MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
BERCERITA KEPADA NARA


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Jingga terbangun di pagi hari setelah mendengar suara langkah kaki seseorang memasuki kamarnya. Ia langsung duduk dan menutupi semua tubuhnya dengan selimut, ntah mengapa rasa takut yang coba ia tutupi selama beberapa minggu ini membuatnya semakin trauma. 


"Tenang saja, ini Gue." Ujar Nara dengan membawa nampan berisi sarapan untuk Jingga. Jingga yang melihat kehadiran Nara sedikit lega, ia langsung menurunkan sedikit selimut yang menutupi tubuhnya.


"Terima kasih ya Nara." Hanya itu yang bisa di ucapkan oleh Jingga. Ia tidak memiliki kata-kata apa lagi yang bisa mengungkapkan rasa kelegaannya. Kalau bukan karena adanya Nara semalam, mungkin Jingga masih akan histeris sampai sekarang.


"Sama-sama Jingga. Gue ngelakuin ini karena gue tau apa yang tengah Lo alami." Sontak ucapan Nara membuat Jingga langsung menatapnya serius.


"Emangnya apa yang Lo tau tentang Gue?" Tanya Jingga serius. Ia berfikir apakah begitu tampak jelas sekali dirinya mengekspresikan apa yang tengah ia alami.


Setelah meletakkan sarapan untuk Jingga di atas nakas, Nara pun duduk di ranjang yang berhadapan dengan Jingga. Nara menggenggam tangan Jingga sambil tersenyum hangat. Membuat Jingga yang penasaran malah kebingungan atas perlakuan si Nara.


"Gue juga pernah mengalami pemerkosaan Jingga. Karena itu aku gue tau kalau Lo pasti telah diperkosa. Siapa orangnya? Itupun kalau Gue boleh tau." Ujar Nara dengan perlahan. Ia mencoba untuk memberikan rasa percaya pada Jingga. Seperti yang dilakukan Bella beberapa tahun lalu padanya. Jingga yang mendengar itu sontak kaget dan tidak tau harus berucap apa.


"Tenang saja Jingga, Gue akan bantu Lo dalam masalah ini. Lo percaya sama Gue!" Pinta Nara kembali menyakinkan Jingga yang sudah menunduk dengan air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya. Dengan tubuh gemetar ia memutuskan untuk mempercayai Nara dan bercerita soal kejadian di malam itu. Jingga saat ini memang membutuhkan seorang untuk bercerita agar ia masih tetap waras.

__ADS_1


"Sebenarnya beberapa minggu yang lalu Gue bantu Mas Riko pulang dari club karena dia mabuk berat. Malam itu kalian semua tidak di camp karena ada tour bersama geng Swaq partner keluar kota. Gue nggak nyangka kalau ternyata Mas Riko yang terlalu mabuk itu mampu memperkosa gue dengan paksa dan sangat kasar. Yang lebih menyakiti Gue, Mas Riko mengira gue itu adalah Cindy, mantan pacarnya. Malam itu keperawanan Gue direnggut oleh Mas Riko tanpa ia sadar sampai sekarang." Jujur Jingga bercerita dengan perlahan. Sesak di dadanya membuat air mata Jingga sudah membanjiri pipinya.


Nara yang mendengar itu semua merasa kembali teringat akan kejadian yang ia alami, meski ia sudah tidak lagi trauma tetap saja luka yang telah tergores tidak bisa lupa begitu saja. Nara membawa Jingga kedalam pelukannya, mereka berdua sama-sama menangis untuk meluapkan perasaan yang menyesakkan dada mereka.


Selang beberapa menit, tangis mereka mulai reda karena sedikit lega usai bercerita. Nara melonggarkan pelukannya pada Jingga.


"Terima kasih ya Nara. Berkat Lo, Gue jadi sedikit lega." Ujar Jingga sedikit tersenyum.


"Sama-sama Jingga, berarti kejadian itu sudah terjadi 4 minggu yang lalu bukan? Apa setelah itu Lo sudah datang bulan?" Tanya Nara yang berfikir logis. Ia tau bahwa ketakutan terbesar korban pemerkosaan adalah kehamilan. Untung saja saat dirinya dulu diperkosa tidak membuahi anak, sehingga hal itu tidak membuat Nara bertambah beban lagi.


