
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Riko sampai di depan ruangan operasi Jingga. Kartika sudah menangis sesenggukan dalam pelukan Indarko.
Baru saja Riko niat untuk bertanya soal kondisi Jingga pada Kartika dan Indarko, dokter dan suster yang telah berpakaian medis operasi tiba-tiba keluar dari ruangan operasi.
"Bagaimana kondisi menantu saya Dok?" tanya Indarko ketika dokter ada dihadapan mereka.
Riko yang hendak bertanya pun kembali mengulum niatnya.
"Pasien kehilangan banyak darah. Benturan di kepalanya tepat mengenai otak kecil. Hal tersebut membuat pasien tidak sadarkan diri dan kemungkinan kami susah untuk menyelamatkan nya." ungkap dokter itu dengan datar.
Riko terpaku begitu juga dengan Kartika yang semakin terisak.
"Tolong selamatkan mantu dan calon cucu saya Dok, berapa pun bakal saya bayar! Tolong lakukan yang terbaik!" pinta Indarko penuh harap.
Dokter mengeleng pelan.
"Ini bukan soal uang pak. Selain mukjizat tuhan, kemungkinan kami tidak bisa menyelamatkan mereka berdua, terpaksa harus ada yang selamat dan tidak selamat. Karena jika masih kami paksakan, itu akan mengancam nyawa mereka berdua." terang dokter tersebut sambil mengambil sebuah berkas dari tangan suster.
Riko masih diam. Mulutnya begitu kaku untuk bertanya, meski begitu banyak pertanyaan yang ingin ia lontarkan kepada dokter saat ini juga.
"Apa tidak bisa mencari jalan lain Dok? Hiks... Hiks..." tanya Kartika di sela-sela tangisnya.
"Saat ini kami tengah berusaha Bu, pendarahan nya begitu banyak dan sangat sulit untuk dihentikan. Untuk mewanti-wanti tindakan yang akan kami ambil, tolong suaminya memilih antara pasien atau anak dalam kandungan nya. Kami tidak bisa lagi mengambil waktu terlalu lama, itu akan mengancam nyawa keduanya." ujar Dokter tersebut sambil menyerahkan sebuah berkas pada Riko.
Lelaki itu menerimanya dengan tangan gemetar. Ia masih berekspresi datar.
"Untuk apa ini?" tanya nya kemudian.
"Tolong segera pilih mana yang akan kami selamatkan terlebih dahulu. Mereka berdua tidak punya banyak waktu." terang suster yang ada di sebelah Dokter.
Riko menerima pemberian pena yang di arahkan suster kepada nya. Dengan tangan gemetaran ia sempat melamun.
Siapa yang akan ia selamatkan terlebih dahulu?
__ADS_1
Jingga atau anak yang selama ini selalu ia sumpah kan untuk mati?
Mengingat perkataan nya dahulu membuat Riko merutuki dirinya sendiri. Ucapan jadi kenyataan. Baik Jingga ataupun calon anaknya pasti akan meninggalkan nya setelah ini.
"Kamu berfikir apa lagi?! Selamatkan Jingga!" teriak Kartika saat melihat anaknya masih terpaku menatap berkas ditangannya.
"Benar kata Mama mu Rayen, cepat tandatangani surat itu. Agar Jingga bisa selamat!" tambah Indarko yang ikut memerintah Riko.
Riko seketika mengeleng. Ia teringat akan ucapan Jingga sebelum tidak sadarkan diri. Ia menginginkan anaknya yang selamat. Walaupun dia kini sadarkan diri, pasti Jingga akan memilih anaknya dibandingkan dirinya sendiri.
"Tidak!! Aku akan menyelamatkan anak itu! Jingga yang menginginkan nya!" tukas Riko yang langsung memilih calon anaknya dan menandatangani berkas medis itu.
Kartika mengeleng-geleng keras begitu juga dengan Indarko.
Riko menyerahkan berkas itu kembali pada Suster dan Dokter. Mereka pun kembali memasuki ruangan operasi setelah mendapatkan persetujuan tindakan.
Plakkk... Bunyi tamparan keras tepat mengenai pipi Riko.
"Apa-apaan kamu ini?! Seharusnya kamu menyelamatkan Jingga! Bukan malah menyelamatkan calon anak kalian itu!" marah Kartika yang menatap Riko dengan tajam.
Indarko ikut marah dan membiarkan Kartika berbuat kasar pada Riko. Ia tidak menyangka anaknya ini mengambilkan keputusan tidak logis.
