam perutnya." Ungkap Haris panjang lebar dan terdengar sedikit sedih.
"Maafkan Bella ya Ayah, tidak seharusnya Bella bertanya soal ini." Ujar Bella menggenggam tangan Haris. Ia pun tersenyum hangat agar Haris tidak terlalu sedih.
"Tidak apa-apa sayang, lagian kan kamu juga harus tau tentang masalah ini. Mana nih salad nya? Ayah sudah ngiler karena menghirup aromanya saja." Ujar Haris mengalihkan topik pembicaraan.
"Ini Ayah, satu mangkok untuk Ayah dan satu mangkok lagi untuk aku. Ayah maunya yang sayur apa buah?" Tanya Bella memamerkan hasil salad yang ia racik sendiri.
__ADS_1
"Ayah yang sayur saja deh." Jawab Haris yang lansung menerima mangkok yang diberikan oleh Bella.
"Kalau begitu Bella buatin teh hangat buat ayah dulu ya, sekalian bikin susu hangat buat Bella." Ucap Bella yang telah berdiri dari duduknya.
"Kamu nggak capek setelah buat salad ini? Gimana kalau kita suruh pelayan saja?" Tanya Haris di sela-sela ia tengah menikmati salad buatan Bella.
"Nggak usah Ayah. Bella buatin dulu ya." Tolak Bella yang langsung melangkah ke arah dapur. Sedangkan Haris hanya tersenyum melihat kemandirian menantunya itu, sungguh tidak angkuhnya sedikitpun. Padahal dengan jelas ia adalah satu-satunya penerus keluarga Wijaya dan juga menantu dari keluarga Genandra.
Beberapa menit kemudian. Pintu rumah terbuka. Mengalihkan perhatian Haris dari salad sayur buatan menantunya itu.
"Kamu dari mana? Bukankah Bella bilang kamu tadi tidur di kamar?" Tanya Haris saat melihat kedatangan Rael yang masih menggunakan jaket Levis dan sepatu denim miliknya.
"Dia bohong, aku barusan dari camp." Jujur Rael membuat Haris berfikir bahwa Bella telah membohonginya. Rael terpaksa pulang ditengah malam karena merasa ada yang tidak beres pada Bella. Ntah mengapa perasaannya menjadi begitu tidak enak setelah meninggalkan Bella tadi sore.
Sebelum Haris kembali berucap, suara langkah Bella yang tengah membawa mapan, mengalihkan perhatian mereka. Bella melebarkan kelopak matanya saat melihat kehadiran Rael di hadapan mertuanya.
"Kamu kok..." Belum sempat Bella melanjutkan ucapannya. Rael sudah memotong ucapannya.
"Kenapa minum susu terus sih? Apa nggak ada yang lain? enek Gue lihatnya." Potong Rael melihat segelas susu putih di atas mapan yang Bella bawa. Seketika Haris kaget mendengar nada bicara Rael terhadap Bella. Biasanya Rael selalu berkata lembut kepada Bella dan bahkan terbilang bucin. Bella yang ditanya oleh Rael pun seketika panik dan gugup, ia tidak ingin memberitahu Rael soal kehamilannya saat ini. Mengingat bahwa Rael sangat membenci dirinya. Bella tidak ingin kebencian itu Rael lampiaskan kepada bayi yang bahkan masih diperutnya.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1