Namun pertanyaan Nara mampu membuat tubuh Jingga kembali gemetar. Ia langsung teringat kalau ia sudah telat selama 2 minggu dari tanggal biasa ia datang bulan. Tanpa pertanyaannya dijawab dengan perkataan, Nara langsung paham arti dari mimik wajah Jingga.


Meski ucapan Nara sangat memotivasi tetap saja Jingga tengah dilanda ketakutan saat ini. Beberapa pertanyaan dan pemikiran negatif terus tumbuh di otaknya.


***


Di depan pintu kamar Jingga yang sedikit terbuka, tanpa Jingga dan Nara ketahui. Ternyata Riko telah mendengar obrolan mereka berdua sedari tadi. Riko yang awalnya berniat untuk melihat kondisi Jingga malah ditampar oleh kenyataan. Riko bingung, Riko takut dan Riko sangat merasa bersalah atas perbuatannya pada Jingga. Ia bahkan tidak bisa lagi berfikir jernih dan melangkah cepat ke dalam kamarnya.

__ADS_1


'Kalau Jingga hamil gimana? Gue nggak bisa punya anak dengan cara seperti ini! Nanti Gue pasti di cap sebagai banjingan oleh semua orang , Gue nggak mau!' Pikiran pendek Riko menghantui ketakutan dan rasa bersalahnya. Ia tidak memikirkan perasaan Jingga dan malah egois akan dirinya sendiri. Riko langsung mengemasi barang-barangnya dan berniat pergi jauh dari kota ini. Bukannya tidak mau bertanggung jawab, ia merasa tidak siap saat menghadapi semua tatapan benci orang terhadapnya nanti. Riko terlalu takut.


Selang beberapa menit. Riko mengeluarkan beberapa tas dan koper miliknya dari kamar. Nara yang baru selesai membantu Jingga untuk sarapan sedikit mengerutkan dahinya saat melihat apa yang tengah dilakukan Riko.


"Lo mau kemana?" Tanya Nara dingin. Riko yang mendapati keberadaan Nara langsung salah tingkah dan tampak kepanikan diwajahnya.


"Gue mau pulang kampung." Ujar Riko yang sebenarnya berbohong. Ia hanya akan keluar kota, tempat yang jauh dari kota ini agar tidak bertemu lagi dengan Jingga. Riko sungguh takut bila nanti dimintai pertanggungjawaban. Jantungnya berdetak kencang dan pelipisnya sudah dibanjiri oleh keringat.


"Kok mendadak gitu? Lo bohong ya?" Selidik Nara mendekat pada Riko. Ia sangat tau sekali bahwa Riko tampak tidak nyaman dan panik saat ia tanyai.


"Apaan sih Lo. Sana minggir! Gue mau  jalan dan bawa barang-barang ini. Grab gue udah nunggu di bawa. Lagian Gue udah lama nggak pulang kampung. Gue rindu keluarga Gue, emangnya nggak boleh?" Ujar Riko ketus mencoba untuk menetralkan rasa salah tingkahnya. Nara langsung minggir di tepian dinding saat Riko telah berjalan dengan membawa beberapa barang-barangnya itu.


"Lelaki yang tidak sopan." Gumam Nara yang terdengar jelas oleh Jingga yang ternyata telah berdiri di belakang pintu kamar sedari tadi. Jingga melihat dan mendengar obrolan Nara dengan Riko. Jingga tidak percaya bahwa lelaki itu kini akan pergi tanpa rasa bersalah, tanpa tau yang sebenarnya.


'Apa aku harus memberitahu hal yang sebenarnya pada Mas Riko?Ah, aku tidak akan melakukan itu. Tetapi kalau aku hamil bagaimana? Ah,aku tidak mungkin hamil, lagian kami hanya melakukannya sekali.' gumam Jingga dengan pemikiran yang terus berdebat.


Selang beberapa menit akhirnya Jingga memutuskan untuk memberitahu Riko, ia tidak ingin lelaki itu pergi tanpa tau yang sebenarnya. Jingga keluar dari kamar dengan piyama yang masih bertengger di tubuhnya, rambut acak-acakan yang sangat mengekpresikan kesedihannya. Beberapa anggota yang ada di camp malah kaget melihat Jingga berlari ke arah luar camp seperti itu.

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2