
Beberapa bulan kemudian
Hanan sudah kebal dengan permintaan-permintaan Alana yang menguras tenaga dan emosinya
Kehamilan Alana yang sekarang, tak jarang membuat Hanan geleng-geleng kepala.
Selain yang diinginkan terkadang tidak masuk akal, ngidam itu sering terjadi di waktu yang salah. Yaitu minta makanan tertentu, di tengah malam, dan dipagi hari, dimana saat Hanan akan berangkat bekerja.
Seperti pagi ini. Alana meminta sesuatu, tapi mengharuskan jika Hanan yang harus mencarikannya.
Harusnya Hanan tidak kaget. Karena menghadapi istri yang hamil muda, bukan ini yang pertama. Melainkan yang ketiga, dari wanita yang berbeda
Meskipun permintaan Alana yang terlihat aneh, Hanan selalu menurutinya.
Bukan karena Hanan takut kepada Alana, namun memenuhi permintaan istri yang ngidam, berarti Hanan mampu menunjukkan kasih sayangnya terhadap Alana, dan juga sebaliknya.
Untuk itu, bagi seorang suami, sebaiknya ikuti saja hasrat ngidam istri tercinta, selama tidak membahayakan dan tidak melanggar norma syariah.
Memang, tidak ada dalil yang mewajibkan seorang suami memenuhi permintaan istri yang sedang ngidam, sebagaimana tidak adanya pelarangan untuk memenuhinya pula.
Akan tetapi, mempertimbangkan kepayahan perempuan yang hamil, tentunya pemenuhan itu bisa menjadi dukungan moral tersendiri bagi istri yang sedang berjuang mengandung buah hati mereka
Pagi ini, Alana malas-malasan sambil nonton film pendek. Film tersebut berjudul "Juragan empang vs pedagang rambut nenek"
Tadinya aman-aman saja tidak ada keinginan yang aneh-aneh dari Alana
Tiba-tiba
"Maaaaas permenku habis" Teriaknya sambil berlari keluar, mendekati mobil Hanan yang sudah siap untuk dikemudikan
Hanan yang sudah naik mobil mendadak turun "Apanya yang habis"
Alana menunjuk pada toples yang ia bawa "Permenku habis"
"Oh, minta dibelikan?"
"Enggak eh iya" Alana bingung
Hanan ternyata ikut bingung "Gimana sih. Mau permen yang itu atau ganti?" Hanan mencoba memberi solusi
Alana mengangguk "Iya. Boleh ya, ganti"
"Memangnya ingin yang rasa apa?"
"Aku ingin permen rasa rujak sama permen kapas"
"Kapas? Dimana itu Belinya?"
"Ya cari, mana aku tau" Muka Alana sudah mulai tak bersahabat. Wajahnya sudah ditekuk sampai rapih
Hanan menatapnya sedikit jengkel, dan emosinya mulai meluap. Tapi tetap wajahnya ia atur sebaik mungkin, agar Alana tidak tersinggung
Setiap pagi ada saja keinginan istrinya yang memakan waktunya, saat ia akan berangkat bekerja
Tapi apalah daya. Hanan tidak ingin distempel 'Bisanya bikin doang. Giliran tanamannya jadi, ia cuci tangan alias tidak bertanggung jawab'
"Ya sudah, kita cari bareng. Ayo, ganti bajumu dulu" Hanan merangkul pundak Alana, mengajaknya untuk masuk dan berganti kostum terlebih dahulu
Tangan Hanan diturunin oleh Alana "Ih, nggak mau. Aku maunya memakai baju ini"
"Ya nggak bisa dong Alana sayang... Sayang kan pakai hijab. Masa mau cari makanan ke toko-toko pakai gaun rumahan"
"Ini bukan baju rumahan mas. Kalau aku pakai daster, baru itu baju rumahan"
"Udahlah, terserah kamu. Tapi kalau nggak mau ganti, mas berangkat sendiri. Dan yang akan mencarikan permennya, biar pak Sholeh" Ancam Hanan, karena Alana mulai rewel
"Ih mas jangan gitu dong. Masa mas nggak bertanggung jawab. Hanya permen saja harus pak Sholeh yang cari. Nggak mau!!"
__ADS_1
Alana sudah bermuka suram, membuat Hanan tak tega
"Jadi??"
"Ikut. Ntar aku nunggu didalam mobil" Ucapnya melunak karena Hanan memberi pilihan
"Terus yang nyari permen siapa"
"Ya mas lah"
"Nggak, nggak. Ntar salah wujudnya, kamu nggak mau makan. Mas nggak mau ya, tenaga dan fikiran mas mubazir"
"Yah" Alana melemah
"Sekarang, ayo masuk. Ganti bajumu yang Indah. Masa, mau bepergian tidak mau dandan" Gerutunya ia ungkapkan agar kesalnya sedikit berkurang
Hanan segera menuntun Alana dengan sabar. Meskipun hatinya gedek, Hanan tetap menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja
Hanan mulai membantu Alana untuk mengganti baju yang lebih tertutup.
Setelah nampak cantik, walaupun tak secantik waktu normalnya, Hanan segera menggandengnya lagi, agar Alana tidak berubah fikiran. Yaitu, menambah daftar makanan yang susah dicari, atau mengganti makanan yang lebih aneh dari permintaannya sekarang
Dalam hati Hanan 'Untung ngidamnya masalah makanan. Aku masih bisa mencarinya, meskipun banyak drama. Jika ngidam yang lebih aneh. Nggak kebayang'
Hanan teringat kawannya yang menghadapi istrinya ngidam, ingin bertemu dengan artis atau dengan orang tertentu.
