Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 48


__ADS_3

Alana sudah dibawah kerumah sakit, dimana suaminya berada disana


Para warga disini sudah kenal dengan dokter Hanan, karena Hanan sering ikut rembuk dibalai desa, tempat mereka tinggal didesa sekarang


Alana dibawa kerumah sakit oleh para warga


Teriakan para warga yang membawa Alana, membuat Hanan keluar dari ruang pemeriksaan


Hanan berjalan cepat mendekati kerumunan warga "Ada apa??" Kebingungan Hanan belum terjawab, tiba tiba teriakan Imran menggema


"Daddyyyyy.... Bunda jatuh" Tangan Imran mengulur minta digendong papanya


Hanan segera meraih tangan Imran, dan menggendongnya


Begitu ngeh, bunda jatuh, Hanan yang sudah mengangkat Imran, buru buru iapun mengembalikan Imran kembali kepada Rasti


Hanan melihat Alana berdiri dipapah oleh beberapa orang, dengan baju Alana yang kotor, Hanan langsung mendekat "Kenapa kamu bund?" Tanyanya meraba raba badan Alana


"Jatuh" Alana sudah mewek


"Jatuh, jatuh dimana?" Hanan sudah membopong Alana untuk masuk keruang observasi "Para warga tunggu sebentar ya, bik, mbak, ikutin saya"


"Baik tuan" Ucap Rasti Dan Surti bersamaan


-


Diruang Observasi


"Ya Allah, tolong tolong istri saya sus" Teriak Hanan tergesa gesa sambil menaruh Alana dibed pemeriksaan "Bik, bawa ganti ibu?" Tanya Hanan pada mereka berdua, yaitu Rasti dan Surti


"Bawa tuan"


"Ini kotor semua, kok bisa kotor semua. Memangnya kamu jatuh dimana?" Hanan menggeser kaki Alana


"Kakak sakitttt" Jeritnya ketika Hanan memegang kaki kanan Alana


Para suster sudah mendekat "Sus, tolong periksa istri saya, semuanya" Hanan berkata semuanya, menunjuk kepala Alana, sampai kekaki Alana "Kandungannya juga. Dan sekalian, bajunya diganti ya bik" Hanan menoleh pada bik Surti "Nanti akan saya cek, setelah pasienku yang antri beres dulu"


Para suster mengangguk


"Saya mau kesana dulu. Menghabiskan antrian pasien" Pamitnya terlihat panik


-


Sebelum Hanan masuk keruang pemeriksaan, Hanan mendekati ke kerumunan warga terlebih dahulu


Hanan berterimakasih dan memberi uang bensin untuk warga yang berbaik hati menolong istrinya untuk membawanya kemari


Setelah warga kembali pulang, dan beres berurusan dengan warga, Hanan kembali masuk keruang pemeriksaan untuk membereskan para pasien yang sudah antri


Pikiran Hanan sedikit kacau, untung masih bisa bekerja memeriksa pasien dengan baik. Hanya saja, biasanya ada basa basi memberi nasehat, kali ini langsung memberi inti saja, tidak banyak memberi wejangan


Hanan masuk keruang observasi "Bagaimana keadaannya?" Tanyanya pada suster penjaga


"Sepertinya, kakinya terkilir dok. Itu sedikit bengkak" Jawab Suster Susilowati


"Lainnya tidak apa apa? "


"Tidak dok, paling lecet sedikit tangan dan kakinya"


"Oh ya sudah, terima kasih ya Sus. Sekalian saya cek aja keruangan saya"


Suster mengangguk, dan keluar dari ruangan Alana


Pandangan Hanan sudah tidak ramah "Bisa berjalan?" Tanyanya pada Alana


Alana geleng geleng takut


"Nggak usah sok takut sama aku" Kesalnya sampai keubun ubun. Hanan memberi punggung pada Alana "Kalungkan tanganmu"


Alana menuruti titah Hanan

__ADS_1


Hanan segera menggendong Alana, menuju ruang pemeriksaan tempatnya praktik


Diperjalanan antara ruang observasi dan ruang pemeriksaan, melewati orang orang yang sedang mengantri, untuk menebus resep obat obatan


Hanan menjadi sorotan banyak orang.


Orang orang yang tadinya duduk mengantri sambil menonton televisi, yang tersedia didalam ruangan ini, mendadak memperhatikan seorang dokter yang sangat mereka kenal, menggendong seorang wanita, yang sama sekali tidak mereka kenal


"Eh yah, pak dokter gendong siapa tu ?" Tanya seorang Istri pada suaminya


"Entah, istrinya kali"


"Ah nggak mungkin, sepertinya dokter Hanan masih terlihat bujangan yah"


"Itu kan sepertinya, menurut Ayah sih sudah"


"Ah, masa sih yah"


"Kenapa kamu ?"


