
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Malam telah larut dan pesta pun selesai. Beberapa dari anggota Swaq partner dan Violet Latera telah pulang ke rumahnya masing-masing. Ada juga beberapa anggota yang memilih untuk tidur di camp. Rumah ini begitu besar untuk di tempati banyak orang, Bella memang membeli rumah ini agar anggota Violet Latera bisa berkumpul dengan nyaman. Ada beberapa kamar di lantai bawah dan 3 kamar utama di kamar atas. Kamar itu adalah milik Bella, Riko dan Jingga. Bella mengaturnya seperti itu, ada aturan yang tidak memperbolehkan semua anggota untuk ke lantai atas karena itu adalah area pribadi.
Di rumah ini juga ada aturan kebersihan, siapa pun yang makan ialah yang harus membersihkan sisa makanan ataupun peralatan makan yang kotor. Jadi semenjak adanya rumah ini Bella tidak pernah memerlukan asisten rumah tangga untuk membantu mereka, para anggota yang menginap pun sangat taat peraturan itu. Setiap bulan Bella meminta Jingga untuk membeli keperluan camp, baik itu makanan, snack dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Sehingga semua anggota Violet Latera sangat nyaman menginap di camp.
"Aduh capek banget. Rael gue pulang dulu ya bareng Gibran." pamit Vino menarik Gibran untuk berdiri dari duduknya.
"Eh bentar Vin, gue masih mau di sini." tolak Gibran membuat Vino kesal.
"Ini udah jam 2 Gib, lo emang nya mau nginep di sini? Kasihan Jingga, dia juga butuh istirahat." ujar Rael dengan tatapan serius.
"Ya sudah aku nginap sini aja, lagian besok cuma ada kelas sore. Boleh ya bu Bel?" tanya Gibran penuh harap.
"Boleh kok, Kamu tidur sama Riko saja ya. Soalnya kamar yang lain udah penuh." jawab Bella ngasal. Ia hanya menakuti Gibran, agar Gibran mau pulang dengan Vino yang sudah menunggu nya sedari tadi.
"Nggak boleh sama Jingga aja ya bu? Soalnya masih kangen." ujar Gibran memeluk Jingga tanpa malu di hadapan semua orang.
"Aduh Gib, lepasin dong. Aku malu nih dilihat banyak orang." bisik Jingga pada Gibran. Gibran yang mendengar bisikan Jingga langsung melepas pelukannya.
"Jangan ngadi-ngadi deh Gib. Lo mau gue adukan ke bokap lo ha? Lo pikir seenaknya tidur bareng anak gadis orang. Halalkan dulu bro!" Sarkas Vino kehabisan sabar. Membuat Gibran mengalah setelah melihat tatapan marah dan nada bicara kesal Vino.
__ADS_1
"Hehehe... Iya nih gue pulang. Aku pulang dulu ya Sayang. Kamu baik-baik di sini, ntar kita sleep call deh." pamit Gibran dengan begitu tidak tahu malu. Jingga hanya menundukkan kepalanya menahan rona merah di pipinya, kekasih nya ini sungguh sangat di budakkan oleh cinta.
"Udah-udah sana lo pulang! Gue geprek juga lo habis ini!" usir Rael yang geli mendengar ucapan Gibran. Akhirnya Gibran pun pulang dengan wajah yang ia buat-buat sedih. Bella hanya tersenyum melihat tingkah kebucinan Gibran.
***
Kepergian Gibran dan Vino. Jingga pun pamit untuk ke kamarnya karena sudah sangat mengantuk. Tinggallah sekarang Bella dan Rael di ruang tamu.
"Alhamdulillah ya, pesta yang kita buat berjalan lancar." ujar Bella duduk di sofa.
"Iya Bel, Alhamdulillah. Sekarang kita pulang atau gimana?" tanya Rael yang ikut duduk di tepian sofa.
"Pulang nya besok aja ya. soalnya aku dan kamu kan ke kampusnya juga sore. Aku malas kembali ke rumah malam-malam begini." jelas Bella menatap Rael.
