Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 37


__ADS_3

Setelah pasien pemeriksaan kehamilan sudah selesai, Hanan masuk keruangan bersalin


Ternyata, bukan satu ibu yang akan melahirkan, melainkan tiga.


Kelambu segera ditarik, supaya fokus untuk pemeriksaan lebih lanjut


"Datang baru?" Tanya Hanan pada Lili sang bidan senior


"Iya dok" Jawab Lili


"Sudah pembukaan berapa?" Tunjuk Hanan pada pasien yang datang pertama


"Sudah 6 dok"


Hanan manggut manggut, ia memeriksa dengan seksama "Miring kekanan terus ya bu, biar cepat pembukaannya ya?"


"Iya dok"


"Bu Lili, kandungannya bagus. Tangani, bisa normal dia"


"Baik dok"


Lili dan perawat lain mengikuti Hanan, termasuk Alana


Hanan masuk ke bilik pasien berikutnya "Kalau ini sudah pembukaan berapa?"


"Ini pertama masuk sudah pembukaan empat dok, dan sampai sekarang masih empat terus, nggak ada perubahan. Dan, pasien ini mengalami pendarahan" Jawab Lily


Hanan langsung teringat Aina, persis kasusnya


Hanan segera memeriksa pasien kedua yang sudah kesakitan karena pendarahan


Plok


Hanan menabok perut sipasien dengan pelan "Ini harus operasi. Kalau tidak, bahaya untuk ibunya. Siapkan surat surat sesuai prosedur"


Kembali Hanan masuk kebilik pasien ketiga. Ibu ini menjerit jerit kesakitan


"Kenapa bu?" Tanya Hanan


"Sakit dok"


"Semua ibu yang akan melahirkan, rasanya sakit bu, nggak ada yang enak. Lebih baik, ibu perbanyak istigfar. Tenaga ibu, jangan dibuang sia sia untuk menjerit. Sudah pembukaan berapa ini bu Lili?" Hanan menasehati pasien, sekaligus bertanya kepada bidan Lili yang bertanggung jawab diruang bersalin ini


"Ini masih pembukaan satu dok. Tapi, pertama masuk memang sudah menjerit jerit" Jawab Lili


"Oh.. Yang sakit sebelah mana bu? " Tanya Hanan kepasien


"Yang sakit pinggang dok"


"Diperiksa dulu ya"


Pasien mengangguk


Hanan kembali memeriksa dengan seksama


"Oh, Ibu sudah pernah caesar sebelumnya ya?"


"Iya dok"


"Berapa tahun yang lalu?"


"lima dok"


"Berarti anak ibu sebelum ini usianya 5 tahun"


"Iya dok"


"Ini hamil anak keberapa bu?"

__ADS_1


"Kedua"


"Usia ibu berapa?"


"38 tahun"


"Usia suami?"


"50 tahun"


"Baik, kandungan ibu bagus ini bu, tapi ibu harus sabar. Setiap ibu yang melahirkan itu berbeda beda, ada yang lama, ada yang cepet"


"Tapi aku tidak kuat dooookk. Maaasss operasi aja, aku nggak mau normal. Sakiiitttt.. Ususku mau ambroll maaaassss" Jeritnya mengadu sama suaminya


"Dok, Istri saya minta dioperasi saja. Saya tidak tega" Ucap suami pasien pada Hanan


"Baik, nanti ada surat pernyataan persetujuan yang harus bapak tanda tangani"


"Baik dok"


"Kalau begitu, saya permisi"


-


Hanan sudah masuk keruang operasi, untuk mengoperasi pasien yang sudah sakit akibat pendarahan terlebih dahulu


Dokter Zuhi, yaitu dokter anak sudah siap disana. Begitupun ahli anestesi sudah siap menyuntik bius yaitu dokter Zae Mehta, dan beberapa asisten Hanan yang tugasnya menjahit luka setelah operasi dan sebagainya, semuanya siap, termasuk Alana


Hanan berbisik pada Alana "Kuat nggak, kalau nggak kuat segera keluar"


Alana mengangguk


"Suster Alana, kamu sebelah sini. Ambilkan apa yang saya sebutkan" Ucap Hanan tegas, agar istrinya punya pekerjaan, walaupun sebenarnya tidak penting


"Baik dok"


Operasi pertama sudah selesai dengan selamat ibu dan bayinya. Termasuk Alana selamat tidak muntah muntah


Beberapa menit kemudian, pasien yang menjerit jerit sudah didorong masuk keruang operasi


Sebelum dioperasi, Hanan bertanya "Maaf sebelumnya ibu ya.. Sedikit saya ingin bertanya. Usia ibu sudah hampir mendekati kepala empat. Usia suami juga sudah kepala lima. Tapi, anak anaknya masih kecil. Memang, usia itu tidak ada yang tau, rezeki juga orang tidak tau. Semuanya rahasia. Saya hanya memberi gambaran, ketika anak ibu berusia 18 tahun, usia ibu dan suami ibu berapa Kira Kira?"


