
Setelah kepulangan Alana dari rumah sakit beberapa minggu yang lalu, Hanan sengaja cuti untuk menjemput anak-anaknya yang masih bersekolah
Hanan dan Alana menggendong putri kembarnya masing-masing satu
"Lihat, teman-teman Altaaf sudah pulang" Ucap Hanan menunjuk anak-anak berseragan merah putih, yang sudah digandeng oleh orang tuanya
"Iya. Ayo mas buruan. Takut Altaaf nungguin lama"
Setelah didepan pintu gerbang, Hanan dan Alana sudah melihat kalau Altaaf dan kawan-kawannya sedang antri dipintu gerbang
"Itu kak Altaaf, mas"
"Iya, iya, itu dia. Bongsor sendiri" Hanan tersenyum pada Alana, dan juga pada Arin yang ada pada gendongannya
Wajah dan perawakan Altaaf beda sendiri daripada murid yang lain. Yang lain berkulit atau berwajah asli asia, yaitu warna kulit sawo matang dan putih asia. Sedangkan Altaaf sedikit campuran. Dari wajah dan perawakan beda sendiri. Lebih bongsor dan wajah lebih blasteran
"Kak Altaaf.. "Panggil Alana dari balik tembok yang atasnya ada pagar besinya
Altaaf menoleh, lalu tersenyum lebar
Altaaf keluar dari antrian dan mendekati Alana dibalik tembok "Bundaaa"
"Kak Altaaf" Panggil Hanan
"Daddy... Altaaf kira cuma bunda yang jemput. Ternyata daddy juga" Altaaf jingkrak-jingkrak
"Sama adek Arin ,coba lihat" Hanan membungkukkan badan, agar Altaaf melihatnya
"Horeee. Dek Arinnya tidur terus. Dek Zira juga tidur, bund?"
"Iya sayang, lihat" Alana sama seperti Hanan, membungkukkan badan, agar Zira terlihat oleh Altaaf
Altaaf jingkrak-jingkrak lagi "Dek Zira juga ikut tidur. Tidur mulu. Boleh cium bund"
"Boleh sayang, tapi nanti kalau kak Altaaf sudah keluar. Sekarang nggak bisa kan, ada pagar"
"Iya bund, dedek Eh salah, Altaaf lupa"
Alana terkekeh Altaaf salah ucap
"Oh iya sayang, katanya hari ini sekolah dipulangkan. Mana kak Imran?" Tanya Hanan sambil mengabsen murid-murid sekolah yang terlihat lebih besar dari Altaaf
"Kak Altaaf masih dibelakang dad"
"Altaaaaaaf !!!" Altaaf dipanggil teman-temannya yang masih antri menuju pintu gerbang
"Dad, bund, Altaaf antri dulu"
"Iya sayang, sana"
Setelah mendapat izin, Altaaf berlari untuk bergabung antri dengan teman sekelasnya
Dari jauh Imran dan kawan-kawannya sudah terlihat sedang bercanda sambil dorong-dorongan ala murid SD
"Mas, mas. Itu kak Imran" Tunjuk Alana
"Iya, mas udah lihat. Kak Imran berdirinya disamping temennya yang bulet bund, jadi nampak sendiri"
"Iya. Tingginya aja aku kalah jauh, padahal masih SD"
Haha, Hanan tertawa
Setelah Imran dan Altaaf keluar, mereka bergantian mencium adik kembarnya bergantian. Leganya Alana, Imran benar-benar sudah menerima.
Sambil menggandeng tangan Alana "Bund, dek Zira tidur mulu ya bund?"
"Iya, silau mungkin"
__ADS_1
"Dek Arin juga tidur mulu kak" Ucap Altaaf yang digandengi oleh Hanan
"Iya, soalnya masih bayi. Jadi banyak tidurnya" Ucap Hanan membukakan pintu mobil untuk anak dan istrinya
"Pak Sholeh nggak ikut ya dad?" Tanya Altaaf
"Nggak sayang. Hanya kita berenam aja, cukup"
"Bunda depan. Dedek kembar biar sama kami, ya Al" Imran naik kemobil bagian belakang, sambil mengusir Alana, agar Alana duduk disamping Hanan
"Oke kak, setuju"
"Baiklah, Kak Altaaf bener mau dibelakang?" Tanya Hanan sambil menaruh baby Arin dibox yang sudah ditata dijok bagian tengah
"Iya dad, aku dibelakang saja"
"Beneran, bisa jaga?"
"Bisalah dad, kan udah besar"
"Baiklah sini bund, dek Zira taruh dibox"
"Kamu naiknya ntar sayang, biar dedek bobo dulu" Hanan menyetop Altaaf, agar tidak naik duluan
Setelah beres keempat anaknya sudah tertata rapih dikursi belakang dan Alana sudah duduk disampingnya, kini Hanan membawa pasukannya untuk pulang sesuai keinginan Imran dan Altaaf
Diperjalanan,
Imran sibuk mengusap pipi adiknya dengan lembut "Dedeknya tidur mulu. Nggak bosen apa dek tidur terus"
"Iya, nggak bisa diajak seluncuran" Timpal Altaaf membuat kedua orangtuanya tertawa
"Ya belum sayang. Ntar nguwel-nguwel disencuran bagaimana"
Ahahaha
-
Sekolah Imran sudah pindah gedung. Yaitu gedung SMA.
