Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 6


__ADS_3

Hari ini Alana mengikuti bidan senior yang akan membantu persalinan normal


Alana sudah berdiri siap seperti teman lainnya. Dia memperhatikan cara memeriksa pembukaan dijalan bayi. Tadinya Alana tegar setegar baja. Begitu pembukaan penuh, dan siibu sudah mulai mengejan dengan arahan bidan senior.


"Stop dulu bu, ambil nafas yang banyak... Mengejan !!" Ucap bidan senior


Alana sudah melihat kepala bayi yang sudah terlihat dan mau keluar dari milik si ibu, Alana sudah mulai pusing dan ingin terjatuh


Prottt


Air kawah pecah, mengenai wajah Alana


Begitu bayi lahir, Alana menyingkir dan berlari menjauhi ruangan persalinan


Kembali Hanan melihat wanita yang baru sehari menjadi istrinya, sempoyongan sambil memegang perut dan kepala


Hanan mengikuti dari belakang, begitu dekat, Hanan membungkuk "Alana "


Alana langsung geleng geleng seperti minta pertolongan


Hanan memegang lengan Alana "Ayo ayo keruanganku. Bisa jalan ?"


Alana mengangguk dan berlari diikuti Hanan yang berjalan dengan kaki lebar


"Huweekk huweekk" Alana kembali masuk ketoilet diruangan Hanan


Hanan mendekat dan memijat tengkuk Alana. Alana mengangkat tangannya, bertanda suruh berhenti jangan memijat lagi


Hanan menurunkan tangannya, kemudian Hanan biarkan Alana mencuci muka biar segar


Hanan kembali menyodorkan tissue "Tissue"


Alana menyambutnya dengan boxnya sekaligus. Alana terduduk dilantai sambil memegang perutnya. Alana membayangkan bayi yang keluar. Badan Alana merinding lagi, dan sedikit bergetar


"Ingin muntah lagi? " Tanya Hanan


"Nggak tau"


"Duduklah diatas, jangan dilantai nanti tambah masuk angin"


Hanan menggiringnya kekursinya "Duduk" Hanan memperhatikan wajah pucat Alana "Minumlah. Tapi sudah tidak hangat. Mau?"


Alana mengangguk. Alana meminum air teh sisa minum Hanan. Entah sadar atau tidak, Alana meminumnya hingga tandas


Hanan duduk dipojok mejanya, menghadap kearah Alana "Sudah baikan?" Hanan mengambil gelas kosong yang ada ditangan Alana, dan menaruhnya dimeja tempat semula


"Nggak tau"


"Mau tidur?" Tanya Hanan


Alana geleng geleng


Hanan menghela nafas, Bidan senior Nurwati pasti mencari Alana yang menghilang. Hanan menghubungi Nurwati, bahwa dirinya membutuhkan tenaga gratisan seperti Alana. Setelah memberi tau kepada bidan tersebut, Hanan menutup sambungannya


Hanan pusing "Baiklah, tadi kamu kenapa? melihat apa?"


Alana menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya "Ngiluh" Kembali badan Alana bergetar merinding, seperti melihat ulat berambut gondrong


"Apanya yang ngilu?"


"Kakak jangan tanya terus" Alana memijat pelipisnya Dan terus memegang perutnya


"Baiklah, baiklah. Katakan dengan jujur. Ini menyangkut nilai kamu. Kalau nilaimu jeblok, kamu tidak lulus bagaimana? kamu mau mengulang?"


Alana menggeleng "Tidak"


"Nah, tadi kamu lihat apa?"


"Bayi yang keluar dari anunya siibu" Alana memandang Hanan ingin menangis


Hanan ingin ngakak melihat ekspresi Alana

__ADS_1


"Terus"


"Aku yang sakit"


"Sakit apanya?"


"Anunya" Alana langsung menjatuhkan kepalanya diatas meja dan memukul mukul meja


Hanan tambah tertawa tapi tidak berbunyi, sampai airmatanya mengalir gara gara tingkah bocah yang salah ambil jurusan


"Kalau diteruskan, bocah tengil ini bisa stres tiap hari dicekokin darah ibu melahirkan "


Alana mendongak "Kakak, aku harus bagaimana ?" Alana lupa kalau dirinya sebenarnya musuhan dengan Hanan. Tapi kali ini, ia ingin berdamai


Hanan belum menjawab keluhan Alana. Hanan fokus sama dahi Alana yang ada bercak darah


Tangan Hanan menjulur menyentuh dahi Alana


Alana langsung mengibaskan tangan Hanan "Kakak mau apa pegang pegang"


"Bentar, ini apa!?" Hanan dengan cermat mengamati, lalu mengambil tisu. Tapi tangan Alana ingin mengusap asal


"Tunggu dulu" Tangan Hanan segera menahan tangan Alana. Hanan mengusap bercak darah yang ada didahi Alana "Ini" Tunjuk Hanan pada tissue yang barusan untuk mengelap


Alana melihat "Iya darah" Alana berlari lagi ketoilet


Alana keluar lagi dengan wajah yang basah "Sudah bersihkan?"


