
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Ketika tepat waktu makan siang, Bella memutuskan untuk menemui kakeknya di kantor. Ini adalah pertama kalinya ia mendatangi kantor keluarga Wijaya. Bella sangat kagum melihat kantor yang besar dan mewah ini. Dengan pakaian kasual nya dan rambut yang ia kuncir tinggi, Bella menerobos masuk ke dalam kantor. Seorang pria berjas menghentikan langkah Bella dengan menghadang jalannya, ia adalah salah satu staf di kantor tersebut yang bertugas menjaga keamanan di dalam kantor. Bella seketika mengerutkan dahinya bingung, apa yang tengah di perbuat oleh pria berjas hitam itu di hadapannya.
"Maaf dik, kamu mau kemana? Ini kantor bukan tempat bermain." ujar pria itu menatap tidak suka pada Bella. Tentu Bella langsung tidak terima di bilang anak kecil. Meski ia memiliki tubuh kecil dan pendek, bukan berarti umurnya juga masih seumuran anak sekolah.
"Dik? Maaf mas, saya sudah dewasa. Saya juga sudah punya suami. Mending Mas minggir deh!" tegas Bella mencoba untuk kembali melangkah. Namun sekali lagi langkahnya dihentikan oleh pria berjas hitam itu.
"Saya tidak peduli, kamu tidak bisa masuk karena ini adalah kantor!" tegasnya menarik Bella untuk mundur.
"Mas mau saya pecat? Saya adalah yang punya kantor ini!" sontak pria berjas hitam itu tertawa terbahak-bahak. Ia mengira Bella tengah berbohong dan mencoba untuk mengelabuinya.
"Hahaha... Kamu memang nya siapa? Anaknya pak Arya atau cucunya? Kamu jangan mimpi deh, masa iya gadis seperti kamu pemilik kantor ini!" ujar pria itu tidak terima. Sungguh ia sangat tidak percaya akan setiap ucapan Bella. Dengan tidak ramahnya ia menarik lengan Bella untuk keluar dari kantor. Amarah Bella kian melonjak saat pria itu tanpa izin menyentuh dirinya.
"Lepaskan saya! Sudah cukup ya ketidaksopanan kamu ini. Memangnya kenapa kalau saya yang punya kantor ini? Apa saya tidak pantas menjadi pemilik kantor ini?Saya adalah Bella Wijaya, cucu dari Arya Wijaya dan anak kandung dari Ken Wijaya! Apa hak kamu mengusir saya dari sini?" sarkas Bella menghempaskan tangan pria itu. Ia menatapnya dengan penuh emosi. Pria itu malah tidak takut, ia merasa Bella memiliki sedikit gangguan jiwa dan menganggap itu hanya sebuah lelucon. Pria itu semakin tertawa terbahak-bahak, bahkan orang-orang di sekitar mereka mulai memperhatikannya.
"Aduh dik, kamu itu bicara apa sih. Sana pulang, nanti orang tua mu panik mencari! Ini adalah kantor bukan tempat untuk bermain. Lagian saya punya banyak pekerjaan. Sana pergi!" usianya membuat Bella sangat kesal, tetapi ia ingat akan reputasi keluarga Wijaya. Bella tidak bisa melampiaskan kemarahannya di depan umum begini, mengingat beberapa orang di sekeliling mereka tengah memperhatikan.
__ADS_1
"Kalau Mas punya banyak pekerjaan, mengapa Mas malah ngurus saya? Mending Mas sana kerja, saya ada perlu ketemu kakek saya!" ujar Bella menahan emosinya dengan tersenyum paksa.
"Kamu masih berkhayal saja ya! Saya baik begini malah ngelunjak. Memang harus dikasari!" ucap Pria itu yang lansung menyeret paksa Bella keluar kantor tanpa menunggu jawaban dari Bella. Bella menahan sakit bahunya yang di cengkram keras oleh pria itu, ingin sekali ia membalasnya tetapi Bella terlalu mementingkan reputasi keluarga Wijaya.
