Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 59


__ADS_3

Anand sudah dibawa ke rumah sakit. Karena tidak ada pergerakan apapun, akhirnya Anand dimasukkan keruang ICU


Seminggu sudah Anand berada di ruang ICU, dan seminggu juga, kesehatan Anand tidak ada perubahan ataupun kemajuan


Xander sudah mulai resah. Ingin rasanya berucap pada pamannya, agar jangan meninggalkannya, tapi tidak mungkin.


Ilham dan Fariz saja sudah terlihat capek karena ikut menjaganya walau hanya seminggu


-


Pagi ini, Ilham ada panggilan mengenai pekerjaan. Sedangkan Fariz, juga tidak mungkin meninggalkan Firad bekerja sendirian yang sudah seminggu telah ia tinggalkan


Yang ada perusahaannya terbengkalai jika ia wakilkan kepada orang lain begitu lama


Akhirnya mereka berdua pulang ke Jakarta lagi


Setelah kepulangan Ilham dan Fariz ke Jakarta, beberapa jam kemudian, Fatih, Hanan, dan Husayn, akhirnya mereka datang berkunjung ke rumah sakit, dimana papinya dirawat disana


Mereka bertiga datang ke Magetan, tidak membawa pasangan, karena istri Fatih dan Husayn, semuanya bekerja dirumah sakit, yang tidak mudah untuk mengurus cuti


Berbeda lagi dengan istri Hanan. Meskipun Alana tidak bekerja, tetapi Hanan tidak mungkin membawa mereka semua


Alana dan Imran sudah satu paket. Jika Hanan ingin membawa Alana, Imranpun harus dibawa


Apalagi grandpanya jauh, tidak mungkin titip anak ke Jakarta.


Belum lagi perginya kerumah sakit umum, tidak mungkin membawa Imran. Daripada gagal semua, mending Alana tidak dibawa


-


Mereka sudah janjian dibandara, agar bisa berkunjung kerumah sakit bersamaan


Akhirnya, tidak menunggu lama, Fatih dan Husayn sudah melihat Hanan yang berjalan mendekati mereka, setelah pesawat yang mereka tumpangi, landing duluan dibanding pesawat yang ditumpangi Hanan


Mereka bertiga sudah menaiki mobil online yang sudah dipesan oleh Fatih


"Bapak Alfatih Putra Zayn" Wajah sang driver melongok keluar dari jendela mobilnya


"Iya saya pak" Jawab Fatih


Sang driver dibuat melongo seketika, ketika melihat tiga orang yang berwajah seiras


"Hai.." Fatih melambai lambaikan tangannya didepan driver tersebut


"Eh iya iya" Menjawab, tapi masih berwajah bingung


"Kenapa bengong. Bisa kami masuk sekarang?" Ucap Fatih yang mengetahui sang driver bingung menatap mereka bertiga berwajah identik


"Ah eh" Sang sopir masih terpesona melihat mereka bertiga, dengan paras yang sama, yang susah dibandingkan satu sama lainnya


Bukan kuper ataupun apa. Biasanya yang ia tau, kembar disini kebanyakan dua, bukan tiga


"Kami bertiga. Bisa masuk sekarang pak?" Fatih masih berdiri diluar, sambil merangkum adik adiknya

__ADS_1


"Ya ya pak, silahkan masuk" Ucapnya gugup


"Baiklah, sana kalian belakang, aku depan" Fatih membuka pintu depan, dan duduk disamping kemudi


Hanan membuka pintu belakang, tapi mempersilahkan Husayn untuk masuk duluan "Kamu duduk sana"


Setelah mereka bertiga masuk dan duduk dengan rapih, Fatih mulai membuka suara lagi setelah tadi berbincang bincang mengenai tujuan


"Oiya pak, masih jauhkah kita sampai kerumah sakit?"


"Paling setengah jam sampai pak"


"Oh"


Fatih menoleh kebelakang "Han, aku penasaran ingin main ketempatmu. Tapi kapan ya"


"Agendakan aja kak, kalian datanglah kerumah sakit, ntar gantiin aku"


"Enak aja, yang ada aku bingung" Sergah Husayn sambil mentonyor bahu Hanan


Ahaha


"Iyalah aku juga" Fatih membenahi duduknya, dan menggoda pak sopir "Ngobrol pak jangan diem"


"Saya mendengarkan saja seneng pak. Oh iya, saya penasaran sama kalian"


"Penasaran? Penasaran kenapa pak" Hanan duduknya agak maju karena ikut penasaran juga sama sang sopir


"Hehe kalau saya perhatikan, kalian kembar tiga ya" Ucap sang sopir


"Oh, banyak sekali, sampai empat kembarnya?" Drivernya heran "Kok tidak bareng empat sekaligus naik pesawatnya, biar bapak tambah bingung" Selorohnya membuat ketiga putra-putra Ilham ini tertawa lebar