Hanan memeriksa kembali "Sebentar" Hanan mengambil tissue lagi, lalu mengelap rambut Alana. Hanan membuka tissue dari genggaman, yang tadi buat mengelap rambut Alana "Merah lagi. Tadi kamu itu berdirinya dimana? sampai darah sampai kerambut segala"


"Didepan ibu yang akan melahirkan" Jawab Alana


"Pas, depannya?"


"He emz"


"Pantesan kamu seperti bayi yang dilahirkan ibu tadi dong jadinya"


"Kenapa bingung" Tanya Hanan


"Enggak, maksudnya aku enggak faham tadi kakak ngomong apa?"


"Kalau nggak faham, sebaiknya kita makan siang dulu"


"Baiklah" Alana beranjak, akan keluar.


"Eh eh, mau kemana?" Tangan Hanan menjulur diudara


"Mau makan bersama Olivia"


"Kita makan bareng. Imran ada direstoran"


Alana girang "Oh iya" Alana berbalik mendekati Hanan "Ayo tunggu apa lagi kak"


Hanan melepas jas putihnya, lalu menaruhnya dikapstok belakang pintu kamarnya "Jasmu juga lepas, taruh sana" Hanan menunjuk kamar dengan dagunya


Alana nurut "Taruh dimana tadi kak"


"Dikamar saja. Itu ada hanger kosong"


"Disini aja ya kak?" Alana menaruhnya disenderan kursi milik Hanan


"Jangan keras kepala Alana... Takut hilang"


"Memang siapa yang mengambil"


"Ya perawat gadungan. Bisa aja kan? Sudah, taruh dikapstok sana. Kamarnya biar aku kunci"


Alana baru nurut


Hanan mengunci kamarnya, setelah menengok kesamping "Hah, kemana bocah tengil tadi"

__ADS_1


Hanan keluar sambil menekuk kemejanya hingga kesiku, lalu celingak celinguk


Hanan melihat Alana sudah nampak kecil karena sudah diujung koridor


Hanan geleng geleng


-


Diparkiran


Alana sudah mainan kuku tangannya sambil bersender dibody mobil Hanan


Quik quik


Alarm mobil Hanan berbunyi, karena Hanan memencet tombol alarm dikontaknya


Alana menjauhi mobilnya. Bertanda, Hanan sudah sampai


Hanan membuka pintu mobil untuk Alana, dan Hanan memutari mobil dari depan, menuju kemudi


"Kakak, kalau orang lain tau kita sering semobil bareng bagaimana?" Alana terus memainkan kuku tangannya seakan takut sesuatu terjadi


"Ya tidak kenapa napa, memangnya kenapa?"


"Kalau ketahuan"


"Ya ngaku saja, mau gimana. Sudah terlanjur ini"


-


Mereka sudah sampai diparkiran restoran.


Alana keluar dari mobil, setelah Hanan membukakan pintu dari dalam


Alana berdiri menunggu Hanan. Setelah Hanan turun dari mobil "Ayo"


Hanan berjalan menuju ruangan Sifa


"Kakak kok kesini. Memang Imran dimana?"


"Diatas"


"Oh"


Mereka sudah menaiki tangga.


Tok tok tok


Hanan mengetuk pintu, sekaligus membuka pintu tersebut


Hanan menyuruh Alana untuk kedepan "Sini"


Alana sudah berdiri di depan Hanan


"Jangan ditengah pintu, pamali" Sifa melewati mereka berdua, sambil menggendong Imran


"Imran" Sapa Alana


Imran langsung girang, tangannya menyaut nyaut ingin digendong Alana


"Ayo ikut yuk. Sini in mama Sifa"


sifa menyerahkan Imran pada Alana. Begitu melihat Alana beneran, Imran nempel terus sama Alana.


Ingin makan saja, Alana kesusahan. Karena Imran nangis kejer


"Iya ya yuk, mau bobok ya... "


Alana segera menerima botol yang sudah diisi susu boleh baby sitternya


Alana merebahkan tubuhnya dan juga Imran. Tak menunggu lama, Alana tertidur bersama Imran

__ADS_1


BERSAMBUNG.....


__ADS_2