
Hawa sudah menjauhi Anand, karena dirinya selalu disalahin
"Oke pih, seratus ribu doang ya pih... Berarti, papi masih punya hutang denganku empat ratus ribu. Catet saudara saudara" Hawa duduk disebelah Fariz. Tumben, biasanya muter muter menclok sana menclok sini
"Heh?? utang apaan papi sama kamu. Enak aja. Farizz..." Anand menunjuk Hawa yang sudah duduk disamping Fariz "Karetin istrimu, barang apa kali yang ia jual hmm.. Main nagih segala" Anand memang selalu ngurusin kelakuan Hawa
Fariz melirik Hawa, yang tiba tiba duduk disebelahnya. Biasanya tidak "Iya tau malu maluin.. Dikira aku nggak ngasih nafkah. Balikin" Fariz angkat bicara
"Ih nggak mau, sudah Hawa kantongin. Ya pih? ikhlas ya pih.... Jangan tagih Hawa ke akhirat loh pih"
"Ah modus kamu Wa, biar papih ikhlasin ini mah" Husayn biasa ikut ikutan jadi kompor
"Ih diem kamu bang, suka suka Hawa" Sentak Hawa pada Husayn
Fariz mengambil tissue "Dih, yang lagi marah. Jangan suka marah, ntar anaknya ileran" Goda Fariz sambil mengelap bibir Hawa yang tidak ngiler
"Heh, Hawa juga hamil Riz" Hanan meluruskan duduknya, agar melihat Hawa yang ketutup badan Fariz
"Iya kalau nggak salah" Jawab Fariz
"Kok nggak salah, sudah dicek belum?"
"Sudah"
"Lalu hasilnya"
"Positif"
"Yeah.. Papa.. Cucu papa mau hadir lagi dari mantu somplak papa" Hanan menunjuk Hawa
"Abang!!! jelek amat ngasih nama, papiiiii bantuin Hawa pih" Hawa meminta dukungan Anand
"Ogah. Nih duit aja buat kamu. Daripada mbelain kamu, capek. Musuhmu banyak" Jawab Anand sudah mengeluarkan duit
"Ish papih, Hawa guling nih" Ancam Hawa yang duduknya sudah ditengah tengah mereka
"Mau guling, guling aja. Ntar papi tambahin dua ribu. Nih duit terima" Anand masih menyodorkan uang yang tadi, karena Hawa belum mengambil mengambilnya dari tadi "Cepetan"
Hawa akhirnya mendekat, dan menerima uang "Yeah, empat ratus ribu. Asyik, lunas ya pih, tapi untuk bulan ini doang. Bulan depan lagi" Hawa tersenyum lebar
Anand mengagah, lagi lagi dia selalu kalah.
"Pih, Hawa kok selalu dikasih duit pih. Vivi, Ratna, dan Alana, kok nggak pernah dikasih" Protes Husayn
"Biarin, Vivi, Ratna, dan Alana, semuanya pada punya orang tua. Kalau dia" Tunjuk Anand ke Hawa "Berbeda. Dia anak bontot wurung (Gagal) papi, jadi biarin. Orang model satu kek dia aja ngremuk papi. Papi nggak mau ngadopsi lagi mantunya papa kalian haha, rugi" Anand tertawa geli
"AHAHAHA " Semuanya tertawa semua termasuk Husayn
Setelah senyap, Anand mulai bicara lagi
"Eh ngomong ngomong, Fatih, Husayn, istri kalian sudah pada cek kandungan semua belum?"
"Belum" Jawab Fatih dan Husayn
"Memangnya ada apa pih? " Tanya Fatih
"Hanan mau punya anak kedua, ini Fariz..." Anand menunjuk Fariz "Nikah terakhir, tapi sudah nyalip kalian. Saudaranya punya anak satu satu, dia langsung dua. Kalian nggak ingin, punya anak kembar empat seperti mama kalian" Sambung Anand
__ADS_1
"Kak, ngapain punya anaknya harus ngikutin kita. Repot punya anak langsung 4, mending satu satu deh. Jika kembarpun dua" Ilham protes
"Kenapa emang, kan seneng Il. Dikeluarga mama papa nggak ada keturunan kembar, eh tau tau kamu bisa bikin Sifa melahirkan kembar 4"
"Itu karena keluarganya, dulu ada yang kembar iya sayang " Ilham bertanya pada Sifa
"Iya nenekku kembar tiga katanya"
"Kok katanya"
"Ya kan sudah pada meninggal pa, mama juga nggak tau. Sudah jangan dibahas ah. Sedih"
"Ah, sepertinya mama kalian bersedih dulu, sudah gitu, ntar cek deh tes kehamilan"
"Papa!!"
