Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 69


__ADS_3

Mereka berdua sudah memasuki rumah sakit miliknya


Hanan sengaja membawa Alana kelantai dua, dimana ruang pribadinya sudah jadi.


Seperti halnya apartemen


Diruangan ini, dibuat seperti rumah singgah kedua, setelah rumah pribadinya diperkampungan yang masih asri udaranya


Disana ada beberapa kamar, untuk jaga-jaga bila papanya datang seperti sekarang


Tempat ini dibuat sengaja untuk pertemuan dengan tamu atau keluarganya, yang datang kerumah sakit ini, jika ingin berkunjung kemari


Hanan membukakan pintu untuk Alana


Tiba-tiba bocah tampan berpipi bulat, berteriak dari dalam


"Bundaaaaa.... " Imran turun dari pangkuan Rasti, dan berlari menubruk Alana


"Imran.... " Alana terkejut. Ternyata, Ilham membawa Rasti dan Imran datang kemari pagi-pagi sekali


Alana merentangkan tangan menyambut tubuh gembul Imran


Imran memeluk Alana dan menciumi perut Alana


Hanan menahan tangan Imran "Sayang... Jangan gemas begitu.. Ntar dedeknya nangis bagaimana? "


"Nangis??"


"Iya nangis, kan kegencet"


"Coba lihat dad. Imlan ingin lihat" Imran membuka daster Alana, dan masuk kedalam


"Ehehe" Alana langsung melindungi roknya yang sudah ada Imran didalan rok "Geliiii"


Imran menciumnya gemas membuat Alana kegelian sampai keubun-ubun


Hanan langsung mengangkat Imran dari dalam rok Alana. Alana sudah memerah menahan geli dan malu. Pasalnya, yang dicium bukan perutnya melainkan sekenanya yaitu bawah puser


Untung Alana memakai Legging. Jika tidak, terlihatlah paha Alana karena Imran membuka rok miliknya


Imran menangis kejer "Imlan ingin tengok dedek bayi dad.. Hwaaaaaaawawa"


"Dedeknya lagi bobo, ntar kaget terus nangis gimana. Kak Imran nggak boleh nakal, ya?" Hanan berusaha menbujuk Imran


"Tapi Imlan ingin menggendong dad, ingin lihat" Tangisnya masih pecah


"Ah... Mau nggak, kakak Imran lihat dede bayi yang banyak?" Hanan baru menemukan ide


Imran sedikit berfikir, tapi langsung bersedia "Mau, mau, mau. Mana dad. Imlan ingin lihat"


"Mbak, tolong ajak kak Imran turun ke ruangan bayi. Biasanya, bayi-bayi yang baru lahir, jam segini masih dijemur" Hanan memberikan Imran pada Rasti


Rasti menerima Imran kembali "Oh, itu suara bayi yang jerit-jerit ya tuan ?" Tanya Rasti


"Iya, ajak kesana"


Setelah urusannya beres dengan Imran, Hanan menyambut tamu yang tak lain dan tak bukan adalah bik Lis, dan kedua orang tuanya


Mereka saling berpelukan


Setelah menanyakan kabar kedua orang tuanya, Hananpun menanyakan kabar bik Lis


"Apa kabar bik?" Tanya Hanan, sambil mengabsen tubuh Lis yang terlihat kurus


"Alhamdulillah baik"


"Bibik sehat ??"

__ADS_1


"Sehat"


Mereka berbincang-bincang hangat layaknya keluarga


"Bik, bibik tinggal disini saja bersama Alana. Hawa dan Fariz masih tinggal disana kan ?" Maksud Hanan rumahnya papi


"Masih, tapi terkadang kerepotan karena sikembar sudah sekolah PAUD, jadi bolak -balik kasihan"


"Oh, sekolahnya di Tangerang ? Jadi susah ya kejauhan"


"Iya"


-


Pagi berikutnya, dihari minggu.


Ilham dan Sifa sudah pulang ke Jakarta, sedangkan Lis, tetap tinggal dirumah Hanan


Semalam Hanan mencoba merayu, dibantu Sifa, Alana, dan juga Ilham. Akhirnya, dengan rayuan seluruh keluarganya, Lis bersedia tinggal disini


Pagi ini, mereka berlima yaitu Hanan, Imran, Rasti, dan kedua ibu hamil yaitu Alana dan Lis, mereka berjalan pagi mencari udara yang segar


Sapaan dari tetangga begitu hangat, membuat Lis betah tinggal disini


"Pagi pak dokter, bu Hanan" Sapa seorang tetangga. Lalu, si tetangga menyapa lainnya dengan senyum dan mengendikkan kepalanya


Tiba-tiba


"Daddy, Buhanan siapa dad ?" Tanya Imran yang baru mendengar nama bu Hanan


"Buhanan?? Buhanan??? "Hanan berfikir keras


"Aku mas" Saut Alana


"Oh" Hanan baru ngeh "Eng, Imran tau nggak, daddy namanya siapa?"