Begitupun dengan Altaaf, ia sudah berpindah gedung, yang pernah ditempati Imran, yaitu gedung SMP. Mereka sama-sama siswa baru kelas 1. Imran kelas 1 SMA, sedangkan Altaaf, kelas 1 SMP
Imran sudah tumbuh menjadi remaja yang tampan
Di SMAnya, Imran memilih jurusan IPS. Tapi Hanan tidak melarang. Ia membebaskan anak-anaknya untuk memilih bidangnya sendiri-sendiri
Hanan tidak ingin bercermin pada papanya, serta pada papa mertuanya
Hanan sudah memberi gambaran ketika putranya mau ambil jurusan yang berbeda dengan dirinya dulu. Tapi Imran memberikan jawaban yang masuk akal "Kakak ingin seperti papa Fariz dad, dan opa Anto"
Ya sudah, Hanan bisa apa jika anaknya bersih keras memilih jurusan berseberangan dengan kedua orangtua nya, tetapi Imran justru memilih jurusan yang sama dengan opa dan pamannya
Hanan tidak ingin seperti papa Ilham, yang dulu pernah marah besar, ketika Fariz berubah ambil jurusan sekolah. Kemarahannya, membuat Fariz keluar dari rumah, dan memilih tinggal bersama papi
Papi memang berbeda, papi tidak pernah marah, jika anak itu masih mau bersekolah.
Papi selalu bijaksana dalam bertindak. Keras, tapi tidak egois
Sebagai orang tua, salah satu putra yang rewel seperti Fariz, sebenarnya makan hati. Tapi dari segi pandang anak, itu termasuk pemaksaan kehendak. Seperti yang Alana alami
Alana yang ia kenal sebelum menjadi istrinya, merupakan gadis yang bar-bar. Ternyata dibalik tingkahnya, Alana anak yang patuh dalam keterpaksaan.
Disitulah, Hanan tidak ingin mengulangi kesalahan tersebut. Kasihan. Dan sekarang, Hanan tidak ingin mengekang pada putra-putrinya
-
__ADS_1
Kembali keanak bujangnya Hanan dan Alana
Altaaf juga sudah tumbuh tak kalah ganteng dari kakaknya.
Dia juga sudah menjadi incaran para kaum Hawa, disekolah tempatnya menimbah ilmu
Beda Imran, beda pula Altaaf. Kini kedua adik kembarnya, sudah berbeda sifat.
Yang satu ingin berhijab seperti bundanya, dan yang satu tidak mau. Dia ingin seperti kedua kakak dan daddynya yang tidak menggunakan hijab
Whatt ?? Narina, Daddy itu cowok. Mana ada cowok pakai hijab
Narina tumbuh menjadi gadis kecil yang tomboy, dan sukanya merecokin barang pribadi kakaknya. Sedangkan Zira, dia gadis yang sangat pemalu
Anggap saja mirip ya....
-
Hari ini, mereka akan terbang menuju Jakarta. Dimana Ilham akan berulang tahun yang ke 95 tahun
Seluruh keluarga sudah rapih, terkecuali Arin yang masih brekele, tidak mau mengenakan hijabnya, dan tidak mau disisirin
"Pakai hijabnya sayang"
"Nggak mau. Arin ingin seperti kakak dan daddy"
"Tapi daddy kan cowok, kak Imran dan kak Altaaf juga cowok. Mereka tidak dibolehkan memakai hijab" Jelas Alana
"Kenapa tidak boleh. Kan sama-sama orang"
"Itu menandakan, Arin itu anak cewek, memangnya disekolah yang cowok pakai Hijab?
"Nggak"
"Ya sudah pakai ini"
"Nggak mau, Arin ingin begini"
"Nanti masuk angin"
"Nggak berani. Anginnya takut sama Arin, bundaaa" Tolaknya dan selalu memberi jawaban yang absurd
"Ya Tuhan... Kecil-kecil sudah banyak soal. Buruan. Ntar bunda tinggal loh sama daddy dan kakak semua"
"Zira ditinggal kan bund?" Ucap Arin
"Ajaklah. Kau yang ditinggal" Imran
"Nggak pa-pa kan ada bibik, week" Ejeknya pada Imran
"Bibik juga ikut, Ariiin" Altaaf
"Ya udah, berarti, Arin tinggal sama pak Sholeh" Kekeh Arin
"Semuanya diangkut semua Ariiin" Alana ikut kesal
"Sama rumahnya juga?"
"IYAAAAAAAA" Jawab mereka semua yang kesalnya tidak ketulungan
BERSAMBUNG.....
__ADS_1