Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 77


__ADS_3


Hanan masih berdiri dengan lututnya. Ia berada Persis didepan Alana yang sengaja ia buka kaki milik Alana


Kaki kiri Alana sudah menyampir dibibir bathup, sedang kaki kanannya bertumpuh pada pundak Hanan


Hanan terus mengusap pu ting payu dara Alana dari depan, agar pembukaan cepat penuh


Dan benar, ketika pembukaan sudah penuh, Alana sudah kesakitan yang teramat


Tangan kanan Alana terus meremas tangan bidan Nur, yang berada diluar kolam, yaitu diposisi kepala Alana. Sedangkan tangan kirinya, Alana meremas baju Hanan yang ada didepannya. Tepatnya dibagian bawah


Hanan sudah ditengah-tengah kedua paha Alana yang sudah terbuka


"Mas, sakkiiiiiitttttttt" Aduhnya kesakitan merasakan kontraksi dari dalam


"Istighfar sayang, jangan mengejan dulu"


"Hwu hwu astagfirulla hal'adzim... " Alana kembali tiup-tiup sambil beristigfar


"Ayo tiup tiup lagi sayang" Hanan menyuruh Alana, menarik nafas lewat hidung terus, dan membuangnya lagi lewat mulut


Hanan kembali merabah perut buncit Alana "Sayang, keluarlah. Bunda dan daddy sudah menantimu. Jangan biarkan kedua orang tuamu menunggumu terlalu lama. Ayo nak, bantu bunda, jangan kau sakiti bundamu nak" Hanan memeriksa perut Alana, agar mendengar detak jantung sibayi dengan stetoskopnya


Kontraksi yang dirasakan Alana lebih cepat "Adddeeeeee sakittt maaasssss"


"Istighfar sayang, istighfar" Mulut berucap, tapi netranya terus mengontrol jalan bayi yang belum kunjung terlihat bayinya


Sebenarnya Hanan sudah tidak sanggup, menyaksikan istrinya kesakitan. Tapi dia harus tetap tegar, dan harus menjadikan dirinya orang nomor satu membantu dalam persalinan istrinya


Alana mengikuti, dan terus mengikuti ucapan Hanan


Dalam benak bidan Nur, sebenarnya ingin terpingkal-pingkal didepan kedua pasangan ini


Bagaimana tidak, selama dia mengajudani dokter Hanna, sekalipun Hanna tidak pernah main basah-basahan seperti dokter Hanan


Dokter Hanna selalu diluar kolam, dokter hanya memandu dan sesekali memeriksa


Dokter Hanan memang beda. Totalitas dinomor satukan, untuk membantu sang istri


Kembali ke Alana


Kebanyakan Ibu yang akan melahirkan, itu lupa segalanya. Jika tidak dibantu mengucapkan sesuatu, fikirannya akan tertuju pada rasa satu, yaitu sakit


Dan Hanan sebagai suami, bisanya hanya mengingatkan terus, dan memberi semangat. Meskipun, sebenarnya dia sangat rapuh. Jika boleh ia ikut mengejan, Hananpun akan melakukan


Beberapa detik berlalu


Kepala bayi sudah mulai terlihat, tapi belum dengan wajahnya


Hanan mengambil tangan Alana "Sayang, ikuti tanganku"


Hanan menuntun tangan Alana untuk memegang kepala bayi yang ada dibawah sana


"Hwa" Alana sedikit menangis, tangan yang dituntunnya meraba kebawah, dan memegang kepala bayi yang sudah melongok secuil "Apa ini mas"


"Peganglah, itu kepala anak kita sayang. Dia sudah terlihat. Ayo pegang"


Alana memegangnya lagi, sambil ingin menangis lagi "Hwa.. Ini kepala bayi ? huh huh" Tanya Alana sambil terus menghirup udara, dan membuang udara juga "Bayi kita mas"


"Iya sayang"


Alana manggut-manggut sambil tiup-tiup


Hanan sudah menarik tangan Alana yang tadi memegang kepala bayi, dan menaruhnya dikedua pundaknya

__ADS_1


Alana meremas kuat bahu Hanan


"Tarik nafas dulu sayang" Hanan mulai serius


Alana menghirup udara sebanyak mungkin


"Sekarang lakukan, mengejan !!!"


"Eeeeeeeeek!!!! Hah hah uhhah uhah"


Sehabis mengejan, Alana seperti mau kehabisan nafas. Dan itu berlangsung beberapa kali


"Mas, belum keluar semua ya mas"


"Belum sayang, sedikit lagi"


"Aduh, kakiku capek mas. Ketinggian"


Hanan segera menurunkan kaki Alana yang berada dipundaknya, dan memindahkan kaki Alana kepahanya "Segini ya?"


Alana mengangguk


"Ayo, sekali lagi, ambil nafas yang banyak"


Alana mengikuti lagi


"Sekarang, mengejan !!!!"


