MENIKAHI DOSEN CANTIK

MENIKAHI DOSEN CANTIK
KAGET


__ADS_3

...🌺🌺🌺🌺🌺...


Sebagaimana ucapan Bella tadi, ia akhirnya bertemu dengan Vini di cafe latera . Sedari duduk, Bella tidak hentinya menceritakan semua hal yang terjadi pada nya. Vini merasa bersalah karena sudah salah paham pada Bella, ia mengira Bella akan menutupi semua itu darinya.


"Maafin gue ya Bel, gue udah salah paham sama lo kemarin." ujar Vini dengan tulus. Bella pun tersenyum manis.


"Nggak apa-apa Vin, lagian gue juga salah udah telat cerita sama lo." jawab Bella kemudian. Mereka pun menikmati beberapa hidangan di hadapan mereka. Saat pintu cafe terbuka, pandangan Bella lansung teralihkan. Ia melihat Gibran yang melangkah ke arah Jingga dan langsung memeluk nya erat.


Tentu Bella begitu syok melihat pemandangan itu, ia tidak pernah mendengar bahwa Jingga dan Gibran menjalin hubungan. Bella langsung berdiri dari kursinya dan melangkah ke arah mereka.


"Mau kemana?" tanya Vini bingung.


"Mau ke kasir dulu, soalnya ada perlu. Lo makan aja ya, gue bentar kok!" titah Bella yang di angguki oleh Vini, ia hanya sibuk dengan hidangan nikmat yang ada di hadapannya kini.


***


"Hmmm..." deheman Bella membuat dua sejoli yang tengah berpelukan mesra itu langsung kaget dan salah tingkah.


"Eh mbak Bel." kikuk Jingga yang baru ingat bahwa Bella tengah ada di cafe. 'Mampus aku, bisa-bisa Mbak Bella pasti marah besar.' gumamnya dalam hati.


"Kok Miss Bella ada di sini?" tanya Gibran yang berusaha menahan rasa salah tingkahnya.


"Justru saya yang tanya ke kamu Gibran. Kamu ngapain peluk Jingga seperti itu, kalian ada hubungan?" interogasi Bella yang penuh rasa penasaran.


"Sebenarnya kami itu..." ucapan Gibran menggantung. Bella pun di buat kesal olehnya.


"Kami apa sih? Jingga jawab! Atau aku suruh Riko saja yang tanya ke kalian?" Bella sangat tau bahwa Jingga begitu segan pada Riko. Oleh karena itu ia berhasil menyudutkan Jingga.


"Kami pacaran Mbak. Jangan bilang ke yang lain dulu mbak, aku belum siap mereka tau." sebenarnya Bella sudah tau dengan jawaban yang akan ia dapatkan ini, hanya saja Bella ingin mendengar langsung dari mulut Jingga.

__ADS_1


"Bagus kamu jujur, tetapi tenang saja aku nggak bakal bilang. Itu privasi mu. Tetapi masalahnya Gibran ini ketua dari geng motor swaq partner, musuh kita! Gimana dong?" jelas Bella kemudian. Ia hanya menggoda dua sejoli di hadapan nya ini, sebenarnya Bella tidak pernah mempermasalahkan itu. Menurutnya privasi para anggota tidak ada hubungannya dengan geng motor.


"Aku nggak ketuanya, tetapi suami Miss Bella yang ketua dari swaq partner. Aku cuma wakilnya saja." tolak Gibran. Bagaimana pun bagi Jingga, Bella adalah keluarganya. Tentu saja Gibran sangat takut bila tidak di restui. Pernyataan Gibran justru membuat Bella kaget bukan kepalang.


"Maksud kamu Rael?" Tanya Bella memastikan. Gibran pun langsung mengangguk mantap. Bella sungguh tidak percaya, ia telah menikah dengan ketua dari geng motor, musuhnya sendiri.


"Sulit untuk di percaya. Tetapi mengapa kamu tidak kaget saat Gibran menyebutkan suamiku di hadapan mu Jingga?" selidik Bella yang melihat wajah ekspresi Jingga biasa-biasa saja.


"Gibran sudah cerita semuanya sama saya Mbak, saya minta maaf." jawab Jingga dengan takut.


"Ah sudahlah, yang penting jangan sampai anggota lainnya tau tentang pernikahan ku dengan ketua swaq partner. Sungguh ini menyebalkan." umpat Bella mewanti-wanti dua sejoli di hadapan nya. Mereka berdua hanya lansung mengangguk, mengiyakan perintah Bella.


"Ini lagi ngapain sih? Kok Gibran ada di sini?" tanya Vini yang tiba-tiba muncul.


