MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
BERSEMBUNYI


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Vino melebarkan kelopak matanya saat melihat orang yang berdiri di belakangnya. Matanya hampir saja melompat keluar saat disambut oleh tatapan tajam orang itu.


"Jadi benar kamu dalang dari semua ini!" Seru Vini menarik kuping Vino dengan keras. Ia sangat marah bercampur kesal.


"Udah dulu ya Dit, nanti Gue telepon lagi." Ujarnya pada Dito sambil mematikan sambungan telepon.


"Lo harus jelaskan semuanya pada Gue! Sekarang juga!" Sarkas Vini yang masih stay menarik telinga Vino. Lelaki tampan itu terus mengerang kesakitan karena telinganya terasa begitu panas. Bahkan sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Awww... Lepasin dulu tangan Lo itu. Telinga Gue sakit." Seru Vino mengerang kesakitan. Alhasil Vini pub mengalah setelah puas membuat Vino kesakitan. Ia melepaskan genggaman tangannya pada telinga Vino dan beralih duduk di kursi sebelah.


"Ya udah, sekarang cerita!" Titah nya kembali. Vino menghela nafas berat dan merutuki kembali kebodohannya yang tidak pandai menjaga rahasia.


"Tapi Lo harus jaga rahasia dengan baik ya. Gue nggak mau orang lain tau selain kita." Ujar Vino memperingati. Sebenarnya ia masih ragu untuk memberitahu Vini. Takut gadisnya itu berucap asal kepada Rael.


"Ya udah cepetan cerita! Banyak omelan banget!" Celetuk Vini yang mulai kesal.


"Sebenarnya memang Gue yang udah menghilangkan bukti jejak kepergian Bu Bella." Ungkap Vino dengan sedikit berbisik. Agar tidak ada orang yang mendengar obrolan mereka.


"Waah Lo ngadi-ngadi ya. Kenapa Lo lakuin itu? Gue harus kasih tau Rael segera agar dia bisa temukan Bella." Seru Vini membuat Vino langsung panik dan mengeleng-geleng.


"Tapi gue punya alasan untuk itu. Rael sudah menghancurkan kehidupan Bu Bella dengan berselingkuh dengan saudari tiri Bu Bella sendiri. Lo tau Adelia kan? Yang anak tiri Ayah nya Bu Bella." Jelas Vino yang membuat Vini kaget dan tidak percaya. Ia bahkan refleks menutup mulut nya dengan tangan.

__ADS_1


"Lo yakin Rael kayak gitu? Masa sih Rael yang sebucin itu sama Bella bisa berselingkuh?" Tanya Vini penasaran. Vino hanya mengedikan bahunya tidak tau.


"Gue juga nggak tau banget ceritanya dengan jelas. Yang penting Gue cuma lagi bantu Bu Bella agar dia bisa bahagia. Dan, Lo Gue harap bisa bekerja sama untuk menjaga rahasia ini. Gue bahkan melakukan apapun demi menolong Bu Bella, karena apa? Karena hidupnya hancur oleh sahabat baik Gue." Tegas Vino membuat Vini menatapnya intens.


"Jadi Lo mau ancam Gue? Serah Gue mau cerita atau nggak sama orang lain. Lagian gue nggak yakin kalau cerita Lo itu beneran nyata." Seru Vini membuat Vino geram. Ia panik dan takut jika rahasia yang ia jaga selama beberapa minggu ini akan sia-sia hanya karena Vini.


"Lo nggak lupa kan kalau rahasia Lo ada sama Gue? Lo mau gue sebarin ke semua orang, termasuk pada Dito." Ancam Vino membuat vini berdecak kesal. Ia tidak bisa berbuat apapun jika sudah diancam soal itu. Ia juga manusia biasa yang sadar bahwa harga dirinya lebih berharga dari pada mengatakan rahasia ini kepada Rael.


"Sekarang Lo bisa ngancam Gue. Tapi jika Lo macam-macam sama Bella, Gue habisin Lo! Gue benci sama Lo Vino. Sekarang Lo kirim nomor telepon baru Bella, gue mau bicara sama dia! Awas nggak Lo kirim!" Seru Vini yang kemudian melangkah pergi meninggalkan halaman camp.