"Eeeeeeekkk aaaaaakkkkkkk" Jeritan Alana menggemah dan panjang


Brottt


Bayi yang dikandung selama 9 bulan lebih 10 hari ini, keluar dengan selamat


"Alhamdulillah anak kita cowok sayang" Ucap Hanan sambil mengangkat bayi yang barusan keluar dari mulut rahim Alana


Hanan segera menaruh bayi tersebut diatas dada Alana


Bidan Nur segera memberikan gunting kepada Hanan, untuk memotong tali pusar


Hanan sudah melakukannya.


Setelah urusan plasenta diurus oleh Nur, Hanan segera menghambur memeluk Alana dan bayinya sambil terisak


Nur sudah mengambil bayinya untuk dibersihkan


Hanan dan Alana masih didalam kolam yang sudah menyusut airnya


Tidak mungkin mereka berendam diair yang sudah berwarna merah itu


Mereka sama-sama lemas dan saling berpelukan. Menangis terharu "Terima kasih sayang, kau telah memberiku jagoan yang tampan. Kau memang kuat, kau memang kuat" Hanan kembali menghujani ciuman bertubi-tubi diwajah Alana


-


Alana sudah bersih, dan sudah dibawa keruangan atas, yaitu ruangan khusus yang digunakan untuk keluarganya. Tepatnya dikamarnya, bukan dikamar Lis waktu itu


Hanan masih meplek dan menangis dipelukan Ilham "Sudah, kamu membasahi baju papa. Sana ganti bajumu. Nanti pasienmu yang lain melihatmu menangis"


Setelah ada salah satu karyawannya yang membersihkan kolam dan ruangan ini, Hanan segera beranjak, dan mengganti pakaiannya yang sudah disiapkan dari rumah


Begitupun Ilham. Ia tidak mau ikut masuk angin karena bajunya basah semua tertular Hanan yang telah basah kuyup tadi


-


Masih dirumah sakit

__ADS_1


Hanan dan Ilham sudah masuk kekamar pribadi Hanan yang sudah ada Alana disana


Disana sudah berkumpul, mamanya jelas nomer wahid, karena papanya juga sudah ada disini


Ada Rasti, Lis, Aaliya, Imran, Surti. Sedang saudara kembarnya belum hadir. Mereka masih diperjalanan


-


Hanan kembali mencium seluruh wajah Alana "Selamat ya sayang. Altaaf Zayn Alhanan sudah menyapa kita"


Alana mengusap lengan Hanan "Itu nama bayi kita?"


Hanan mengurai pelukan "Iya, kau suka?"


"Apapun yang mas sematkan nama untuk anak kita, aku selalu suka"


Hanan tersenyum sambil berkaca-kaca "Iya sayang terima kasih"


Cup


Hanan mencium pelipis milik Alana, lalu menyingkir karena Imran sudah menarik-narik celana milik Hanan


Hanan menoleh kebawah "Eh bujang daddy" Hanan segera menggendong bocah berumur 4 tahun ini "Sekarang, kakak sudah punya adik lagi" Hanan menaruh Imran disamping baby Altaaf "Jangan nakal ya?"


Imran mengangguk


Tangan Imran menjulur kearah Lis "Bik bik, dedek Aaliyah taruh sini bik. Dijejer bik"


"Mau buat apaan, kok dijejer?" Tanya Sifa


"Biar banyak"


Ahahaha


-


Meskipun Hanan habis ikut melahirkan, Hanan tetap turun untuk mengurus pasiennya


Hanan kembali masuk keruangan yang sudah nampak sesak ini



Hanan masuk kekamar, begitu memberengkut menenteng banyak hadiah dari kawan, dan pasiennya


Semua saudara dan kerabat, menoleh pada seseorang yang baru masuk


"Wow, habis belanja bang?" Tanya Hawa sambil mengusap perutnya yang sudah membesar


"Oh hoho, bukan. Mana sempat belanja Wa.." Jawabnya sambil duduk disamping Alana "Coba lihat sayang, mas dapat hadiah dari para pasien. Katanya salam untukmu" Hanan menaruh beberapa paper bag disamping Alana duduk


"Wah, benarkah. Mereka tau, kalau istri abang melahirkan?" Hawa mulai ribut


"Iya"


"Wah.. Aku mau melahirkan disini ah. Biar dapat hadiah banyak"


"Pasien mana yang mau ngasih hadiah kekamu Hawa !!" Husayn mulai jail


Hawa membenahi jilbabnya yang tadi ditarik oleh Husayn "Pasien bang Hananlah. Kan banyak yang ibu-ibu, pasti baik dan nggak pelit"


"Hei, memangnya mereka kenal sama kamu" Sekarang Fatih yang protes


"Kenalanlah. Hayo"


"Hawaaaaa, mana ada orang yang baru kenal mau ngasih hadiah"

__ADS_1


"Kalau gitu, abang yang harus kasih hadiah keaku hahah. Ka si han"


BERSAMBUNG....


__ADS_2