Hanan geleng-geleng membayangkannya. Mungkin jika Hanan yang mengalami, bisa guling seperti temannya
Walaupun kesal, capek, Hanan berusaha semaksimal mungkin, untuk menurutinya. Sekali lagi, bukan karena dia takut terhadap Alana. Melainkan menjaga hati wanitanya, agar selalu stabil emosinya.
Dipenuhi saja, suasananya kadang berubah suram, apalagi tidak dituruti. Bisa-bisa Alana nekat melakukan hal yang tidak diinginkan
Berbeda cerita jika dirinya sudah bingung mencarikan sesuatu yang Alana mau, tetapi tidak tau wujud atau belinya dimana, lebih baik Hanan mengajaknya, dan tidak ingin menebak-nebak kemauan Alana
Hanan tau, kesibukannya, membuat perhatiannya terhadap Alana cukup berkurang
Mereka bertemu hanya dimalam hari, dan diwaktu pagi hari seperti sekarang
Namun, bukan berarti Hanan memanjakan Alana, karena selalu mewujudkan kemauannya
Hanan tetap membatasi, jika keinginan Alana berlebihan. Yaitu memastikan asupan dan nutrisi Alana tetap terjaga, agar kesehatan janin dan ibu tetap sehat.
Jika ibu hamil ngidam melakukan suatu kegiatan, sebaiknya dilihat dulu apakah kegiatan itu membahayakan ibu, janin, dan orang lain? Jika iya, sang suami harus mencegahnya.
Model seperti ini, biasanya wanita tersebut butuh perhatian dari orang-orang sekitar. Keluarga, ataupun suami
Kondisi psikologi seperti ini dikenal juga dengan istilah pica, yaitu kondisi seorang ibu hamil merasakan kurangnya perhatian dari suami dan keluarga, sehingga mencari perhatian dengan cara-cara yang tidak wajar. Tapi bukan Alana ya, karena jengkelnya Hanan, ia tetap perhatian dan selalu menghargai pasangan
-
Mereka sudah turun diparkiran sebuah toko serba ada
Alana menarik tangan Hanan agar fokus pada pencarian
Namun, nyatanya berbeda. Hanan terlihat sibuk menerima panggilan dari rumah sakit
"Mas, ih buruan" Alana terus menarik tangan Hanan yang terlihat berat
"Stttt, bentar ada telepon dulu" Jawabnya membuat Alana kesal, dan melepas tangan Hanan
Akhirnya, Alana berjalan sendiri, untuk mencari sesuatu yang menggoda dirinya
Alana sudah berdiri dirak khusus permen
Alana mengambil satu pak permen yang berkilauan seperti kaca. Ia mulai menelan-nelan air ludahnya yang sudah diujung lidahnya.
Diwaktu bersamaan, Hanan sedikit kesusahan mencari Alana. Tapi begitu ingat keinginan beli permen, Hanan mencarinya dirak khusus permen
__ADS_1
"Itu dia"
Hanan mengabsen barang yang sudah didalam keranjang Alana
Hanan mengambilnya "Bund, kok banyak banget"
"Nggak pa-pa aku ingin"
"Bukan begitu, tadi katanya ingin permen rujak. Kok ambilnya malah permen mint, kopi, durian, terus ini kristal, terus apalagi nih"
"Permen empuk, seperti aku" Ucapnya manja dihadapan Hanan
"Katanya kapas. Ini mah bukan permen kapas. Tapi kasur"
"Nggak pa-pa yang penting, aku suka"
"Terus??"
"Udah ini aja"
"Bener, nggak mau permen kapas beneran"
"Nggaklah ini udah banyak"
Tuh kan Alana. Gimana Hanan tidak gedek. Maunya apa, ambilnya apa
"Udah ah yuk" Ucapnya sambil melenggang meninggalkan Hanan
Setelah didepan kasir, kembali Hanan menunjukkan berbagai jenis permen yang ada dirak depan kasir
"Nggak mau udah" Jawabnya
"Yakin?"
"Yakin"
"Bener?" Hanan bertanya memastikan
"Ya bener, kenapa sih maksa"
"Ya udah, sudah mbak total berapa" Menyerah pada Alana, sekaligus meminta totalan dengan kasir
"85.000 pak"
"Ini mbak" Hanan menyerahkan uang satu lembar ratusan ribu "Kembaliannya ambil mbak"
Sambil memasukkan barang kekresek "Makasih pak"
'Lumayan, bisa buat beli pertalite 1,5 liter, ikikik'
Sikasir cekikikan didalam hatinya. Sedangkan Hanan, masih sibuk berseteruh dengan Alana
"Bener ya, mbaknya dengar sendiri, kamu sudah nggak ingin minta sesuatu lagi. Kalau nanti minta dicarikan lagi, nggak bisa hari ini. Nunggu besok"
"Kenapa harus nunggu besok"
Hanan mulai gemas "Pekerjaanku banyak Alana" Ucapnya sambil mengeratkan giginya, dan menjembel kedua pipi Alana
"Ya udah terserah. Kalau ntar lahir anaknya ngiler, tanggung sendiri"
"Tidak bisa. Ngiler itu bukan karena tidak dituruti waktu ngidamnya"
"Terus"
"Karena memang ileran"
Wkwkwkwk
__ADS_1
BERSAMBUNG....