Menikahi Ipar

Menikahi Ipar
Bab 128


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian


Perut Alana mulai membuncit. Goyang sana, goyang sini


Hari ini, Alana malas untuk jalan sehat dipagi hari


"Mas, aku ingin senam yoga aja dirumah"


"Oh, ya sudah nggak pa-pa. Oh iya, matrasnya mana kemarin"


"Dipojok tuh, tuh" Tunjuknya samping televisi


"Oke" Hanan mulai menggelar matras didepan televisi "Pas segini?"


"Iya mas"


Alana mulai duduk dengan perlahan, tentunya dibantu oleh Hanan


"Hati-hati sayang"


Alana duduk bersila, diikuti Hanan yang berada dibelakangnya


Tangan Hanan mengusap perut Alana yang sudah membesar "Berat sekali ya bund"


"Iya, isinya kan bayi" Jawabnya sambil mengusap pipi Hanan yang sedikit lebat dengan jambangnya "Ih mas, sudah tebal tu rambut"


Hanan tertawa "Kan nggak ada yang potongin"


"Mas ah, bangun aja susah. harus ngerokin jambang segala"


"Kan biasanya kamu"


"Ya sudah, mana alat cukurnya. Aku cukurin" Tangan Alana menengadah


Hanan menumpuki tangan Alana, lalu memeluknya dari belakang "Dah, nggak usah. Biarin aja gondrong"


"Pasien takut mas, ntar lari"


Hanan tertawa kembali "Nggak pa-pa, biarin aja dia ngos-ngosan"


Sekarang Alana yang ikut tertawa


Hanan tahu dan paham, bahwa kehamilan itu sesuatu yang sulit. Dia juga tidak mau merepotkan istrinya untuk mencukurkan kumis ataupun apa yang tumbuh diwajahnya


Banyak keluhan yang dirasakan Alana saja, membuatnya kasihan. Apalagi menyuruhnya yang kurang penting


Dulu, ketika awal hamil beberapa bulan lalu. Alana merasakan mual, dan muntah berkali-kali. Seorang Hanan bisa apa, bisanya hanya panik dan ikut-ikutan berlari seperti ayam yang mau bertelor


Dan sekarang, kandungan Alana sudah menginjak ke 8 bulannya, mual muntah sudah tidak dirasa, tetapi timbul keluhan lagi yaitu kelelahan, dan rasa pegal di sana-sini


Sebagai suami siaga. Sekali lagi, Hanan tidak ingin merepotkan sang istri


Tidak dicukur istri, tak masalah. pergi kesalon juga bisa, bahkan lebih bagus karena ahlinya


Tapi bukan itu permasalahannya. Hanan hanya ingin dekat dan selalu mendampingi Alana disetiap keberadaannya


Sekarang, Alana sedang mengandung buah hatinya kembali. Ada rasa khawatir, yang merasuk kedalam relung hatinya, yang jelas ia rasakan. Yaitu, teringat akan sosok istri terdahulu, terenggut nyawanya ketika melahirkan putranya


Teringat almarhumah, bukan berarti Hanan tidak bisa move on. Tetapi itulah sejarah hidupnya, dan Hanan saja yang tau


Kini, ia berusaha untuk membuat Alana senyaman mungkin dan tetap bahagia.


"Sudah mas jangan remas-remas gini. Aku susah konsentrasinya"

__ADS_1


Hanan tergelak dari lamunan


Alana melepas tangan Hanan yang piknik didadanya.


Dan sekarang, tangannya sudah ia turunkan dan pindah diperutnya. Namun, Hanan tidak protes "Mas, kok diam" Sambungnya


Hanan tersenyum "Mas diam merasakan tendangan dari dalam. Coba pegang"


"Tendangan apaan. Orang pegangnya dada kok tendangan"


"Hei lihat, perutmu gerak-gerak ini. Nongol sono, nongol sini" Hanan menarik tangan Alana, agar memegang perutnya sendiri


"Yaiya mas, itu sudah biasa. Aku juga geli"


Mereka terdiam sejenak


"Tadi kamu ngomong apa? Mas tadi konsentrasi dengan tendangan. Sepertinya mereka tau, kalau usapan daddynya nyaman" Kilahnya agar tidak dicurigai memikirkan orang lain


"Mas tadi pegang-pegang nggak karuan. Aku jadi susah berkonsentrasi" Kesalnya timbul kembali


"Lah susah kenapa, kan mas bantuin"


"Bantuin apa, orang remas sana remas sini. Pencet sana pencet sini, apaan" Alana menarik tangan Hanan yang mulai nakal lagi dibagian dadanya


Hanan tertawa "Ya modus dikit bund"


Bibik yang melintas hanya bisa nyengir iri melihat pasangan yang romantis dan super mesum


Hanan tidak tau kalau ada orang yang melintas dibelakangnya


"Mas, bantuin aku berdiri" Tangan Alana menjulur agar Hanan segera berdiri


Hanan berdiri dan memegang kedua tangan Alana "Kok nggak jadi"


"Oh, kirain udahan"


Hanan segera mengambilkan bola besar dan memeganginya, agar Alana bisa duduk diatasnya sambil berjalan dengan bola tersebut


Mungkin banyak suami yang menganggap proses kehamilan sedikit membingungkan, dan tidak tahu harus berbuat apa.