"Itu cuma akal-akalan aku biar Gibran mau pulang. Kalau soal tidur dimana, yuk ikut aku!" ajak Bella menarik tangan Rael menuju lantai atas.
"Waah aku baru ngeh kalau rumah ini sangat besar. Bahkan ada 3 kamar lagi di atas. Kamu mendapatkan rumah ini dari mana Bel?" tanya Rael menaiki tangga.
"Aku beli dari hasil usaha online yang aku geluti beberapa tahun lalu. Tetapi sangat di sayangkan, usai ku pakai semua uang tabunganku untuk membeli rumah dan cafe latera. Ibuku jatuh sakit, meski kami sudah berusaha mencari pinjaman uang, tetap saja ibu tidak bisa diselamatkan. Penyakit kanker darah nya sudah stadium akhir. Jika waktu itu aku bertemu kakek sebelumnya, pasti kini ibu masih hadir di antara kita. Aku sangat menyesal." tutur Bella yang lansung menitikkan air matanya. Mereka masih melangkah ke arah kamar Bella.
"Aduh maaf Bel, pertanyaan aku bikin kamu menangis. Aku turut berdukacita untuk ibumu Bel. Jangan menyesal Bel, sekarang yang terpenting kamu selalu sempatkan doa untuk ibu. Lain kali kita ke kuburan ibu ya. Kan dia belum pernah ketemu sama menantunya yang sangat ganteng paripurna ini." ujar Rael mencoba menghibur Bella. Seketika ucapan Rael mampu membuat Bella tertawa.
__ADS_1
"Ih apaan sih percaya diri banget kamu! Ganteng paripurna segala." ujar Bella membuka pintu dengan kunci.
"Tapi betulkan Bel, suamimu ini ganteng paripurna?" tanya Rael tersenyum manis.
"Ihh nggak, nggak ganteng!" tegas Bella menyeka air matanya. Pintu pun terbuka, menampakkan kamar yang sudah lama tidak Bella tempati.
"Diluar sana cewek-cewek bilang aku ganteng loh Bel. Kok kamu nggak sih?" tanya Rael dengan nada sedih.
"Nggak ganteng pokoknya! Yuk masuk." ajak Bella menggenggam tangan Rael memasuki kamar miliknya. Baru saja melangkah ke dalam kamar, Rael sudah dibuat kagum dengan kemewahan kamar Bella. Kamar yang begitu besar dan bersih ini memiliki balkon yang langsung mengarah ke gunung yang tidak jauh dari camp. Bella membuka pintu ke arah balkon, ia mengajak Rael untuk menikmati suasana malam di atas balkon.
"Waah, aku sangat suka dengan kamar ini. Kita bisa melihat kelap-kelip lampu dari gunung. Sungguh, kamarmu sangat mewah Bel. Aku yakin tidak akan pernah bosan bila berlama-lama di kamar ini. Bahkan seharian pun aku sanggup." ujar Rael kagum. Ia tidak henti menatap sekeliling dengan tatapan penuh gembira. Senyum di bibirnya membuat Bella terpikirkan sesuatu.
'Apakah malam ini aku sudah siap? Apakah benar Rael yang tepat untuk hidupku? Apa aku benar sudah yakin?' Bella bertanya-tanya dalam hatinya. Saat Rael menatap kagum area di luar balkon, Bella pun memeluknya dari belakang. Sontak Rael kaget mendapati perlakuan Bella yang untuk pertama kali nya ini.
"Bel." ucap Rael mencoba untuk berbalik, tetapi Bella enggan untuk melepaskan pelukan nya.
"Sebentar saja, aku ingin seperti ini." tutur nya lembut.
"Baiklah Bel, peluk lah aku senyaman mu." ujar Rael mengelus hangat tangan Bella yang memeluknya.
"Rael, aku siap memiliki anak." ungkap Bella tulus dan yakin. Meski dalam hatinya masih sedikit ragu. Rael pun dibuat kaget, tidak menyangka Bella akan berucap seperti itu. Ia merasa mendapat kejutan saat ini.
__ADS_1
BERSAMBUNG.....