
...🌺🌺🌺🌺🌺...
Satu minggu berlalu usai dinner yang Bella dan Rael lakukan. Semenjak itu hubungan mereka kembali baik karena Rael tidak lagi mau membahas permintaannya itu. Sekarang ia hanya ingin menunggu seperti janji Bella malam itu. Menanti sampai Bella hamil, ia tidak mau lagi mendesak sang istri untuk berhenti bekerja dan mengelola restoran Genandra.
Setelah penjelasan Bella yang tidak mau berhenti bekerja di malam itu membuat Rael mengerti bahwa Bella bekerja selama ini hanya demi membanggakan almarhumah ibunya. Rael juga sangat mengerti apa yang Bella rasakan, karena mereka sama-sama sudah ditinggalkan sang ibu.
"Pagi sayang." Ujar Rael saat melihat sang istri menggeliat di atas ranjangnya.
"Pagi, apa kita kembali sarapan di kamar?" Bingung Bella saat melihat Rael membawa nampan berisi sarapan untuk mereka berdua.
"Tidak, aku hanya ingin menikmati sarapan di sini. Hanya kita berdua." Ujar Rael dengan mata yang ia kedip kan sebelah. Sontak Bella langsung menggeleng-geleng sambil tersenyum. Selama seminggu ini Rael betul-betul bersikap manis menurutnya, bahkan ia selalu dibuat tersipu hanya dengan berbagai ucapan Rael yang memabukkan.
"Kamu ada-ada saja. Kalau begitu aku cuci muka dulu ya." Ujar Bella turun dari ranjang. Sedangkan Rael hanya mengangguki ucapan sang istri dan menata satu persatu sarapan di meja sofa.
Selang beberapa menit. Bella keluar kamar mandi dengan wajah fresh dan melangkah ke arah sofa. Di sana Rael sudah menunggunya untuk sarapan.
"Kamu suka ini nggak?" Tanya Rael memperlihatkan sebotol susu pisang kesukaannya.
"Aku belum pernah mencobanya, memangnya itu enak?" Tanya Bella saat menyantap rotinya.
"Ini minuman kesukaan ku. Biasanya kalau di rumah Ayah, isi kulkas kamarku pasti ini semua. Coba deh, mumpung aku beli banyak kemarin." Ujar Rael sambil menyodorkan satu botol susu pisang itu pada Bella. Bella yang sangat penasaran meletakkan separuh roti yang belum habis itu kembali ke piring dan mengambil botol susu pisang yang sodorkan Rael padanya. Satu isapan pertama membuat Bella langsung jatuh cinta pada minuman bervitamin itu.
__ADS_1
"Waah ternyata enak sekali. Aku bahkan belum pernah mencoba minuman selezat ini." Ujar Bella yang lansung menyeruput susu pisang itu sampai habis.
"Nah benarkan dugaan ku. Kamu pasti suka, sama kayak aku yang juga suka kamu." Gombalan receh Rael yang tiba-tiba membuat Bella langsung tertawa.
"Aduh kamu bisa saja. Gombal terus deh, nggak ada capeknya. Kalau begitu pokoknya semua susu pisang yang kamu beli itu milik aku. Nggak terima penolakan!" Ujar Bella meraih keresek berisi botol susu pisang yang berada di atas meja.
"Ais nggak boleh dong, itu kan kesukaan aku. Kita harus berbagi sayang." Tolak Rael yang mencoba untuk merebut kantong kresek itu dari Bella.
"Elehh... katanya sayang istri. Masa susu pisang aja nggak mau ngasih." Sindir Bella lari dari sofa dan meloncat ke atas ranjang. Ia mencoba menghindari Rael yang ingin merebut kresek itu dari tangannya.
"Wleeek..." Cibirnya membuat Rael ikut tertawa dan merasa gemas. Mereka akhirnya seperti tom and Jerry, berkejar-kejaran di dalam kamar. Tetapi apalah daya, sekuat tenaga pun Bella berlari tetap saja langkah Rael lebih besar darinya. Alhasil Bella ditangkap dan digendong ala bridal style ke atas ranjang.
