
Hanan sudah memberikan bayi pertamanya kepada dokter anak, karena perut Alana kembali mulas
"Massss"
"Tarik nafas, ingat tarik nafas sayang...." Titah Hanna berulang-ulang
"Mau keluar sendiri, massssssss sakiiiitttttttt"
Oeeeekkk
"Alhamdulillah" Diucap bersamaan
"Huh huh huh" Alana hampir kehabisan nafas
"Cewek lagi sayang" Ucap Hanna yang akan memberikan bayinya kepada Hanan, namun gagal ia kasihkan, karena melihat Alana sudah terlihat lemah dan kekurangan oksigen
Dengan buru-buru, Hanna segera menaruh bayi terakhir diatas perut Alana, agar dirinya bisa memotong tali pusarnya dengan mudah
"Tolong.. Pasang oksigen, pasang oksigen" Ujar Hanna menyuruh siapapun yang dekat dengan wajah Alana
Hanan ingin membantu memasangkan alat bantu pernapasan tersebut, namun terlihat gemetaran dan akhirnya dipasangkan oleh perawat yang ikut membantu disana
Otak Hanan berubah tumpul, ketika melihat Alana antara hidup dan mati. Tetapi, dirinya tidak bisa berbuat apa-apa
Setelah respirator atau alat bantu yang membawa oksigen keparu-paru sudah dipasang dihidung Alana, nafas Alana berangsur kembali teratur
Hanna menyerahkan gunting pada Hanan
"Buat apa"
"Ck, bapak model apa kamu. Nangis doang" Ejek Hanna bercanda
Iya, Hanan sudah tidak sanggup acara pemotongan tali pusar yang masih menjulur pada plasenta. Ia sudah menangis dan memeluk Alana erat
-
Kelahiran seorang anak, merupakan berkah utama bagi setiap pasangan. Terutama bagi grandpa dan grandmanya yang berkeinginan memiliki cucu yang banyak
Ya, Sifa gembira sekali mendengar kabar, jika hari ini, Alana melahirkan anak kembar, dua gadis kecil sekaligus
Ilham dan Sifa sudah bertolak menuju Semarang bersama pasangan Fariz dan Hawa
Fariz dan Hawa tidak tega, jika kedua orangtua nya harus terbang berduaan tanpa anak yang mendampingi. Lagipula, pekerjaan Hawa dan Fariz tidak bergantung pada orang lain. Jadi bebas
Beruntung Sifa dan Ilham. Masih ada anak yang peduli dengan mereka
"Wah selamat ya Alana" Hawa memeluk Alana, setelah pasangan Ilham dan Sifa sudah memeluk dan mencium sayang pada menantunya
Hawa berdiri, lalu menoleh kearah Hanan "Sekarang tinggal memikirkan dua nama bayi. Kira-kira namanya siapa bang, boleh nggak aku nyumbang nama buat anakmu bang"
"Apa coba" Jawab Hanan
"Jangan Adam. Cewek dia" Celetuk Fariz yang teringat masa dulu, waktu Hawa ingin berjodoh dengan orang yang bernama Adam
"Kumat" Jawabnya tidak suka karena Fariz selalu memutar film lama
"Siapa tau, kamu kan gemar banget ngumpulin nama orang yang bernama Adam. Kalau namanya bukan Adam, kamu nggak bakal mau berteman"
"Siapa lagi, kapan"
"Itu Adam Levina. Levina yang aku tau kan cewek. Kenapa dikasih nama Adam depannya"
Hawa mulai cengar-cengir "Ya suka-suka aku bang"
"Kalian ngomongin apa sih, kok berantem sendiri" Hanan membawa bayi yang barusan diantarkan oleh dua orang perawat, dan satu dokter
Hanna sudah cipika-cipiki dengan keluarga ini "Papa, mama Sifa, semua.. Aku tidak bisa menemani kalian terlalu lama. Karena pasien dibawah, sudah banyak yang antri" Pamitnya
"Oh, ya ya, terima kasih ya nak, sudah bantuin. Kamu memang hebat" Ucap Ilham menepuk-nepuk lengan Hanna
"Sama-sama pa, menantu dan anak papa juga hebat" Ucapnya tersenyum dan berlalu
Setelah kepergian Hanna dan kedua rekan kerjanya, keluarga ini kembali gaduh
__ADS_1
"Wih cantik.... Wajahnya kayak boneka" Hawa menoleh kearah Fariz "Jadi pengen bang"
"Hus ah, ngawur"
Semua orang menoleh pada Hawa
"Nggak pa, ma. Aku nggak akan adopsi paksa bayinya Alana. Aku hanya mintanya sama abang" Hawa memegang lengan Fariz "Ya bang?"