Dari kejauhan Rahman melihat Bella di seret paksa keluar oleh salah satu staf kantor. Wajah nya seketika panik dan langsung berlari menghampiri mereka.
"Lepaskan dia!" sarkas Rahman dengan tegas. Membuat pria itu langsung melepaskan cengkraman tangan nya di bahu Bella. Ia takut, saat mengetahui bahwa Rahman melihatnya tengah kasar pada orang. Pria itu mencoba untuk mencari alasan.
"Maaf tuan, tetapi gadis ini memiliki gangguan jiwa. Ia memaksa untuk terus masuk ke kantor. Untung saja saya..." Belum selesai penjelasan dari Pria itu, Rahman sudah memotong ucapan nya.
"Mulai besok kamu tidak usah lagi masuk kerja! Kamu sudah berbuat kasar pada cucu tuan Arya. Pergi sana! Sebelum kesabaran saya habis dan kejadian ini akan saya bawa ke hukum." sarkas Rahman mendekati Bella dengan khawatir. Pria itu melotot tidak percaya bahkan orang-orang yang memperhatikan mereka pun ikut tercengang. Mereka semua tidak menyangka bahwa gadis itu adalah benar-benar cucu dari Arya.
"Sudahlah, jangan pernah menampakkan pucuk hidungmu lagi di kantor ini. Saya memaafkan mu, sehingga saya tidak akan melaporkan kejadian ini. Pergi sana!" usir Rahman membuat Pria itu langsung kocar-kacir pergi dari hadapan mereka. Orang-orang di sekitar Bella dan Rahman hanya bisa menonton kejadian tersebut, mereka tidak mau ikut campur dalam kejadian barusan.
"Makasih ya Om. Untung ada Om. Kalau nggak ada Om udah pasti aku di usir." ucap Bella sambil tersenyum. Ia sedikit meringis menahan sakit bahunya ulah cengkraman keras Pria itu.
"Sama-sama Bel. Kamu nggak apa-apa kan?" tanya Rahman membalas senyuman Bella.
__ADS_1
"Nggak apa-apa kok Om. Aku mau ketemu kakek Om, apa dia ada di dalam?" tanya Bella kemudian.
"Tuan Arya ada kok di dalam. Mari saya antarkan." ajak Rahman yang lansung di angguki oleh Bella. Tetapi saat memasuki kantor, Rahman melangkah menuju resepsionis.
"Tolong umumkan pada semua staf bahwa orang di sebelah saya adalah Nona Bella Wijaya, cucu dari tuan Arya." pinta Rahman yang lansung di lakukan oleh resepsionis itu. Dengan cepat ia mengumpulkan para staf di depan meja resepsionis, meski tidak semuanya tetapi Rahman merasa itu cukup karena yang ia inginkan adalah beberapa orang di kantor mengenal Bella untuk menghindari kejadian tadi terulang.
Bella dan Rahman hanya tersenyum saat resepsionis memperkenalkan mereka pada beberapa staf di hadapannya. Usai perkenalan, Bella langsung di ajak Rahman menuju ke ruang pribadi milik Arya.
Saat melangkah, Bella kembali teringat akan hubungan Jingga dan Gibran. Dengan ragu ia mencoba untuk mencari tau bagaimana tipe menantu yang diinginkan oleh Rahman.
"Om, boleh nggak Bella nanya?" ucap nya membuat Rahman mengerutkan dahinya penasaran.
"Tentu Bel, kamu mau tanya apa?" ujar Rahman dengan tersenyum hangat.
"Tipe menantu om itu kayak apa ya?" ntah mengapa Bella kini sangat berani untuk mempertanyakan hal itu.
"Jujur saja tipe menantu Om itu seperti kamu Bel. Orang yang sederhana dan tidak banyak menuntut. Meski nyebelin sedikit." ujar Rahman bergurau. Bella langsung malu di buatnya.
__ADS_1
"Aduh Om bisa aja, untuk nyebelin nya sedikit ya Om. Tetapi ngangenin nya banyak loh, hehehe..." tawa Bella pecah saat itu bergurau dengan Rahman.
BERSAMBUNG.....