"Ini si Gibran lagi mau pesan makanan. Kebetulan aja ketemu. Oh ya Vin, kita pulang sekarang yuk. Gue udah bayar nih, kita tinggal pergi aja. Makanan lo udah habis?" ujar Bella berbohong.


"Biar Gibran aja yang ngabisin, kamu mau kan Gibran?" tanya Bella menatap Gibran dengan sinis.


"Iya Miss, saya mau. Masa makanan gratis di tolak." jawabannya kikuk.


"Okey, kalau gitu kita berangkat sekarang ya Vin. Gue mau cepat-cepat pulang." ajak Bella yang kemudian di angguki oleh Vini.


Vini menjalankan mobil dengan kecepatan sedang. Sepanjang jalan mereka hanya sibuk bernyanyi, mengikuti irama lagu dari audio mobil. Tidak beberapa lama akhirnya Bella sampai di kediaman Ken Wijaya. Vini pun segera pamit usai Bella turun, ia tidak berminat untuk memasuki rumah baru Bella itu.


***


Bella memasuki rumah dengan wajah yang sangat terlihat lelah. Mbok Iyem mendatangi Bella untuk menawarkan berbagai makanan tetapi Bella menolak karena nafsu makan Bella saat ini tengah tidak baik. Ia hanya ingin beristirahat setelah mendapatkan kenyataan bahwa suaminya adalah sang musuh yang selama ini ingin ia hancurkan. Memasuki kamar, Bella langsung disambut oleh Rael dengan tersenyum hangat.


"Kamu pulang nya hampir larut, ini sudah jam 9 malam. Aku sungguh khawatir, tambah lagi kamu tidak mengangkat telpon ku." ujar Rael dengan tulus.

__ADS_1


"Nggak usah perhatian gitu, kita jadi sendiri saja. Kamu tetaplah jadi Rael yang aku kenal sebelum kita menikah. Rael yang egois, emosional dan kekanak-kanakan. Itu akan lebih baik. Tidak usah berusaha untuk pernikahan ini, bahkan di awal pun sudah kacau." ujar Bella ketus membuat Rael langsung mengerutkan dahinya.


"Kamu bicara apa sih Bel? Pasti kamu capek deh, mending kamu istirahat dulu." jawab Rael mencoba untuk bersabar.


"Iya aku capek, aku nggak nyangka ternyata kamu musuh aku selama ini!" ujar Bella duduk di tepian ranjang meratapi nasibnya. Rael yang semakin tidak mengerti ucapan Bella juga ikut duduk di sebelahnya.


"Musuh? Maksud kamu gimana?" tanya Rael kembali.


"Aku kayak kemakan buah simalakama. Kamu itu suamiku, ternyata juga musuhku. Kamu ketua swaq partner yang jelas-jelas musuh dari geng motor milikku, Violet Latera. Nasibku begini sekali, ingin mengakhiri nya tetapi aku takut dosa. Kalau anggota ku tau, bisa-bisa taru dimana mukaku ini." jelas Bella membuat Rael kaget. Sama halnya dengan Bella tadi, ia tidak menyangka bahwa Bella adalah ketua dari Violet Latera.


"Kamu ketua nya? Kenapa aku baru tau?" tanya Rael penasaran.


"Baru tau? Bukannya waktu itu kamu sudah tau dari Gibran." bingung Bella. Ia teringat kejadian di cafe beberapa minggu lalu. Di sana ia merasa bahwa Rael sudah tau identitasnya.


"Nggak tuh, aku saja baru tau hari ini." jawab Rael jujur.


"Ah, terus sekarang kita harus gimana? Aku nggak mau cerai cuma gara-gara ini, takut dosa juga." tanya Bella serius.


"Cieee... Udah nggak mau pisah sama aku ya? Ada yang udah terlanjur nyaman nih." goda Rael mendapatkan cubitan kecil di pinggangnya.


"Nggak usah becanda deh, ini lagi serius." ujar Bella ketus. Sebenarnya ia hanya menyembunyikan rasa salah tingkahnya ulah godaan Rael.


"Aduh sakit, iya ini serius. Satu-satunya cara ya kita harus satukan kedua geng motor kita. Lagian mereka pasti mengerti kok kalau kita bercerita tentang pernikahan ini. Kamu tenang saja, sana mandi dulu. Udah aku siapin air hangat di bathtub!" ujar Rael mendorong Bella masuk ke dalam kamar mandi.


"Tapi kan..." ucapan Bella langsung di potong Rael.


"Mau aku mandikan?" Bella langsung merinding dibuatnya. Ia menutup rapat pintu kamar mandi dengan tergesa-gesa tanpa menjawab pertanyaan Rael. Rael pun hanya bisa tersenyum melihat ekspresi panik Bella, Ia benar-benar sudah tergila-gila padanya.


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2