"Hanan siapa?"


"Hanan doktel ah Zaiiiinn"


"Hadewww, nama papanya aja nggak jelas nyebutnya. Diajarin bund. Mau punya adek kok... " Belum juga selesai bicara, Imran sudah sibuk ingin tau


"Daddy, daddy... Buhanan siapa?" Desaknya


"Oh, itu panggilan untuk bunda" Jelas Hanan


"Oh, jadi Imran panggil bunda, bunda Buhanan?"


"BUKAN!!" jawab semua orang


"Bukan??" Mata Imran sudah memerah


"Imran tau nama bunda ?" Tanya Hanan lagi


"Tau, bunda Alana"


"Itu pinter. Giliran nyebut nama papanya aja, nggak jelas" Kesal Hanan


"Daddy!!!"


"Apa??"


"Buhanan siapa?"


"Oh, Buhanan itu bunda. Tapi, Imran tidak boleh menyapa bunda, dengan sebutan Buhanan. Itu biar orang lain saja yang sebut" Jelas Hanan, yang sudah tidak mau menjelaskan lagi "Ah ribet amat itu orang menyapa. Aku kan yang pusing" Gerutu Hanan, yang ditertawakan oleh Alana


"Oh tak boleh ya dad ?"

__ADS_1


"Iya tak boleh"


"Kenapa tak boleh dad?"


"Hadeeeww, kirain sih sudah klir. Eh, ternyata masih ada yang ingin kau tanyakan"


"Anak kecil kalau tanya harus di jelaskan loh dad" Selah Alana yang sudah menahan senyum karena suaminya tidak bisa menjawab pertanyaan putranya


"Ya udah bunda aja yang jelasin" Kesal Hanan


"Ih, orang Imran maunya daddy yang jelasin"


"Sudah jelasin kamu. Mas mau lari sampai kedepan"


Akhirnya Hanan kabur berlari dengan bapak-bapak yang lain


-


Dua bulan kemudian


Usia kehamilan Alana sudah menginjak ke usia tujuh bulan. Itu artinya, usia kehamilan Lis, sudah memasuki HPL


Dua bulan sudah Lis tinggal disini. Dan sesekali, Xander dan Najwa menanyakan kabar tentang kesehatannya


Masalah materi, Lis memang selalu dapat tunjangan dari separuh gaji Anand. Tapi yang menjadi pertanyaan, sebenarnya Lis lebih berharap, Anand masih berada disisihnya


Sore itu, di waktu hujan rintik-rintik


Lis duduk diteras sendirian sambil melamun seperti menunggu seseorang


Alana segera mendekati dan bertanya "Bibik, bibik kok melamun sendirian. Diluar hujan, anginnya kenceng bik, yuk masuk"


Lis terlihat sudah berkaca-kaca


Alana memperhatikan netra Lis yang menatap pasangan suami istri yang kebetulan lewat jalan depan rumahnya


Mungkin, bik Lis melihat ibu-ibu hamil seperti dirinya, tapi disisihnya ada seorang pria yang melindungi istrinya dari terpaan air hujan.


Lis masih terdiam


"Bik, yuk masuk" Alana terus membujuknya


Setelah Lis masuk, Alana lebih memilih tidur-tiduran dikamar Lis, sambil menunggu Hanan pulang kerumah.


Alana, Imran, Rasti, dan bik Surti, semuanya kumpul dikamar Lis


Malam ini, Alana sengaja berkumpul disini biar hangat. Pokoknya, Alana tidak mau Lis terlihat sedih


"Bik, pokoknya, mulai malam ini, bik Surti tidur disini, mbak Rasti juga iya, kalau mau. Jangan sampai bik Lis sendirian" Ucap Alana yang menginginkan bik Lisnya itu betah tinggal disini "Kalau perlu, akupun iya. Ingin tidur disini biar rame"


Lis tersenyum "Terus pak dokter tidur sama siapa?"


"Eh, iya ya bik lupa. Bik Lis memikirkan itu rupanya. Haha habis disini kumpul jadi rame, seneng tau bik"


Lis ikut merasa senang. Tidak ada Hawa, Alanapun bisa membuat Lis tidak terlalu berlarut dengan meratapi kesedihan


Sekarang saja Lis jarang berbicara. Sudah orangnya memang pendiam, ditambah orang yang ia sayang sudah tiada


Lis juga sering mengalami kram pada perutnya, jika bukan keluarga yang menemani, siapa yang akan membantunya mengurangi beban.


Alana saja, yang tidak mengalami kram ataupun penyakit serius lainnya, kalau tidur, harus bermanja. Minta diusap punggunglah ataupun perut.


Jika tidak, Alana tidak bakalan bisa tidur, apalagi Lis. Begitulah benak Alana


Alana memang beruntung, mempunyai suami pengertian, keluarga yang sayang. Sedangkan Lis, dia punya siapa.


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2