Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 1


__ADS_3

Alana membawa Imran seperti hewan kanguru. Ia menggendongnya didepan ketika ia berbelanja kebutuhan dirinya dan juga kebutuhan Imran


"Alana !! darimana kamu!!"


Suara Hanan menggema dari lantai dua. Ia menuruni tangga, seakan akan ingin menelan Alana mentah mentah


Alana terhenti dari langkahnya, dengan menenteng dua kretek ditangan kanan dan kirinya


"Apa apaan ini !!" Hanan berdiri menjulang memutari Alana yang masih mematung "Kamu berbelanja pribadi, tapi kamu membawa bayi yang masih merah. Dipakai nggak fikiranmu !!"


Seketika hati Alana tersayat ribuan pisau yang merajam rajam hatinya


"Sini in bayinya !!"


Hanan mengambil paksa Imran yang masih berumur tiga bulan ini dari gendongan Alana


Seketika itu Alana menjatuhkan belanjaannya dilantai


Brakk


Alana berlari menaiki tangga sambil menangis. Alana menjatuhkan tubuhnya diranjang dikamar Imran


Hari ini Alana keluar berbelanja membeli kepentingan untuk besok, dan juga belanja susu formula untuk Imran.


Mulai besok, Alana akan berangkat magang dirumah sakit sebagai perawat. Makanya hari ini, ia berbelanja kebutuhannya sekaligus kebutuhan Imran


Alana masih menangis, hatinya sakit.


🍭🍭🍭🍭🍭


Perkenalkan kembali, namaku Alana, usia 21 tahun lebih berbulan bulan. Aku adalah adik dari mendiang Aina Chawlah.


Aina adalah istri dari dokter Hanan, ibu dari Imran.


Imran adalah anak kandung mereka berdua, namun bayi malang tersebut belum sempat mendapatkan kasih sayang dari sang mama, karena Aina meninggal disaat Imran berusia seminggu.


Dari situlah Imran seperti anak bagiku. Meskipun aku tidak pernah melahirkannya, tapi aku ikhlas mengasuhnya sejak ia lahir kedunia


Alhanan Putra Zayn, duda muda berusia 29 tahun, profesi dokter kandungan yang bertugas dirumah sakit, dimana dulu papanya yaitu dokter Ilham bertugas disana


Hanan mempunyai saudara kembar yaitu Quadruple atau empat. Kedua saudaranya berprofesi sama sebagai dokter dirumah sakit yang sama. Ia bernama Fatih, dan Husayn. Sedang saudara satunya yaitu pengusaha roti, siapa lagi kalau bukan AlFarizi ( Istri untuk putraku )


🍭🍭🍭🍭🍭


Next


Tiba tiba Hanan dan kedua orangtua mereka datang kekamar tersebut


"Alana" Panggilan itu mengingatkan pada seseorang, yang memberikannya kehidupan didunia. Bahkan, yang selalu memberikan ia uang tiap hari tanpa Alana minta

__ADS_1


"Mama.. " Alana bangun dari tengkurapnya, ia berdiri mengusap buliran airmata yang tadi sudah jatuh bebas dipipinya. Alana mendekati si mama, lalu segera memeluknya


"Kenapa kamu menangis. Kamu tidak malu dengan papa Ilham dan mama Sifa?"


Pertanyaan simama membuat Alana mengedarkan pandangannya pada dua orang yang disebutkan mamanya barusan


Alana tersenyum, mengurai pelukannya pada sang mama. Alana mengendikkan bahunya menyapa kedua mertua kakaknya Aina tersebut


"Maju sana, beri salam" Anti menyenggol bahu Alana, agar Alana mau maju menyapa Ilham dan Sifa


Alana maju mendekati mertua kakaknya tersebut. Sekali lagi, yang ia fokuskan pada Imran yang berada digendongan Ilham


"Eh eh eh sayaaang... Ikut grandpa ya? Grandpanya pinter ya jagain adek ya... Adek nggak nangis? " Tanya Alana sambil berdiri didepan Ilham


Alana lupa tidak bersalaman dengan kedua pasangan romantis ini, siapa lagi kalau bukan mama Sifa dan papa Ilham. Meskipun usia mereka sangat jauh seperti putri dan papanya, keromantisan selalu melekat pada mereka berdua


Imran tertawa "Eeerrrrrgghhh"