"Ih nggak mau! Ini masih pagi Rael, sarapan saja belum habis. Aku juga masih mau sarapan. Ini susu pisangnya, kita bagi dua saja ya." Ujar Bella mengelak saat Rael sudah membuka baju kaos dihadapan nya. Sebenarnya Rael hanya ingin mengerjai sang istri, karena membuat Bella terlihat merona itu sudah menjadi keharusan baginya saat ini.
"Nggak usah, katanya aku harus sayang istri. Ini aku kasih susu pisang yang beneran. Biar aku kelihatan tambah sayang ke kamu." Ucap Rael semakin menjadi-jadi. Bella meronta saat Rael menindih tubuhnya yang sudah berusaha bangun sedari tadi.
"Ih nggak mau, ini masih pagi." Tolak Bella membuat Rael semakin ingin menjahilinya. Wajahnya ia dekatkan, semakin dekat dan sampai nafas Bella terasa menyentuh wajahnya. Rael berniat hanya ingin memberikan morning kiss pada Bella, tetapi semua itu gagal karena bunyi handphone menghentikan aktivitasnya.
Rael meraih handphone di sakunya dan melihat bahwa si penelpon adalah Vino, sang sahabat.
"Kita lanjutkan malam nanti sayang." Ucap Rael sambil mengecup lembut kening Bella. Bella yang tadinya sudah pasrah akhirnya merasa lega saat Rael tidak lagi menindihnya dan sudah duduk ditepian ranjang.
__ADS_1
"Ada apa Vin?" Tanya Rael datar. Ia sedikit kesal karena Vino telah menganggu waktunya bersama Bella.
"Gue udah atur jam buat kita ketemuan dengan Jesica. Kemarin siang gue udah ngomong baik-baik sama dia. Dia bilang kalau dia udah sadar dan udah tau salahnya. Dia juga mau ketemu sama kalian berdua untuk meminta maaf." Jelas Vino yang membuat Rael sedikit mengerutkan dahinya, penasaran.
"Apa semudah itu membujuk dan mengembalikan pikiran licik gadis itu? Aku tidak menyangka ia mau menemui kami, apa ini tidak sebuah konspirasi nya lagi?" Selidik Rael membuat Bella langsung bangkit dari ranjang dan ikut duduk disampingnya.
Selama seminggu ini mereka telah berhasil meretas video yang tersebar dan melaporkan perusahaan lawan. Vino juga berhasil bertemunya dengan Jesica meski ia sangat susah untuk ditemui.
"Gue juga nggak paham soal itu, gue juga nggak pandai baca pikiran orang. Yang penting sore ini Lo sama bu Bella datang aja ke restoran Genandra. Jesica mau ketemuan di sana. Gue nggak bisa ikut karena ada urusan lain. Semoga masalah kalian selesai sampai di sini, gue udah capek banget nelpon lo tiba-tiba diwaktu yang nggak tepat." Sindir Vino yang sebenarnya tau bahwa Rael tadi sedikit kesal padanya karena telah menganggu aktivitas nya. Itu terdengar jelas dari deru nafas Rael yang berat dan menggebu-gebu. Bella langsung menutup mulut saat paham akan sindiran Vino, ia malah merasa malu karena tertangkap basah.
"Lo mah tau-tau aja. Ya sudah makasih, kalah begitu gue tutup dulu." Ujar Rael yang tanpa jawaban langsung mematikan sambungan telepon.
"Dasar kamu ya Rael, masa belum di jawab udah di matikan." Ucap Bella kesal melihat tingkah Rael yang menurutnya tidak sopan.
"Biarin, lagian aku juga kasih dia gaji. Kamu nggak perlu tidak enak." Ujar Rael membuat Bella hanya menggeleng-geleng.
"Terus nanti sore kita bakal pergi kan?" Tanya Bella penasaran. Karena tampak sekali wajah Rael yang tidak percaya dengan pernyataan Vino tadi.
"Iya, tapi kita harus berhati-hati. Kamu tau sendiri dia gadis yang nekat. Kita jangan terlalu mempercayainya." Ujar Rael mendapatkan anggukan dari Bella. Ia juga kurang yakin dengan pernyataan Vino yang kurang logis, karena tidak mungkin Jesica yang dendamnya belum tersalurkan akan berniat baik seperti itu.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1