"Sudah ah diem. Ada mama papa kok brisik"
"Hihi suka banget aku ngerjain si abang" Hawa terkekeh
"Tadi katanya kamu mau nyumbang nama. Mana namanya" Sifa menodong nama pada Hawa
"Eng, Nuha Omaimah dan Nura Omaimah"
"Apa tuh artinya" Diucap bersamaan
"Nuha artinya kemampuan berpikir atau kecerdasan. Sedangkan Nura, artinya terang dan bercahaya. Omai, artinya baik dan penyayang. Bagaimana, cantik kan"
Hanan manggut-manggut "Kalau mama atau papa, kira-kira mau ngasih nama siapa ma, pa"
"Mama aja. Dia udah nyatet, nama-nama bayi sampai pusing" Ilham menyerahkan soal nama pada Sifa. Dia lebih baik memegang cucu yang baru lahir
"Ish, papa begitu. Buka kartu disini"
"Udah ma, kami sudah tau kartunya mama" Ujar Fariz dan Hanan
"Ah kalian. Kalau mama sukanya nama, Narina Aqeela dan Nadia Aqeela"
"Apa tuh artinya ma" Hanan
"Narina artinya cemerlang dan bersinar. Sedangkan Nadia, artinya mempunyai wawasan yang luas"
"Dan Aqeela, artinya cerdas. Hayo, tinggal pilih, sudah ada dua nama. Dari mama, dan Hawa" Ilham mulai mengangkat bayi yang pertama
"Baiklah, kalau gitu, gadisku yang dipegang papa, aku kasih nama Narina Jasmine. Dan, gadis yang dipegang Hawa, Nazira Jasmine" Hanan menatap Alana "Kau setuju sayang?"
"Baguslah. Narina artinya segar seperti bunga delima, dan Nazira artinya kecantikan yang pancarannya terlihat di wajah. Sedangkan Jasmine, mama yang paling tau"
"Loh, mama lagi" Sifa
"Jasmine artinya bunga melati yang harum, Cup" Ilham memeluk Sifa dan mencium pucuk kepalanya "Kayak mama, selalu harum dihati papa haha"
Ahaha
-
Hawa sudah membongkar seluruh makanan untuk Alana
"Alana, meskipun suamiku bukan seorang dokter. Tapi aku tau kalau Ibu yang baru melahirkan, perlu mencerahkan perasaan dan pikirannya agar bisa menjalani hari-hari bersama anak dengan penuh keceriaan"
"Maksudnya?"