"Wah Imran berkokok" Alana kegirangan melihat Imran tertawa menyambutnya


"Hus, ngomongnya sembarangan. Memangnya dia ayam" Tegur Anti


Ilham dan Sifa hanya tersenyum


"Mau ikut tante?" Tangan Alana menjulur seakan ingin menggendongnya, tetapi hanya menggoda saja


Imran mewek karena Alana berbohong, tidak jadi menggendongnya


"Ya udah sana gendong. Jangan bikin nangis anakmu" Ucap Anti keceplosan


"Eh, boleh Imran kita bawa pulang ma? kita adopsi saja ma" Ucapnya sambil menggendong Imran kembali


Semua orang menatap Alana mlongoh


"Ngapain main adopsi jeng, maksud putriku jeng tau nggak?" Anti menyenggol lengan Sifa


Sifa berbisik "Sepertinya Alana hanya ingin putranya saja, tidak mau induknya" Sifa terkekeh sambil menutup mulutnya keceplosan


Ilham menabok pantat Sifa, Lalu tangannya bersedekap


"Ih papa, banyak orang ah malu"


Ilham menyenggol Sifa, agar Sifa memperhatikan calon mantu untuk putra dudanya


"Ih bau ecut.. Dedek pup ya? ih jorok. Ikut grandpa kok ngirim ya.. Huweeek" Goda Alana muntah. Padahal dialah yang menggantikan popok serta mengurus sekecil sampai kebutuhan lain yang menyangkut Imran


Alana mengambil plastik bekas untuk tempat popok kotor. Lalu dengan cekatan ia membawa imran masuk kekamar mandi, untuk dibersihkan


Alana keluar kembali dari kamar mandi bersama Imran dengan tersenyum lebar "Enakan ya" Alana merebahkan Imran dikasur. Ia buru buru mengambil diaper dan baju serta minyak telon untuk Imran

__ADS_1


Tangan dan kaki Imran diangkat keatas semua


Tiba tiba


Tuuurrrrr


Imran pipis seperti air mancur yang membasahi baju dan wajah Alana, hingga sampai rambutnya "Yah ma" Alana turun dari ranjang. Ia berdiri. Rambut Alana terlihat basah kena cipratan air pipis Imran. Alana manabok pelan pantat Imran "Nggak boleh nakal"


Imran tertawa sampai berkokok seperti suara ayam yang berkokok tapi seret kurang minum


Semua orang tua menyaksikan tubuh krempeng Alana mengurusi bayi yang bobotnya mencapai 7 kilogram. Betapa jomplengnya, sekali dupak atau tendangan Imran, Alana bisa terjengkang jika tidak kuat


"Ya sudah sini sini, biar mama yang mengganti popoknya. Kamu mandi sana" Ucap Anti


Sementara, Sifa menyuruh Ilham dan para lelaki untuk keluar dan turun dari kamar ini, termasuk pak Anto "Sana pa, keluar semua. Kita itu masuk zona kamar perawan. Jadi keluar sana, ntar kami turun, setelah Imran beres"


-


Diruang tengah


Para pria sudah duduk disofa pilihan sesuka pantat mereka


Alana sudah wangi, termasuk Imran


Alana menggendong Imran


"Alana, duduk nak" Ucap Sifa mempersilakan Alana untuk duduk disamping Hanan


Alana sudah duduk disamping Hanan, dengan cueknya. Ia tetap sibuk memainkan tangan Imran kewajahnya tanpa menaruh curiga sedikitpun dengan keempat orang tua didepannya.


"Alana, Hanan. Kami para mama dan papa kalian, ingin kalian segera menikah. Resmikan hubungan kalian" Ucap Anti mamanya Alana


Alana tersentak reflek melepaskan tangan Imran yang menjambak rambut dan giwang panjang milik Alana tapi masih ringan


"Maksudnya apa???" Alana masih santai, tiba tiba "Addddaaaaaa sakiiiiitttt" Teriak Alana


Rambut Alana sudah digenggam tangan kiri Imran dengan kuat, sedang giwangnya sudah ditarik tangan kanan Imran dengan kuat pula


Hanan langsung sigap melepaskan tangan Imran yang sudah mengacak acak rupa Alana


Imran segera digendong Ilham. Karena dengan siapapun, Imran tak akan mau


Hanan memegang telinga Alana yang memerah


"Telingamu merah, kalau bawa anak kecil, pakai giwangnya jangan kepanjangan" Hanan melepas telinga Alana sambil ngedumel


"Hanan" Tegur Sifa


Hanan langsung menoleh, ia lupa pegang pegang Alana. Padahal mereka bukan muhrim

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2