Tetapi Riko tidak berfikir sejernih pemikiran Indarko, ia hanya ingin berbuat sesuai yang di inginkan oleh Jingga.
Riko merasa selama ini ia tidak pernah menuruti perkataan Jingga. Oleh karena itu Riko menginginkan keputusan yang satu ini berdasarkan keinginan Jingga.
"Argghh... Aku melakukan ini semua juga atas keinginan Jingga!" seru Riko menyentuh pipinya yang terasa perih ulah tamparan keras dari Kartika.
"Kamu benar-benar buntu! Seharusnya kamu pilih Jingga! Bukankah selama ini kamu tidak menginginkan anak itu? LANTAS MENGAPA KAMU SEKARANG MALAH MENYELAMATKAN NYA?!" teriak Kartika penuh frustasi.
Bagaimana pun caranya kartika mengasari Riko, tidak akan mengubah tindakan dokter di dalam ruangan operasi.
Kartika luruh ke lantai, tubuhnya terasa lemas. Membayangkan sang menantu yang tengah tidak sadarkan diri di dalam ruangan operasi.
Penderita Jingga memang sangat bertubi-tubi selama hidupnya ini. Kehilangan kedua orang tua dan para kerabat di masa muda, di perkosa sampai hamil, memiliki suami yang dingin dan kini kecelakaan yang hendak merenggut nyawa nya.
__ADS_1
Indarko lansung merangkul istrinya agar berdiri dari lantai. Ia membantu Kartika berjalan melewati Riko.
"Kehilangan Jingga akan membuat kehidupan mu hancur!" tajam Indarko yang kemudian meninggalkan Riko sendiri di depan ruangan operasi.
'Salah ku dimana? Aku hanya ingin menebus kesalahanku selama ini kepada Jingga. Jika dia sendiri ingin anaknya hidup lalu aku bisa apa? Toh selama ini aku tidak pernah melakukan apa yang ia inginkan.' gumam Riko dalam hatinya. Ia juga luruh ke lantai dan memilih bersandar di dinding.
Tatapan nya kosong bahkan untuk menangis pun rasanya tidak bisa. Bahkan Riko bertanya-tanya dalam hatinya kenapa ia tidak meratapi apa yang tengah terjadi?
Padahal dalam dadanya begitu sesak saat ini. Riko seolah-olah dihukum oleh tuhan, ia merasa kan sakit tapi tidak tau cara untuk melupakannya.
Riko menyesali setiap perbuatan nya pada Jingga. Riko juga menyesali ucapan dan umpatan yang ia lontarkan pada Jingga serta anak yang ada didalam perut nya.
Bahkan selama menikah pun Riko benar-benar tidak bertanggung jawab kepada Jingga. Baik itu sebagai seorang suami maupun calon Ayah.
***
5 jam kemudian. Lampu operasi yang tadinya merah kini berganti hijau.
Riko terkesiap di saat bunyi pintu ruangan operasi di buka. Seorang suster menghampiri nya.
"Tuan, tolong ikut masuk ke dalam ruangan. Anak anda membutuhkan kehangatan pertamanya. Karena sang ibu masih belum sadarkan diri, lebih baik anda saja!" pinta suster itu yang menatap Riko terduduk di lantai.
Lelaki itu diam sejenak dan kemudian mengekori si suster yang sudah jalan duluan.
Saat memasuki ruangan itu, Riko dapat menghirup bau obat-obatan dan anyir darah yang sedikit menyengat.
Terlihat Jingga yang masih ditangani oleh dokter dan beberapa suster lainnya. Wanita itu tampak pucat dan itu membuat Riko sempat menghentikan langkahnya.
"Tuan, bisa anda membuka kemeja anda sebentar?" tanya suster tersebut membuat Riko mengalihkan perhatian nya dari Jingga.
Suster tersebut menggendong seorang anak yang tubuhnya masih polos dan sedikit bercak darah di tubuhnya.
Riko masih terpaku dan terdiam melihat suster menghampiri nya dengan bayi yang di gendongan.
"Tuan?" ujar suster itu sekali lagi. Riko langsung paham dan seketika membuka kancing kemejanya. Terlihat lah tubuh atletis disertai roti sobek milik Riko.
__ADS_1
Untung saja susternya profesional sehingga tidak tergiur melihat pemandangan indah dihadapan nya.
BERSAMBUNG.....