"Kemarin kembaran kami satunya sudah datang kesini, tinggal kami yang baru datang"


"Eng maaf, apa ada saudara yang sakit disini? maaf lancang"


"Oh, tidak apa-apa. Iya, kami mengunjungi paman kami yang sakit" Jawab Hanan sambil menarik bahu Husayn "Dudukmu yang bener ah"


"Kalian berdua memperebutkan apa sih" Fatih kembali menoleh kebelakang


"Udah ah, ngobrol aja lanjutkan" Sloroh Husayn sambil bersedekap


"Hehe, senang ya pamannya. Keponakannya kompak. Beruntung betul orang tua kalian pak"


"Iya pak, kami belajar dari orang tua kami. Mereka mengajarkan kami untuk saling menyayangi, seperti mereka berdua yang ada dibelakang" Ujar Fatih gemas "Kayak kucing sama tikus. Tapi kalau tidak bertemu katanya kangen. Giliran bertemu berantem"


"Hahaha.. Memangnya bapak bapak muda ini dari mana, kok bareng. Seneng lihatnya, cakep cakep, baik baik. Bisa bisa, cewek cewek pada terkesima melihat kalian kumpul begini"


"Ahaha" Mereka bertiga tertawa lepas


"Aku dan kak Fatih, dari Jakarta pak. Dan kakak sebelahku, dari Semarang" Ucap Husayn yang sudah ditarik lagi oleh Hanan


"Ngobrol ngobrol aja sih, nggak usah nutupin. Gerah aku ngliatin"

__ADS_1


"Heh, belakang ribut amat sih. Ini efek nggak bawa istri ini. Jadinya nggak ada yang misahin"


"Haha biarin nggak pa-pa pak, saya suka. Oh, berarti kalian janjian. Senengnya bikin iri"


"Iri kenapa pak, kami kan nggak pamer apa-apa" Ucap Hanan sambil bersedekap


"Tampannya bikin cewek klepek-klepek"


"Ahaha... Sayangnya kami berempat sudah menikah semua pak, dan sudah mempunyai buntut semua" Ucap Husayn sambil tendang tendangan dengan Hanan


"Eh, kirain masih bujangan"


"Nggak pak, Alhamdulillah, kami sudah menikah semua" -Fatih


"Wah, patah hati dong"


Ahaha


-


Setelah beberapa menit, merekapun sudah sampai dirumah sakit, dimana Anand dirawat


"Kak, bagaimana kalau papi kita pindahkan ke Jakarta saja. Sepertinya alat alat disini ada yang kurang lengkap" Usul Fatih


"Ya kak benar, usul kak Fatih aku setuju" Ujar Husayn yang sepertinya, ada obat yang tidak pas untuk papinya


"Apa yang membuatmu setuju untuk memindahkan papi dari rumah sakit ini" Tanya Xander pada Husayn


"Obat" Jawabnya tegas "Tempatnya juga tidak senyaman di Jakarta. Itu usulku kak"


"Terus, usul kamu Hanan" Kini Hanan yang mendapat pertanyaan dari Xander


"Aku ngikut saja kak. Aku tidak bisa berpendapat karena aku tidak di Jakarta. Menurutku, Kak Fatih dan Husayn ada benarnya. Merekapun bisa diajak gantian jaga, karena mereka berdua bekerja dirumah sakit sana. Setidaknya, kakak tidak kesepihan. Dan bisa diajak gantian"


"Iya, kamu sekarang tidak tinggal di Jakarta. Eng, terus menurut pendapat bik Lis, gimana bik?" Sekarang giliran Lis yang menjadi obyek keempat pria dewasa didepannya


"Aku terserah kak Xander saja. Aku hanya ingin papih cepat sembuh" Jawabannya sambil mengusap air mata yang sudah tak tahan ia bendung kembali


Najwa memegang lengan Xander "Ba, kasih tau abang. Coba call abang, siapa tau abang bisa bantu"


Semuanya manggut - manggut setuju, kecuali Lis. Lis orang baru, jadi tidak faham pembicaraan mereka semua


Hassan yang dihubungi, ternyata sudah ada di Indonesia


Semalam pulang, katanya tuan Ahmed sakit, dan dilarikan dirumah sakit milik keluarganya


"Apa bang !!? daddy dibawa kerumah sakit. Memang daddy sakit apa bang ??" Najwa sudah tidak bisa membendung kesedihan


"...." Hassan


"Jantung" Tangis Najwa sudah pecah. Segeralah Xander memeluknya erat


"Sabar Anne"

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2