Sebenarnya Vini datang ke camp untuk bertemu dengan Vino dan mengajaknya makan siang. Itu adalah sebagai bentuk terimakasih nya pada Vino setelah ia membelikannya sepatu di perayaan pesta pernikahan Bella.


Akan tetapi ia tidak menyangka akan menemukan kebenaran yang menjadi beban pikirannya selama ini. Semenjak tau bahwa Bella kabur, Vini begitu bertanya-tanya. Alasan dibalik sahabatnya itu lari di hari pesta pernikahannya sendiri.


***


Di lain sisi. Bella sangat menikmati hari pertamanya bekerja. Bahkan setiap pergerakannya tidak menimbulkan rasa letih sedikitpun.


Bella sangat bersyukur janin dalam perutnya tidak berulah akhir-akhir ini, meski nafsu makannya berkurang akan tetapi Bella masih bisa menghadapi masalah itu sendiri.


Ia bersenandung merapikan beberapa barang di swalayan itu. Bella tidak sendirian di swalayan itu, ada beberapa pelayan yang ikut bekerja di sana. Akan tetapi saat ia berniat mengambil stok barang di belakang meja kasir, langkanya terhenti saat melihat kehadiran Jingga dan Riko yang hendak memasuki syawalan.


"Astaga, kenapa ada Jingga dan Riko di sini? Apa mereka juga tinggal di kota ini?" Gumam Bella tanpa sadar. Bella menunduk dan bersembunyi diantara rak barang belanjaan.

__ADS_1


"Mbak, kenapa menunduk di sana?" Tanya salah satu pelayan yang melihat gelagat aneh Bella. Bella pun cepat berpura-pura dan mengubah ekspresi nya agar terlihat seperti orang sakit.


"Perut saya sakit Mbak, bisa bantu saya ke ruangan istirahat." Lirih Bella yang masih bisa di dengar oleh pelayan itu. Tentu pelayan itu langsung membantu Bella, memapahnya untuk sampai ke ruangan istirahat yang ternyata harus melewati Jingga dan Riko yang tengah memilih beberapa barang belanjaan.


Bella menundukkan wajahnya agar tidak bisa dilihat oleh mereka, untung saja Riko dan Jingga tidak curiga bahwa itu adalah Bella.


Meski tanpa Bella tau, Riko merasakan kehadiran Bella saat mereka baru saja masuk ke dalam swalayan. Karena bau parfum favorit Bella yang sangat ia hafal.


'Mungkin itu hanya halusinasi ku. Tidak mungkin Bella ada di sini. Apa aku begitu merindukan sosok nya? Sampai aku halu merasakan kehadiran nya di sini?' batin Riko bertanya-tanya.


"Aku mau eskrim boleh?" Tanya Jingga menyenggol bahu Riko, membuyarkan lamunannya seketika.


Sebenarnya kegiatan belanja bulanan kali ini bukanlah tugas Jingga ataupun Riko. Akan tetapi Kartika mendesak mereka agar lebih dekat, meski trauma Jingga baru sedikit berkurang, tetap saja ia tidak boleh berjarak dengan Riko, sang ayah dari anak yang ia kandung.


"Bukannya eskrim di rumah masih ada?" Tanya Riko datar. Jingga langsung mengerucut bibirnya.


"Tapi kan itu di rumah. Aku pengennya makan di sini." Sahut Jingga dengan menampilkan pupil eyesnya pada Riko.


Belakangan ini Riko sudah mulai mengalah pada Jingga. Semenjak ia merasakan kehadiran sang janin dalam perut Jingga, Riko mulai perhatian dan lembut. Bahkan ia tidak tanggung-tanggung, meletakkan selemari camilan untuk Jingga yang terbiasa bangun di malam hari karena lapar.


"Serah Lo aja deh, kalau mau beli satu kulkas juga boleh. Tapi awas aja habis ini Lo demam!" Ucap Riko membuat Jingga tersenyum ria. Ia langsung mengambil beberapa eksrim di dalam kulkas tanpa memperdulikan ancaman Riko.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2