"Saya 56 tahun, dan suami saya 68 tahun"


"Nah, masa itu, anak anak ibu akan membutuhkan dana yang cukup besar, karena biaya kuliah betul ? Sedang usia ibu dan bapak sudah tidak muda. Nah, sebelum pembedahan ini berlangsung, ibu KB stiril saja ya? biar tidak dua kali pembedahan"


"Aduh dok, saya kok belum siap. Bagaimana kalau tanya suamiku dulu"


"Oke.. Andre, Andre.. Tolong sampaikan sama suami pasien. Kalau istrinya sekalian KB stiril setuju nggak. Buruan" Ucap Hanan yang sudah siap membedah pasien


Bersamaan ini, Hanan sudah mengoperasi, Dan sudah ada laporan dari Andre


"Bagaimana, suaminya bersedia?" Tanya Hanan pada Andre


"Tidak dok. Katanya jangan" Jawab Andre


"Baiklah bu, suami ibu tidak bersedia untuk menyetujui ibu untuk ber KB stiril. Jadi, setelah pengangkatan bayi, luka ibu, langsung kami jahit oke"


Pasien manggut manggut


Tiba tiba, suara tangisan bayi sudah menggemah


Oeeeekkkkk


"Wah cowok bu, selamat ya... " Ucap Hanan mengangkat bayinya, lalu memberikan bayinya kepada dokter anak, yaitu dokter Zuhi "Tapi ingat ya bu, hati hati, jangan sampai kebobolan. Bahaya. Karena perut ibu, sudah dua kali dibedah, diluka yang sama. Jadi, luka ini masih sangat basah"


"Iya dok"


"Ya sudah, sekarang jahit" Titah Hanan kepada asistennya, yang tugasnya menjahit luka sayat pada perut pasien

__ADS_1


Tugas Hanan sudah selesai, dan dia langsung melenggang keluar dari ruang operasi


Tiba tiba Alana berlari menyimpangi Hanan yang sedang berjalan santai


Hanan segera menarik krah Alana dari belakang


"Mau kemana? kenapa lari lari"


Alana berbalik dengan mulut tertutup tangan, dan wajah yang sudah terlihat merah menahan rasa mual


"Eh, sini sini" Hanan menarik Alana keruang pribadinya


Hoeeekkk hoeeeekkk


Hanan membantu memijat tengkuk Alana agar terasa nyaman


Alana sudah keluar dari toilet, sambil mengelap matanya yang tadi sempat mengeluarkan cairan bening dari sudut matanya


Hanan menuntunnya, agar Alana duduk disofa


Hanan mengusap punggung Alana "Gimana rasanya, enakan?"


"Kepalaku masih pusing kak" Mata Alana masih terpejam, tubuhnya setengah duduk setengah rebahan disofa


"Ini duduknya yang bener" Hanan menabok paha Alana, yang semakin Lama, paha tersebut terbuka lebar


Alana spontan mengincupkan kakinya "Kakak jangan mesum, kepalaku pening berputar putar"


Hanan memijat pelipis Alana "Begini enak"


"Enak"


"Asisten model apa muntah muntah begini setiap menemani membedah orang. Kalau pasiennya ramai bagaimana? pingsan?"


"Kakak jangan cerewet" Gigi Alana mulai bergemelatuk dan, berlari menuju kamar mandi kembali


Howeeeeekkk howeeekk


Alana kembali muntah


Hanan segera membantunya kembali


"Sudah?"


"Sudah. Kakak, aku pusing. Aku ingin tidur"


Hanan teringat perbincangan mereka semalam, yaitu telat menstruasi "Ah, baiklah tidurlah. Tunggu disini, jangan pipis dulu ya, sebentar"


Alana mengangguk, Dan Hanan segera keluar menuju apotik yang berada digedung ini


-


Hanan kembali dan sudah duduk disamping Alana tidur


Hanan mengusap usap punggungnya, setelah itu pipi mulus Alana ia usap, lalu mendekati wajahnya "Sudah mendingan belum? diperiksa ya?"


Alana menarik baju atasannya agar terlihat perutnya


Masih dengan mata terpejam "Sudah"


Hanan tersenyum "Periksanya bukan ini. Sana pipis dulu, dites dengan alat ini"


Alana langsung bangun "Alat apa?" Alana menerima alat tersebut dari Hanan


"Tespack, buruan"


"Caranya?"


"Ini ini" Hanan memberikan gelas plastik transparan, khusus untuk menampung air seni "Kamu pipis disini, lalu celupkan alat ini, sebatas tanda ini ya, jangan semua"

__ADS_1


BERSAMBUNG....


__ADS_2