"Apa?? Mau menyusul seperti Hawa, bik Lis, dan Alana ?" Goda Ilham
"Papa!!!" Panggilnya dengan kesal
Plok plok plok
"Mama sudah tua pa, pabriknya sudah tutup"
"Tapikan masih bisa produksi ma, kan masih ada sisa sisa bahan"
"Ih dari dulu ya, papa sukanya gitu" Sifa sudah berdiri dengan lututnya, dan menyerang Ilham
Wuaahahahaha
Semuanya menyaksikan siaran langsung Ilham diserang oleh Sifa
Prok prok prok
Para Art yang mereka bawa kesini, terbengong menyaksikan tuan rumahnya berkelahi, termasuk bik Surti
"Eh eh, kenapa tuan dokter Ilham jadinya smackdown gitu. Bantuin dong tuan" Surti mendekati Ilham yang sudah diserang Sifa
"Eh bik, ngapain. Mau jadi wasit? minggir"
"Tapi kasihan tuan dokter tuan"
"Sudah nggak papa kamu minggir"
Sifa berhenti sambil monyok. Ilham menjembel bibir Sifa "Ini kenapa jadi seperti anak kecil. Nggak malu main gulat didepan khalayak hmm"
Sifa melirik semuanya, dan menyerang Ilham kembali "Gara gara papa, gara gara papa. Dulu waktu mama masih produktif jangan hamil. Giliran mama sudah tua disuruh hamil" Bibir Ilham ditutup dengan telapak tangan Sifa "Jangan protes. Diaaamm"
Semuanya diam
"Sekarang, makan semuaaaaa"
"Ya Tuhan, mama kita kenapa ini" Ucap Hanan meminta pendapat pada saudara kembar lainnya
"Tidak apa apa, hanya papa yang tau obatnya" Celetuk Fariz
Yang lain hanya manggut manggut
__ADS_1
Ilham sudah memegang piring, tapi tidak diambil ambilkan nasi oleh Sifa
"Ma, lainnya sudah pada makan. Kok papa nggak sendiri. Piring papa masih kosong ma..."
"Kali ini papa puasa...." Sarkas Sifa
Sebenarnya Sifa kasihan dengan Ilham, tapi karena ingat ucapannya yang disuruh tes kehamilan, jadi Sifa belum terima. Sifa takut Ilham akan mencari wanita lain yang lebih muda.
Tangan Ilham menjulur ingin mengambil makanan
Plok
"Papa nggak boleh ambil"
"Terus papa makannya apa ma?" Ilham membalik balikkan piring yang masih kosong
Melirik Ilham yang belum makan sendiri, Sifa timbul kasihan
"Disuapi aja ya.. " Ucapan Sifa sudah mulai lembut
Ilham berbisik "Mama nggak malu ? Ntar diledek lagi, jangan serang papa loh. Papa sudah nggak kuat"
Sifa tersenyum, lalu geleng geleng, dan menyuapi Ilham "Biarin akkk"
Ilham membuka mulutnya, dan menerima suapan dari Sifa
"Maafin mama ya pa, mama tidak ingin papa mempunyai anak lagi dari siapapun"
"Heh? Mama cemburu hmm"
"Bukan cemburu, tapi takut aja papa ingin anak beneran dari mama. Mama mana bisa"
"Oh" Ilham merangkul Sifa. Tak Peduli dilihatin banyak orang. Ilham tidak mau Sifa marah gara gara dia
-
Setelah drama makan makan, akhirnya acara ngerumpi
Para ketiga kembarannya mulai keppo dengan Hanan
"Kak, senang nggak disana " Ucap Fariz masih dengan tempel tempel seperti tahunan tidak ketemu
Husayn menyingkirkan kepala Fariz yang sejak tadi nempel kayak prangko dipundak Hanan. Padahal waktu acara makan, mereka sudah merenggang "Aku kok kerasa keganggu kamu nempel nempel gitu Riz"
Tangan Fariz menyingkirkan tangan Husayn "Is biarin seperti ini. Kapan sih kita akan seperti ini. Istri sudah sibuk dengan istri istri kita. Anak, sudah ada yang ngemong. Lihat kak" Fariz menepuk nepuk pundak Hanan "Istrimu memang pandai mengasuh anak anak kita"
"Ahaha iya biarin. Dirumah kan cuma ada Imran"
Semuanya melihat Alana bermain main dengan anak anak mereka
"Berarti disana seneng dong, betah kan?" Fariz masih penasaran
"Ya betahlah. Makanya kapan kapan main kejawa. Kerumah sakitnya juga boleh. Ntar gantiin tugasku"
"Terus kakak mau apa?" Husayn ikutan ingin tau
"Bulan madu lagilah haha"
__ADS_1
BERSAMBUNG....