"Ah enggak yah, kaget aja nggak undang undang kita hehe" Pedenya, padahal hatinya sedikit tak terima


Pasien lain yang terlihat kecewa


"Mas, itu dokter Hanan kan? Menggendong siapa?" Ucapnya pada suaminya


"Pasiennya kali"


"Masa gitu amat. Kelihatannya kalau periksa aku nggak gitu gitu amat"


"Nggak gitu bagaimana?"


"Ya jaim lah mas. Pegang perut aja kan enggak. Itu kenapa sampai nempel semua"


"Kamu cemburu atau bagaimana sih" Sisuami sedikit emosi, melihat istrinya komentar terus tentang dokter yang selalu memeriksanya


"Ih mas... Jangan cemburu gitu dong... Aku kan cuma nggak percaya aja, dan penasaran gitu hehe"


-


Alana menuruti ucapan Hanan tanpa protes


Alana diturunkan dibed "Rebahkan badannya, bisa?"


Alana tidak berani menjawab, dia mengikuti apa yang Hanan kata


Alana menggeser badannya sambil cengar cengir kesakitan. Tapi Hanan tidak ingin membantunya


Hanan mulai mengolesi gel pada perut Alana, tanpa bantuan suster. Tadi suster sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi Hanan menolak


Hanan mulai fokus pada layar komputer. Tangan Hanan sudah bertumpuh pada paha Alana, untuk memeriksa perut Alana untuk di USG


Setelah selesai, dan hasilnya baik baik saja, Hanan sudah merasa lega.


Hanan berdiri dan membenahi baju Alana yang tadi tersingkap. Hanan memperhatikan kaki kanan Alana yang tidak digerak gerakkan dari tadi


Hanan memegang dan sedikit memencet kaki Alana


"Akkkk sakit" Erangnya sudah berkaca kaca


"Yang mana yang sakit lagi" Ucapnya serius tanpa ramah secuilpun


"Kaki doang"


Hanan terdiam sesaat, dia menghubungi seseorang, untuk membawakan minyak urut dan deker lilit untuk penyangga kaki kesleo


Setelah seseorang membawakan pesanan Hanan, Hanan segera mengurut kaki Alana


Alana menjerit jerit kesakitan


"Diam!! suruh siapa selalu membangkang. Kalau suami ngomong jangan, itu jangan. Bukan melanggarnya. Faham !!"

__ADS_1


Alana manggut manggut sambil berderai


Setelah selesai mengurut kaki Alana, Hanan memasang deker lilit penyangga kaki kesleo, agar Alana tidak sakit jika berjalan


Hanan terlihat kesal sekali dengan Alana


"Kakak mau tanya, jawab dengan jujur. Kamu jatuhnya Dimana?" Tanya Hanan serius


"Didepan rumah"


"Rumahnya siapa !"


"Orang"


"Orangnya siapa?! "


"Nggak tau...."


"Kok nggak tau. Kamu perginya kemana? ke pak RT?? beneran kamu kontrol sowang"


Alana diam, mulutnya sudah ingin mewek dan nyesek rasanya dibentak oleh Hanan


"Tadi pagi kakak bilang apa?! Hah, ingat nggak??! "


Tangis Alana sudah mau pecah


"Nggak usah nangis. Langgar aja kalau dikasih ngerti"


"Kakak cukup hwawa" Alana menangis diatas bed


Hanan sengaja duduk menjauhinya "Coba turun, bisa nggak"


"Sakit kak" Ucapnya sambil mewek


"Usaha dong"


Hanan terdiam lama dikursinya, dan Alana juga terdiam dibed


Beberapa menit diam diaman, kepala Alana mulai merasakan pusing, dan perutnya juga tak kalah terasa diaduk aduk


Hanan tidak peduli, ia sibuk dengan kerjaannya yang ada ruangan itu


Tangan Alana sudah menutupi mulutnya karena tidak tahan ingin muntah. Alana turun, dan berjalan dengan satu kaki atau ingkling.


Hanan yang melihat Alana nekat ingkling, iapun segera menghampiri


"Hati hati..." Hanan berjalan cepat meraih Alana


Hoeeekkk hooeekk


Hanan sedikit iba, bagaimanapun ada darahnya yang ada dirahim Alana


Hanan mulai memijat tengkuk Alana


Setelah Alana selesai menguras isi perut, Hanan membopong Alana kembali ke bed "Mau pulang, apa mau disini ?"


"Pulang" Alana menghapus air matanya dengan punggung tangannya seperti anak kecil


Hanan mengambil tissue, lalu mengelap wajah Alana yang basah karena air barusan, dan disudut mata juga ada air mata yang siap pecah


"Baiklah, nanti pulang diantar pak Sholeh"


"Nanti jalanku"


"Ya jalan sendiri"


"Kaaaak"


"Tidak ada protes"


Alana menatap Hanan, ingin dikasihani. Tapi sepertinya tidak digubris oleh Hanan "Iya, aku ingin pulang, sekarang"

__ADS_1


BERSAMBUNG......


__ADS_2