Sementara, dukungan penuh sang suami sangat dibutuhkan oleh istri, dalam menjalani setiap fase kehamilannya.


Hanan masuk kedalam kamar, diikuti Alana dengan bola besarnya sebagai tumpuhan pantat dan melatih kaki agar tetap kuat


Di masa-masa kehamilan, wanita hamil biasanya akan mengalami perubahan mood yang berubah-ubah.


Seperti Alana saat ini "Mas, kira-kira aku ingin ikut mas apa nggak"


Hanan tersenyum sambil memakai baju dinasnya "Ikut ya boleh, nggak ya, boleh"


Sebenarnya Hanan lebih tenang jika Alana ikut ketimbang tidak. Pastikan Hanan mampu menanggapi sang istri dengan tepat. Jangan sampai istri mengalami bad mood. Singkirkan sikap cuek yang mungkin dulu ada di masa-masa sebelum menikah. Atau sudah menikah, tetapi belum cinta seperti sekarang


"Yah, jawaban seperti itu aku bingung mas"


"Kenapa bingung" Hanan mulai memakai dasi dan membelakangi Alana karena dia akan bercermin


Alana terdiam belum menjawab pertanyaan Hanan


Hanan yang sudah selesai memakai aksesoris leherpun segera jongkok didepan Alana "Kenapa?" Hanan memegang kedua lutut milik Alana


Alana mulai membenahi dasi suaminya, sebagai perhatian kecilnya walau sekarang jarang memakaikan "Aku bingung. Disini tidur, disana tidur"


Hanan tertawa kembali "Jangan bingung. Mas lebih tenang, kalau kamu ikut"

__ADS_1


"Ikut ya, walaupun tidur -tiduran"


"Nggak masalah. Memangnya kenapa. Duduk diruang praktik juga boleh. Sekalian, hari ini, kita cek"


"Cek kok terus sih mas"


"Kan dua minggu sekali sayang"


"Memangnya sudah ada dua minggu? Belum kayanya"


"Ya, anggap saja sudah. Kalau nggak jadi periksa juga nggak pa-pa. Kalau bosen, kan bisa jalan-jalan. Kamu bisa temuin teman-temanmu. Sama, akang-akang idolamu didepan gerbang"


"Ih mas mah, gitu"


Hanan tersenyum gemas jika sudah menggoda Alana


Hanan mendekatkan wajahnya pada wajah Alana


Kedua tangannya mulai memegang pipi tembem milik istrinya itu akhir-akhir ini "Gembil, gembil, gembil"


"Mas ih, jangan suka main tarik-tarik pipi, nggak boleh"


"Kenapa nggak boleh? Takut mlorot?"


"Iyalah.. Ntar mas nggak suka"


"Hahaha" Hanan berdiri "Sudah yuk ikut aja. Mas lebih suka kamu tu ikut, daripada dirumah"


"Ayeee"


"Kenapa ayee, itu bentuk perhatian dari suami, untuk memanjakan istri. Udah, ganti baju"


Sambil membantu memakaikan baju, Hanan selalu mendengarkan dan menolong saat dia dibutuhkan. 


"Mas tolong ganti hijabnya. Aku nggak mau warna yang ini"


"Maunya warna yang apa"


"Coksu aja"


"Oke"


Semakin banyak suami tahu tentang hal yang istri alami, maka semakin baik suami berempati dan tahu bagaimana caranya membantu. 


Tujuan Hanan selalu membawa Alana kemana-mana, untuk menunjukkan kepada istri, bahwa dirinya selalu bersamanya sepanjang kehamilan.


Kedua, Hanan tahu persis apa yang terjadi dengan kehamilannya, dan akan lebih siap untuk membantunya.


Kehamilan menuntut fisik dan emosional, sebaiknya jangan membebani istri hamil dengan tekanan yang tidak perlu.


Hanan sudah selesai mendandani Alana


Biarpun tembem dimana-mana, Hanan selalu memujinya "Wow, istriku sexy"


"Ah mas bohong. Ketahuan" Alana menusuk-nusuk perut Hanan


"Enggak, nggak bohong. Cantik tau bund, walaupun kaya ikan lumba-lumba"


"Mas!! Tuh kan"


"Nggak sayang, mas serius. Kamu cantik" Kemudian Hanan memeluknya


Istri hamil akan mengalami beberapa transformasi tubuh yang serius selama kehamilan. Yakinkan dia, bahwa suami selalu melihatnya cantik, dan sangat mencintainya.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2