"Ini bang, aku sengaja selipkan dark chocolate yang lezat dan bisa bikin pikiran relaks. Nih Alana, aku bawakan banyak. Biar kau selalu ceria. Kita itu ibu senasib, yang pernah melahirkan bayi kembar. Jadi, alangkah senangnya jika kita bisa ngobrol-ngobrol dengan orang senasib, haha"
Fariz hanya terdiam, biarlah burung beonya berkicau
"Ntar ya, kalau kau sudah pulang kandang, undang deh teman-teman se-gank, atau teman kantor ke rumah, untuk menemanimu makan siang bersama" Hawa
"Dan masak bersama sekalian" Sifa
"Ah boleh deh, biar kacau sekalian" Hawa
"Hus" Fariz
"Itu kesukaannya Alana bang. Nggak usah has hus has hus kenapa sih"
"Sudah. Dimanapun kamu pasti ribut" Fariz
"Diam bang ! Aku sedang ceramah"
__ADS_1
Semuanya ingin ngakak mendengar Hawa seperti tukang obat keliling
"Dan jangan lupa, mengorek dan gosip in atau kisah seru antar teman. Huh, seru tuh"
"Itu ghibah, nggak boleh Hawa" Sifa
"Tenang ma, ini hanya lucu-lucuan biar seru"
"Seru tapi buat dosa. Jangan ah, kamu provokator banget" Hanan
"Ya udah, olahraga"
"Olaraga apa, orang baru melahirkan kok olahraga" Hanan
"Ya kan sehat bang. ada bowling, basket, aerobik, tennis atau treadmill di rumah, dan joging di kompleks, hayo bagus kan"
"Itu kalau bayi sudah berumur 3 bulan Hawa"
Gung
Hanan memukul kepala Hawa dengan kepalan
"Aduh, Alana lahiran normal kan bang. Boleh ah. Biar badan dan payu dara Alana jadi lebih berisi dan seksi tau bang"
Hanan ingin protes, tapi kalah cepat dengan Hawa
"Satu lagi. Maknai tiap detik bersama bayimu. Jangan mengeluh jika mereka rewel, sulit tidur, dan lain sebagaimana. Coba dengarkan tangisnya. Siapa tahu kamu bisa mendengar suara kalbu anak kembarmu, betul nggak. Jadi, kamu paham apa yang diinginkannya"
"Terus, kalau anak sulit tidur gimana?" Hanan
"Bila dia sulit tidur, ajak bermain-main sebentar. Ntar lelah sendiri, tidur pulas dia. Nah, satu lagi"
"Apa. Satu-satu melulu" Hanan mulai capek menanggapi Hawa
"Lihatlah bagaimana bentuk wajahnya saat mereka tidur. Terus, lakukan segala sesuatu sendiri. Seperti memandikan, menjemur, atau mengganti popok"
"Memang dulu dua-duanya sanggup kamu" Masih Hanan
Hawa nyengir "Nggak. Karena abang orangnya tidak tegaan.Ya bang??" Hawa bergelayut pada Fariz
"Bodo ah, lupa" Fariz
"Tuh kan, abang mah gitu. Kan pas sikembar lahir, aku masih kuliah gimana sih ampe lupa"
"La kan riwayatmu, aku mana tau" Hanan
"Aku keselnya sama bang Fariz bang, bukan sama kamu"
Hawa kembali berkicau seperti sales panci yang sedang berdemo "Padahal ya Alana, masa-masa seperti ini tak berlangsung lama, karena dia akan beranjak gede. Seperti sekarang saja, ketiga anakku diajak kesini sudah nggak mau. Uh, bahagianya Alana, jika kita bisa menikmati dan memaknai setiap detik waktu bersama putra-putri kita"
Sifa memegang bahu Hawa, sampai Hawa benar-benar menoleh "Sudah demonya??" Ucap Sifa membuat Hawa bingung "Kalau sudah, sekarang tinggal mama yang ingin jualan jamu"
Semua orang tertawa melihat Sifa menyingkirkan Hawa
"Nah, sebagai wanita yang baru saja mendapat predikat ibu baru lagi, kamu perlu melakukan perawatan tubuh. Kamu tau Hawa, apa itu?"
"Apa ma, olahraga kan ma"
"Itu mah nanti. Tubuh Alana perlu di servis massage dulu, karena dia baru ngeden"
"NGEJAN!!" Diucap para pria bersamaan
"Biarin.. Suka-suka mama" Sifa membuka sesuatu yang ia bawa khusus untuk Alana "Kau harus memakai bengkung dan stagen. Terus mandi rempah, lulur, plus minum ramuan jamu. Nih, mama bawain biar kamu kenceng lagi. Bener nggak Hawa?"
"Betul... T-O-P B-G-T ma"
"Kayaknya kita para pria keluar aja deh. Kita kalah pamor" Ucap Fariz merangkul Hanan dan papanya
"Iya benar. Mereka bilang kan senasib"
"Berarti, kita juga senasib dong ahaha"
AHAHAHA
__ADS_1
1.412 Kata.. Jangan lupa like, hadiah, vote... Author sudah lemes dedes.. rangkingnya turun terusss
BERSAMBUNG.....